Majalah Berita Indonesia

Tuesday, Sep 07th

Last update06:39:43 PM GMT

Majalah Berita Indonesia RSS Feed
You are here Edisi Cetak Lentera Bangun Kerjasama Pendidikan Nonformal

Bangun Kerjasama Pendidikan Nonformal

E-mail Print PDF
User Rating: / 0
PoorBest 
Article Index
Bangun Kerjasama Pendidikan Nonformal
Konsisten Memajukan Pendidikan
All Pages

Kampus Al-Zaytun dan Ditjen PLS Depdiknas
Konsistensi dan tekad Al-Zaytun memajukan dunia pendidikan rupanya tiba pula hingga ke ruang kerja Ace Suryadi, Direktur Jenderal Pendidikan Luar Sekolah (PLS), Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Ace kagum melihat Kampus Al-Zaytun yang memiliki segala kelengkapan sarana dan prasarana pendidikan, sarana ekonomi pendukung, berikut konsep sistem pendidikan satu pipa yang sudah diterapkan sejak SD, SMP, SMA, S-1, kelak S-2 hingga lulus S-3 dalam usia relatif masih muda 26 tahun. Ace Suryadi menilai Al-Zaytun sebagai sebuah pusat pendidikan yang sangat luar biasa, bahkan sudah bisa disebut sesuai dengan standar internasional.

Kampus Al-Zaytun, Indramayu, Jawa Barat.

Untuk mengapresiasi Al-Zaytun sebagai sebuah aset berharga yang berkelas internasional, atas nama Ditjen PLS Depdiknas, Ace Suryadi sepakat dengan pimpinan sekaligus penanggungjawab Al-Zaytun Syakyh AS Panji Gumilang untuk membangun sejumlah kerjasama di bidang pendidikan.
Ace Suyadi seorang doktor bidang ekonomi pendidikan, lulus dari sebuah perguruan tinggi ternama di Amerika Serikat, sudah dua kali mengunjungi Al-Zaytun dalam waktu yang berdekatan. Pertama pada bulan Desember 2006, kedua 20 Januari 2007 demi untuk menyamakan persepsi tentang cara terbaik membangun kemajuan dunia pendidikan, khususnya pendidikan nonformal di seluruh Indonesia.

Ibarat pucuk dicinta ulam tiba mulai tahun 2007 Al-Zaytun mulai aktif memberdayakan masyarakat sekitar. Al-Zaytun memberi masyarakat sekitar kesempatan untuk ikut kegiatan belajar-mengajar di sejumlah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), yang secara khusus didirikan Al-Zaytun di berbagai tempat.

Melalui PKBM, Al-Zaytun menawarkan seluruh masyarakat sekitar, khususnya generasi muda yang belum menyandang ijazah Sekolah Dasar (SD), SMP, dan SMA untuk mengikuti program pendidikan kesetaraan Kelompok Belajar (Kejar) Paket A (setara SD), Paket B (SMP), dan Paket C (SMA).

Sedangkan kepada generasi yang lebih tua diberikan kesempatan mengikuti program pendidikan keaksaraan, misalnya pemberantasan buta huruf, mengikuti pelatihan keterampilan bertani, dan melatih sistem komunikasi ICT.

Diharapkan, siapa saja orangtua yang belum bisa baca tulis, tetapi memiliki anak yang bekerja di luar negeri sebagai TKI, semisal di Taiwan, Arab Saudi, Korea, Kuwait, atau Qatar, selulus dari PKBM tatkala menerima surat atau kiriman uang tentu ia sudah bisa membaca isi surat dari si buah hati sekaligus mengambil sendiri uang kirimannya dari bank.

Al-Zaytun bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah (Ditjen PLS), Departemen Pendidikan Nasional untuk mendidik masyarakat. Al-Zaytun yang memiliki kantor-kantor perwakilan dan kantor koordinator wali santri di seluruh provinsi, itu serta merta bisa dikerahkan untuk membangun gedung-gedung PKBM.

Setiap warga yang membutuhkan penyetaraan pendidikan, atau mengikuti pendidikan keaksaraan Kejar Paket A, B, dan C, pengarusutamaan gender dan lain sebagainya, pendidikannya dipusatkan di PKBM. Al-Zaytun akan menyediakan tenaga pengajar, materi ajar, kurikulum dan sebagainya bekerjasama dengan Ditjen Pendidikan Luar Sekolah, Depdiknas.

Membangun Manusia Indonesia
Dari pola kerjasama ini Al-Zaytun dan Ditjen PLS akan sama-sama sangat diuntungkan. Berbagai program kerja Ditjen PLS turut dibantu dilaksakan oleh pihak swasta dalam hal ini Al-Zaytun.
Kerjasama Al-Zaytun dan Ditjen PLS disasar untuk membangun manusia Indonesia, dengan cara meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI).

