Majalah Berita Indonesia

Thursday, Sep 09th

Last update06:39:43 PM GMT

Majalah Berita Indonesia RSS Feed
You are here Edisi Cetak Lentera Hadiah Paling Berharga dalam Sejarah Ma'had Al-Zaytun

Hadiah Paling Berharga dalam Sejarah Ma'had Al-Zaytun

E-mail Print PDF
User Rating: / 0
PoorBest 

Mantan Presiden RI, Bapak Pembangunan Nasional, H.M. Soeharto meresmikan ruang kuliah mahasiswa/mahasiswi Universitas Al-Zaytun, yang diberi nama Gedung Perkuliahan Jenderal Besar H.M. Soeharto, Selasa, 23 Agustus 2005
Mantan Presiden RI, Bapak Pembangunan Nasional, H.M. Soeharto meresmikan ruang kuliah mahasiswa/mahasiswi Universitas Al-Zaytun, yang diberi nama Gedung Perkuliahan Jenderal Besar H.M. Soeharto.

Selasa, 23 Agustus 2005, merupakan momen yang sangat bersejarah dan monumental bagi seluruh sivitas akademika Ma’had Al-Zaytun (MAZ). Betapa tidak. Bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang ke-6, Pondok Pesantren Peradaban Berskala Dunia itu mendapatkan kehormatan yang tak akan terlupakan dalam sejarah kehidupannya. Meski secara fisik nyarus rapuh termakan usia dan penyakit yang menggerogoti tubuhnya, H.M. Soeharto yang sangat akrab disapa dengan Pak Harto-tetap berkenan memenuhi undangan untuk mengunjungi MAZ, bersilaturahmi dengan santriwan/santriwati, dan bahkan menginap satu malam di pusat pendidikan budaya toleransi dan perdamaian itu. Sejatinya, ada satu hajatan besar di kampus peradaban terpadu, pesantren spirit but modern system, pada hari itu.Pak Harto meresmikan Gedung Perkuliahan Jenderal Besar H.M. Soeharto, salah satu gedung yang dimiliki Universitas Al-Zaytun (UAZ).

 

UAZ sendiri diresmikan pada Sabtu, 27 Agustus 2005 oleh Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo, pejabat negara yang ditunjuk Wakil Presiden (Wapres) H.M. Jusuf Kalla. Sedianya, Wapres Jusuf Kalla sendiri yang akan meresmikan UAZ namun batal lantaran pada hari yang bersamaan beliau harus mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Cirebon, Jawa Barat.

Sejak pukul 7.30 pagi, segenap aktivitas pesantren yang berlokasi di Indramayu, Jawa Barat, itu telah dipusatkan di Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin, sebuah Monumen Millennium Ketiga, yang memiliki daya tampung 150.000 jamaah. Spanduk besar berkain warna hijau dengan tulisan “Peresmian Gedung Perkuliahan Jenderal Besar H.M. Soeharto Universitas Al-Zaytun oleh Bapak Jenderal Besar H.M. Soeharto” terbentang di atas Mihrab Masjid Rahmatan Lil ‘Aalamin, MAZ.

Khas: Mantan Presiden Soeharto dengan senyum meraih dekapan Syaikh Panji GumilangSekitar lima ribu orang santri MAZ memenuhi lantai dasar masjid terbesar di dunia, yang pembangunannya menelan biaya sebesar kurang lebih 14 juta dolar AS atau Rp 135 miliar itu. Sementara itu, di bagian luar masjid, sebanyak dua ribu santri berseragam kepanduan berbaris memanjang dua lajur saling berhadapan, dari gerbang luar sampai pintu masuk masjid. Di hadapan mereka terbentang karpet merah yang berakhir di depan panggung kecil, persis di depan mihrab.

Waktu menunjuk tepat pukul 9.30 pagi. Suasana seketika khidmat. Yang dinanti-nantikan rupanya datang jua. Iring-iringan kendaraan yang membawa Pak Harto beserta rombongan memasuki halaman Masjid Rahmatan Lil ‘Alamain. Pak Harto dengan perlahan-lahan sekali menuruni tangga bis milik MAZ yang ditumpanginya. Bertopangan pada tongkat di tangan kanannya, dan tangan kiri dipegang oleh Syaykh Ma’had AS Panji Gumilang, Pak Harto berjalan dengan langkah tertatih-tatih memasuki masjid.

