Majalah Berita Indonesia

Sunday, May 28th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Lentera Mantapkan Implementasi Sistem Pendidikan Satu Pipa
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Mantapkan Implementasi Sistem Pendidikan Satu Pipa

E-mail Print PDF
Article Index
Mantapkan Implementasi Sistem Pendidikan Satu Pipa
“Belajar Bahasa Ibrani Butuh Ketekunan”
All Pages

SIDANG LITBANG: Sidang Tahunan Litbang Al-Zaytun 2009 memantapkan langkah implementasi sistem satu pipa (one pipe education system).

Dari Sidang Tahunan Litbang Al-Zaytun 2009
Seri Satu dari Tiga
Satu dasawarsa institusi pendidikan Al-Zaytun berkiprah. Sudah banyak inovasi pendidikan yang dilakukan dan banyak pula kemajuan yang diraih. Hanya dalam kurun waktu sepuluh tahun, Al-Zaytun telah berhasil mengimplementasikan cita-cita One Pipe Education System, dari tingkat pendidikan usia dini (elementary) hingga universitas.

Setiap tahun, dari perjalanan satu dasawarsa, selalu saja ada inovasi baru di kampus Al-Zaytun. Semua inovasi itu selalu mengarah pada semakin mantapnya implementasi sistem pendidikan satu pipa, sebagaimana sejak awal dicita-citakan pendiri dan pengasuhnya.

Upaya pembaruan (inovasi) pendidikan itu selalu dilakukan dalam suatu sistem tata kelola kreatif yang terlembaga dalam badan penelitian dan pengembangan (Litbang) yang kegiatannya terjadwal dalam sidang tahunan yang diawali dengan pengkajian-pengkajian berkala sebelumnya sepanjang tahun.

Setiap tahun, Sidang Tahunan Litbang Al-Zaytun selalu melahirkan pembaruan menuju hal yang lebih baik. Namun, Sidang Tahunan Litbang tahun ini (yang berlangsung 27 Mei sampai 9 Juni 2009 di Meeting Room Al-Islah, Al-Zaytun), rasanya memiliki makna tersendiri. Bermakna, selain dari segi hasil-hasil yang disimpulkan, juga karena tahun ini (2009), tepatnya 1 Juli, genap satu dasawarsa pembelajaran berlangsung di Al-Zaytun.

Sejak awal, permulaan tahun ajaran adalah bulan Juli dan tidak mengikuti kebiasaan pesantren, yang mengawali tahun pembelajarannya pada bulan Syawal. Pertimbangannya adalah untuk tidak menyulitkan calon santri dan mahasiswa serta semua pihak yang menggunakan kalender pembelajaran pendidikan nasional.

Setelah melalui tiga tahun masa persiapan dan pembangunan awal infrastruktur pendidikan, pembelajaran pertama dimulai pada 1 Juli 1999 M. Kala itu, sepuluh tahun lalu, awal tahun pembukaan pembelajaran dibuka oleh Menteri Pertanian Prof. Soleh Solahuddin. Santri tahun pertama berjumlah 1.460 orang (624 santri nisa dan 836 santri rijal), yang berasal dari seluruh provinsi Indonesia dan juga dari negeri jiran Malaysia. Tenaga pendidik dan mustami' berjumlah 150 orang (35 nisa dan 115 rijal).

Ada suasana haru, bahagia, bangga dan puas bagi segenap eksponen Al-Zaytun ketika awal pembelajaran itu dimulai. Sebuah awal langkah lembaga pendidikan kepesantrenan bersistem modern, pendidikan bersistem satu pipa dan bergaya Indonesia sepenuhnya, namun bersetting global. Yang bagi pendiri dan pemimpinnya, Syaykh Abdussalam Panji Gumilang, hal ini adalah langkah awal dari perjalanan panjang pewujudan sebuah mimpi (impian) menjadi kenyataan.

Telah lahir di bumi Indonesia, tepatnya di dusun Sandrem, Desa Mekarjaya, Kecamatan Haurgeulis (sekarang Gantar), Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, sebuah lembaga pendidikan Islam Al-Zaytun (Yayasan Pesantren Indonesia). Bangsa Indonesia pun menyambut gembira kelahiran Al-Zaytun. Terbukti dari antusias masyarakat dari seluruh provinsi mempercayakan anak-anaknya dididik di Al-Zaytun.

Kegembiraan bangsa Indonesia itu dimanifestasikan pula oleh Presiden Republik Indonesia Prof. Dr. BJ Habibie, kala itu, dengan kehadirannya meresmikan Ma’had Al-Zaytun. Hari itu, tepatnya 27 Agustus 1999, bertepatan dengan 16 Jumada al-Ula 1420 H. Hari peresmian inilah kemudian dirayakan sebagai hari kelahiran (milad) Al-Zaytun, yang tahun ini genap satu dasawarsa.

Kedatangan Presiden BJ Habibie untuk meresmikan Al-Zaytun, kala itu, cukup membuat suasana meriah bagi warga Haurgeulis dan sekitarnya. Maklum, bagi mereka, saat itulah kali pertama lingkungan Haurgeulis dan sekitarnya kedatangan Kepala Negara, orang pertama di negeri ini. Tak hanya warga dari Haurgeulis, warga Sukra, Anjatan dan Kroya - tiga kecamatan tetangga Haurgeulis, yang mengetahui peristiwa itu pun ikut berbondong-bondong ingin turut menyaksikan, bersuka-cita.

