Hal yang paling terkesan dalam pengelolaan (manajemen) Al-Zaytun adalah terbinanya kebersamaan yang tidak putus, sustainable, tidak temporer. Segala sesuatu yang telah dan akan dilakukan, selalu dipikirkan bersama, dibuat bersama dan dikerjasamakan. Artinya, menetapkan sesuatu, sekalipun ide dari seseorang tapi dikerjasamakan, dijadikan ide bersama. Itulah seni manajemen Al-Zaytun.
Sebab membuat satu ide dari seseorang untuk dimiliki bersama, itu memerlukan seni. Seni inilah yang terus kita jalankan jangan sampai putus. Kalau ide seorang, itu bisa ditentang, kalau belum disosialisasikan dan diadaptasikan,” kata Syaykh al-Zaytun Abdussalam Panji Gumilang.
Al-Zaytun kini telah melewati dasawarsa pertama (1999-2009) dan tengah memasuki dasawarsa kedua (2009-2019). Sehubungan dengan itu, Wartawan TokohIndonesia.com dan Majalah Berita Indonesia, mewawancarai Syaykh Al-Zaytun Abdussalam Panji Gumilang, di Wisma Tamu Al-Islah, Al-Zaytun, 21 September 2009.
Wawancara berlangsung hampir dua setengah jam, mulai dari pencapaian target dalam satu dasawarsa, tantangan yang dihadapi dan bagaimana Al-Zaytun ke depan, setidaknya sepuluh tahun ke depan? Juga tentang kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, pembangunan demokrasi, pertahanan dan keamanan, pendidikan nasional, ketahanan pangan nasional, dan penyelenggaraan pemerintahan dan negara. Semua percakapan ini kami bagi dalam enam topik.
Topik tentang masalah pertahanan dan keamanan telah kami terbitkan pada Rubrik Wawancara pada Edisi 71 dengan judul “Teror Bom, itu Kejahatan Kemanusiaan.” Pada edisi ini kami mengangkat topik bagaimana Al-Zaytun melewati dasawarsa pertama (27 Agustus 1999 - 2009) dan memasuki dasawarsa kedua (2009-2019). Mengenai pencapaian target, tidak mudah mengukurnya. Tidak semudah mengukur berapa kilometer yang telah dicapai dan berapa kubik yang sudah terisi.
Sebab, Al-Zaytun adalah pusat pendidikan dan pengembangan budaya toleransi dan perdamaian. Hal itu bukan sekadar motto tapi kredo. Sebuah cita-cita yang sifatnya membangun rohani, karakter dan sikap mental yang tidak mengenal batas waktu. Berlaku abadi, selaras dengan manusia itu sendiri. Selaras dengan cita-cita bernegara, selaras juga dengan cita-cita beragama. Kredo itu tidak bisa diukur dalam 10 tahun.
Hal yang paling terkesan adalah seni manajemen kebersamaan yang tidak putus, sustainable. Segala sesuatu yang telah dan akan dilakukan, selalu dipikirkan bersama, dibuat bersama dan dikerjasamakan. Artinya menetapkan sesuatu, sekalipun ide dari seseorang tapi dikerjasamakan, dijadikan ide bersama. “Sebab membuat satu ide dari seseorang untuk dimiliki bersama, itu memerlukan seni. Seni inilah yang terus kita jalankan jangan sampai putus. Kalau ide seorang, itu bisa ditentang, kalau belum disosialisasikan dan diadaptasikan,” kata Syaykh Al-Zaytun Abdussalam Panji Gumilang.
