Untuk membangun kembali Haiti yang porak poranda membutuhkan waktu 10 tahun dengan biaya hingga Rp 130 triliun.
Gempa bumi yang terjadi 12 Januari 2010 itu akan menjadi kenangan pahit yang tak terlupakan bagi Haiti, negara kecil di Amerika Latin ini. Sepertiga bangunan di Ibukota negara tersebut, Port au-Prince, luluh lantak baik rumah penduduk, sekolah, hotel, tempat ibadah, kantor PBB termasuk Istana Kepala Negara. Akibat kedahsyatan gempa berkekuatan 7,0 SR itu, korban meninggal mencapai 250.000 orang dengan kerugian hingga $US14 miliar.
Pasca gempa, mayat-mayat bergeletakan di mana-mana. Puluhan ribu jasad korban gempa setiap harinya diangkut ke kuburan massal di Port-au-Prince menggunakan truk-truk dan buldoser. Pemandangan ini membuat warga yang menjadi saksi hidup trauma. Bahkan banyak warga masih tidur di luar rumah karena gempa susulan masih kerap mengguncang. Setidaknya 54 kali gempa susulan terjadi. Bila melihat ke belakang, pada tahun 1751, gempa besar pernah menghantam Haiti dan juga negeri tetangganya Republik Dominika.
Gempa yang terjadi hanya dalam hitungan 15 hingga 20 menit tersebut meruntuhkan segala pencapaian yang telah diraih. Haiti harus memulai dari awal lagi setelah sempat mengalami pertumbuhan positif pasca keterpurukan akibat serangkaian bencana topan dan kekacauan politik tahun 2008. Sekarang sekitar 1,5 juta orang kehilangan tempat tinggal dan untuk memulihkannya tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat.
Untuk membangun kembali masa depan Haiti, Inter-American Development Bank (IDB) memperkirakan perbaikan Haiti membutuhkan biaya sebesar Rp 130 triliun atau senilai US$ 14 miliar. Biaya ini untuk membangun kembali rumah dan sekolah yang roboh, membangun jalan, dan infrastruktur lainnya. Biaya ratusan triliunan rupiah tersebut diperhitungkan berdasar jumlah populasi dan kondisi ekonomi negara berpenduduk 9 juta orang ini yang juga merupakan negara termiskin di Benua Amerika, sebelum gempa terjadi.
Perdana Menteri Haiti, Jean-Max Bellerive telah meminta bantuan dunia internasional untuk merekonstruksi negaranya. Para tokoh-tokoh internasional berkumpul di Montreal, Kanada. Perdana Menteri Kanada, Stephen Harper, memperkirakan rekonstruksi di Haiti dapat memakan waktu 10 tahun. Dalam pertemuan yang juga dihadiri Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton, Harper mendesak dunia untuk mempercepat rekonstruksi negara di Kepulauan Karibia tersebut. Negara-negara donor sepakat akan mengadakan konferensi internasional untuk membantu Haiti di markas PBB di New York pada bulan Maret untuk membahas upaya bantuan rekonstruksi ke Haiti.
Sebelumnya pemerintah Amerika Serikat telah menunjuk dua mantan presiden AS, Bill Clinton - sebelum jatuh sakit akibat penyempitan pembuluh darah jantung - dan George Herbert Walker Bush. Mereka ditunjuk untuk mengupayakan pemulihan Haiti. Bahkan di bawah pimpinan mantan presiden AS tersebut, telah diresmikan situs web untuk mengumpulkan dana bagi pembangunan kembali Haiti.
China, sebagai negara yang ekonominya mengalami pertumbuhan besar di Asia saat ini, telah menyerahkan sejumlah bantuan dan menyatakan komitmennya untuk ambil bagian dalam pembangunan pasca gempa di Haiti. Melalui Menteri Perdagangan Tiongkok Chen Deming, pemerintah Tiongkok menyerahkan uang sumbangan 2,6 juta dolar Amerika kepada PBB melalui sejumlah lembaga PBB untuk Tiongkok di Beijing.
Sebelumnya pemerintah Cina sejak awal sudah memberikan bantuan darurat kepada Haiti. Mulai dari tim penyelamatan internasional untuk korban, memberikan bantuan barang-barang pertolongan darurat senilai 48 juta yuan atau sekitar 7 juta dolar Amerika serta bantuan tunai senilai 3,6 juta dolar Amerika kepada Haiti. ABD (Berita Indonesia 74)
| < Prev | Next > |
|---|