Mengorbit di Tengah Badai
Namun, sejenak kilas balik, perjalanan Al-Zaytun tidaklah semudah mengisahkannya. Baru saja melangkah ke tahun kedua (menginjak tahun 2000) sesudah diresmikan, ada semacam badai gunjang-ganjing menerpa Al-Zaytun. Satu per satu, bagai metraleur dan bagai badai angin puting-beliung, terhembus berita tak sedap menggugat eksistensinya dengan berbagai alasan, mulai dari isu sesat hingga sebagai pusat komando dan sarang pergerakan politik bawah tanah.

BERSEJARAH: Presiden BJ Habibie meresmikan Mahad Al-Zaytun didampingi Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang, Gubernur Jabar Nuryana (paling kiri), dan Mendiknas Malik Fajar (paling kanan), pada 27 Agustus 1999.Tak tanggung-tanggung, hingga tahun 2005, gunjang-ganjing itu makin gencar ditembakkan, bahkan hingga tahun ini juga. Uniknya, gunjang-ganjing itu muncul dengan suatu pola tetap setiap tahun menjelang proses penerimaan santri baru. Tetapi, menghadapi gunjang-ganjing itu, Al-Zaytun selalu tampil tenang, tak reaktif dan tak menampilkan sesuatu yang arogan. "Cukup dengan senyum dan kata-kata indah, terutama dengan berkarya sepanjang hari," kata Syaykh al-Zaytun menggambarkan sikap yang ditempuhnya. Hasilnya, ternyata jurus itu bisa melumpuhkan kekerasan dan kedengkian yang dibidikkan ke tubuh Al-Zaytun.

Di tengah badai itu, Al-Zaytun yang jadi sasaran tembak, pendiri dan pemimpin serta para eksponennya terus menguatkan kuda-kuda dengan terus berkarya secara kreatif dan inovatif. Sehingga di tengah badai itu, justru Al-Zaytun makin mengorbit. Ibarat sebuah satelit yang mengorbit memancarkan sinyal ke seluruh penjuru negeri, bahkan lintas negeri menjangkau berbagai penjuru dunia.

Al-Zaytun menjadi bahan pembicaraan dunia mengalahkan terpaan badai gunjang-ganjing yang ditiupkan oleh pihak-pihak tertentu. Al-Zaytun menjadi makin ramai dikunjungi berbagai kalangan, bukan hanya dikunjungi umat Islam tetapi juga dikunjungi berbagai golongan umat beragama lainnya. Tidak hanya dikunjungi masyarakat umum, tetapi juga dikunjungi para pengusaha, politisi, pejabat negara, budayawan dan para diplomatik serta para artis dan wartawan dari dalam dan luar negeri.

Sehingga periode bertiupnya badai gunjang-ganjing itu, boleh dibilang malah menjadi suatu periode emas bagi Al-Zaytun. Sebab kedatangan para sahabat dari berbagai lapisan dan golongan itu membawa berkah bagi Al-Zaytun. Tak sedikit di antara pengunjung itu memberi dukungan moral dan materil untuk membangun berbagai sarana penunjang (infrastruktur) Al-Zaytun.

Begitu pula masyarakat, tampak tak begitu terpancing dengan desas-desus itu. Terbukti setiap tahun semakin banyak orang tua yang mempercayakan anaknya menjadi santri di kampus ini. Jumlah calon santri yang mendaftar setiap tahun bertambah hingga tak semuanya bisa ditampung.

Di samping itu, pengakuan dari berbagai elemen pendidikan diberikan kepada Al-Zaytun. Mulai dari sebuah surat ketetapan pemberian akreditasi pada 4 Februari 2002, status "Diakui" pun melekat bagi Al-Zaytun ketika baru berusia tiga tahun. Bahkan akreditasi lain datang dari Australia yang diberikan kepada Program Pendidikan Pertanian Terpadu (P3T) - sekarang Fakultas Pertanian Terpadu Universitas Al-Zaytun Indonesia - berupa akreditasi berbintang empat atau Recognition by IARC as 4 stars organization. Menyusul kemudian, akreditasi dari lembaga akreditasi internasional yang berkedudukan di Pasadena, AS.

Lalu, sejak Juli 2005 lahirlah Universitas Al-Zaytun Indonesia (UAZ Indonesia) dan tingkat pendidikan dasar. Inilah hari sebagai titik awal implementasi One Pipe Education System di Al-Zaytun, mulai dari tingkat pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga universitas, mulai dari kelas 1 SD sampai program doktor (S3).

KESATUAN:Syaykh al-Zaytun mempertajam dan menyatukan visi peserta Sidang Tahunan Litbang Al-Zaytun 2009Al-Zaytun semakin memantapkan langkah implementasi pendidikan formal dengan jenjang yang tak terputus untuk mencapai arah dan tujuan one pipe system education, yang diwujudkan dalam pelaksanaan pendidikan dari kelas satu hingga kelas dua puluh.