Sementara mengenai cita-cita ke depan, Syaykh Al-Zaytun mengemukakan tujuh hal yang harus dimiliki kader produk pendidikan Indonesia untuk menjawab tantangan zaman dalam abad yang seperti sekarang ini. Berikut ini petikan wawancara dengan Syaykh Al-Zaytun:
Barangkali walaupun sudah sering kami dengar, perlu penyegaran juga, karena setiap saat juga ada hal-hal baru dalam pemikiran Syaykh tentang Al-Zaytun, walaupun sejak awal sudah ada landasan-landasannya. Begitu juga tentang kehidupan berbangsa dan bernegara. Pertanyaan pertama, Al-Zaytun sudah satu dasawarsa, sudah cukup waktu untuk melihat, sudah ada yang ditoleh ke belakang untuk menentukan langkah ke depan. Dari perencanaan semula, apakah dalam satu dasawarsa pertama (1999-2009), Al-Zaytun mencapai target?
Maksudnya pencapaian target Al-Zaytun setelah berjalan 10 tahun. Mengukur target itu, apalagi target yang didasari oleh sebuah kredo, bukan sekadar motto tapi kredo, menegakkan sebuah ide pendidikan dan pembangunan budaya toleransi dan perdamaian, itu tidak bisa kita ukur dalam 10 tahun. Dan mengukurnya juga sangat relatif sekali karena tidak ada ruangan yang pasti dan tidak ada jarak yang pasti. Jadi mengukurnya tidak semudah berapa kilometer yang telah dicapai dan berapa kubik yang sudah terisi.
Karena ini sebuah cita-cita yang sifatnya membangun rohani dan membangun karakter, sikap mental. Dan tidak ada batas waktu. Maka kredo yang kita buat itu sebuah kredo tanpa batas waktu. Akan berlaku abadi, karena pendidikan dan budaya toleransi serta perdamaian itu selaras dengan manusia itu sendiri. Selagi ada manusia, itu ada. Selaras juga dengan cita-cita bernegara, selaras juga dengan cita-cita beragama.
Nah, entah terlalu besar yang dicita-citakan atau bagaimana, sehingga mengukurnya relatif sekali. Kalau 10 tahun itu dihitung dan ditengok sepertinya belum ada apa-apa hasilnya. Tapi, tadi sebuah kredo yang merupakan sebuah cita-cita besar, paling tidak seperti kita menanam tanaman. Ini sering kita katakan. Walaupun hasil buah yang kita cita-citakan itu belum tampak, belum ada, tapi untuk sekadar berteduh, kita sudah dapat. Paling tidak membagi oksigen, menjernihkan alam sekitar. Kemudian membuang polutan-polutan, itu sudah terasa. Nah ini susah didefinisikan.
Ya, sudah terdefinisikan sendiri?
Jadi, kalau itu yang ditanya susah didefinisikan.
Syaykh bilang sebuah kredo, sulit diukur, karena itu soal membangun karakter, dan mental dengan nilai-nilai toleransi dan perdamaian. Tapi tempat berteduh untuk posisi itu sudah ada?
Sudah terasalah.
Sudah terasa. Jadi pengaruhnya mungkin sudah terasa oleh lingkungan, tidak terbatas di lingkungan Indramayu?
Akibat daripada kita membangun kredo tadi. Dan jika kredo tadi dijabarkan, kredo itu memang manusiawi, sangat religi dan sangat nasionalistik juga. Ini juga kami yakin pasti ada akibat positifnya, pasti ada. Mengapa? Sebab tidak terlalu banyak institusi yang mengedepankan itu sebagai kredonya. Mungkin ada yang mencita-citakan bahasanya yang Islamikah, atau yang agamiskah.
Di kami ini (Al-Zaytun) arahnya hanya pada sebuah arena pendidikan yang mendidik manusia dari segala lapisan untuk tertanam budaya yang kita sebut toleransi dan damai. Kami yakin itu ada, paling tidak dikesankan oleh lingkungan tidak hanya di Indramayu tapi di lingkungan Indonesia maupun banyak tempat-tempat yang lain. Karena ide ini (budaya toleransi dan perdamaian) selamanya diperlukan oleh manusia. Kemudian praktek dari ide itulah yang bisa mengantarkan manusia punya pemikiran yang terbuka, suka berdialog, baik itu dialog verbal maupun dialog karya.
