Majalah Berita Indonesia

Thursday, Sep 02nd

Last update06:39:43 PM GMT

Majalah Berita Indonesia RSS Feed
You are here Edisi Cetak Lentera Mengasah Ketakwaan dan Solidaritas

Mengasah Ketakwaan dan Solidaritas

E-mail Print PDF
User Rating: / 3
PoorBest 

Kepedulian kepada sesama ditunjukkan oleh seluruh civitas akademik Al-Zaytun, tampak dalam gambar putri Syaykh Al-Zaytun, Khoirunnisa, anggota DPRD Indramayu, dengan ramah menyapa warga saat pembagian daging qurbanSyaykh Al-Zaytun mengatakan, bahwa untuk memahami ajaran agama, akal budi harus diasah. Dan untuk memahami makna firman dalam kitab suci, sejarah dan budaya ummat pada zaman diturunkannya firman tersebut oleh Allah harus dipahami.

Setiap tahun, di Al-Zaytun,kampus Pusat Pendidikan Toleransi dan Perdamaian,perayaan hari besar keagamaan selalu dirayakan dengan penuh makna, tidak pernah dibiarkan berlalu hanya sekadar seremonial belaka. Setiap tahun selalu ada pemaknaan yang mencerahkan dan menyegarkan dari Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang baik melalui tausyiah maupun khotbah, juga dari segenap civitasnya.

Sebagaimana dalam Khutbah ‘Ied al-Adlha 1430 H/2009 M di Kampus Al-Zaytun, pada tarikh 10 Dzu al-Hijjah 1430 H / 27 November 2009 M. Syaykh memberikan pencerahan mengenai inti dari ajaran agama samawi (Ibrani, Nasrani, dan Islam) bertajuk: Millah Ibrahim Induk Agama Samawi. Khotbah yang selama ini jarang disampaikan ulama lainnya dari atas mimbar, khususnya pada perayaan hari-hari besar seperti ini.

Selain dari Syaykh, penyegaran dan pencerahan juga diperlihatkan oleh para civitas akademik Al-Zaytun yang tergambar dari upaya mereka yang semakin menunjukkan kepeduliannya kepada sesama.

Di tengah adanya pandangan berbeda soal hari pelaksanaan Idul Adha, Al-Zaytun seperti tahun-tahun sebelumnya, melaksanakan perayaan Idul Adha sesuai dengan tanggal yang ditetapkan oleh pemerintah. Sementara tentang pembagian daging kurban, jika di tempat lain ada yang mengalami kericuhan, di Al-Zaytun berjalan tertib dan sarat makna kepedulian, dan kebersamaan (silaturahim).

Suasana perayaan Idul Adha sudah terasa sejak malam hari, dimana lantunan takbir diiringi dentuman bedug terdengar dari masjid di kampus tersebut. Pukul 5:00 WIB tanggal 27 November 2009 itu, sejumlah ummat sudah berdatangan ke Mesjid Al Hayat dimana Sholat Idul Adha atau Idul Kurban dilaksanakan. Menjelang pelaksanaan sholat pada pukul 6:30 WIB, ummat yang hendak menuaikan sholat, baik pelajar, mahasiswa, guru, karyawan, seluruh eksponen Al-Zaytun, dan wali santri yang datang ke Al-Zaytun pun semakin berjubel sampai tidak tertampung di dalam masjid sehingga harus menjalankan sholat di pelataran masjid.

Mencontoh sikap Nabi Ibrahim, Al-Zaytun setiap tahun membagi daging qurban kepada warga sekitar kampus Al-ZaytunSholat yang diimami oleh Syaykh itu pun berlangsung hikmad hingga selesai. Apalagi khotbah yang dibawakan Syaykh sangat menarik dan mencerahkan, didukung oleh penyampaian yang kharismatis.

Terkait dengan khotbah Syaykh tersebut, wartawan Berita Indonesia yang meliput perayaan Idul Adha berkesempatan mempercakapkan makna khutbah tersebut yang cukup bermakna bagi semua penganut agama samawi.

