Majalah Berita Indonesia

Saturday, Apr 29th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Mancanegara Bersaing Demi Mengubah Wajah Amerika
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Bersaing Demi Mengubah Wajah Amerika

E-mail Print PDF

Persaingan dua calon presiden AS dari partai Demokrat, Hillary Clinton dan Barack Obama membuat arena persaingan menuju pemilu presiden 2008 kian panas. Siapa mereka sebenarnya? Bagaimana peluang ke dua tokoh ini?

Kalangan pers memperlakukan Obama layaknya bintang rock.Berebutan kursi presiden Amerika sudah dimulai dari sekarang. Ini lebih cepat mengingat pemilu presiden AS baru akan dilaksanakan pada tahun 2008. Tanda persaingan dimulai ketika beberapa calon dari Partai Demokrat ataupun Republik mengumumkan pencalonan diri mereka sebagai kandidat calon presiden. Dengan pencalonan itu, kandidat diperbolehkan membentuk komite penyelidikan yang mengijinkan kandidat menggalang dan mengeluarkan dana secara legal tanpa perlu melaporkan sumbernya. Pada setengah tahun pertama, mereka akan menjalani serangkaian pemilihan pendahuluan (primaries) di banyak negara bagian. Berdasarkan primaries itu, ditetapkan pasangan calon di Konvensi Partai pertengahan tahun. Pasangan terpilih bersaing dengan pasangan dari partai lain yang menjalani proses serupa.

Menjadi yang Pertama
Kandidat calon presiden dari Partai Demokrat paling banyak mendapat sorotan dari rakyat dan media Amerika Serikat. Hal itu disebabkan oleh munculnya dua kandidat dari partai tersebut yang diperkirakan akan menjadi calon kuat untuk menjabat di ruang oval Gedung Putih. Ke dua kandidat itu adalah Barrack Obama dan Hillary Clinton.

Barrack Obama, yang mengumumkan pencalonan dirinya menjadi presiden pada Kamis (18/1), adalah sosok yang sedang meningkat karirnya tapi miskin pengalaman. Sedangkan Hillary Clinton, yang menyusul dua hari kemudian (20/1) mengumumkan dirinya sebagai calon presiden, memiliki banyak pengalaman tapi harus berjuang keras melawan tradisi presiden laki-laki yang selama ini berlangsung di Amerika. Apabila dalam pemilihan presiden 2008 nanti salah satunya terpilih menjadi presiden maka Amerika akan mendapat warna dan harapan baru: Obama akan menjadi presiden kulit hitam pertama, atau Hillary menjadi presiden perempuan pertama.

Sikap Politik Obama dan Hillary
Baik Obama maupun Hillary menawarkan paradigma yang baru bagi masa depan Amerika pasca pemerintahan Bush. Obama terkenal dengan politik multikulturalismenya. Dalam pidato Call to Renewall, Juni tahun lalu, ia menyatakan, "Apapun asal kita semula, kita bukan lagi sekadar bangsa Kristen; kita juga bangsa Yahudi, bangsa Muslim, bangsa Buddhis, bangsa Hindu, bahkan bangsa orang Hillary Clinton menyapa pendukungnya di New York.yang tak punya kepercayaan. Politik moral bersemangat multikulturalisme yang ditawarkan Obama menjadi semacam mantra semangat di tengah iklim dan suasana politik yang kaku dan mengandalkan kekuatan fisik yang dikembangkan Bush. Sementara itu, Hillary berbeda dengan Obama yang tak setuju dengan serangan atas Irak. Hillary pada dasarnya menyetujuinya, tetapi beda dari Bush yang amat unilateralis dan tak mau mendengar pendapat orang lain. Hillary lebih terbuka untuk diskusi dan mempertimbangkan pendapat orang dan para pemimpin bangsa lain dalam menangani Irak.

Bagaimana respon rakyat Amerika terhadap sikap politik ke dua tokoh itu? Suatu jajak pendapat Gallup mencatat Hillary (29 persen) unggul atas Obama (18%), dan jajak pendapat Washington Post-ABC menempatkan Hillary (41 persen) unggul atas Obama (17 persen). Hal ini menunjukkan bahwa di saat rasa aman akibat terorisme belum terjamin, tidak mudah mendorong rakyat Amerika bersikap liberal. Karena itu, mainstream di AS tampaknya menganggap ciri demografis, poisisi politik dan posisi atas penanganan Irak, Hillary lebih masuk akal daripada Obama.

Masa Lalu Obama dan Hillary
Obama menyebut dirinya sebagai "putra birasial". Ini dikarenakan ia lahir dari orang tua yang berbeda ras. Ayahnya adalah Barack Hussein Obama Sr., kelahiran Kenya beragama Islam, sedangkan ibunya adalah Ann Dunham, perempuan kelahiran Wichita, Kansas. Dalam buku otobiografinya, Dreams for My Father, Obama menceritakan bahwa saat berusia enam tahun ia pernah dibawa oleh ibunya untuk tinggal di Indonesia bersama ayah tirinya selama empat tahun.

Informasi mengenai masa lalunya itu rupanya menjadi "batu sandungan" bagi Obama. Ia kini terkenal dengan nama tengah "Hussein", sehingga menjadi Barrack Hussein Obama. Hal itu tentu saja menjadi kampanye negatif bagi Obama. Obama juga dituduh pernah mendapat pendidikan Islam radikal selama ia bersekolah di Indonesia. Tuduhan itu berdasar pada temuan bahwa Obama pernah sekolah di sebuah sekolah Islam, madrasah, di Indonesia. Mendapat serangan dari masa lalunya, Obama tidak tinggal diam. Dalam acara Today di jaringan TV NBC (25/1), dia menyatakan laporan tentang masa lalu pendidikan kanak-kanaknya sebagai tuduhan yang terburu-buru dan menggelikan.