Satu di antaranya, dialog karya sudah sering kita lakukan, setiap saat, dan ini juga sudah berakibat. Beberapa bulan lalu, saya mendengar berita dalam sebuah pertemuan tatkala anggota DPRD Indramayu berkunjung ke DPRD Wonosobo. Dalam dialog, saling sambut-menyambut, Ketua DPRD Indramayu memaparkan, Indramayu terkenal sebagai kota mangga, kota udang, dan kota minyak.
Lalu, Ketua DPRD Wonosobo menyambut bahwa Indramayu yang adanya di Pantura menjadi sangat terkenal karena hal-hal itu. Tapi ada yang lebih dari itu, yaitu adanya pesantren Al-Zaytun di Indramayu, yang mampu memberi inspirasi pembangunan kepada daerah-daerah, termasuk kami yang sudah datang ke Al-Zaytun. Kami terinspirasi, kemudian kami lakukan walaupun belum seperti di Al-Zaytun karena keterbatasan dana.
Kita tidak paham apa yang mereka lakukan sebagaimana dikemukakan Ketua DPRD Wonosobo itu. Mereka institusi kelembagaan daerah, maka kami rasa bukan membangun pendidikan tapi membangun bagaimana cara membangun.
Nah, itu contoh kecil. Justru disampaikan pada anggota DPRD Indramayu yang sedang berkunjung ke Wonosobo. Saat DPRD Indramayu memberikan penjelasan bahwa Indramayu terkenal karena mangga, kota minyak. Tapi justru Ketua DPRD Wonosobo mengatakan, ada yang lebih dari itu. Itu sebuah jawaban dari pertanyaan Anda yang dijawab oleh orang Wonosobo. Bukan saya yang menjawab, saya hanya menyampaikan.
Hal itu suatu respon, karena barangkali pengaruhnya sudah terasa sampai jauh di luar lingkungan Indramayu?
Satu indikator, indikasi bahwa itu respon masyarakat. Salah satu, dari sebuah institusi DPRD. Itu hanya salah satu, karena masih banyak. Kalau dipanjangkan, masih banyak.
Dalam 10 tahun, Syaykh sebagai pendiri sekaligus pemimpin langsung mengelola Al-Zaytun ini dengan manajemennya yang sedemikian rupa. Dengan cara pengelolaan yang seperti yang sekarang ini. Tapi tentu ada dinamika yang bisa berpengaruh juga. Apa yang paling berkesan dari perjalanan 10 tahun dalam dinamika pengelolaannya sehingga memengaruhi kebijakan Syaykh?
Itu kebersamaan yang tidak putus. Jadi adanya kebersamaan yang tidak putus dan tidak temporer, sustainable.
Bisa diperjelas?
Keberadaan sesuatu yang akan kita lakukan itu selalu dipikirkan bersama, dibuat bersama dan dikerjasamakan. Karena itu, sebuah cita-cita awal membentuk Al-Zaytun, ke depan itu supaya punya kader yang seperti itu, ya kita awali. Artinya, menetapkan sesuatu, sekalipun ide dari seseorang tapi dikerjasamakan, dijadikan ide bersama. Sebab membuat satu ide dari seseorang untuk dimiliki bersama, itu memerlukan seni. Seni inilah yang terus kita jalankan jangan sampai putus. Kalau ide seorang, itu bisa ditentang, kalau belum disosialisasikan dan diadaptasikan.
Nah, yang kita lakukan, itu yang namanya kebersamaan yang tidak terputus. Segala sesuatu, yang besar, yang kecil, kita sosialisasikan dan dimiliki bersama, menjadi bersama. Kita lebur menjadi satu sehingga kita terikat dengan ide tersebut dalam pelaksanaannya menjadi fakta sosial kecil yang mengikat.
Yang lain, selain itu?
Intinya itu. Sehingga apapun yang namanya sulit, karena sudah bersama menjadi ringan. Yang sesuatu ringan karena bersama tidak menjadi hilang. Nah itu yang mengesankan.
