Majalah Berita Indonesia

Saturday, Apr 29th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Mancanegara Pembebas Kaum Papa dari Kemiskinan
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Pembebas Kaum Papa dari Kemiskinan

E-mail Print PDF

Muhammad YunusNobel Perdamaian 2006
Muhammad Yunus dan Grameen Bank Banglades meraih Nobel Perdamaian 2006. Ini untuk pertama kali, sebuah usaha pemberantasan kemiskinan mendapatkan sendiri apresiasi itu. Komite Nobel makin berpihak kepada upaya pencegahan perang yang paling fundamental, pemberantasan kemiskinan. Perdamaian haruslah merupakan sebuah perdamaian yang berkeadilan.

Pria yang rambutnya sudah memutih itu tertawa riang sambil melambaikan tangan di antara para kerabat dan masyarakat Banglades setelah mengetahui namanya diumumkan sebagai penerima Hadiah Nobel untuk Perdamaian 2006 di Dhaka, Banglades (13/10). “Ini penghargaan bagi kaum miskin!” seru Muhammad Yunus (66), pendiri Grameen Bank, Banglades, yang kini memiliki 2.226 cabang di 71.371 desa dan mampu menyalurkan kredit puluhan juta dollar AS per bulan kepada 6,6 juta warga miskin.

 

Siapa yang menyangka. Hingga detik-detik terakhir, Muhammad Yunus memang sama sekali tidak disebut-sebut berpeluang menerima hadiah Nobel Perdamaian 2006. Banyak kalangan menjagokan mantan Presiden Finlandia Martti Ahtisaari dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang dinilai berjasa meredakan konflik Aceh. Tokoh lain yang dijagokan adalah Mantan Menteri Luar Negeri Australia Gareth Evans yang berjasa merekonstruksi Kamboja dan Vietnam; aktivis etnik Uighur Rebiya Kadeer yang menuduh Pemerintah China menyiksa orang Uighur di barat daya Xinjiang.

Namun tahun ini, untuk pertama kalinya, pemenangnya bukanlah selebriti yang sudah terkenal di dunia, juga bukan figur dan badan yang dijagokan, tetapi yang peduli pada pemberdayaan kaum papa dan wanita. Komite Nobel Norwegia dalam keputusannya punya alasan tersendiri. “Komite telah memutuskan untuk menganugerahkan Nobel Perdamaian 2006 kepada Muhammad Yunus dan Grameen Bank. Itu adalah penghargaan atas usaha mereka menciptakan pembangunan ekonomi dan sosial dari tataran paling bawah,” demikian kata Ketua Komite Nobel Norwegia Ole Danbolt Mjoes, di Oslo, Jumat (13/10). “Muhammad Yunus telah memperlihatkan diri sebagai seorang pemimpin, yang menerapkan visinya ke dalam hal praktis demi peruntungan jutaan orang, tidak hanya di Banglades, tetapi juga di banyak negara,” lanjutnya lagi.

Sedangkan Asle Sveen, seorang sejarawan Norwegia mengatakan, “Ini adalah untuk pertama kali, sebuah usaha pemberantasan kemiskinan mendapatkan sendiri apresiasi itu. Sudah terlalu banyak nominasi bagi pihak-pihak yang melerai konflik-konflik. Kini Komite Nobel makin berpihak kepada upaya pencegahan perang yang paling fundamental. Mengupayakan perdamaian tidaklah cukup, perdamaian haruslah merupakan sebuah perdamaian yang berkeadilan. Salah satu penyebab perang, yakni kelaparan dan kemiskinan, harus diatasi mulai dari akarnya,” kata Sveen.

Sekjen PBB Kofi Anan juga menyatakan pendapat yang senada. “Terima kasih pada Yunus dan Grameen Bank. Kredit mikro telah menjadi salah satu alat untuk memotong lingkaran kemiskinan yang paling membelit wanita,” kata Annan. “Kita tak bisa mengatasi terorisme dengan perang langsung terhadap terorisme, tetapi dengan memberi akses kehidupan pada kaum miskin,” lanjut Kofi Annan. Komentar senada juga bermunculan dari berbagai pemimpin dunia, mulai dari Kanselir Jerman Angela Merkel, Presiden Perancis Jacques Chirac hingga Raja Spanyol Juan Carlos.