Memperjelas makna khotbahnya, Syaykh Al-Zaytun mengatakan, bahwa untuk memahami ajaran agama, akal budi harus diasah. Dan untuk memahami makna firman dalam kitab suci sendiri, sejarah dan budaya ummat pada zaman diturunkannya firman tersebut oleh Allah harus dipahami.

Secara singkat, Syaykh misalnya menceritakan kisah yang tertulis dalam Taurat tentang silsilah dari Nabi Ibrahim, Ismail, Ishak, hingga Yakub. Juga bagaimana kisah Esau dan Yakub yang bersaudara kembar soal berebut hak kesulungan.Dan, bagaimana pula kisah Yakub yang lebih dikasihi bundanya dibanding Esau merebut berkat dari ayahnya Ishak. Serta kisah Yakub yang bergulat dengan pasukan Allah dan menang, yang kemudian namanya diganti pasukan Allah tersebut menjadi Israel.

Mengenai sejarah kehidupan Nabi Ibrahim sendiri, secara singkat Syaykh ceritakan bahwa Nabi Ibrahim hingga di usia senja belum juga mendapat keturunan atau anak dari istrinya Sarah. Menyadari hal itu, bunda Sarah mempersilahkan suaminya Nabi Ibrahim untuk mengambil dayangnya (pembantunya) Hagar, seorang wanita Mesir menjadi istrinya agar ada yang meneruskan keturunan buat suaminya. Dari bunda Hagar, Nabi Ibrahim pun kemudian mendapat anak yang diberikan nama Ismail. Namun beberapa tahun kemudian, bunda Sarah pun melahirkan anak bagi Nabi Ibrahim yang diberi nama Ishak.

Dalam perjalanan waktu, karena sesuatu hal yang tidak dijelaskan secara gamblang, Syaykh menuturkan bahwa bunda Hagar dan Ismail kemudian dipindahkan Nabi Ibrahim jauh dari Tanah Kanaan (Israel sekarang). Dalam perjalanan ketika perpindahan itulah misalnya kemudian lahir sejarah munculnya sumber Air Zam-Zam yang hingga kini sangat dikenang.

Sementara terkait mengenai perayaan hari besar Idul Adha, Syaykh kembali menuturkan khotbahnya dengan mengatakan bahwa latar belakang perayaan ini adalah mengapresiasi ketaatan Nabi Ibrahim menyerahkan kurban kepada Allah, bahkan kerelaan Nabi Ibrahim mengurbankan putranya setelah mendapat perintah dari Allah melalui mimpinya. Juga tentang kerelaan putranya Pembagian daging qurban pada Idul Adha 1430 H di Al-Zaytun ditangani oleh pelajarsendiri untuk dikurbankan. Dijelaskan Syaykh, karena ketaatan Nabi Ibrahim ini, sehingga di dalam Qur’an maupun Taurat atau Perjanjian Lama di dalam Alkitab (Bibel), Nabi Ibrahim disebut sebagai bapak yang dimuliakan. Bapak dari banyak bangsa yang bertakwa atau pasrah kepada Allah.

Dalam kaitan dengan kisah penyerahan anaknya sebagai kurban kepada Allah, dari sejarah disebut di ataslah menurut Syaykh ada perbedaan pemahaman di antara agama samawi belakangan hari. Menurut penuturan Syaykh, berbeda dengan Kitab Perjanjian Lama yang tertulis dalam Kejadian yang menyebutkan secara eksplisit bahwa anak yang dikurbankan Nabi Ibrahim itu adalah Ishak, di dalam Qur’an memang tidak disebutkan secara eksplisit bahwa Ismail-lah anak yang dikurbankan tersebut. Namun, mengingat usia anak yang dikurbankan itu disebutkan kira-kira enam belasan tahun, ummat Islam meyakini anak yang dikurbankan itu adalah Ismail, sebab usia Ishak ketika itu diperkirakan masih tiga atau empat tahun.

Namun terlepas dari perbedaan itu, menurut Syaykh, yang paling penting dipahami dalam kisah ini, bahwa inti atau prinsip dari perayaan hari raya kurban yang juga merupakan inti dari ajaran agama samawi adalah anjuran untuk pasrah kepada Allah. Memaknai kepasrahan kepada Allah ini, Syaykh mengatakan, bahwa di dalam kisah Nabi Isa juga sarat dengan pesan yang mengajarkan kepasrahan diri kepada Allah.

