Majalah Berita Indonesia

Saturday, Apr 29th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Mancanegara Piagam ASEAN Bersatu
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Piagam ASEAN Bersatu

E-mail Print PDF

KTT ASEAN mencapai puncak keberhasilan dengan penandatanganan Piagam ASEAN. Tetapi soal Myanmar, ASEAN terbukti bersikap lemah.

Para pemimpin negara Asean pada KTT ASEAN Ke-13 di Singapura

Konferensi tingkat tinggi (KTT) para pemimpin perhimpunan negara-negara Asia Tenggara yang tergabung dalam ASEAN, yang berlangsung di Singapura 19-22 November 2007, berhasil menelurkan sejumlah keputusan penting. Salah-satunya yakni penandatangan Piagam ASEAN atau ASEAN Charter. Piagam ini akan menentukan masa depan ASEAN dalam percaturan global.

Penandatangan Piagam ASEAN dilakukan oleh 10 kepala negara ASEAN, yaitu Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo, Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah, PM Malaysia Abdullah Ahmad Badawi, PM Thailand Surayud Chulanont, PM Kamboja Hun Sen, PM Laos Bouasone Bouphavanh, PM Vietnam Nguyen Tan Dung, PM Singapura Lee Hsien Loong dan PM Myanmar, Thein Sein.

Salah satu point terpenting Piagam ASEAN adalah soal demokrasi dan komitmen HAM. ASEAN sepakat untuk mengatur dan membentuk Badan HAM ASEAN.

Piagam ASEAN mempertegas tujuan utama ASEAN dalam memperkuat demokrasi, mewujudkan pemerintahan yang bersih, penegakan hukum dan melindungi HAM, serta membentuk badan penyelesaian sengketa ASEAN.

Piagam ASEAN yang ditandatangani berisikan pula peraturan organisasi, yang tetap mempertahankan prinsip konsensus dan konsultasi dalam keputusan, dan tidak mencampuri urusan dalam negeri anggota.

Sekjen ASEAN, Ong Keng Yong, mengaku puas dengan ditandatanginya Piagam ASEAN. Setidaknya, demikian Ong, Piagam ini akan mengikat ASEAN secara hukum. Diakuinya Piagam masih harus diratifikasi oleh masing-masing anggota ASEAN dalam jangka waktu satu tahun ke depan. Memang, sejauh ini belum ada pembicaraan mendasar mengenai sanksi bagi negara yang tidak mengikuti himbuan atas isi piagam itu.

Keputusan lainnya adalah Penandatanganan KTT Area Pertumbuhan, meliputi Indonesia-Malaysia-Pilipina-Asia Timur (BIMP-EAGA). Kemudian Penandatanganan KTT Segitiga Pertumbuhan Indonesia-Malaysia-Thailand (IMT-GT), Penandatanganan KTT ASEAN+3 (Jepang, China, Korea Selatan), Penandatanganan ASEAN+China, ASEAN +Jepang, ASEAN+Korea Selatan, ASEAN+India, dan Deklarasi ASEAN mengenai sesi ke-13 Konferensi Perubahan Iklim (ASEAN Declaration on the 13th Session of the Conference on Climate Change/UNFCCC), dan the 3rd Conference of Parties Serving as the Meeting of the Parties (CMP) to the Kyoto Protocol.

Sidang KTT ASEAN kali ini juga menghasilkan penandatanganan cetak biru komunitas ekonomi Asean, atau ASEAN Economic Community (AEC). Intinya, bertujuan menjadikan ASEAN sebagai satu kesatuan pilar perekonomian dimana investasi, aliran perdagangan, mobilitas pencari kerja akan relatif mudah dan bebas pada arena kawasan ASEAN. AEC juga berisi integrasi ekonomi, dengan menyerukan adanya sebuah pasar tunggal yang didasarkan pada stabilitas, kemakmuran, dan kompetisi ekonomi yang terintegrasi.

Pembentukan pasar tunggal ekonomi ASEAN disepakati dipercepat dari target semula tahun 2020, menjadi tahun 2015. Sebagai langkah awal, akan dilakukan single window atau satu pintu ASEAN pada tahun 2008.

