Berbagai teknologi terus dicoba untuk menanggulangi semburan lumpur di Sidoarjo. Apa yang mungkin terjadi di masa depan?
Saat ini, 600 hektar dari 59.159 hektar luas Sidoarjo sudah terbenam lumpur. Tepatnya di sekeliling pusat semburan di Banjar Panji. Tapi bukan tak mungkin, semburan lumpur yang berawal dari penggalian minyak dan gas PT Lapindo Brantas Inc. itu akan menenggelamkan seluruh kawasan itu.
Selagi para pakar disibukkan mencari solusi terbaik untuk menghentikan semburan lumpur, pada 20 Maret 2007, sekitar pukul 12:00 WIB, semburan lumpur sempat berhenti selama 30 menit.
Diberitakan Republika, 21 Maret 2007, peristiwa itu sempat mengagetkan para pekerja yang sedang memperbaiki tanggul cincin di sekitar pusat semburan. Menurut Juru Bicara Timnas Penanggulangan Semburan Lumpur Panas (PSLP) Rudi Novrianto, saat fenomena itu terjadi, semburan yang biasanya disertai gelombang lumpur di kawah berhenti total, hanya asap putih saja yang ada, sementara gelombang lumpur dari perut bumi itu berhenti.
Tapi sekitar pukul 12.30 WIB semburan kembali muncul lagi. Hingga saat ini pekerjaan yang dilakukan Timnas PSLP adalah terfokus membuat kanal dari titik semburan menuju spill way dan perbaikan tanggul cincin. Sejauh ini pembuatan kanal lumpur itu tinggal mencapai 40 persen.
Sinar Harapan, 22 Maret 2007, mengulas upaya para ahli dari ITB yang memasukkan sekitar seribu buah pipa besi berdiameter 1,5 meter ke dalam mulut tumpahan lumpur. Kemudian bola-bola beton berdiameter 20 dan 40 sentimeter dimasukkan ke dalam pipa, dan menyalurkan bola-bola tersebut masuk ke dalam semburan lumpur.
Dengan cara tersebut bola-bola diharapkan akan memenuhi lubang semburan hingga ke mulutnya. Meski tidak berharap bola-bola tersebut menghentikan semburan, setidaknya bola-bola itu akan menurunkan laju semburan lumpur hingga kemudian menghentikannya.
Di lain pihak, Brian Simpson dari Arup Geotechnic menyatakan kalau upaya tersebut termasuk usaha jangka panjang yang akan menimbulkan banyak persoalan. Salah satunya merupakan kemungkinan meletusnya semburan lumpur karena satu-satunya lubang tempat ia keluar tersumbat.
Bakal gersang
Majalah Tempo edisi 12-18 Maret 2007 mengulas penanggulangan semburan lumpur Lapindo ini dalam 11 halaman. Dalam salah satu bagian artikelnya yang berjudul “Selamat Datang Bleduk Sidoarjo,” majalah ini memberitakan prediksi pakar dalam dan luar negeri tentang usia semburan lumpur tersebut.
Beberapa pakar yang berkumpul dalam lokakarya International Geological Workshop on Sidoarjo Mud Volcano di Jakarta, tiga pekan lalu, masing-masing mengajukan prediksi. Lambok M. Hutasoit, ahli hidrologi dari ITB, membuat dua prediksi. Pertama, semburan bakal berlangsung selamanya jika air yang memasok semburan itu berasal dari Gunung Arjuna dan Gunung Penanggungan, 10 kilometer dari pusat semburan.
Tetapi jika berasal dari air yang terperangkap karena proses geologi ribuan tahun lalu, semburan pasti akan berakhir.
Sementara itu, tim peneliti Ikatan Ahli Geologi Indonesia mengatakan, potensi semburan lumpur sebanyak 1.155.000.000 meter kubik. Diasumsikan debit rata-rata yang keluar per hari 100 ribu meter kubik, maka semburan lumpur akan berlangsung selama 31 tahun.
Kelompok Riset Geodesi ITB pimpinan Hasanuddin Z. Abidin memprediksi ancaman amblesnya tanah dengan kecepatan rata-rata 2 cm per hari. Pada 31 tahun mendatang, akan terbentuk kubangan raksasa berkedalaman 219 meter.
Ada ancaman lain bagi Sidoarjo, yakni krisis air tanah. Lambok menjelaskan, jika semburan berasal dari sumber yang terisi kembali, akan terjadi kegersangan di sekitar pusat semburan dan pencemaran air tanah. Hal itu disebabkan, air yang tersembur berkadar garam tinggi dan berpotensi mencemari sumur penduduk.
Lahan mirip gurun itu akan seperti kawasan Bleduk Kuwu di Purwodadi, Jawa Tengah. Di Desa Kuwu ini terjadi semburan lumpur dengan volume kecil sejak ratusan tahun lalu dan kini menggenangi 45 hektar lahan. RH (Berita Indonesia 35)
| < Prev | Next > |
|---|