Dirjen PLS Ace Suryadi foto bersama dengan Syaykh Al-Zaytun dan para eksponen Yayasan Pesantren Indonesia.Sesuai dengan Sasaran Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals), dan kesepakatan negara-negara anggota badan dunia Unesco yang ditandatangani di Dakar, Senegal tahun 2002 lalu, Human Development Index diukur dari tiga komponen indeks pembangunan.

Pertama, Indeks Kesehatan, yang diukur dari rata-rata usia harapan hidup; Kedua, Indeks Pendidikan, diukur dari dua aspek yaitu angka/tingkat melek aksara orang dewasa, dan rata-rata lama pendidikan, dan; Ketiga, Indeks Perekonomian, yang diukur dari pengeluaran per kapita (purchasing power parity).
Indeks Pendidikan merupakan salah satu komponen dalam penetapan HDI, dan tingkat keaksaraan orang dewasa merupakan komponen terpenting dari aspek pendidikan untuk dapat segera menaikkan HDI.

Pemberantasan Buta Aksara yang kini dikerjasamakan Ditjen PLS-Al-Zaytun terhadap penduduk usia dewasa (15 tahun ke atas), menurut Ace merupakan salah satu prioritas dalam pembangunan pendidikan. Pertimbangannya, satu-satunya cara meningkatkan HDI yang paling murah dan cepat adalah dengan menurunkan jumlah buta aksara secara signifikan. Tingkat keaksaraan penduduk suatu negara sangat mempengaruhi tingkat kesehatan, gizi, kematian ibu dan anak, kesejahteraan dan angka harapan hidup.

Bahkan, menurut Ace, pendidikan merupakan hak asasi setiap warga. Oleh sebab itu penduduk yang masih buta aksara wajib dan diprioritaskan memperoleh layanan pendidikan. Buta aksara terkait dengan kebodohan, keterbelakangan, pengangguran dan ketidakberdayaan, yang bermuara pada kondisi ekonomi penduduk penyandangnya menjadi kurang beruntung/miskin, dan rendahnya produktivitas.

Artinya, buta aksara dan kemiskinan merupakan dua dimensi yang tidak terpisahkan sehingga sangat perlu dilakukan program pemberantasan buta aksara secara terintegrasi dengan berbagai program lainnya.

Konsisten Mendidik
Kampus Al-Zaytun sejak berdiri sudah malaksanakan pendidikan tingkat Dasar, Menengah, dan Universitas, serta pelaksanaan Kelas Dewasa dalam Kejar Paket A, B, C, juga Universitas Terbuka.
Saat ini, jumlah siswa, mahasiswa, guru, karyawan yang tinggal dalam kampus tercatat sebanyak 10.579 orang. Sedangkan jumlah Mahasiswa UT yang tinggal di luar kampus sebanyak 5.203 orang. Mereka datang ke Kampus pada saat pelaksanaan tutorial khusus dan ujian semester.

Gedung perkuliahan Universitas Al-Zaytun Indonesia.Al-Zaytun yang sudah meluluskan siswa sejak tahun 2002 hingga 2006 output-nya mulai jenjang pendidikan tingkat Dasar, Menengah Pertama, dan Atas sudah mencapai 9.681 pelajar. Mereka terdiri dari pelajar lulusan SD 267 orang, lulusan SLTP 6.910 orang, lulusan SLTA 2.504 orang, dan lulusan Kelas Dewasa 415 orang.

Rencana terbaru membangun PKBM di berbagai lokasi di seluruh Indonesia, diharapkan Al-Zaytun berkontribusi besar menaikkan HDI Indonesia. Kehadiran Al-Zaytun di Indramayu yang memulakan operasional pendidikan sejak 1999, itu saja sudah mampu mengangkat kualitas pendidikan kabupaten ini dari paling bawah sebelumnya, naik ke peringkat ketujuh terbaik sewilayah Provinsi Jawa Barat.

Al-Zaytun mengemban motto sebagai pusat pendidikan dan pengembangan budaya toleransi dan pusat pengembangan budaya perdamaian.

Al-Zaytun konsisten memberikan pendidikan yang terbaik kepada seluruh civitas akademika. Bahkan, Al-Zaytun terpanggil pula untuk meningkatkan pendidikan para karyawan, guru-guru, hingga memberikan kesempatan kepada warga sekitar untuk mengecap pendidikan persamaan ijazah dengan menawarkan kegiatan Kelompok Belajar (Kejar) Paket A, Paket B, dan Paket C. Kampus Al-Zaytun juga menjadi tempat melaksanakan kegiatan tutorial kuliah jarak jauh bagi para mahasiswa Universitas Terbuka (UT).

