Majalah Berita Indonesia

Saturday, Apr 29th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Lentera Pandangan Tidak Tepat pada Islam, Sikapi dengan Damai
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Pandangan Tidak Tepat pada Islam, Sikapi dengan Damai

E-mail Print PDF

Syaykh Al-Zaytun saat diwawancarai tim jurnalis East West Center (EWC)-AS di Kampus Al-Zaytun, IndramayuWawancara Syaykh Al-Zaytun dengan Tim Jurnalis EWC-AS
Syaykh Al-Zaytun Drs Abdussalam Panji Gumilang, mengatakan sesungguhnya pemandangan orang terhadap Islam atau muslim, dan pemandangan muslim terhadap orang lain terkadang ada yang tidak tepat. Untuk itu, kata Syaykh, di Al-Zaytun kami mengajarkan toleransi dan damai. Tatkala kita memandang atau melihat orang yang menyikapi muslim dengan sikap yang tidak tepat, kita berikan sikap toleransi dan damai, namun kita akan jelaskan yang sebenarnya bukan seperti itu.

Oleh sebab itu sikap toleran dan damai akan melandasi persahabatan yang abadi. Untuk itu antara Amerika dan Indonesia, khususnya Al-Zaytun, mari kita tegakkan sikap toleran dan damai di dunia ini,” kata Syaykh Al-Zaytun menjawab pertanyaan perihal adanya perbedaan ide dan persepsi antara timur dan barat dan bagaimana seharusnya pemerintah Amerika Serikat bersikap. Pertanyaan itu dilontarkan Tim Jurnalis East West Center (EWC) Hawaii, Amerika Serikat, yang berkunjung ke Al-Zaytun, Indramayu, dipimpin oleh Mr Richard Baker, 19-20 Mei 2007.

Kunjungan ini merupakan kunjungan kedua. Kunjungan kali ini mereka sebut bertema: Building Understanding Between The United States and The Asian Muslim Word. Sejumlah pertanyaan mereka ajukan dalam wawancara dengan Syaykh Al-Zaytun Abdussalam Panji Gumilang, Minggu 20 Mei 2007, setelah sehari sebelumnya tim jurnalis EWC ikut menghadiri acara peletakan batu asas pembangunan Pusat Pendidikan Putra-Putri Bangsa Indonesia di Cibanoang, Kecamatan Gantar, Indramayu.

Tatkala Tim EWC bertanya, bagaimana pemerintah kami bisa berbuat baik? Syaykh mengatakan sesungguhnya berbuat baik memang tidak mudah, namun juga tidak sulit. Tapi berbuat baik untuk diterima baik orang lain tidak semudah membalikkan telapak tangan. Oleh sebab itu, kita tidak boleh mengurangi kesabaran. “Pemerintah Amerika dan bangsa Indonesia mestinya mengerti tentang perbuatan baik itu harus dibuat setiap saat. Dan jangan bosan-bosan, walapun ditentang banyak orang. Tapi lima, 10, 20 tahun ke depan akan dipahami oleh banyak orang,” kata Syaykh Al-Zaytun, tokoh pemangku pendidikan, dan pembelajar demokrasi, toleransi dan perdamaian itu.

Tim jurnalis EWC-AS itu adalah Mr Richard Baker (Special Asistant to the President), Ms Abugail Sines (Seminar Program Specialist), Mr Jamse Gibney (Deputy Managing Editor, Athlantic Monthly, Washington DC), Mr Eric Gorski (Religion writer, Associated Press, Denver Coolorado), Ms Cathy Crossman (Religion writer USA Today, Washington DC), Mr James O,toole, (Politics Editor, Pittsbburgh Post Gazette, Pittsburgh Pennsylvania), Ms Stephany Shapiro, (Fautures writer, Baltimore, Maryland), Ms Janet Tu (Religion Reporter , Seatle Times Washington), K Oanh Ha (Host, Pacific Time, KQEN 2601 Mariposa Street, San Fransisco). Ms Norila Mohd Daud (Presiden National Union of Journalists Malaysia), dan Eva Danayanti (Yayasan Pantau, Indonesia).

