Majalah Berita Indonesia

Saturday, Apr 29th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Mancanegara Nasib Naas Abu Omar
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Nasib Naas Abu Omar

E-mail Print PDF

Abu Omar menjadi sebuah nama yang menakutkan di Irak. Mereka yang menyandang nama ini terancam akan dibunuh sebab nama itu menunjukkan bahwa mereka dan keluarganya berasal dari kalangan Sunni. Di Irak, sebagian dari mereka mati dibunuh, sebagian lagi mengganti namanya, dan jalan keluar yang terbaik adalah keluar dari Irak.

Bom bunuh diri terjadi setiap hari di Irak.Hal ini benar-benar terjadi. Seorang Abu Omar kini tinggal di Amman. Ia meninggalkan Irak lalu tinggal di Yordania setelah seorang saudaranya bernama Omar dibunuh, putranya yang berumur 9 tahun dipukuli, dan di waktu yang lain, putranya dan putrinya Nabaa, 11 tahun, sempat diculik. Para penculik saat itu meminta uang tebusan $10.000. Abu Omar tidak menanyakan nama kelompok penculik itu, ia kemudian menjual toko dan rumahnya lalu membayar uang tebusan. Tiga belas hari kemudian, kedua anaknya dikembalikan kepadanya. Tidak ingin hal yang buruk terjadi lagi, ia dan keluarganya meninggalkan Baghdad. Kini ia tinggal bersama isteri dan ketiga anaknya dalam sebuah kamar dimana jendelanya yang rusak ditutup dengan kantong plastik besar, tidak ada mesin pemanas, tidak ada perabotan, dan tidak ada kasur. Mereka tidur di atas matras plastik berwarna hijau. Abu Omar adalah satu dari jutaan pengungsi Irak yang meninggalkan negerinya demi menyelamatkan keluarganya.

Kini, serangan bom bunuh diri sudah menjadi berita sehari-hari di Irak. Nyawa manusia seperti tidak ada artinya lagi. Setiap hari orang mati karena ledakan bom. Penyanderaan dan penculikan menjadi menu setiap hari yang disodorkan oleh berbagai media. Kurang lebih 4 juta pengungsi Irak, dimana setengahnya terpencar-pencar di Irak, dan 1,8 juta lebih mengungsi ke Yordania dan Siria.

Pengungsian besar-besaran ini terjadi setelah pemboman di Samara, Februari 2006. Sejak itu, konflik sektarian yang begitu kental dimulai. Kala itu, 22 Februari 2006, sejumlah orang bersenjata menyerbu Masjid Askariya di Samarra, sekitar 70 kilometer sebelah utara Baghdad. Para penjaga masjid disandera dan masjid yang terkenal dengan sebutan Masjid Emas itu diledakkan. Tragedi Samarra memicu pecahnya konflik senjata antara Sunni dan Syiah karena Masjid Askariya adalah milik kelompok Syiah.

Mereka, kelompok Syiah, berpendapat ini adalah ulah kelompok Sunni. Karena itu, dalam hitungan jam, Tentara Mahdi, milisi bersenjata Syiah, segera bergerak dan menyerang masjid-masjid Sunni di Baghdad. Dalam tempo seminggu setelah Masjid Askariya diledakkan, 184 masjid Sunni dihancurkan atau dirusak. Kerusuhan sektarian pun menjadi-jadi, dan telah menewaskan lebih dari 1.000 orang, baik Sunni maupun Syiah. Sejak saat itu, situasi di seluruh wilayah Irak semakin tak terkendali.

Menurut laporan Pentagon (14/3) mengenai perkembangan kondisi keamanan di Irak, 80 persen dari berbagai serangan sejak November hingga Januari terpusat di empat provinsi, yakni Baghdad (jumlah serangan terbanyak, yakni 45 kali per hari), Anbar, Diyala, dan Salah ad Din. Dalam laporan itu juga disebutkan dalam satu pekan terjadi serangan lebih dari 1.000 kali pada Oktober-Desember dan sekitar 800 kali serangan tiap pekan pada periode Mei-Agustus. Pentagon menyimpulkan bulan Oktober hingga Desember adalah tiga bulan dengan tingkat gejolak kekerasan paling parah sejak tahun 2003.

Keberadaan jutaan pengunsi Irak ini menjadi isu panas di Amerika. Ketika kendali Kongres berpindah setelah pemilihan akhir November tahun lalu, sebagian berpikir bahwa Amerika akan berubah haluan karena krisis kemanusiaan akibat invasi ke Irak. Namun, tidak ada perubahan yang berarti. Intensitas pembahasan tentang pengungsi Irak ini mulai menurun setelah pertengahan Februari lalu, pemerintah Amerika mengumumkan akan memberikan kesempatan kepada 7.000 orang Irak untuk tinggal di Amerika pada tahun 2007. Semenjak pengumuman itu, setiap hari, massa pengungsi Irak antri di luar kantor PBB di Damaskus dan Amman. Mereka begitu putus asa, sebab bagi mereka peluang sekecil apapun untuk memulai hidup yang baru di Amerika adalah secuil cahaya di ujung lorong yang gelap.

Mereka tidak ingin terus menerus dicap sebagai imigran gelap yang tinggal di sebuah kamar yang pengap dengan tiga orang anak.

Invasi AS ke Irak menyisakan setumpuk krisis yang berkepanjangan meski dibungkus dengan usaha menghibur diri bahwa ‘demokrasi sedang menyebar di Timur Tengah’. Apapun alasan yang dibuat, para pengungsi Irak, terutama para penyandang nama Abu Omar, kini hidup dalam ketakutan dan ketidakpastian. MLP (Berita Indonesia 36)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com