Jenjang pendidikan itu adalah: Pertama, tingkat dasar (elementary) yakni tahun pertama hingga tahun keenam, umur 6-12 tahun; Kedua, tingkat menengah (Secondary and Senior High School) yakni tahun ketujuh hingga tahun ke-12, umur 13-18 tahun; Ketiga, tingkat S1 yakni tahun ke-13 hingga tahun ke-15, umur 19-21 tahun; Keempat, tingkat S2 yakni tahun ke-16 hingga tahun ke-17, umur 21-23 tahun; dan Kelima, tingkat S3 yakni tahun ke-18 hingga tahun ke-19, umur 24-26 tahun.

Pada saat awal, yang dimplementasikan barulah tingkat menengah, kemudian persiapan S1 berupa Program Pendidikan Pertanian Terpadu (P3T), Program Pendidikan Teknik Terpadu (P2T2) dan Program Pendidikan Bahasa-bahasa Terpadu (P2BT). Sampai kemudian, setelah berdirinya Universitas Al-Zaytun Indonesia (UAZ Indonesia) dan tingkat pendidikan dasar, semakin mantaplah langkah Al-Zaytun mengimplementasikan sistem pendidikan satu pipa, dari kelas satu hingga kelas dua puluh.

Al-Zaytun pun tidak hanya bagai satelit yang mengorbit di angkasa lepas, bahkan ibarat matahari memancarkan sinar ke seantero jagat. Jika Allah berkehendak, tiada kekuatan apapun yang bisa menghalanginya. Sebuah lembaga pendidikan yang bertujuan mempersiapkan peserta didik untuk berakidah yang kokoh terhadap Allah dan syari’at-Nya, berakhlakul karimah dan berpengetahuan luas demi kesejahteraan dan kebahagiaan duniawi maupun ukhrawi, tentulah sesuai dengan kehendak Allah. Tampaknya misi mulia itulah yang menjadi kekuatan utama para eksponen Al-Zaytun.

Namun, pujian seperti ini bukanlah kehendak pengasuh Al-Zaytun. Bagi mereka, Syaykh al-Zaytun dan para eksponennya, semua itu menyiratkan natijah bahwa Al-Zaytun harus terus maju untuk membangun dan memberi manfaat kepada umat dan negara tanpa harus mundur satu langkah pun, baik saat menghadapi gangguan dan tantangan dari luar maupun menerima pujian dan penghargaan.

Buahnya, Al-Zaytun dari tahun ke tahun makin berkembang. Pembangunan sarana fisik berlangsung tak henti-hentinya. Sistem pendidikannya pun terus ditingkatkan memenuhi kriteria pendidikan abad 21. Kurikulumnya terus disempurnakan untuk mampu melahirkan peserta didik yang berkemampuan berskala dunia. Kualitas guru pun makin ditingkatkan dengan berbagai upaya sistematis dan terencana. Begitu pula pembenahan lingkungan terus dilakukan. Kemandirian ekonomi juga makin ditingkatkan melalui berbagai upaya pengembangan pertanian, peternakan, dan lain-lain.

Sebagai lembaga pendidikan berasrama (boarding house), Al-Zaytun pun menempatkan faktor pengadaan makanan menjadi agenda utama yang harus ditata dengan baik. Dengan sistem pendidikan yang berasrama yang jumlah santrinya mendekati 10 ribuan, maka faktor pengadaan makanan tidak bisa disepelekan. Maka lahan penunjang yang telah dimilikinya, terus dipersiapkan dengan seksama untuk dapat menunjang sumber pangan utama secara mandiri. Semua hal itu dibahas dalam Sidang Tahunan Litbang 2009.

Pembukaan Sidang Litbang 2009
Dalam sebuah acara pembukaan bersahaja, namun serius dan profesional, Sidang Tahunan Litbang Al-Zaytun dilakukan di Meeting Room Al-Islah, Al-Zaytun pada 27 Mei 2009. Sidang Litbang ini berlangsung hingga 9 Juni 2009. Seperti tahun-tahun sebelumnya, sidang tahunan Litbang diselenggarakan bersamaan dengan pekan-pekan dimana santri menjalani masa belajar di masyarakat. Seluruh pengurus yayasan dan eksponen menjadi peserta sidang. Proses sidang tahunan Litbang itu, sejak awal hingga penutupan, berlangsung amat intens dan 'melelahkan' serta mebuahkan hal-hal penting yang menentukan arah kemajuan Al-Zaytun ke depan sesuai visi dan misi yang sudah digariskan sejak awal pendiriannya.

Visi dan misi Al-Zaytun menggariskan bahwa pendidikan merupakan langkah yang harus ditempuh dalam upaya ikut mencerdaskan kehidupan umat dan bangsa Quotation Visi dan misi Al-Zaytun menggariskan bahwa pendidikan merupakan langkah yang harus ditempuh dalam upaya ikut mencerdaskan kehidupan umat dan bangsa Quotation
. Komitmen inilah yang melatarbelakangi Al-Zaytun untuk turut berperan dan berpartisipasi aktif mewujudkan cita-cita dan konsensus bersama masyarakat internasional di dalam satu era millennium development melakukan pembangunan manusia yang holistik, mencakup semua komponen pembangunan yang dihimpun dalam kependidikan. Hal ini dilakukan untuk mencapai sebuah tujuan mulia yakni kemajuan kemanusiaan dan kesejahteraannya.