Pembela Kaum Papa dan Wanita
Muhammad Yunus lahir pada 28 Juni 1940 di Chittagong saat Banglades masih menjadi bagian India, kemudian menjadi bagian Pakistan Timur pada tahun 1947, dan menjadi Banglades pada tahun 1971. Yunus berasal dari keluarga kaya. Ayahnya, Muhammad Dula Meah, adalah pedagang perhiasan logam mulia. Ayahnya selalu mendorong Yunus dan saudaranya untuk belajar, bepergian, dan mempelajari hal-hal baru. Ibunya, Sufia Khatun, hanya mengecap pendidikan kelas 4 sekolah dasar. Namun, ibunya adalah seorang wanita cerdas. Yunus mengenang ketika ibunya membacakan puisi, menuturkan cerita-cerita dengan lancar.

Muhammad Yunus di tengah-tengah sekumpulan perempuan Bangladesh yang menjadi nasabah Grameen Bank.Pendidikan dasar Yunus dimulai di sekolah dasar Baluardighi, Chittagong, dan meraih juara pertama. Saat duduk di kelas 4 sekolah dasar, salah satu guru menyarankan Yunus bersekolah di Sekolah Menengah Inggris (Middle English School), sekolah ternama di Chittagong untuk kelas 5 dan 6. Ia pergi ke sekolah itu atas inisiatif sendiri. Sekolah itu, setelah melihat nilai Yunus, langsung menerimanya. Di sekolah baru, Yunus sekelas dengan anak-anak pejabat dan pengusaha Chittagong. Ia sempat gugup dengan lingkungan elite itu. Di sekolah baru itu, Yunus meraih berbagai hingga duduk di kelas 10, setara kelas 1 SMA. Pada pelajaran ekstrakurikuler, Yunus pun istimewa. Ia menjadi salah satu dari 25 anggota tim kepanduan sekolahnya. Ia dikirim ke Jambore se-Pakistan pada tahun 1952. Ia kemudian ditunjuk menjadi wakil tim Jambore sekolahnya ke Kanada.

Pada tahun 1957, ia memasuki Universitas Dhaka dengan mengambil jurusan seni, di saat orang lain bercita-cita menjadi insinyur dan dokter. Akan tetapi, ia terbukti berbakat sebagai sutradara dan hasil karyanya dipuji. Lalu, Yunus mengambil kursus matematika dan ekonomi, kemudian meraih sarjana muda dari Universitas Dhaka pada tahun 1960, dan setahun kemudian menjadi sarjana penuh. Ia seperti orang yang gelisah. Sembari belajar, ia ingin memulai bisnis percetakan dan kemasan. Ayahnya tak setuju. Lalu, ia belajar ke Pakistan Barat, mendalami perusahaan serupa. Balik ke Chittagong, ia mendirikan perusahaan dan sukses. Saudaranya meneruskan bisnis itu. Yunus kemudian belajar ke Vanderbilt University, Nashville, Tennessee, Amerika Serikat.

Sebenarnya ia ingin bersekolah ke London School of Economics. Namun, beasiswa dari Vanderbilt University membuatnya pergi ke AS dan meraih gelar doktor pada tahun 1970. Saat berada di AS, ia menjadi aktivis mahasiswa yang mendukung pemisahan Banglades dari Pakistan. Walau bisa hidup tenang dan makmur di AS, dari kegiatan dosen di Tennessee State University, Murfreesboro, Yunus bertekad bulat kembali ke Banglades, yang saat itu sudah merdeka dari Pakistan.

Kiprah Yunus memberdayakan kaum papa dimulai sejak tahun 1974. Ketika itu, sebagai profesor ekonomi di Universitas Chittagong, dia memimpin para mahasiswa untuk berkunjung ke desa-desa miskin di Banglades. Betapa kagetnya Yunus ketika dia menyaksikan warga miskin di desa-desa berjuang lolos bertahan dari kelaparan yang melanda negara itu dan telah menewaskan ratusan ribu orang. Selanjutnya, sebagai akademisi, Yunus pun merasa berdosa. “Ketika banyak orang sedang sekarat di jalan-jalan karena kelaparan, saya justru sedang mengajarkan teoriteori ekonomi yang elegan,” kata Yunus.