Myanmar Bukan Urusan 
Walau berhasil menelurkan berbagai keputusan penting, sejumlah kalangan merasa kecewa ASEAN tidak menjadikan persoalan Myanmar sebagai isu pembicaraan penting. Timbul kesan ASEAN cenderung “melindungi” Myanmar.

Utusan khusus PBB, Ibrahim Gambari, juga batal melakukan pertemuan resmi dengan 10 pemimpin negara ASEAN mengenai perkembangan Myanmar.

Sebelumnya, indikasi persoalan Myanmar tidak akan masuk dalam agenda penting pembahasan KTT telah terlihat tatkala Perdana Menteri (PM) Singapura Lee Hsien Loong menyampaikan hasil diskusi usai jamuan makan malam para pemimpin anggota ASEAN, Senin (19/11). Lee selaku tuan rumah sekaligus Chairman ASEAN, pada kesempatan itu mengutarakan keberatan PM Myanmar, Thein Sein, apabila persoalan Myanmar dibawa sebagai issu sentral ke dalam arena KTT ASEAN.

Lee juga menyatakan pembatalan agenda utusan PBB Ibrahim Gambari, yang sedianya akan menyampaikan secara resmi hasil lawatan ke Myanmar beberapa bulan sebelumnya.

Untuk hal yang satu ini Lee memberi alasan, Gambari sebagai utusan khusus tidak mempunyai wewenang dan otoritas untuk melaporkan hasil kerjanya kepada ASEAN, atau pada KTT Asia Timur. Gambari lebih mempunyai kewajiban untuk melaporkan apa yang telah dilakukannya pada Dewan Keamanan PBB.

Para pemimpin ASEAN akhirnya sepaham dengan keputusan Lee, dengan lebih mendukung dan menghormati pilihan Myanmar untuk menempuh jalannya sendiri yaitu berhubungan langsung dengan PBB dan komunitas internasional.

Pembatalan itulah yang menuai berbagai kecaman sekaligus kekecewaan. Khin Ohmar, mantan aktivis Myanmar yang pernah melakukan demonstrasi di Myanmar tahun 1998 menilai, ASEAN telah mengalami kemunduran dan mengambil langkah buruk dan ini merupakan aib besar bagi ASEAN. 
Hal senada diungkapkan Sean Turnell, ahli Myanmar dari Macquarie University, Australia, yang menyatakan kecewa dan menilai apa yang dilakukan ASEAN merupakan sebuah keputusan yang tidak mendasar.

Kecamanan serupa disampaikan Hiro Katsumata, spesialis atau pakar ASEAN dari S Rajaratnam School of Internasional Studies, Singapura. Dia menyatakan reputasi ASEAN telah dipertaruhkan hanya untuk Myanmar. Myanmar seolah dipandang sebagai “tamu kehormatan”, yang dengan mudahnya memblokir issu yang sudah akan memojokkannya.

Nada kecewa juga dilontarkan Perdana Menteri Selandia Baru, Helen Clark, yang merasakan kekecewaan mendalam terhadap sikap yang diambil ASEAN. Padahal, menurut Clark pertemuan ASEAN adalah sebuah kesempatan emas mendengar langsung dari orang penting Myanmar mengenai apa yang terjadi sebenarnya di negara yang dipimpin Junta Militer, Jenderal Than Thwe.

Sebagaimana diketahui, demonstrasi besar-besaran terjadi di Myanmar Oktober lalu, dipicu oleh kenaikkan harga minyak tanah yang 500 persen. Demonstrasi melibatkan ribuan biksu dan 100 ribu warga sipil, menelan korban jiwa 13 orang tewas dan ribuan lainnya ditangkap. Bahkan, seorang wartawan Jepang Kenji Nagai tewas akibat ditembus peluru Junta Militer. Demikian pula nasib pejuang pro demokrasi Aung San Suu Kyi yang hingga kini belum dibebaskan. ZAH (BI 51)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com