Kesadaran akan pentingnya pendidikan dan urgensi peningkatan kualitas umat manusia inilah, maka Al-Zaytun mendesain pendidikannya dengan tujuan: "Mempersiapkan peserta didik untuk beraqidah yang kokoh kuat terhadap Allah dan syari'at-Nya, menyatu di dalam tauhid, berakhlak al-karimah, berilmu pengetahuan luas, berketrampilan tinggi yang tersimpul dalam basthatan fil `ilmi wai jismi (QS 2:247) sehingga sanggup siap dan mampu untuk hidup secara dinamis di lingkungan negara bangsanya dan masyarakat antar bangsa dengan penuh kesejahteraan dan kebahagiaan duniawi maupun ukhrawi."

Untuk mencapai tujuan itu, kurikulum pendidikan Al-Zaytun dirancang sedemikian rupa, baku namun tidak beku, 'ashri, komprehensif dan dinamis. Sehingga dalam aplikasinya selain dapat menerima pembaruan dan dapat menyesuaikan dengan tuntutan zaman. Apalagi tahun ini, Sidang Litbang diwarnai refleksi sepuluh tahun sudah pendidikan Al-Zaytun berkiprah dengan berbagai dinamikanya hingga berhasil mengimplementasikan cita-cita sistem pendidikan satu pipa (one pipe education system).

Pada acara pembukaan Syaykh al-Zaytun Abdussalam Panji Gumilang memberi arahan (tausiyah). Syaykh al-Zaytun memberi arahan tentang apa makna upaya pembaruan dan inovasi kependidikan dan tentang pokok-pokok materi sidang yang sudah diagendakan dan dipersiapkan sebelumnya.

Arahan itu mempertajam kemampuan dan cara pandang bagi peserta sidang. Sehingga para peserta memiliki kesamaan visi dan misi dalam membahas setiap pokok bahasan dalam sidang. Tausiyah Syaykh al-Zaytun itu, kemudian dituangkan dalam Muqaddimah Hasil Sidang Tahunan Litbang Al-Zaytun.

Setelah memaparkan visi-misi dan tujuan pendidikan di Al-Zaytun, seperti dikemukakan di atas, diamanatkan pula bahwa perkembangan pendidikan dan inovasinya terus berjalan seiring dengan rotasi waktu yang tiada henti. Kemajuan sains dan teknologi serta perubahan environment pendidikan secara umum yang berpengaruh terhadap kehidupan, menuntut langkah penyesuaian yang harus ditempuh, sebagai faktor eksternal yang harus direspon dengan positif.

Memandangkan perjalanan pendidikan Al-Zaytun satu dasawarsa, supaya terjadi perkembangan pendidikan yang berkelanjutan (sustainable development), maka perlu dilakukan pembaruan pelaksanaan pendidikan sebagai langkah konkrit dari upaya pengembangan manusia yang berkesinambungan.

Sehingga pendidikan Al-Zaytun dapat bergerak secara leluasa sesuai dengan irama zaman dengan tetap berpedoman pada visi-misi Al-Zaytun. Mengacu kepada Sisdiknas, maka bidang studi yang diujikan pada ujian nasional perlu mendapatkan perhatian yang seksama. Sehingga peserta didik senantiasa siap menghadapinya tanpa mengalami beban dan tidak harus mengikuti bimbingan khusus di luar jam pembelajaran. Adapun bidang studi yang tidak termasuk dalam ujian nasional tetap mendapatkan perhatian sama yang penyajiannya terintegrasi dengan takhshis kurikulum pendidikan Al-Zaytun.

Selanjutnya bahasa sebagai jiwa bangsa harus tertanam secara menyeluruh dalam setiap jiwa peserta didik maupun civitas akademika, sehingga bahasa ibu menjadi cerminan budaya dan kepribadian bangsa. Selain itu penguasaan bahasa antarbangsa yang dominan, khususnya Arab dan Inggris haruslah menjadi komunikasi harian bagi sivitas akademika. Dengan begitu terbentuklah language atmosphere di Al-Zaytun.

Aspek lain yang tidak kalah pentingnya adalah sistem pemakanan dan kegiatan olah raga-seni yang memadai untuk mencapai kesihatan jiwa dan raga yang prima. Kegiatan olah raga dan seni yang pada hakikatnya bisa menyehatkan dan menghaluskan perangai dalam perannya membentuk karakter dan kepribadian harus diikuti oleh peserta didik. Sehingga mereka dapat berkiprah dalam event yang lebih luas, nasional maupun internasional.

Untuk menunjang kegiatan pembelajaran perlu didukung oleh sarana prasarana yang memadai, seperti laboratorium sains, kimia, biologi, bahasa, matematika, dan lain-lain. Juga disediakan tempat hunian yang sakinah bagi civitas akademika serta termenej dengan pola manajemen yang baik. Sehingga para penghuni, khususnya pelajar, dapat berinteraksi dengan penuh toleran dan damai, merasa nyaman, dan betah sebagai pengganti rumah mereka sendiri, Dengan demikian diharapkan dapat menumbuhkan manusia yang bertanggung jawab kepada diri dan lingkungannya.