Kemudian, dalam 10 tahun, tidak semua orang atau ada segelintir orang juga yang selalu tidak sependapat atau malah menyebar hal-hal yang bersifat negatif tentang Al-Zaytun. Hikmah apa yang bisa didapat dari situ?
Hikmahnya besar sekali. Sehingga kita bisa membuat suatu benteng rohani. Jadi benteng rohani itu yang penting. Jadi dari benteng rohani ini keluarlah metoda berbuat. Artinya selalu respon terhadap berbagai macam tanggapan. Tapi metoda itu ketemu, kita tidak masuk kepada sikap reaksioner.
Tapi kita lebih dekat kepada pendalaman ajaran Ilahi yang berkaitan dengan isu-isu yang keluar itu. Sisi mana ajaran Ilahi yang harus kita dalami sehingga semua orang itu bisa mengerti. Nah, itu hikmah yang kita dapat. Sehingga terjadilah setiap ada sesuatu itu tidak jawaban verbal namun yang kita kedepankan adalah jawaban amal atau karya.
Dan terus kita arahkan kepada bukan sekadar baik, tetapi terbaik dari apa yang diisukan, perbuatan terbaik dari apa yang diisukan. Ya, seperti tadi hanya sekitar itu hikmahnya untuk kita, menebalkan moralitas kita.
Ada ketahanan iman dan ketahanan moral?
Ketahanan moral. Sehingga kita terus menggali ajaran Ilahi. Sehingga keluarlah ajaran Ilahi itu untuk semua. Itu dari perenungan itu.
Bagaimana pandangan Syaykh terhadap orang-orang yang memberi tantangan itu?
Tantangan itu selalu ada, ya tanggapannya seperti tadi. Nggak usah individual. Nggak usah.
Inti daripada tantangan itulah yang kita sortir. Sehingga kita punya ketahanan moral tadi. Terus didasari pada pendekatan ajaran Ilahi yang lebih detail.
Lalu dalam 10 tahun berjalan ini sudah diletakkan dasar-dasar pengelolaan Al-Zaytun, baik dalam pembangunan fisiknya maupun dalam penanaman atau proses pembelajaran tentang kredo itu tadi. Penanaman nilai-nilai, baik kepada santri maupun lingkungannya. Kemudian, dalam rangka masa depan, paling tidak (terutama) dalam sepuluh tahun ke depan, kebijakan-kebijakan apa yang akan dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di Al-Zaytun?
Sekarang kita cermati zaman. Zaman sekarang ini atau abad millenium ini hingga ke depan. Kini dunia memerlukan kader, termasuk tentunya Indonesia, termasuk tentunya kita-kita, Al-Zaytun. Nah, kader-kader itu mestinya diciptakan dari pendidikan.
Cita-cita ke depan itu, kita catat ada tujuh hal supaya kita nanti memiliki kader. Kita harus ikut mempersiapkan tampilnya generasi produk pendidikan Indonesia yang memenuhi ciri-ciri abad ini. Minimal bangsa Indonesia untuk menjawab tantangan zaman dalam abad yang seperti sekarang ini. Dan ini sudah menjadi ciri tantangan dunia juga.
Pertama, ke depan kita harus mempersiapkan kader yang bisa jadi pemikir sistem-sistem, dan berkeupayaan menggabungkan antara isu, kejadian, dan data secara utuh dan terpadu. Pemikir sistem-sistem, bukan hanya satu sistem. Kemudian mampu menggabungkan semua ini. Mereka mampu menggabungkan antara isu yang terjadi, kemudian kejadian yang nyata, kemudian data-datanya secara terpadu.
Jadi jangan sampai kader itu hanya mampu berpikir satu sistem kemudian tidak mampu menanggapi satu isu, tidak mampu membuat data, tidak mampu mensinkronkan semua antara isu, kejadian, data secara terpadu. Kalau itu yang terjadi, ya sudah gagal lagi nanti. Itu yang pertama, ciri-cirinya yang kita kehendaki. Dan, ini nanti kita jabarkan juga di dalam kurikulum pendidikan.
