Majalah Berita Indonesia

Sunday, May 28th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Nasional Seharusnya Sudah Belajar
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Seharusnya Sudah Belajar

E-mail Print PDF

Letusan Gunung Merapi belum bisa diprediksi kapan berhentiSelama Oktober, tiga bencana besar melanda negeri ini. Di samping sudah menjadi kehendak alam, kelalaian manusia dan lambannya penanganan kembali menjadi faktor penyebab jatuhnya korban yang begitu besar.

Ilmu pengetahuan telah memastikan, Indonesia berada di jalur Cincin Api (ring of fire) sehingga termasuk kawasan pegunungan berapi teraktif di dunia, juga berada di antara dua lempeng yang mengakibatkan rawan gempa tektonik maupun tsunami. Ditambah dengan perubahan cuaca global yang tidak menentu saat ini, tidak bisa disangkal, negeri nan indah permai ini akan sering dilanda bencana.

Oktober kelabu diawali dengan musibah banjir bandang yang terjadi 4 Oktober di Wasior, Papua Barat, ujung timur Indonesia. Daerah tersebut terseret air bah dari danau yang meluap di daerah atas pemukiman warga. Bongkahan batu-batu besar dan batang-batang kayu raksasa hanyut terbawa derasnya arus air menghantam pemukiman hingga meratakan rumah-rumah warga. Seperti dilaporkan per 18 Oktober 2010, jumlah korban tewas banjir bandang itu mencapai 158 orang dan 145 orang masih dinyatakan hilang, dan sekitar 6.000 warga mengungsi.

Ketika duka negeri atas bencana Wasior belum pulih, bencana kembali melanda Indonesia di kawasan barat. Kali ini, bencana menimpa bumi Mentawai, Sumatra Barat yang diguncang gempa berkekuatan 7,2 SR pada tanggal 25-26 Oktober 2010. Gempa yang disusul oleh gelombang tsunami itu menewaskan tidak kurang dari 449 warga dan 338 orang hilang, menghancurkan ratusan rumah dan tempat ibadah, serta menghanyutkan berbagai harta benda lainnya.

Tiga daerah yang paling parah diterjang tsunami itu, yakni Pagai Selatan, Pulau Pagai Utara, dan Pulau Sipora yang dihantam gelombang tsunami yang diperkirakan mencapai ketinggian 15 meter.

Berselang satu hari gempa Mentawai, bencana melanda Pulau Jawa (26/10/2010), yakni meletusnya Gunung Merapi di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Yogyakarta. Gunung Merapi yang mengeluarkan awan panas (wedhus gembel) itu telah menewaskan sedikitnya 38 orang penduduk, merusak puluhan bahkan ratusan rumah dan memaksa belasan ribu orang mengungsi.

Memperhatian apa yang terjadi pada tiga peristiwa alam ini, baik dari segi penanganannya maupun dampak yang diakibatkan, masyarakat jadi teringat kembali pada bencana-bencana alam sebelumnya sekaligus mencoba membandingkannya.

Kapan terjadinya suatu bencana memang tidak bisa 100% diprediksi. Namun, pengenalan sejak dini akan ancaman bencana di suatu daerah, seharusnya bisa meminimalkan jatuhnya korban. Dalam kasus bencana di bulan Oktober 2010 ini, hal itulah yang dirasakan masih kurang, baik di masyarakat maupun di pemerintah.

Daerah Mentawai maupun Gunung Merapi sejak dulu sudah diketahui merupakan daerah yang rawan bencana. Sehubungan dengan itu, para ahli maupun publik sudah mengingatkan ancaman yang ditimbulkannya, sekaligus memberi saran akan langkah yang harus dilakukan jika ancaman bencana itu benar-benar terjadi. Kepada pemerintah pun sudah banyak disampaikan saran agar menyediakan berbagai sarana dan prasarana penanganan jika bencana benar-benar terjadi.

Namun kedua pihak itu, masyarakat maupun pemerintah tampaknya tidak tanggap akan ancaman yang disebutkan para ahli maupun para pemerhati bencana alam itu. Buktinya, dalam peristiwa gempa dan tsunami di Mentawai, pemerintah dikabarkan baru tahu setelah 12 jam terjadi. Selain itu, pengiriman bantuan juga terkendala karena ketidaksiapan armada yang bisa menempuh lokasi bencana. Dua hal keterlambatan itu jelas menjadi salah satu faktor penyebab banyaknya korban meninggal dalam peristiwa tersebut. Karena, banyak korban yang sempat lolos dari tsunami akhirnya meninggal karena keterlambatan pertolongan.

Di lain pihak, masyarakat setempat (warga Mentawai) juga tidak peka terhadap ancaman tsunami. Seperti diberitakan, tsunami di Mentawai ini sempat terjadi dalam dua gelombang, setelah tsunami gelombang pertama banyak menelan korban, namun akibat ketidaktahuan masyarakat membuat korban bertambah banyak pada tsunami gelombang kedua. Padahal seperti disebutkan di atas, kalau masyarakat sebelumnya tahu cara menghadapi gempa dan tsunami, mungkin jatuhnya korban yang begitu banyak tidak terjadi.

Mentawai tampak dari udara setelah dilanda tsunamiDemikian halnya dalam peristiwa meletusnya Gunung Merapi. Sejak ratusan tahun lalu, masyarakat dan pemerintah sudah tahu bahwa gunung tersebut merupakan gunung aktif yang sewaktu-waktu bisa meledak. Namun akibat kekurangpekaan pemerintah dan masyarakat, gempa pun akhirnya menelan korban jiwa yang cukup banyak.