Kemudian setiap kegiatan penelitian dan berbagai perkembangan hendaklah dicatat dan diadministrasikan dengan baik. Pengadministrasian ini berguna untuk memberikan informasi kepada pihak luar maupun sebagai rujukan dalam menentukan langkah ke depan.

Sehubungan dengan itu dipandang perlu melakukan penelitian dan pengembangan (Litbang) untuk membahas hal-hal tersebut di atas sebagai upaya yang responsif dan inovatif dalam mewujudkan cita-cita pendidikan.

Sidang Komisi
Sidang ini sudah diawali dari tahap persiapan, terutama persiapan materi Sidang Litbang yang akan dibahas. Tahap persiapan ini dilakukan oleh beberapa orang untuk mendetailkan hal-hal yang perlu dibahas dalam sidang berdasar hasil kajian Litbang sepanjang tahun.

WAWANCARA: Syaykh Al-Zaytun diwawancara Berita Indonesia seusai acara pembukaan Sidang Tahunan Litbang Al-Zaytun 2009Sesuai materi hasil tahap persiapan itu, dikelompokkan dalam tujuh pokok materi bahasan. Selanjutnya, setiap pokok materi itu didetailkan pembahasannya dalam sidang yang dibagi dalam tujuh komisi.

Komisi I bersidang membahas masalah pembaruan pendidikan. Komisi II membahas masalah bimbingan kebahasaan. Komisi III membahas masalah ekstrakurikuler. Komisi IV membahas masalah perawatan gedung. Komisi V membahas masalah manajemen asrama. Komisi VI membahas masalah pemakanan. Sedangkan yang terakhir, komisi VII membahas masalah dokumentasi dan penelitian.

Selain memberi arahan untuk mempertajam dan mempersatukan visi para peserta sidang, Syaykh al-Zaytun juga memberi masukan kepada setiap komisi. Misalnya kepada Komis I yang membahas masalah pembaruan pendidikan, antara lain tentang hari belajar dan kurikulum. Tentang hari belajar, selain dalam acara pembukaan sidang, dalam beberapa kesempatan dan melalui pesan-pesan Jumat, Syaykh sudah berulang kali mengemukakan gagasan agar para santri dan mahasiswa tidak sepenuhnya dalam sepekan duduk di kelas. Tapi ada beberapa hari yang duduk di kelas, ada hari-hari yang tidak duduk di kelas. Yakni, lima hari di dalam kelas, dan dua hari di luar kelas. Hal ini telah menjadi salah satu keputusan dalam Sidang Tahunan Litbang 2009. Lima hari belajar dalam kelas per pekan itu yakni mulai hari Senin sampai Jum'at.

Kemudian mengenai item yang menyangkut kurikulum, yang dibahas dalam sidang tahunan Litbang antara lain tentang mata pelajaran yang diujikan pada ujian akhir nasional (UAN). Mata ajar yang akan mendapatkan evaluasi nasional dalam bentuk ujian akhir nasional, itu ternyata tidak semua materi ajar yang diberikan berdasar kurikulum. Tapi jumlah mata ajar yang diujikan dalam ujian nasional hanya empat dan enam. Yakni untuk tingkat madrasah tsanawiyah empat mata pelajaran (Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, matematika dan IPA), dan tingkat menengah atas atau aliyah enam mata pelajaran (untuk jurusan IPA: Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, matematika, biologi, fidika dan kimia; dan untuk IPS: Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, matematika, sosiologi, geografi, dan ekonomi).

Dalam sidang Litbang dibahas bagaimana cara memaksimalkan mata ajar yang diikutkan dalam ujian akhir nasional itu. Dikaji, jika diberikan dalam bentuk seperti yang telah berlangsung selama ini, kemudian ditambah les-les tertentu, sesungguhnya membuang waktu. Sudah duduk di kelas, tapi masih ada les, atau jam-jam tambahan dan lain sebagainya. Cara itu dinilai tidak efisien dalam penggunaan waktu, tenaga dan lain sebagainya.

Maka, dinilai lebih baik kalau pendetailan mata ajar yang diujikan dalam ujian akhir nasional itu berlangsung di dalam proses belajar di kelas saja. Tanpa ada pelajaran-pelajaran tambahan. Sebab yang diujikan itu hanya enam, tapi mengapa terjadi seakan-akan tidak cukup waktu dalam beberapa tahun atau tiga tahun untuk mengatasi ujian nasional yang hanya enam ini.

Sidang Litbang mencari jalan keluar, sehingga anak didik sudah harus selalu siap dan mampu menghadapi ujian nasional. Kapan saja diadakan ujian nasional itu, santri sudah siap. Syaykh al-Zaytun menginspirasi peserta sidang untuk mencari jalan keluar terbaik, dengan mengutip kata orang Cina, lihai atau pintar, untuk mengatur materi ajar yang diujikan secara nasional itu di dalam kelas, dalam jadwal belajar reguler saja.