Senyum karismatis Pak Harto menebar ke seluruh hadirin yang menyesaki ruang dalam masjid. Ribuan bendera merah-putih dilambai-lambaikan oleh seluruh santriwan dan santriwati MAZ yang hampir dua jam menanti dengan penuh sabar di dalam masjid yang memiliki luas 99 meter x 99 meter itu, sebagai bentuk penyambutan atas kedatangan Jenderal Besar H.M. Soeharto.

Di barisan belakang, berjalan seiring mengikuti langkah perlahan Pak Harto dan Syaykh MAZ, selain rombongan keluarga, tim medis, para pengawal, dan para eksponen MAZ tampak antara lain dua putri beliau, Hajjah Siti Hardiyanti Rukmana (akrab disapa Mbak Tutut) dan Hajjah Siti Hediati (akrab disapa Mbak Titik), mantan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat/ mantan Kepala BKKBN/ Ketua Yayasan Damandiri Haryono Suyono, Cakrawardoyo, Ketua Yayasan Super Semar Subagio.

Iptek Harus Selaras dengan Ilmu Agama Mengawali acara, pembacaan kitab suci Al Quran dan pembacaan sari tilawahnya oleh dua santriwan/santriwati MAZ. Selanjutnya, Syaykh AS Panji Gumilang langsung tampil ke atas mimbar, menyampaikan pidato sambutan selaku pimpinan MAZ.

“Anak-anakku pelajar putri dan pelajar putra yang saya dicintai, para guru, dosen, karyawan yang disanjung tinggi, pada hari ini Ma‘had Al-Zaytun dalam memasuki umur yang keenam tahun mendapatkan satu karunia besar dari Tuhan Yang Mahaesa. Perintis, pelakudan Bapak Pembangunan Indonesia menghadiri, mengunjungi, dan bermalam di kampus Ma‘had Al-Zaytun. Ini merupakan suatu pendorong yang sangat bermakna bagi kader-kader bangsa Indonesia yang sedang belajar di Ma’had Al-Zaytun ini,” ucap Syaykh AS Panji Gumilang mengawali sambutannya.

“Pada Bapak kita Bapak Haji Muhammad Soeharto, Jenderal Besar TNI, kita sampaikan terima kasih sebesarbesarnya atas kepedulian Bapak terhadap anak bangsa yang sedang membangun, yang sedang meneruskan cita-cita pembangunan yang selama ini Bapak rintis. Doakan kami semua Bapak, sebagai generasi penerus perjuangan bangsa ini mampu meneruskan apa yang menjadi cita-cita dan visi Bapak selama meritis pembangunan Indonesia dari sejak diamanatkan menjadi pemimpin bangsa ini sampai detik ini, dan sampai kapan pun.” Seusai pidato Syaykh MAZ, acara dilanjutkan pembacaan pidato Pak Harto yang dibacakan oleh putrinya Mbak Tutut. Sebelum menyampaikan pidato dari Pak Harto, Mbak Tutut menyampaikan permohonan maaf Pak Harto yang tulus karena tidak bisa berkomunikasi secara langsung, dan membacakan langsung
pidatonya.

Mbak Tutut juga mengisahkan sedikit latar belakang sejarah pembangunan gedung perkuliahan tersebut. Pembangunan Gedung Perkuliahan Jenderal Besar H.M. Soeharto Universitas Al-Zaytun diprakarsai Syaykh AS Panji Gumilang, selaku pimpinan MAZ. Di satu kesempatan, Syaykh MAZ meminta ijin langsung kepada Pak Harto agar nama beliau dapat dicantumkan sebagai nama gedung tersebut, yang akan dibangun oleh MAZ, Pak Harto memberi izin dan menunjuk Yayasan Purnabakti Pertiwi untuk membantu proses pembangunan. Masih kata Mbak Tutut, Yayasan Purnabakti Pertiwi didirikan oleh almarhumah Ibu Hajjah Siti Fatimah Hartinah (Ibu Tien Soeharto), pada 23 Agustus 1983. Yayasan yang bertujuan menyelenggarakan kegiatan yang bersifat pendidikan sosial maupun agama itu diketuai oleh Ibu Tien Soeharto sampai akhir hayatnya.

Tanggal 23 Agustus kiranya punya makna khusus bagi MAZ. Alasannya, tanggal dan bulan peresmian Gedung Perkuliahan Jenderal Besar H.M. Soeharto Universitas Al-Zaytun (23 Agustus 2005) bertepatan dengan ulang tahun Yayasan Purnabakti Pertiwi yang ke 32. Dan lebih kebetulan lagi, menurut Mbak tutut, tanggal 23 Agustus adalah hari kelahiran almarhumah Ibu Tien Soeharto.