Menurut Syaykh, arti dari Muslimum atau Islam sendiri adalah pasrah. Jadi, ajaran Islam berarti ajaran yang menganjurkan kepasrahan kepada Allah. Sementara itu, nasrani atau nasroni menurut Syaykh mengandung arti suka menolong. Jadi menurut Syaykh, bagi ummat Nasrani, tidak salah mengaku diri muslimum karena hal itu berarti orang yang memasrahkan diri kepada Allah.

Sementara ummat Islam juga tidak salah jika menyebut diri nasroni karena hal itu berarti suka menolong. Namun agama universal atau agama yang mengharuskan semuanya sama, menurut Syaykh adalah hal yang tidak baik adanya.

Sementara menjawab pertanyaan Berita Indonesia mengenai kenapa masih terjadi perselisihan di Timur Tengah hingga sekarang jika inti ajaran agama Ibrani (Yahudi), Nasrani, dan Islam atau agama samawi seperti yang Syaykh katakan sama adanya? Syaykh mengatakan, perselisihan di Timur Tengah sekarang ini bukanlah perselisihan antar agama, tapi perselisihan perebutan hak.

Silaturahim Idul Kurban
Jika di sejumlah tempat, perayaan Idul Adha tahun ini diwarnai berbagai kericuhan karena berebut pembagian hewan kurban, sebaliknya penyaluran daging kurban di Al-Zaytun semakin cepat, rapi dan akurat, bahkan semakin hikmad dari tahun sebelumnya.

Dalam kesempatan pembagian daging qurban, Khairunnisa, anggota DPRD Indramayu menyempatkan bersilaturahim dengan wargaSeusai pelaksanaan sholat Ied, seluruh petugas pembagian kurban pun langsung bergegas ke basement Masjid Rahmatan Lil Alamin, tempat dimana hewan kurban dipotong, dibersihkan dan diatur pendistribusiannya.

Belajar dari pengalaman pembagian hewan kurban tahun-tahun lalu yang berjalan tertib dan akurat yakni tidak ada rebutan dan benar-benar sampai kepada orang yang berhak, tahun ini pun pembagian hewan kurban di Al-Zaytun tetap dilakukan dengan mengantar langsung kepada mustahiq sesuai dengan daftar yang sudah didata sebelumnya.

Dari segi jumlah hewan yang dikurbankan dan mustahiq, jumlah hewan kurban tahun ini tidak jauh berbeda dari tahun-tahun lalu. Sebanyak 10 kepala lembu dengan rata-rata 650 kg per kepala dan kambing dewasa sebanyak 65 kepala dikurbankan tahun ini, sedangkan jumlah mustahiq sebanyak 1900-an keluarga yang tersebar di desa-desa sekitar kampus Al-Zaytun di Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Untuk pelaksana pembagian daging kurban, mulai dari pemotongan hingga penyaluran mengandalkan pelajar dibantu oleh mahasiswa, dewan guru dan diawasi langsung oleh para pengurus yayasan.

Dengan proses pemotongan dan pembersihan yang menggunakan alat-alat bantu modern seperti porklif untuk memindahkan daging sapi yang cukub berat, serta dikerjakan oleh tim yang bekerjasama dan terkoordinasi dengan rapi, dan didukung pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya, pembagian kurban pun sudah bisa dilaksanakan pada pukul 10 pagi.

Penyaluran kepada mustahiq pun seperti tahun lalu, tetap dilakukan oleh para pelajar di bawah pengawasan guru dan pengurus yayasan, setelah sebelumnya telah dibagi dalam puluhan tim, sesuai dengan lokasi dimana pembagian daging kurban dilaksanakan.

Di lokasi pembagian, setelah beberapa orang mustahiq hadir, pengurus yayasan atau guru pengawas pun mengucapkan salam dari Syaykh AS Panji Gumilang sebagai pimpinan Al-Zaytun, dan selanjutnya langsung membagikan daging kurban sesuai dengan daftar yang telah didata dan dibuktikan dengan penunjukan kupon yang telah dibagi sebelumnya.