Kemudian, kedua, kader yang kita kehendaki ini nanti menjadi kader agen perubahan. Sebagai agen perubahan, yang berkemampuan mengembangkan pemahaman, dan memiliki kompetensi tinggi dalam menciptakan dan memenej perubahan bagi kehidupan bangsa agar dapat bertahan hidup.
Agen perubahan yang berkemampuan mengembangkan pemahaman, tentunya memiliki kompetensi tinggi dalam menciptakan dan memenej perubahan berbagai kehidupan bangsa agar bangsa dan negara ini tetap hidup. Agen itu diarahkan kepada Indonesia tetap hidup dan sebaliknya.
Sesudah itu ciri ketiga, generasi pembaharu. Sebagai pembaharu dan berani mengambil risiko, terbuka terhadap perspektif yang luas dan kemungkinan-kemungkinan yang esensial dalam menentukan tren dan menggerakkan pilihan.
Jadi yang saya maksudkan dengan generasi pembaharu ini, adalah kader yang berani mengambil risiko. Banyak sekali sekarang itu pembaharu, tapi kurang berani mengambil risiko. Tapi ada berani mengambil risiko tetapi tidak memiliki sikap pembaharu. Sehingga terjadi banyak kemuskilan dalam kehidupan bernegara. Nah, kader ke depan, pembaharu, berani mengambil risiko, dan terbuka terhadap perspektif ke depan. Juga mampu membaca dan membuat tren-tren, serta mampu menggerakkan pilihan.
Ciri keempat, kader yang mampu memberikan pelayanan kepada orang lain. Berkemampuan dan berkelayakan untuk meningkatkan pelayanan kepada yang lain, berpendekatan holistik untuk bekerja, memiliki a sense of community dan berkemampuan membuat keputusan bersama.
Jadi, kalau sudah menjadi pemikir, lantas tidak mau menjadi pelayan pada orang lain, ini juga lemah. Sehingga adanya hanya di kelompok elit, menara gading yang susah di tempuh. Jadi harus mampu memberi pelayanan.
Selanjutnya, kelima adalah kader yang berkeupayaan dan berkemampuan untuk dapat mengoordinasikan banyak hal di waktu yang sama dan dapat bekerja berbarengan dengan orang lain. Walaupun hal ini terkesan susah, tapi harus dikader, harus dididik. Mengoordinasikan banyak hal dalam waktu yang sama dan mampu menciptakan kerjasama. Jadi istilahnya cekatan.
Problem banyak hari ini, misalnya, situ Gintung pecah, lalu di sana kelaparan ada lagi, terus gunung meletus lagi, guncangan. Semua diselesaikan dalam satu waktu dan kerjasama, tidak sendiri-sendiri. Nah, ciri itu juga nanti yang kita harapkan ke depan.
Kemudian, keenam, mampu membantu orang lain untuk terus belajar. Berkeupayaan tampil sebagai pembantu orang lain untuk belajar, menciptakan banyak pendekatan yang beraneka, sebagai instruktur, juru latih, dan penasihat yang bijak (mentor).
Menyemangati, membantu untuk terus belajar. Nah sehingga dirinya menjadi juru latih atau bahasa Indonesia, pelatih. Kalau bahasa Melayunya juru latih atau menjadi penasihat-penasihat yang bagus, menjadi mentor.
Yang terakhir, ketujuh, kita inginkan kader itu mampu membangun visi bangsa, mengatur negara. Berkeupayaan membantu membangun visi bangsa dan negaranya serta memberi inspirasi bagi segenap lapisan masyarakat, yang diposisikan sebagai kolega maupun pelanggan.
Memberi inspirasi kepada masyarakat dan masyarakat itu diposisikan sebagai kolega, bukan bawahan-atasan tapi kolega. Kalau dalam perdagangan itu sebagai pelanggan. Dihormati, pelanggan itu harus selalu dihormati, tidak boleh tersentuh sedikitpun supaya terus.