Hal ini menjadi bahan kajian Sidang Litbang secara serius. Melihat kenyataan yang terjadi di lain tempat, bahkan secara nasional, menghadapi ujian nasional ini seakan-akan suatu beban sehingga tatkala menjelang ujian, banyak yang stres. Baik guru maupun unit-unit sekolah, maupun pelajar merasakan seakan-akan ujian akhir nasional itu beban yang maha berat. Padahal semua sudah memiliki kurikulum dan pendukungnya.

Keadaan ini, menurut Syaykh, jangan sampai terjadi di Al-Zaytun. Walaupun selama ini kejadian tersebut tidak pernah terjadi di Al-Zaytun. Namun, pengkajian tentang hal ini dilakukan dalam Sidang Litbang dan menghasilkan jalan keluar yang dibuat menjadi suatu kebiasaan (bukan terobosan) supaya yang hanya empat dan enam mata ajar yang diujikan itu tidak menjadi beban. Caranya, melakukan pendetailan pada setiap jam pelajaran yang diberikan, antara lain dengan penambahan jam pelajaran per pekan. Sehingga tidak perlu ada tambahan dengan les atau kursus.

Namun bukan berarti pelajaran-pelajaran yang tidak diujikan dalam ujian akhir nasional, tidak diperhatikan atau dikorbankan. Tapi semuanya sama-sama diperhatikan dan ditangani secara serius. Begitu pula tentang pendetailan pembimbingan dan pencapaian pembacaan Al-Qur'an maupun Al-Hadits yang diulas komisi I, ada evaluasi yang dilakukan secara mendasar. Hasil kajian Litbang menunjukkan, ternyata anak-anak atau para pelajar tidak bisa dilepaskan dengan sendirinya menghafalkan Al-Qur'an, dan Al-Hadits tanpa bimbingan. Dengan adanya bimbingan, maka diharapkan, selain anak-anak akan menguasai bacaan Al-Qur'an, juga menguasai tafsirnya, serta menguasai pesan-pesan Al-Qur'an untuk pelajaran akhlak, untuk pelajaran akidah, dan untuk pelajaran ibadah.

Litbang mengkaji akan membuat satu metoda yang dinilai efektif tentang hal ini. Metoda itu antara lain, selain para santri belajar 'ulumu al-fiqhi di kelas, ada juga bimbingan Al-Qur'an yang arahnya untuk mendukung itu. Jadi, Qur'an yang akan diberikan itu adalah yang berakidah, kemudian ulumul’ibadah dan mu’amalah. Hal itu diberikan secara khusus, sambil anak-anak itu fasih di dalam membaca.

Sesungguhnya, pedoman-pedoman seperti itu selama ini telah berlangsung di Al-Zaytun. Namun, Sidang Litbang mengkaji penataan yang lebih baik. Antara lain dengan memanfaatkan keunggulan Al-Zaytun, banyaknya sumberdaya, baik guru dan eksponen yayasan maupun unsur-unsur lain, untuk dilibatkan memberikan bimbingan bacaan Al-Qur'an, maupun pengertian-pengertian daripada ayat-ayat Al-Qur'an atau petikan-petikan ayat Al-Qur'an maupun hadits-hadits.

Dalam program pemberian bimbingan pendetailan Al-Qur'an maupun Al-Hadits ini, peserta didik itu tidak harus banyak dalam satu kelas. Dalam satu kelas, paling banyak satu regu, yakni 10 sampai 11 orang. Kemudian ada pembimbing, satu atau dua orang.

Sedangkan mengenai waktu pemberian bimbingan, pada tingkat Ibtidaiyah akan diberikan pada kelas lima dan kelas enam. Sementara untuk kelas satu, dua, tiga, dan empat, tetap guru-guru resmi yang ada di kelas. Artinya, bimbingan pendetailan tadi, cukup di kelas lima dan enam. Kemudian di tingkat tsanawiyah, diberikan pada kelas 3 atau kelas 9. Sedangkan di tingkat aliyah, diberikan di kelas 5 akhir atau kelas 11 akhir dan 12.

Materi bimbingannya sendiri yaitu ayat-ayat Qur'an yang berhubungan dengan khuluq atau akhlaq, berhubungan dengan akidah, dan berhubungan dengan ibadah dan lain-lain. Dengan adanya bimbingan ini, diharapkan nanti anak atau pelajar sudah terbiasa membaca Al-Qur'an dan menghafal dengan teliti sehingga tatkala membaca Al-Qur'an atau membaca mushap secara sempurna sudah bisa dimiliki atau sudah bisa ditekuni oleh masing-masing. Termasuk di dalamnya Al-Hadits.

Pendidikan Kejuruan Berkualitas
Masih dalam ulasan bidang pendidikan, tahun ini kuat keinginan di Al-Zaytun untuk membuka pendidikan kejuruan, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Program SMK yang masih baru di Al-Zaytun ini menjadi salah satu topik ulasan yang alot dalam sidang tahunan Litbang kali ini. Di antaranya mengenai beberapa hal menyangkut pelaksanaan pendidikan kejuruan itu sendiri dan pemilihan kejuruan apa yang akan ditekuni.