Serap Aspirasi, Kesulitan Air
Dalam proses penyaluran hewan kurban inilah terlihat keunggulan dari kampus pendidikan bertaraf internasional tapi bersemangat pesantren ini dibanding yang lain. Di tempat lain, penyaluran hewan kurban dilakukan dengan cara menunggu para mustahiq datang berbondong-bondong ke satu tempat. Sehingga sangat berisiko terhadap kericuhan bahkan kecelakaan akibat desak-desakan.

Sementara di Al-Zaytun, penyaluran dilakukan dengan mengantar langsung kepada yang berhak, sehingga sangat menguntungkan para mustahiq karena mereka tidak harus berdesak-desakan, bahkan mereka tidak perlu terganggu bekerja karena pengambilan kurban bisa dilakukan sebentar bahkan bisa dilakukan anaknya yang masih kecil.

Dan yang lebih penting, dengan cara pelayanan yang diterapkan Al-Zaytun ini, antara pemberi dan penerima daging kurban terbuka kesempatan silaturahim yang akan mempererat rasa persaudaraan dan kebersamaan sebagai sesama. Hal tersebutlah yang telah diperlihatkan Al-Zaytun pada perayaan Idul Adha selama ini, khususnya pada tahun ini.

Dalam kegiatan pembagian daging kurban ini, Khaerunnisa, putri dari Syaykh Al-Zaytun yang dalam pemilu legislatif April 2009 lalu terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Indramayu untuk periode 2009-2014, juga ikut terjun ke desa-desa lokasi penyaluran daging kurban.

Dalam kesempatan bertemu dengan masyarakat yang diwakilinya itu, setelah menyampaikan salam dari sang ayah Syaykh AS Panji Gumilang dan seluruh eksponen Al-Zaytun, Khaerunnisa menyerahkan bungkusan daging kurban kepada beberapa ibu atau bapak-bapak yang datang saat itu. Pada kesempatan itu, Nisa panggilan akrab Khaerunnisa, juga selalu mengucapkan kiranya daging kurban yang dibagikan itu bermanfaat dan berkenan di hati masyarakat. Pada saat yang sama, Nisa juga menyempatkan mengucapkan terimakasihnya atas dukungan warga kepadanya pada pemilu lalu.

Di samping itu, Khaerunnisa juga tak lupa menanyakan keluhan yang dialami warga selama ini dengan maksud untuk dicoba dibawanya ke forum dewan. Dari percakapan singkat dengan warga tersebut, Khaerunnisa pun sedikitnya mendengar dua pokok masalah yang menjadi keluhan warga di sekitar Al-Zaytun di Kecamatan Gantar, yakni masalah susahnya memperoleh air untuk pertanian dan masalah mahalnya biaya pengurusan kartu tanda penduduk (KTP). Masalah ini juga kemungkinan merupakan keluhan masyarakat Indramayu pada umumnya.

Di Desa Mekarjaya dan Desa Gantar, misalnya, Khaerunnisa mendengar keluhan warga tentang sulitnya memperoleh air untuk sawah mereka. Sementara di Blog Sarkamal Desa Situraja, di samping masalah air, Karyo, Ketua RW 07 mengatakan masalah lainnya adalah masalah pengurusan KTP yang cukup mahal dan lambat. Menurutnya, kalau dulu mengurus KTP cukup dua-tiga hari, kini bisa sampai setengah bulan.

Menurut Khaerunnisa sendiri, kira-kira dua pekan sebelumnya, tepatnya pada tanggal 13 hingga 19, DPRD sedang reses. Pada masa itu dia memfokuskan masa reses tersebut di lima desa yang ada di Kecamatan Gantar, termasuk di Desa Situraja Blog Sarkamal. Ketika itu, masalah keluhan KTP itu, sudah disampaikan oleh warga dan sudah dijawab juga.