Gedung Perkuliahan Jenderal Besar H.M. Soeharto memiliki luas 25.000 m2 dan berlantai delapan itu direncanakan akan dipergunakan sebagai ruang kuliah laboratorium Fakultas Pertanian Terpadu, laboratorium Fakultas Teknik, laboratorium Fakultas Kedokteran, laboratorium Fakultas Teknologi Informasi, laboratorium Fakultas Bahasa dan Ilmu Pendidikan, ruang pimpinan perkantoran serta ruang serba guna.

Pak Harto berharap, seperti disampaikan oleh Mbak Tutut, dengan adanya gedung itu akan bertambah lengkaplah sarana pendidikan MAZ sehingga tidak hanya akan dihasilkan ahli-ahli agama tetapi juga akan dilahirkan generasi penerus bangsa yang memiliki keahliandalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan.

Dalam pidatonya, Pak Harto tak lupa menyampaikan petuah kepada generasi muda MAZ khususnya dan Indonesia umumnya. Pak Harto melihat, dewasa ini Indonesia menjadi tempat berkumpulnya berbagai macam cita dan nilai serta berbagai macam faham ideologi.“Bahkan Indonesia juga menjadi tempat perebutan kepentingan berbagai kekuatan dunia. Akibatnya tidak sedikit kelompok dalam masyarakat kita yang mulai ragu terhadap ajaran dan nilai-nilai yang selama ini kita yakini,” tandas Pak Harto.

“Sebaliknya, mereka juga masih bimbang untuk mengambil nilai-nilai yang baru. Keadaan yang demikian itu menyebabkan timbulnya kelompok masyarakat yang tidak stabil.” Kondisi tersebut, Pak Harto mencermati, jelas akan membawa pengaruh yang tidak menguntungkan bagi perkembangan bangsa dan negara Indonesia yang telah dibangun, yang telah dipertahankan kemerdekaannya, dan yang telah dikembangkan sebagaimana wujudnya sekarang secara  bersama-sama oleh rakyat Indonesia.

Khusus kepada segenap civitas akademika Ma’had yang dalam keseharian dinamikanya dihuni sekitar 12.691 orang itu, Pak Harto menitipkan pesan yang sangat bermakna: “Ilmu pengetahuan dan agama tidaklah harus bertentangan. Ilmu pengetahuan membawa kenyamanan hidup, agama membawa kebahagiaan hidup. Tanpa ilmu pengetahuan dan teknologi  kita akan selalu hidup dalam keterbelakangan. Tanpa agama kita akan hidup dalam kecemasan dan kekhawatiran.

Saya sangat berharap siswasiswi Ma’had Al-Zaytun di bawah bimbingan para pimpinan dan guru yang profesional akan dapat mewujud kancita-cita pembangunan bangsa dan negara yang kita cintai bersama ini.”

Sebagai tanda peresmian Gedung Perkuliahan Jenderal Besar H.M. Soeharto Universitas Al-Zaytun, Pak Harto didaulat untuk membuka tabir prasasti. Kemudian, acara dilanjutkan dengan mengunjungi dan membuka pintu Gedung Perkuliahan Jenderal Besar H.M. Soeharto di Universitas Al-Zaytun, sekitar 300 meter dari Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin. Pak Harto membuka pintu gedung tersebut sebagai simbol dimulainya pemanfaatan gedung tersebut. AF,MS, LPS (Berita Indonesia 03)

Add comment


Security code
Refresh

Berita Utama

utama_1_66.jpg
Pemilu Legislatif 9 April 2009 dinilai merupakan Pemilu terburuk sejak reformasi. Selain pimpinan dan anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU)
utama_1_61.jpg
Tujuh partai politik papan atas mulai menyiapkan jago-jago mereka untuk bertarung dalam Pemilihan Presiden (Pilpres), Juli 2009.

Visi Berita

visi_54.jpg
Minggu, 27 Januari 2008, pukul 13 lewat 10 menit, Bapak Pembangunan Nasional itu menghembuskan nafasnya yang
visi_1_35.jpg
Sebutan birokrasi berakar dari kata bureau (kantor), memiliki turunan kata bureaucrat and beaucratic alias birokrat dan

Lentera

lentera_1_59.jpg
Tour Sepeda Sehat ASSA Keliling Jawa-Madura satu purnama telah berlalu, namun kenangan akan tour sepanjang 2.000
lentera_4_36.jpg
Al-Zaytun saat ini sedang bekerja keras siang-malam 24 jam sehari menyelesaikan proyek pembangunan Waduk Windu Kencana,
Share/Save/Bookmark