“Saya mulai membenci diri saya sendiri karena bersikap arogan dan menganggap diri saya bisa menjawab persoalan itu (kemiskinan). Kami profesor universitas semuanya pintar, tetapi kami sama sekali tidak tahu mengenai kemiskinan di sekitar kami. Sejak itu saya putuskan kaum papa harus menjadi guru saya,” tambahnya. Dari perasaan bersalah itu, ia mulai mengembangkan konsep pemberdayaan kaum papa. Filosofi yang dia bangun adalah bagaimana membantu kaum miskin agar bisa mengangkat derajat mereka sendiri. Dia tidak ingin memberi ikan, melainkan memberi pancing kepada kaum papa untuk mencari ikan sendiri.

Tekad Yunus semakin bulat setelah mengetahui seorang ibu perajin bambu bernama Sufia Begum bolak-balik berutang kepada tengkulak untuk mendapat modal membuat bangku dari bambu. Sufia yang tinggal di desa Jobra dekat Universitas Chittagong meminjam uang 5 taka atau kurang dari Rp 850 untuk setiap bangku. Namun, dia harus mengembalikan utang tersebut berikut bunganya sebesar Rp 184. “Saya berkata pada diri sendiri, oh Tuhan, hanya karena lima taka dia menjadi budak. Saya tidak mengerti mengapa mereka harus menjadi begitu miskin padahal mereka bisa membuat barang kerajinan yang bagus,” kata Yunus.

Untuk membantu Sufia dan teman-temannya sesama perajin, awalnya Yunus merogoh koceknya sendiri sebesar 27 dollar AS. Saat itu, dia begitu yakin bahwa jika orang miskin diberi akses kredit seperti yang diberikan kepada orang kaya, mereka pasti bisa mengelolanya dengan baik. “Berikan itu (kredit) kepada orang miskin, mereka akan bisa mengurus dirinya,” katanya. Keyakinan Yunus tidak meleset. Program kredit mikro yang digulirkannya terus berkembang.

Dua tahun kemudian, Yunus mulai mengembangkan program kredit mikro tanpa agunan untuk kaum papa yang tidak dapat mengakses pinjaman bank. Program ini menjadi semacam gugatan Yunus terhadap ketidakadilan dunia terhadap kaum miskin. “Mengapa lembaga keuangan selalu menolak orang miskin? Mengapa informasi teknologi menjadi hak eksklusif orang kaya,” tuturnya.
Tahun 1983, Yunus mentransformasi lembaga kreditnya menjadi sebuah bank formal dengan aturan khusus bernama Grameen Bank, atau Bank Desa dalam bahasa Bengali. Kini, bank ini memiliki 2.226 cabang di 71.371 desa. Hebatnya lagi, modal bank ini 94 persen dimiliki nasabah, yakni kaum miskin, dan sisanya dimiliki pemerintah. Bank tersebut kini mampu menyalurkan kredit puluhan juta dollar AS per bulan kepada 6,6 juta warga miskin yang menjadi peminjamnya. Sebanyak 96 persen nasabah bank ini adalah kaum perempuan.

Untuk menjamin pembayaran, Grameen Bank menggunakan sistem yang dinamakan ‘grup solidaritas’. Kelompok kecil bersama-sama mengajukan pinjaman di mana di dalamnya terdapat anggota yang bertindak sebagai penjamin pembayaran. Pinjaman ini mirip dana bergulir, di mana ketika satu anggota telah berhasil mengembalikan pinjaman, akan digunakan oleh anggota lainnya. Grameen Bank kemudian memperluas cakupan pemberian kreditnya dengan memberikan pinjaman rumah (KPR), proyek irigasi, pinjaman untuk usaha tekstil, dan usaha lainnya.