Nah, itu ciri ke depan yang kita harapkan dan tentunya ini dijabarkan dalam tiap kurikulum. Baik kurikulum yang pencapaiannya itu bisa diukur dengan nilai-nilai tertentu secara akademik. Ataupun kurikulum yang nilainya tadi bukan nilai umum, yang mengukurnya sangat panjang masanya.
Tapi kita yakin, karena kita sudah ’terjerumus’ masuk dalam arena pendidikan, kita tahu seluk-beluk arena pendidikan. Jadi kita yakin hal itu bisa dilakukan. Nah, dunia ini isinya banyak orang, banyak ide dan masing-masing selalu mendagangkan dan membeli.
Sangat kaya. Tapi bagaimana cara mengimplementasikannya dalam kurikulum?
Untuk kurikulum tidak terlalu susah. Kalau kurikulum akademik tidak terlalu susah. Yang paling susah itu di luar akademik. Maka dengan sistem boarding school seperti sekarang ini, inilah yang kita harapkan. Di luar kelas masih ada kelas lagi, dan kelas alam terbuka.
Nah, itulah yang harus dididik dan memerlukan waktu yang panjang. Tapi sepanjang-panjangnya pendidikan itu cuma 20 tahun, kalau ditempuh terus-menerus. Lebih banyak hidup setelah 20 tahun itu. 20 tahun plus enam, 26 sisanya lebih banyak. Apalagi dididik dan diberikan suatu praktek hidup sehat, ia akan minimal seperti nabi Yusuf umurnya sampai 110 tahun. Nah, 110 dikurangi 26, kan masih banyak. 26 tahun untuk pendidikan dan masa kanak-kanak, selebihnya untuk dialog karya.
Jadi bisa Syaykh berikan satu contoh, dimana implementasi salah satu poin itu tadi kepada santri?
Dalam pendidikan itu, ada bahasa action learning in action. Jadi action learning in action itu pendidikan yang selalu dijabarkan dengan satu tindakan. Dan tindakan ini dilandasi oleh peserta didik itu. Peserta didik itu selalu menciptakan problem, kemudian di solving, diciptakan lagi problem, di-solving lagi oleh peserta didik itu. Nah pelaku didik itu sekadar menjadi motivator, bukan pengendali, tapi rekanan, motivator. Bila tidak menemukan problem baru, diajak, kalau ini bagaimana? Jadi tidak memberikan pengajaran semacam tutor. Kamu harus begini-kamu harus begini, tidak. Jadi pendidik itu menghantar saja.
Sudah dipraktekkan di Al- Zaytun?
Tentu, dipraktekkan. Ada problem, umpamanya, kawan mereka ada kekasaran tindakan dan sebagainya. Kita sediakan tempat seakan-akan itu mahkamah, bertanya mengapa terjadi. Begini, mengapa kok harus itu kamu lakukan. Nah, ini dilakukan oleh para pelajar, tentunya kita ada di dalamnya, karena kita mendidik, tidak ada pendidikan kekerasan.
Setelah itu kita mengevaluasi, bagaimana kamu supaya tidak terjadi lagi ini, kamu sebagai pengurus. Nah, hal ini tidak bisa diajarkan di kelas. Kan di sini ada kelas, ada asrama, ada lembaga guru, ada lembaga pengawas umum. Maka di sini asrama sudah kita serahkan pada pelajar kelas tertinggi yang sudah kelas 16. Artinya, sudah mahasiswa. Yang awalnya kita berikan kepada senior-senior, sekarang itu ditarik, diberikan kepada pelajar yang notabene mahasiswa. Karena dialah yang memahami hidup dari nol sampai menjadi mahasiswa di kehidupan asrama selanjutnya, dia yang memimpin asrama.
Kemudian olahraga, yang tadinya senior yang membimbing, baik itu dari eksponen yayasan, sekarang diserahkan kepada yunior. Artinya, produk yang telah kita hantarkan sampai kepada waktu tertentu mereka yang menjadi pembimbing. Di situ pengendalian dan pembimbingan sekaligus pendidikan untuk menciptakan tadi itu. Yaitu cita-cita 7 poin itu tadi, sedang berjalan.