Menurutnya, untuk pengurusan KTP yang tepat waktu, sebenarnya gratis, hanya dikenakan biaya administrasi sebesar Rp10 ribu, tapi kalau telat atau ada yang mau diubah atau kehilangan, biayanya Rp25 ribu ditambah asuransinya yang Rp10 ribu tadi. Desa Situraja sendiri, menurut Nisa, tidak begitu mempersoalkan soal harga pengurusan lagi, namun yang mereka minta adalah agar waktunya dipercepat. Menanggapi keluhan warga itu, Nisa mengatakan akan mencoba membicarakannya dengan pihak-pihak terkait.

Dari sekian banyak dusun atau Blog yang dikunjungi Khaerunnisa yang juga didampingi suaminya Eji Anugrah Romadhon itu, menurut pengamatan Berita Indonesia, ada satu sikap yang sungguh terpuji diperlihatkan Nisa ketika bertemu dengan warga yang rata-rata dari keluarga sederhana, bahkan miskin tersebut. Setiap menemui ibu-ibu yang hendak menerima bagian daging kurbannya, Nisa selalu menyapanya dengan ramah kemudian memeluk dan mencium pipi dengan hangat tanpa sedikit pun terlihat risih, walaupun sebagian dari ibu-ibu tersebut kemungkinan baru pulang dari ladang.

Tegur sapa antara Nisa dan warga juga terdengar sangat akrab sehingga tak jarang terdengar suara ketawa mesra dari mereka. Bahkan di beberapa tempat, Nisa menyempatkan untuk mengobrol berbagai keluhan warga sambil duduk di dipan depan rumah salah satu warga. Di depan rumah pak Dahlan di Desa Situraja misalnya, Khaerunnisa bahkan sempat makan buah mangga yang disuguhi tuan rumah.

Dari pengakuan beberapa warga yang sempat ditanyakan, Nisa juga cukup dikenal sebagai wakil mereka di dewan. Dari wajah mereka jelas terlihat keinginan untuk bisa berlama-lama berbincang dengan Nisa, namun agar bisa menemui lebih banyak warga, Khaerunnisa yang terpilih dari Partai Golongan Karya ini memanfatkan waktu yang singkat itu untuk menyapa masyarakat dengan seefektif mungkin.

Tidak kalah dengan Nisa, para pelajar yang bertugas membagi daging kurban itu pun berlaku sangat akrab dengan warga yang ditemui. Mereka bahkan terkadang dengan sabar harus menunggui berjam-jam mustahiq yang sedang pergi ke sawah. Sepanjang waktu menunggu itu pun mereka pergunakan untuk menyapa dan berinteraksi dengan warga.

Dari pelaksanaan Hari Raya Kurban di Al-Zaytun yang demikian, berkurban yang berdimensi vertikal sebagai wujud ketakwaan kepada Sang Khalik, dan juga berdimensi horizontal sebagai upaya membina solidaritas kemanusiaan, selalu ternyatakan dalam perayaan di Al-Zaytun. Hal ini terus ditingkatkan dengan terus mengasah akal budi untuk memahami makna firman dalam kitab suci, sejarah dan budaya ummat pada zaman diturunkannya firman tersebut oleh Allah serta mengaplikasikannya secara kontemporer pada setiap zaman berikutnya. BI/Marjuka-Hotsan (Berita Indonesia 73)

Add comment


Security code
Refresh

Berita Utama

utama_14_75.jpg
Dipecat (dikorbankan) walau merasa bukan dia yang salah, dalam kasus kriminalisasi pimpinan KPK dan Bank Century, Komjen Pol. Drs. Susno
utama_5_20.jpg
Dalam pandangan publik, DPR masih stempel karet pemerintah. Mereka jinak, menurut dan tidak banyak mennyalurkan aspirasi rakyat.

Visi Berita

visi_43.jpg
Separatisme, keinginan untuk memisahkan diri (bercerai) dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) masih menjadi
visi_62.jpg
Dunia sangat terkesima dengan kemenangan Barack Obama yang terpilih menjadi presiden ke-44 AS dan akan dilantik 20

Lentera

lentera_6_73.jpg
Syaykh Al-Zaytun mengatakan, bahwa untuk memahami ajaran agama, akal budi harus diasah. Dan untuk memahami makna firman
lentera_8_61.jpg
Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang menegaskan bahwa nilai-nilai dasar negara Indonesia (Pancasila), sepenuhnya
Share/Save/Bookmark