Pada akhir 2003, Grameen Bank meluncurkan program baru, yang membidik para pengemis di Banglades. Pinjaman bagi para pengemis rata-rata sebesar 500 taka atau setara 9 dollar AS. Pinjaman tanpa agunan ini tidak dikenakan bunga dengan waktu pembayaran fleksibel. Syaratnya pinjaman harus dikembalikan dari hasil pekerjaan mereka dan bukan dari mengemis. “Kami berupaya menaikkan harkat selain tentunya meningkatkan kemampuan ekonomi mereka,” kata Yunus dalam situsnya.

Mereka diberikan tanda pengenal berupa pin dengan logo bank sebagai bukti bahwa ada bank yang mendukung kegiatan mereka. Grameen Bank bahkan membuat perjanjian dengan beberapa toko lokal agar meminjamkan mereka sejumlah barang, sesuai plafon utangnya, untuk dijual kembali. Bank menjamin pengembaliannya jika ternyata mereka gagal bayar. Mereka menjual roti, permen, acar, dan mainan sembari mereka mengemis.

Para pengemis, atau yang disebut struggling member terbuka untuk membuka tabungan di Grameen. Mereka juga dilindungi asuransi jika terjadi kematian. Hingga pertengahan 2005, sebanyak 31 juta taka pinjaman telah disalurkan bagi 47 ribu lebih pengemis. Sebanyak 15,4 juta di antara pinjaman itu telah dikembalikan.

Grameen Bank juga telah berkembang menjadi Grameen Family of Enterprises yang membawahkan delapan lembaga profit dan nonprofit, semuanya ditujukan untuk mendorong masyarakat terangkat derajatnya. Divisi perbankannya mencatat keuntungan sebesar 15,21 juta dolar pada 2005 lalu.

Gerakan pemberdayaan kaum papa yang diprakarsai Muhammad Yunus kini diadopsi oleh lembaga-lembaga pemberdayaan masyarakat miskin di seluruh dunia. Bahkan, Bank Dunia yang sebelumnya memandang program ini secara sebelah mata kini mengadopsi gagasan kredit mikro. Lebih dari 17 juta orang miskin di seluruh dunia telah terbantu dengan program kredit mikro ini.
Yunus dan Grameen Bank mendapatkan hadiah sebesar 1,36 juta dollar AS (sekitar Rp 12,5 miliar). Hadiah itu, kata Yunus, akan dipakai untuk proyek yang menghasilkan makanan bergizi, murah dan juga kepada perawatan mata, pengadaan air minum serta pelayanan kesehatan. MLP (dari berbagai sumber) (Berita Indonesia 24)

BIODATA:
Nama : Muhammad Yunus
Lahir : Chittagong, Bangladesh 28 Juni 1940
Isteri : Afrozi (Menikah April 1980)
Anak : Deena dan Monica (perempuan)

Pendidikan:

  • Chittagong Collegiate School
  • Chittagong College
  • Universitas Dhaka (BA pada 1960 dan MA pada 1961)
  • Universitas Vanderbilt (PhD pada 1970)

Penghargaan Internasional:

  • 1978  President’s Award, Bangladesh
  • 1984  Ramon Magsaysay Award, Filipina
  • 1989 Aga Khan Award for Architecture, Swiss
  • 1993 CARE Humanitarian Award
  • 1994 World Food Prize
  • 1996 Simon Bolivar Prize (UNESCO)
  • 1998 Sydney Peace Prize
  • 1998 Prince of Asturias Award
  • 2004 The Economist Newspaper’s Prize
  • 2006 Mother Teresa Award
  • 2006 8th Seoul Peace Prize
  • 2006 Hadiah Nobel Perdama-ian bersama Grameen Bank.