Biasanya kejuruan itu kaitannya adalah tenaga yang dipersiapkan secara cepat dan tepat untuk mencapai pekerjaan tertentu. Menurut kajian Litbang, pendidikan kejuruan seperti itu, profesional. Sekarang, profesional yang paling diperlukan itu, adalah profesional yang berhubungan dengan informatika. "Jadi, mana yang kita pilih terlebih dahulu walaupun banyak profesional-profesional itu. Ada ekonomi, ada pertanian, ada teknik, ada juga IT, informatika dan lain sebagainya," kata Syaykh memberi arahan.

Lebih rinci lagi, Syaykh mengatakan, jika sekolah menengah kejuruan ditetapkan jadi dibentuk, yang dibuka satu jurusan dulu. Yang satu jurusan itu ditekuni, baru kemudian dikembangkan. Jadi, jangan sekaligus membuat beberapa jurusan tapi kemudian tidak bisa mengembangkannya secara baik. "Jadi satu dulu, kemudian kita tetapkan, ijinnya kita miliki. Kemudian kita bikin sedemikian berkualitas. Kalau itu sudah berjalan, baru kita kembangkan yang lain-lain," ucap Syaykh.

Ditanya Berita Indonesia mengenai latar belakang dibukanya SMK ini, Syaykh mengatakan pembentukan SMK ini agar pelajar yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi bisa bekerja dulu baru kemudian melanjutkan pendidikan.

Sementara, dalam sidang Litbang dibahas juga perihal laboratorium dan perpustakaan. Juga tentang sistem dan pelaksanaan perekrutan dan seleksi penerimaan santri atau pelajar baru. Sidang Litbang juga mengkaji adanya persyaratan khusus untuk kelas 12 seperti selama ini, dengan memasukkan pada persyaratan khusus yaitu kemampuan di dalam menguasai bacaan hafalan Al-Qur'an dan Al-Hadits.

Hal ini berkaitan dengan pendetailan bimbingan Al-Qur'an, dan Al-Hadits. Sehingga, dengan adanya pendetailan bimbingan Al-Qur'an dan Al-Hadits, maka sistem evaluasi, sistem perekrutan yang telah dilakukan dan lain sebagainya, bisa disinkronkan dengan program pembimbingan Al-Qur'an dan Al-Hadits. Karena, berdasar kajian Litbang, ternyata apa yang pernah dilakukan dalam perekrutan yang berkaitan dengan tahfid Al-Qur'an, tidak mendukung pada perjalanan lebih lanjut. Sehingga perlu ditemukan cara agar tahfid yang dicapai oleh anak-anak di dalam persyaratan kelulusan masuk, itu harus disertai dengan perkembangan lebih lanjut.

Martabat Bahasa Indonesia
Kemudian mengenai pokok materi bimbingan kebahasaan yang pembahasannya ditangani oleh komisi II, dalam sidang ini masih dibagi dalam beberapa item antara lain, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan baku, serta rencana pembukaan kursus bahasa Ibrani, di samping pendidikan bahasa Inggris dan bahasa Arab yang selama ini sudah dilakukan di Al-Zaytun.

Tentang penggunaan bahasa Indonesia yang baik, Syaykh memaparkan kajian Litbang yang perlu didetailkan dalam sidang sebab belakangan ini bahasa Indonesia anak-anak dan lingkungan di Al-Zaytun dirasakan sudah tidak mencerminkan bahasa Indonesia yang menjadi jiwa bangsa. Kehidupan keseharian berbahasa ini sudah tidak menunjukkan bahwa di sana adalah kampus pendidikan. Termasuk yang senior maupun yang pelajar.

"Kita tidak bangga dengan bahasa Indonesia. Mengapa? Karena kita tidak mampu mengangkat harkat martabat bahasa Indonesia itu sendiri. Ini harus disadari dan harus cepat kembali. Kita harus berbahasa Indonesia yang baik dan baku," kata Syaykh Panji Gumilang.

Dikatakan, bahasa-bahasa yang prokem, hendaknya dijauhi sebab civitas akademik Al-Zaytun bukan makhluk yang tampil di layar tv untuk menghibur orang. Tetapi adalah makhluk Indonesia, bangsa Indonesia yang tampil untuk mendidik dan punya bahasa yang baik. Sehingga bahasa Indonesia nanti menjadi bahasa yang disenangi banyak makhluk hidup di dunia ini. Syaykh menginginkan, berbahasa Indonesia yang tidak baik dihentikan. Syaykh menganjurkan, mulai dari guru, senior-senior, berbahasalah dengan bahasa Indonesia yang baik.

Dengan berbahasa Indonesia yang baik, maka pelajaran bahasa yang lainnya pun akan menjadi baik. Jadi kalau bahasa bangsa itu tidak dikuasai oleh bangsanya, dia dianggap tidak menguasai dengan baik bahasa lainnya. Maka nanti, mempelajari bahasa Inggris maupun bahasa-bahasa lainnya, itu akan baik kalau sudah kembali kepada bahasa Indonesia yang baik.

"Awali bahasa Indonesia kita dengan bahasa yang baik," kata Syaykh. Mengapa? Karena itulah ciri sebuah kampus, satu di antaranya adalah bagaimana menggunakan bahasa yang baik untuk berinteraksi.