Selama bersekolah di Indonesia, Obama tidak bersekolah di madrasah melainkan di SDN Menteng 1, seperti yang ditulis oleh Indo Pos (26/1). Hal itu dibenarkan oleh pengelola SDN Menteng 1 yang mengatakan sekolah mereka adalah sekolah umum yang menerima murid dari berbagai latar belakang agama, bukan hanya muslim. Sebuah formulir pendaftaran Obama dari TK Katolik Fransiskus Asisi Jakarta menjadi bukti kuat bahwa Obama pernah bersekolah di SDN Menteng 1. Dalam formulir itu tertulis Obama beragama Islam. Mengenai hal itu, Direktur Komunikasi Tim Kampanye Obama, Robert Gibbs, menyatakan tidak tahu hal itu. "Senator Obama tidak pernah menjadi muslim," tegasnya. "Pada umur 6 tahun, dia ada di sekolah Katolik dan dia belajar sebagai seorang Kristen," ujarnya. Saat ini Obama adalah anggota United Church of Christ.

Sementara itu Hillary, adalah tokoh terkenal di AS. Delapan tahun ia di Gedung Putih mendampingi Presiden Bill Clinton. Perempuan cantik dan anggun ini menjadi tokoh yang dikagumi kerena bisa melewati krisis keluarga saat suaminya menghadapi skandal seksual dengan Monica Lewinsky. Hillary menunjukkan dirinya berhasil menyelesaikan persoalan keluarga sendiri. Hillary juga tergolong ke dalam mainstream yang dominan di AS, yaitu White, Anglo-Saxon, dan Protestant (WASP).

Kepemimpinan puncak AS didominasi warga berdemografis WASP. Dalam hal ini, Hillary lebih beruntung dibandingkan Obama yang berada di luar mainstream ini. Hanya saja, Hillary harus menghadapi kenyataan dunia politk yang penuh permainan kekuasan dan didominasi oleh laki-laki. Sejak tahun 1797 atau dari 43 presiden, belum ada satu pun perempuan yang menjadi presiden AS.

Sedangkan Obama adalah wajah baru dalam perlombaan perebutan kursi kepresidenan AS kali ini. Apakah pengalamannya selama 8 tahun sebagai senator Illinois dan 4 tahun di senat AS akan membawa dirinya menjadi presiden AS berikutnya? Hillary mencibir Obama sebagai anak kemarin sore yang belum berpengalaman di politik apalagi memimpin Amerika. Berbeda dengan Hillary yang cerdas, dan berpengalaman dalam politik sebagai senator di New York. Hillary juga memiliki tim penasihat berpengalaman, yang kebanyakan bekas pejabat pemerintah suaminya, Bill Clinton.

Richard Brookhiser, seorang ahli sejarah, dalam majalah TIME menulis bahwa pengalaman atau prestasi-prestasi yang luar biasa tidak menjamin seseorang dapat menjadi seorang presiden. Dia memberikan contoh Franklin D. Roosevelt yang pernah disebut media masa kala itu sebagai "orang yang kompetensinya diragukan". Pada akhir tulisannya, Brookhiser menuliskan bahwa kemampuan mengatur pemerintahan adalah suatu seni. Artinya akan selalu ada ruang bagi inspirasi dan anugerah.

Dalam suatu negara republik, semua orang diciptakan sama. Sebab itu tak perlu heran apabila terkadang pemimpin hebat muncul dari tempat yang tidak diduga-duga, seperti seorang politikus biasa dari kota Illinois. DAP,MLP (Berita Indonesia 31)


Barack Obama, 45 tahun
Senator Illionis ini disebut-sebut sebagai keturunan Afro-Amerika pertama yang punya peluang serius. Obama belajar di Occidental College, California, lalu Columbia University di New York, sebelum meneruskan ke Harvard Law School. Di kampus yang disebut terakhir inilah Obama menjadi orang kulit hitam pertama yang menjabat posisi prestisius sebagai editor jurnal Harvard Law Review yang sangat berpengaruh. Ia kemudian terjun ke dunia politik di Illinois sebagai pengacara hak-hak sipil, lalu menghabiskan waktu tiga periode di senat negara bagian. Obama lalu masuk ke Capitol Hill (gedung Kongres) melalui pemilihan umum pada 2004. Musim panas tahun lalu, dia menggebrak panggung nasional saat menyampaikan orasi pada Konvensi Nasional Demokrat di Boston.

Hillary Rodham Clinton, 59 tahun
Senator New York ini memiliki dana kampanye terbesar dan tim penasihat berpengalaman, yang kebanyakan bekas pejabat pemerintah suaminya, Bill Clinton. Dalam video situs pribadinya, ia berujar, "Saya maju. Dan saya ingin menang." Bila sukses, ia bakal menjadi Presiden Amerika perempuan pertama dalam sejarah. "Sebagai Senator, saya telah menghabiskan dua tahun berbuat banyak membatasi kerusakan yang dibuat George W. Bush. Tapi hanya presiden baru yang bakal bisa mencegah kerusakan-kerusakan yang dibuat Bush dan mengembalikan harapan dan optimisme kita."


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com