Peraih Nobel Ekonomi 2006

Edmund Phelps (73), ASEdmund Phelps (73), AS
The Royal Swedish Academy of Science menobatkan Edmund Phelps (73) sebagai penerima Nobel di bidang ekonomi, Senin (9/10). Profesor Universitas Columbia, Amerika Serikat ini dinilai layak menerima hadiah Nobel setelah meneliti tentang keterkaitan antara pengangguran dengan inflasi. Phelps melawan asumsi yang berkembang pada era 60-an. Teori itu mengatakan, pemimpin bisa memotong tingkat pengangguran dalam jangka panjang dengan menstimulasi permintaan. Pria berusia 73 tahun ini menunjukkan, pemotongan suku bunga atau pajak hanya memberikan gairah lapangan kerja dalam jangka pendek. Phelps juga menyebutkan, bahwa inflasi bukan penyebab tingkat pengangguran meninggi. Sebaliknya, pada dasarnya tingkat pengangguran justru membantu harga-harga melambung. Awalnya, ekonomi tidak termasuk bidang yang diberi penghargaan nobel seperti visi pendirinya, Alfred Nobel. Tapi, 1968, Bank Sentral Swedia menambahkannya di dalam daftar yang meliputi bidang kesehatan, fisika, kimia, perdamaian dan sastra.

Andrew Z Fire (47), AS dan Dr. Craig Mello (45), ASPeraih Nobel Kesehatan 2006
Andrew Z Fire (47), AS dan Dr. Craig Mello (45), AS
Andrew Z Fire dari Departments of Pathology and Genetics Stanford University School of Medicine dan Dr. Craig Mello asal Harvard University dianugerahi Nobel bidang Kedokteran.

Penganugerahan diumumkan Komite Nobel di Karolinska Institute, Stockholm, Swedia, Senin (2/10). Dua ilmuwan asal Amerika Serikat itu dianugerahi Nobel karena temuannya mengenai metode pengendalian arus informasi genetik dianggap brilian. Metode ini juga menjadi acuan penelitian untuk mengobati sejumlah penyakit mematikan baik yang berkaitan dengan gen dan virus seperti Human Immunodeficiency Virus (HIV) maupun kanker.

Peraih Nobel Sastra 2006
Orhan Pamuk (54), Turki
Karya lelaki kelahiran Istanbul, Turki, 7 Juni 1952, ini dinilai penuh pesona. Debut internasionalnya dimulai lewat karya ketiganya Beyaz Kale (1985). Tahun 1992, karya itu diterjemahkan ke bahasa Inggris menjadi The White Castel (Puri Putih). Setelah itu muncul karya-karya lain, seperti Kara Kitab (Buku Hitam 1990; The Black Book; 1995) Menurut Pamuk, tema terbesarnya ada pada novel Namaku Merah (2000) yang bercerita tentang hubungan perbedaan Barat dan Timur. Sedangkan karya terakhir berjudul Kar (Salju, 2005) tentang sebuah kota yang bernama Kar yang berada di perbatasan Ottoman dan Rusia.

John C Mather (60), AS dan George F Smoot (61), ASPeraih Nobel Fisika 2006
John C Mather (60), AS dan George F Smoot (61), AS
Komite Nobel Swedia di Stockholm, Selasa (3/10), kembali memberi penghargaan Nobel kepada John C. Mather dan George F. Smoot, ilmuwan asal Amerika Serikat yang berprestasi di bidang Fisika. Mather (60 tahun) adalah peneliti pada Pusat Penerbangan Luar Angkasa atau NASA di Maryland. Sementara George F. Smoot (61 tahun) adalah peneliti pada Laboratorium Nasional Barkeley, California. Komite Nobel Swedia menilai Mather dan Smoot layak menerima Nobel karena karya mereka soal asal mula alam semesta serta obvervasi yang dilakukan, berperan besar dalam perkembangan kosmologi moderen.

Roger D Kornberg (59), ASPeraih Nobel Kimia 2006
Roger D Kornberg (59), AS
Roger D Kornberg dianugerahi Nobel Kimia atas penelitiannya mengenai proses transformasi informasi gen dalam pembentukan protein sel. Atau yang lebih dikenal dengan istilah trans-cription. Kornberg adalah ilmuwan pertama yang berhasil memetakan proses transkripsi. Penelitian Kornberg mengenai transformasi informasi gen dinilai sangat bermanfaat bagi penelitian di bidang kesehatan. Kesalahan dalam memahami sistem transformasi dapat mengakibatkan sejumlah penyakit bawaan seperti kanker dan kelainan jantung.


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com