Topik-topik, seperti kecelakaan pesawat Adam Air, transaksi helikopter Mi-2 yang penuh teka-teki serta peluang bisnis dan investasi di tahun 2007, menarik perhatian sejumlah majalah nasional sehingga menempatkannya sebagai laporan utama.
Menempatkan cuaca buruk sebagai “tersangka” pertama pada kasus hilangnya pesawat yang dipiloti Refri Agustian Widodo itu, antara lain datang dari analis BMG Bandara Juanda Surabaya, Joko Sulistyo. Menurut Joko, jalur penerbangan yang akan dilewati Adam Air memang berawan, terutama munculnya awan cumulonimbus yang mengandung butir-butir es, kelembaban rendah dan angin tak stabil disertai petir.
Dugaan itu dibantah sejumlah pengamat penerbangan, seperti Dudi Sudibyo yang merasa yakin cuaca saat itu tidak terlalu buruk. Saat itu, cuaca yang direkam pada ketinggian 10.000 kaki, memang ada hujan tapi kecil, jarak pandang masih 5,7 km dan kecepatan angin 8 km/jam. Mestinya, pada ketinggian 35.000 kaki, kondisi pesawat Adam Air aman sebab cuaca lebih terang benderang.
Di luar faktor cuaca, ada pula yang menduga pesawat meledak di udara, seperti diungkapkan seorang ahli penerbangan dari ITB, Hisar M Pasaribu. Menurut Hisar, jika pesawat menukik tajam dari ketinggian 35.000 ke 8.000 kaki melebihi 20 persen kecepatan jelajahnya, pesawat bisa meledak. Namun dia menggambarkan analisanya masih sebatas dugaan.
Dugaan lain kerusakan pada sistem penentu posisi di kokpit. Ini didasarkan pada pertanyaan pilot soal posisi pesawat kepada pemandu Bandara Hasanuddin, padahal bisa dibaca lewat sistem penentu posisi di kokpit. Laporan utama Tempo turun lima hari sebelum ditemukannya ekor pesawat Adam Air di perairan Pantai Barru, Sulawesi Selatan.
Laporan sampul Gatra (11-17/1) juga menyoroti hilangnya pesawat tersebut, sayang hanya sehari sebelum ekor Adam Air diketemukan oleh M.Bakrie, nelayan Desa Bojo II, Barru. Gatra menulis, walaupun pencarian memakan waktu lama, aparat dan keluarga para korban tetap optimis. Seperti keyakinan Samuel yang empat orang keluarganya ikut raib bersama pesawat naas itu. “Pesawat itu tidak mungkin hilang ditelan bumi,” kata Samuel seperti dikutip Gatra. Kebenaran ucapan Samuel masih perlu dibuktikan oleh tim SAR.
Soal kecelakaan penerbangan di Indonesia yang berulang-ulang, pakar penerbangan Kapten Pilot Sri Subekti menyarankan agar Departemen Perhubungan melakukan inspeksi dan audit terhadap semua maskapai penerbangan domestik.
Lain halnya dengan majalah bisnis dan ekonomi, Trust (8-14/1), yang menyoroti pembelian helikopter Mi-2 dari Rusia. Menurut majalah ini, banyak keanehan dalam transaksi jual-beli helikopter tersebut. Persoalannya diawali dari kontrak belanja helikopter angkutan ringan yang ditandatangani tanggal 17 Desember 2002. Ketika itu, PT Cerianaga Pertiwi bertindak sebagai agen (broker) dari perusahaan Rostov Mil PLC. Sedangkan kreditornya, perusahan leasing Harmony Capital Sdn Bhd dari Malaysia.
Dalam proses selanjutnya, Harmony mengundurkan diri tanpa alasan jelas. Padahal Departemen Pertahanan RI sudah membuka LC, dan membayar uang muka 15% atau senilai US$ 1.676,400 kepada Cerianaga. Karena kreditor mundur, agen pun limbung. Dalam situasi seperti itu, Cerianaga pun menghilang. Memang dua pesawat sudah didatangkan. Tapi ditaksir harga dua pesawat itu hanya 1,112 juta dolar AS, masih ada selisih 558.000 dolar AS, sekarang raib entah ke mana.
Kemudian Dephan menunjuk PT Austamindo sebagai kreditor pengganti Harmony. Lagi-lagi pemerintah tertipu. Rupanya kontrak bisnis TNI dan Rusia tidak dijembatani oleh orang yang benar. Kemudian PT Novanindra milik Soeryo Goeritno ditunjuk melanjutkan proyek tersebut. Ini pun kembali mengalami kendala, karena Dephan dan Depkeu tidak mencapai kata sepakat seputar pengadaan alat militer tersebut.
Majalah bisnis lainnya, SWA (4-17/1) menyorot peluang bisnis dan investasi di tahun 2007 yang dinilainya mengandung harapan. Meski ditekan berbagai masalah, perekonomian Indonesia diyakini tetap bisa tumbuh lumayan dan membaik. Namun SWA juga melaporkan, sebagian pelaku bisnis yang merasakan adanya sejumlah persoalan yang bisa mengganggu bisnis mereka. Karenanya, mereka menanggapi secara cermat tanda-tanda perbaikan ekonomi tersebut.
SWA, mengutip pakar manajemen, menyarankan kepada para pelaku bisnis agar memperbaiki manajemen untuk memenangkan persaingan usaha di tahun 2007. Dalam hal pemasaran, majalah ini mengemukakan bahwa yang lebih banyak dicari adalah pendekatan yang sederhana, fokus dan original. Sedangkan di bidang investasi, SWA memperkirakan membaiknya investasi pribadi sejalan dengan perbaikan kondisi ekonomi.
Majalah ini merujuk pada kebangkitan ekonomi China dan India yang membangkit keandalan infrastruktur sebagai kunci sukses ekonomi bangsa. MS (Berita Indonesia 30)
| < Prev | Next > |
|---|