Dan itu dilakukan dalam sistem kebersamaan yang tidak terputus itu. Sehingga penerimaan nilai-nilai itu bisa dilakukan secara bersama?
Contoh, kalau di lembaga-lembaga tertentu, seorang pimpinan asrama diganti, digeser, itu ada reaksi karena ada kepentingan. Nah, kalau di sini nggak, kita geser karena memang mendidik terus, ini ada kader yang sudah siap paling tidak dipersiapkan jadi impas. Terus nanti di briefing supaya bisa lulus. Karena tidak ada kepentingan selain mendidik.
Umpamanya, manajer asrama tidak ada kepentingan untuk mendapatkan sesuatu dari kemanajeran itu. Kalau narik iuran tidak ada atau dagang murid tidak ada. Jadi tatkala rolling, ya easy going, enteng saja. Kemudian kita putar, yang tadinya manajer-manajer asrama sekarang kita buat lembaga pengontrol pendidikan formal. Nanti ini juga kelas tertinggi yang megang, alih generasi yang tersistem, namanya.
Jadi, kebersamaan yang tidak terputus tadi kuncinya? Kalau 10 tahun Al-Zaytun sudah mencapai yang seperti yang sudah dijelaskan Syaykh tadi. Walaupun sulit diukur dengan angka tapi sudah bisa dirasakan, paling tidak kalau kita berteduh sudah terasa udaranya seperti apa. Kalau sudah 10 tahun ke depan, kira-kira sudah bagaimana Al-Zaytun, dalam harapan Syaykh. Selain 7 nilai itu tadi?
Ya, selain tujuh nilai itu adalah tantangan abad ini, ya mendapat tantangan, dan menjawab tantangan itu.
Jadi mungkin tidak sekadar sebuah titik berteduh lagi, mungkin sudah ada…?
Menjawab tantangan. Tantangan itu kan bermacam-macam. Menjawab tantangan, kita tidak berkata mampu, karena mampu itu sangat relatif. Mampu itu kalau tidak dengan kerjasama, menjadi tidak mampu. Artinya kita harus tampil bekerjasama dengan yang lain. Karena yang bercita-cita ini juga banyak tentunya, saya yakin banyak. Mungkin dengan bahasa yang berbeda-beda.
Kalau dari jenjang pendidikan, 10 tahun ke depan itu, sudah ada yang selesai, tamat?
Tahun yang akan datang sudah ada.
Paling tidak kepada alumni ini sudah bisa digambarkan apa yang bisa diharapkan?
Kita tidak harus mengharapkan satu harapan. Berikan saja kepada mereka, kembangkan diri mereka dimana mereka mampu. Dengan modal yang tujuh yang sudah diharapkan tadi. Kami yakin kalau dengan tujuh harapan tadi, andai dia dilapis bawah pun akan bergerak seperti ini, di lapis atas juga begitu.
Jadi akan terasa kehadirannya dimana dia ada?
Sehingga akan terjadi, Indonesia ini nanti, bahasa Bhinneka Tunggal Ika, menjadi bisa duduk seperti ini, bisa diskusi seperti ini di seluruh khalayak.
Dan mereka akan menjadi agen perubahan, pembaharu. Mudah-mudahan 10 tahun lagi kita sudah nikmati. Kemudian, pertanyaan kami lebih spesifik dalam rangka kehidupan berbangsa dan bernegara. Kalau Al-Zaytun itu tadi kredonya tidak sekadar motto, sudah jadi pusat pendidikan dan pengembangan budaya toleransi dan perdamaian. Dan dalam perjalanannya, selalu ada tantangan yang dihadapi. Padahal ini tujuan mulia sebenarnya, tapi koq masih ada yang menanggapinya aneh-aneh gitu ya. Di mana sebenarnya posisi Syaykh melihat hal ini?
