Memasuki tahun 2008, Indonesia diantar oleh prediksi ketidakpastian ekonomi dan bencana.
Harian Indo Pos (21/12) misalnya, mengulas tentang risiko ekonomi 2008. Harian ini menyebutkan, menutup tahun 2007, sejumlah harapan dan kekhawatiran muncul bersama. Di bidang ekonomi, kinerja makroekonomi yang cukup positif sepanjang tahun 2007 diharapkan bisa dipertahankan tahun 2008. Namun, sejumlah gejala ekonomi membuat banyak pihak khawatir, ekonomi Indonesia tahun depan akan lebih buruk. Tahun 2008 diwarnai ketidakpastian, karena melihat indikasi masih tingginya harga minyak mentah di pasar dunia. Selain itu, melambatnya petumbuhan ekonomi AS dan dunia yang akan berdampak langsung terhadap kinerja ekspor nasional. Karena itu, Indonesia harus siap memasuki tahun yang lebih berat, meskipun secara fundamental perekonomian sudah lebih siap. Untuk mengatasi risiko-risiko yang akan dihadapi, sinergi kebijakan di bidang fiskal dan moneter harus ditingkatkan. Diharapkan, pemerintah dan BI bisa lebih baik dan sinergis pada 2008.
Harian sore Suara Pembaruan (21/12) juga menyoroti prediksi kondisi 2008, khususnya bidang Investasi. Seperti dilaporkan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), M Lutfi, realisasi investasi asing dan domestik dalam kurun 1 Januari hingga 15 Desember 2007 mencapai Rp 125,94 triliun. Jumlah itu 183 persen dari target Rp 68,56 triliun. Dan bila dibanding 2006, pencapaian tahun 2007 itu naik 169 persen. Untuk tahun 2008, BKPM mematok target peningkatan investasi langsung sebesar 15,2 persen. Dengan demikian, pemerintah berharap Rp 145 triliun modal bakal ditanamkan investor di Indonesia tahun 2008.
Pencapaian seperti yang dilaporkan BKPM tersebut membuktikan bahwa Indonesia masih menarik bagi investor. Meskipun demikian, pencapaian itu belumlah optimal. Masih banyak persoalan penting yang dianggap menghambat percepatan peningkatan penanaman modal, seperti penegakan hukum yang masih amburadul, birokrasi yang berbelit-belit, dan ketidakstabilan politik dan keamanan. Untuk mencapai investasi yang lebih menggembirakan, harian ini menyarankan agar segenap jajaran pemerintah pusat dan daerah memacu diri menghilangkan catatan buruk yang selama ini terus bergema.
Harian Bisnis Indonesia (22/12) juga mengulas gambaran ekonomi Indonesia 2008 dikaitkan dengan janji Menko Perekonomian Boediono tentang kebijakan ketat. Boediono menjanjikan, pada tahun 2008 tidak akan dibuat kebijakan uang ketat. Menurutnya, gejolak harga minyak mentah dunia tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Dampak krisis kredit perumahan berkualitas rendah (subprime mortgage) di AS, juga tidak perlu dibesar-besarkan.
Bisnis Indonesia menyatakan sependapat dengan pernyatan Boediono tersebut.
Harian ini yakin, berbagai risiko seperti disebutkan dapat dikelola dengan kebijakan yang tepat. Dalam situasi di mana saat ini muncul banyak anggapan, dan kritik, bahwa perekonomian belum berjalan optimal, sektor riil dinilai berjalan lambat, kebijakan yang berlebihan, dengan arah yang keliru, justru akan makin mengerem bahkan menghancurkan perekonomian. Dalam situasi seperti saat ini, justru dibutuhkan banyak perangsang, agar perputaran roda usaha bergerak lebih lincah, lebih kencang. Dan untuk itu, dibutuhkan kecukupan likuiditas. Perangsangnya adalah kebijakan moneter yang lebih akomodatif dan kebijakan fiskal yang lebih longgar, apalagi jika dua kebijakan sentral itu bisa berjalan saling mendukung. Belajar dari krisis keuangan tahun 1997/1998, kebijakan uang ketat apalagi disertai dengan kebijakan fiskal yang ketat, dampaknya akan mematikan perekonomian.
Sementara Koran Tempo (28/12), seperti juga harian lainnya, menyoroti bencana tanah longsor yang terjadi 26 Desember 2007 lalu. Menurut koran ini, tak selayaknya pemerintah dan masyarakat menerima bencana alam dengan pasrah. Sebab, sebagian besar musibah seperti banjir dan tanah longsor di Jawa Timur dan Jawa Tengah itu sebenarnya bisa dihindari. Penyebabnya pun jelas, yakni ramuan antara curah hujan tinggi, hutan yang telah gundul, dan penyempitan sungai di berbagai wilayah.
Indonesia memang dikenal sebagai negeri yang rawan bencana. Kondisi itu sebenarnya mengharuskan bangsa ini agar selalu siap hidup bersama bencana. Tapi susahnya, pemerintah pusat dan daerah hampir selalu lengah. Mereka tidak (mau) sadar bahwa rakyatnya hidup di tengah bahaya. Hampir tak ada sistem antisipasi dan manajemen bencana yang disiapkan dengan sungguh-sungguh sejak jauh hari. Padahal, dengan bantuan teknologi, sebagian besar bencana sudah bisa diperkirakan sehingga korban yang muncul bisa ditekan seminimal mungkin. Kejadian tanah longsor di lereng Gunung Lawu, misalnya, sudah diperkirakan sejak setahun sebelumnya. Namun, peringatan yang diberikan para peneliti tidak digubris. MS (BI 53)
| < Prev | Next > |
|---|