Kursus Bahasa Ibrani
Ada ide selain bahasa-bahasa yang telah ditampilkan di dalam kurikulum, nanti ada kursus-kursus bahasa yang mudah-mudahan ada manfaatnya, yaitu bahasa Ibrani. Mengapa bahasa Ibrani? Karena ada sangkut paut dengan Arab, dan ada sangkut paut dengan ajaran Ilahi secara murni. Itu adalah bahasa Ibrani.

Lalu, karena yang menguasai bahasa Ibrani di lingkungan Indonesia ini terbatas, biasanya adalah pastor dan pendeta, bahkan di dalam organisasi kepastoran itu sendiri juga belum banyak yang menguasai bahasa Ibrani. Namun, setelah dicari dan insyallah ada. Untuk tahap awal telah dijajaki dengan Pdt. Dr. S.M. Siahaan, mantan Rektor Sekolah Tinggi Theologia HKBP Nommensen, Pematang Siantar, untuk mengajar. Rencananya, akan diikuti 10-20 orang.

Materi Lainnya
Komisi III yang membahas mengenai ektrakurikuler membaginya dalam beberapa item antara lain mengenai kepanduan atau kepramukaan, olahraga dan kesenian, serta kursus-kursus. Litbang mengkaji kurikulum kepramukaan harus ditegaskan secara gamblang, sehingga bisa dievaluasi. Seberapa jauh kurikulum kepanduan yang bisa dikuasai oleh anak-anak. Jangan sampai kepanduan ini dijadikan arena untuk permainan saja yang tidak ada manfaatnya. Tapi jadikanlah kepanduan ini sebagai satu medan untuk mendidik anak-anak bisa mencintai kampusnya, bisa mencintai negaranya, bisa mencintai bangsanya, bisa berkomunikasi dengan lingkungannya maupun lingkungan antarbangsa.

Kepanduan itu bertugas is'aaf. Is'aaf itu adalah memberi bantuan, diminta atau tidak diminta. Jadi, dibahas dalam sidang tahunan Litbang bagaimana kurikulum untuk menciptakan is'aaf untuk seluruh umat manusia, bukan untuk golongan tertentu.

Kurikulum kepanduan dan kepramukaan diperjelas. Evaluasinya juga diperjelas. Tim kepramukaan, dan tim kepanduan harus dibentuk secara jelas, termasuk pengorganisasiannya. Kemudian, interaksi dengan pramuka atau kepanduan di lingkungan juga harus dibuat.

Begitu pula tentang evaluasi program di bidang olahraga dan kesenian, ditinjau dan dibaca kembali. Apa yang telah dilakukan dengan program keolahragaan. Dengan dibentuknya KOSMAZ dan lain sebagainya untuk melindungi keolahragaan dan kesenian, dikaji kembali. Sampai di mana tugas-tugas untuk melindungi yang juga diartikan untuk mengembangkan olahraga dan kesenian.

Kemudian mengenai kursus-kursus yang ada selama ini seperti kursus tanaman hias dan lain sebagainya, dikaji untuk semakin ditingkatkan. Begitu pula kursus bahasa dan sebagainya. Juga dikaji oleh Komisi IV, mengenai perawatan gedung.

Sedangkan Komisi V membahas manajemen asrama. Di antaranya tentang pertimbangan menetapkan kepemimpinan atau kepengurusan atau manajemen asrama. Juga dikaji oleh Komisi VI tentang menu makanan dan sistem menu makanan. Ditelaah, masih bisa dipertahankankah sistem pemakanan atau penyampaian makanan yang di dalam kelas dengan jam-jam yang telah ditetapkan? "Masih bisa dipertahankan atau kembali kepada yang lama? Namun dari kajian Litbang, apa yang kita lakukan ini masih baik tapi tinggal caranya yang perlu diperbaiki," ujar Syaykh.

Yang terakhir, mengenai penataan administrasi dan dokumentasi-penelitian pembahasannya ditangani komisi VII. Dikaji seluruh kegiatan yang sifatnya untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari yang telah ada. Bagaimana pendukungnya, baik itu administrasinya maupun penanggungjawabnya maupun pergudangan atau penyimpanannya.

Semua dikaji, karena dalam sepuluh tahun ini sesungguhnya telah banyak atau telah ada yang dilakukan, tapi mungkin belum terkoordinir, tersimpan dengan baik karena belum ada lembaga yang mendokumentasikan hasil penelitian itu. Umpamanya, penelitian tentang pertanian, penelitian tentang pembangunan.

Al-Zaytun pernah punya hasil penelitian yang dibuat oleh tim pembangunan, juga penelitian bibit-bibit, meneliti pembibitan ternak-ternak, baik itu melalui uji juriat maupun persilangan, yang seharus tersimpan (terdokumentasi) dengan baik. Maka diperlukan adanya lembaga yang khusus menangani hal itu sehingga nanti semuanya terdokumentasikan dan bisa dibagikan, ataupun kekayaan penelitian yang bisa dijadikan juga sebagai sumbangsih kepada masyarakat. (Bersambung Edisi depan) BI/marjuka-hotsan-crs (Berita Indonesia 68)



Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com