Ya, tidak apa-apa, karena itu dinamika. Dinamika itu seperti itu, apalagi Al-Zaytun yang baru 10 tahun. Yang lain-lain yang umurnya sudah lebih dari banyak, masih ada tantangan. Tantangan itu biarkan menjadi tantangan, dan kita yakin tantangan dari zaman ke zaman itu selalu ada, walaupun nanti bentuknya itu berbeda-beda. Tapi tantangan itu selalu ada dan akan selalu ada. Di situlah olah pikir dan olah rasa itu akan ditingkatkan. Jadi bukan hanya olah rasa saja, olah pikir dan olah rasa. Kalau olah rasa saja belum tentu sehat rasanya. Tapi kalau olah pikir dan olah rasa, sehat dan nyaman.
Yah, itu kita melihat ada misi mulia dan tidak semua bisa menerima, terutama dari kalangan muslim sendiri, kenapa?
Nggak apa-apa, dan jangan pakai ditanya kenapa? Kalau ditanya kenapa, ya jawabnya nggak kenapa-kenapa. Jadi itu sudah hal yang biasa, tadi saya sudah sampaikan apalagi kita yang baru 10 tahun, yang sudah lebih dari banyak saja itu masih ada tantangan-tantangan.
Tapi respon yang langsung ke Syaykh sendiri, bagaimana tentang misi mulia ini?
Maksudnya respon?
Respon dari masyarakat itu?
Tadi ‘kan sudah ada suatu contoh (Ketua DPRD Wonosobo). Itu ‘kan bisa dijadikan jawaban. Ya masyarakat sekitar lingkungan di sini tidak usah dijadikan jawaban. Dan kami melihatnya tentu bukan dari ucapan orang, tapi dari perbuatan orang. Yang awalnya tidak kenal apa-apa menjadi kenal apa-apa. Kita meresponnya seperti itu-itu saja. Dan tidak akan berhenti yang namanya tantangan, nanti berbeda-beda bentuk dan warna, begitu. Ya biarkan saja tantangan itu menjadi tantangan.
Lebih spesifik, ada nggak kelompok tertentu yang mempunyai pandangan, sulit menerima sebuah lembaga pendidikan Islam menjadi pusat pengembangan budaya toleransi dan perdamaian yang Syaykh terima?
Spesifik tidak ada, kelompok-kelompok spesifik tidak ada.
Tapi justru yang merespon secara positif sangat banyak?
Dikatakan sangat banyak, banyak itu juga relatif. Ya direspon, yang respon positif ada, tidak merespon pun ada, yang menentang pun ada. Nah, itu hal yang biasa. Jadi biarkan saja begitu. Nanti nilai-nilai yang kita sampaikan inilah pada saatnya akan berbicara dan berbuah.
Kalau dari kalangan non muslim bagaimana responnya?
Kita sekarang ini sudah tidak berbicara muslim dan non muslim. Yang kita hadapi umat manusia. Kalau nanti kita kelompokkan gagal lagi, akhirnya tidak ada toleransi dan perdamaian.
Sudah lewat fase pembicaraan itu?
Sudah. Itu sudah tidak terpikir.
Sudah kuno ya?
Bukan lagi kuno, sudah tidak masuk dalam pemikiran. Karena pemikiran kita ajaran Ilahi lebih didalami terus untuk semua manusia. Jadi kalau sudah diajak berbicara muslim dan non-muslim itu, di benak ini sudah tidak terima. Harus berbicara umat manusia saja kita.
Pemikiran seperti itu apa tidak ditentang oleh orang tertentu?
Itulah jangan bicara tentang ditentang dan disukai orang. Karena ini adalah ajaran Ilahi. Kalau kita takut, kapan beraninya lagi, keberanian mengambil risiko tadi. Jadi kita harus contohkan. Kita memiliki keberanian mengambil risiko. Jika tidak berani, kapan jadinya.BI/Marjuka-Hotsan-CRS (Berita Indonesia 72)
| < Prev | Next > |
|---|