Tidak terkecuali dengan bencana banjir di Wasior. Korban jiwa yang demikian besar seharusnya tidak perlu terjadi jika masyarakat dan pemerintah sejak dini peka melihat ancaman dari akibat letak geografis pemukiman yang berada di bawah danau.

Dari sekian banyak bencana yang terjadi selama ini, bangsa ini sebenarnya sudah cukup ‘kaya’ akan pengalaman menghadapi bencana. Namun melihat bagaimana masyarakat menghadapi bencana dan bagaimana pemerintah melakukan penanganan seperti pada tiga peristiwa alam yang terbaru ini, tampaknya bencana yang sering terjadi selama ini belum bisa memberi efek pembelajaran apa-apa bagi bangsa ini. Terbukti, tanggap bencana baru dilakukan sesudah peristiwa terjadi. Seluruh otoritas baru bergegas dengan manajemen kedaruratan yang umumnya berlebihan.

Bagi sebagian pengamat, tsunami Mentawai bahkan disebut merupakan bencana kebijakan. Pengetahuan selama ini disebut hanya berhenti pada level akal sehat, tidak memiliki kaitan apapun di level kebijakan pemerintah. Sehingga setiap kali bencana datang, selalu kelabakan, kocar-kacir, keteteran, kaget, dan lamban dalam mengantisipasi. Senang bereaksi setelah bencana terjadi, setelah itu melupakannya kembali hingga terjadi lagi bencana dengan jumlah korban jiwa yang lebih besar lagi.

Khusus mengenai penanganan gempa, Ninok Leksono dalam artikelnya di harian Kompas (29/10/2010) mengatakan, gempa adalah sosok yang menakutkan yang bisa menelan siapa saja tanpa pandang bulu. Setelah gempa Aceh (2004), Nias (2005), Yogyakarta dan Jawa Barat (2006), Bengkulu (2007), dan Padang, Sumatera Barat (2009), kemungkinan bencana untuk terjadi masih lebih besar, seperti letusan Gunung Super, tsunami raksasa dan gempa bumi raksasa yang ketiganya merupakan bahaya laten yang siap mengancam Indonesia.

Untuk itu menurutnya, pembelajaran seharusnya diperkuat dengan pelajaran ilmu bumi di SD dan sekolah menengah, sehingga siswa mengenal tidak hanya keindahan dan kekayaan Tanah Air, tetapi juga bahaya yang bisa mengancam. Perlu dilakukan pendekatan pemahaman akan bencana ke dalam benak para siswa, supaya sebelum bencana yang lebih dahsyat terjadi, masyarakat sudah siap menghadapi.

Selain itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), seperti dikatakan Herlina Amra dari Komisi VIII DPR, harus menggalakkan sosialisasi dan kesadaran masyarakat terhadap bencana alam serta mensosialisasikan peta rawan bencana. “Jangan sekadar seremoni belaka, tapi dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap alam sehingga bisa menimalisir korban,” katanya.

Menurutnya, walau BNPB masih dibatasi oleh anggaran yang kecil, peralatan, transportasi dan kendala alat-alat jangan membuat BNPB sulit melangkah. Seperti diketahui, dana cadangan pasca bencana yang dialokasikan dalam pos Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2011 mencapai Rp 4,9 triliun. Dana tersebut akan dicairkan bila ada pengajuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Seperti disebutkan sebelumnya, korban pun sering semakin banyak berjatuhan akibat lambatnya proses evakuasi dan memberikan pertolongan pada korban yang masih selamat. Cuaca dan sulitnya medan untuk ditempuh sering dijadikan kambing hitam. Kendala ini pada prinsipnya disebabkan oleh belum adanya standar prosedur dan kekuranglengkapan perlengkapan.

Mengenai hal ini, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin misalnya mengatakan, keterlambatan pemberian pertolongan seharusnya tidak terjadi jika standar prosedur penanggulangan bencana nasional sudah dimiliki. Karena itu, menurutnya, Indonesia harus memiliki standar penanganan bencana yang cepat, tepat, dan bermanfaat karena Indonesia nyaris menjadi negara musibah.

Sedangkan mengenai perlengkapan, khususnya sarana transportasi, Pengamat penerbangan Dudi Sudibyo berpendapat, sebagai negara kepulauan, Indonesia membutuhkan armada pesawat amfibi yang bisa mendarat dan tinggal landas di air untuk menjangkau daerah terpencil sebagai sarana tanggap bencana. Dalam situasi normal, pesawat tersebut dapat digunakan untuk angkutan penumpang dan barang di tempat-tempat terpencil.

Selain beberapa hal disebutkan di atas, menurut Direktur Program Kemitraan untuk Pembaruan Tata Kelola Pemerintahan, Emmy Hafild, instalasi jaringan komunikasi di daerah terpencil juga perlu diperkuat. Pengalaman keterlambatan informasi kejadian di Mentawai menurutnya sebaiknya dijadikan momentum untuk segera membangun tata kelola dan tata laksana penanggulangan bencana yang baik, di mana sistem informasi dan komunikasi adalah bagian yang prinsipil.

Sementara itu, pakar Geodesi dari Institut Teknologi Bandung, Hasanuddin Z Abidin berpendapat, sudah saatnya pemerintah lebih peduli dengan riset-riset kebencanaan dengan memasukkan studi kebencanaan sebagai prioritas. BS,SIT (Berita Indonesia 80)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com