Direktur Jenderal Pendidikan Luar Sekolah (PLS), Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Ace Suryadi, memahami betul konsistensi dan tekad Al-Zaytun untuk memajukan dunia pendidikan. Karena kekaguman itulah Ace menyatakan berminat untuk bekerjasama lebih dalam dengan Al-Zaytun.

Sebagai langkah awal, Ace menghibahkan bantuan blockgrant senilai Rp 300 juta untuk membangun beberapa gedung Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), terletak di wilayah Indramayu dan Sumedang dibawah binaan Al-Zaytun.

Tetapi Al-Zaytun rupanya akan melangkah jauh melampaui blockgrant yang diberikan Ace. Gedung-gedung PKBM direncanakan Syaykh akan dibangun di seluruh Indonesia, dengan biaya ditanggung sendiri tinggal pelaksanaan pengajaran saja yang dikerjasamakan dengan PLS.

Ace melihat apa yang sudah dilakukan oleh Al-Zaytun terbukti adalah pengejawantahan dari program dan visi-misi Ditjen PLS menyediakan pendidikan untuk semua. Karena kesesuaian visi itulah Ace berjanji masih akan bersedia menawarkan kerjasama yang lebih luas lagi, dan dengan jumlah blockgrant yang lebih besar demi mengejar ketertinggalan Indonesia dalam membangun manusia. Syaykh pun bersedia saja demi kemajuan pembangunan pendidikan Indonesia.

Ace yang diangkat menjadi Dirjen PLS sejak Mei 2005 tergolong sangat sukses memberantas buta aksara. Bila pada tahun 2004 jumlah buta aksara masih 15,4 juta jiwa, tahun 2005 turun menjadi 14,6 juta jiwa, dan tahun 2006 turun lagi menjadi 13 juta jiwa. Mereka yang mengidap buta aksara tersebar di wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, NTB, NTT dan Papua.
Pemberantasan buta aksara adalah kerja keras yang sedang digenjot Ace Suryadi. Dari jumlah pengidap buta aksara yang 13 juta jiwa tadi Ace berencana memangkasnya hingga separuhnya pada tahun 2009, atau tersisa 7 juta jiwa saja. Dan jika program pemberantasan berjalan mulus, pada tahun 2015 ditargetkan jumlahnya sudah nol persen.

Kesepakatan-kesepakatan yang dituangkan UNESCO tahun 2002, dan dalam Millenium Development Goals itulah yang diadaptasi Ditjen PLS dengan melaksanakan enam program utama pendidikan nonformal. Yaitu, melaksanakan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun, Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skills), Pendidikan Keaksaraan dan Pendidikan Berkelanjutan, Pendidikan Berkeadilan Gender, dan Peningkatan Mutu Pendidikan.

Walau dalam nama dan tema yang berbeda-beda, keenam program sesungguhnya sudah secara konsisten dilaksanakan oleh Al-Zaytun. Bahkan ketika datang berkunjung untuk yang kedua kali ke Al-Zaytun, bersamaan dengan kedatangan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla untuk merayakan Tahun Baru 1 Muharram 1428 H di Masjid Rahmatan Lil’Alamin pada 20 Januari lalu, Ace Suryadi tiba pada kesimpulan akhir.

Dalam berbagai hal, Al-Zaytun sudah memenuhi syarat untuk disebut berstandar internasional. Demikian pula dengan semua yang diujikan di ujian akhir sekolah sudah menggunakan standar internasional.

Keberadaan Al-Zaytun yang terletak di pelosok desa sesuai pula dengan nafas Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional yang mengamanatkan setiap kabupaten diharuskan memiliki minimal satu sekolah berstandar internasional baik itu SD, SMP, SMK, atau SMA. HT (Berita Indonesia 34)



Add comment


Security code
Refresh

Berita Utama

utama_1_41.jpg
Peristiwa Pasuruan telah mencuatkan kekhawatiran ke mana arah reformasi TNI. Pemberitaan meda massa Indonesia bahkan luar negeri sejak
visi_40.jpg
Korupsi di Indonesia sudah dianggap ‘membudaya’ dan semakin sistemik, berlangsung mulai dari tingkat tertinggi pemerintahan hingga

Visi Berita

visi_1_31.jpg
Padi bagi masyarakat pedesaan sangat identik dengan kecukupan atau kemiskinan. Sebab kepemilikan padi menjadi ukuran
visi_40.jpg
Dalam itu, seperti pemandangan umum Jakarta selama puluhan tahun, masyarakat terus dijejali dengan hingar bingar

Lentera

lentera_6_13.jpg
Di Indonesia kini tumbuh “peradaban” lama dalam kemasan baru: The end justifies the means. Dulu “peradaban” itu
lentera_7_70.jpg
Syaykh Al-Zaytun menegaskan, Bangsa Indonesia, dari seluruh lapisan generasi, mesti kembali kepada nilai-nilai
Share/Save/Bookmark