Tim EWC-AS bersama Syaykh Al-Zaytun Panji Gumilang dan eksponen Al-Zaytun lainnya usai menghadiri peletakan batu asas pembangunan P4BI di CibanoangMereka mengajukan sejumlah pertanyaan. Antara lain visi-misi Al-Zaytun, dari mana dana pembangunan Al-Zaytun, bagaimana aktifitas Syaykh ketika umur 25 tahun, apakah Al-Zaytun bisa dicontoh oleh negara lain? Juga tentang adanya ummat Islam Indonesia menginginkan syariat Islam dijalankan di Indonesia dan apakah Syaykh ingin menjadi seorang politisi?

Syaykh menyambut kehadiran Tim EWC itu dengan sangat terbuka penuh rasa persaahabatan, serta menjawab semua pertanyaan dengan lepas apa adanya. Pada bagian awal Syaykh menjelaskan bahwa dia baru tiba kembali ke Kampus Al-Zaytun jam 18.30, namun merasa tidak pernah capai. “Bahkan, senang bisa bertemu dengan sahabat-sahabat dari Amerika, Malaysia dan lain-lain. Apa yang bisa kami informasikan untuk Anda semua?” sapa Syaykh. Tapi, kata Syaykh, berikan saya kesempatan berbicara dengan bahasa saya, dan Pak Richard menerjemahkan dengan baik, supaya tidak ada salah paham dalam mengungkapkan apa yang diinformasikan. Mr Richard Baker, pimpinan rombongan, memang sangat fasih berbahasa Indonesia. Dialog pun berlangsung akrab. Berikut ini petikannya:

Kami melihat Al-Zaytun ini adalah sebuah proyek besar. Bisa Anda jelaskan apa sebenarnya visi misi yang dijalankan oleh Al-Zaytun?
Proyek yang kita buat ini bukan proyek yang besar, ini proyek yang wajar-wajar saja. Adapun visinya adalah untuk kemanusiaan, supaya bisa tercipta ketentraman di bumi sehingga tercipta kehidupan yang baik.

Dari mana ide-idenya?
Ide-ide ini adalah ajaran besar dari Ilahi yang pernah disampaikan oleh manusia-manusia besar, yang memiliki pemikiran besar, cita-cita besar. Yang kesemuanya itu sejak dari zaman dahulu sampai kini terus berjalan, tidak pernah putus. Dan kami melanjutkan cita-cita indah dari para pendahulu kita itu. Kita teruskan supaya kalau boleh lebih indah lagi. Sehingga tercipta kemanusiaan yang satu di dunia ini, sama-sama menjunjung tinggi kebahagiaan bersama. Dan ini harus dimulai dari pendidikan dan ekonomi, atau ekonomi dan pendidikan.

Syaykh Al-Zaytun: Sikap toleran dan damai akan melandasi persahabatan yang abadiDapatkah Anda sampaikan kepada kami, kapan Anda mulai memiliki cita-cita meneruskan cita-cita besar tersebut?
Cita-cita seperti ini sudah tumbuh dari sejak saya masih kecil. Tatkala masih belajar di sekolah dasar. Saya melihat guru saya selalu memberikan pelajaran, dan saya ingin seperti guru saya. Karena saya anggap guru itu adalah pelanjut dari kebudayaan kemanusiaan. Dan kami tengok kehidupan bangsa dari sejarah dan dari perjalanan kehidupan bangsa ini. Juga kehidupan bangsa–bangsa lain, bangsa-bangsa di dunia. Dari situlah kami lanjutkan sampai hari ini, bekerja bersama-sama dengan para sahabat, baik sahabat itu dari Indonesia maupun dari luar Indonesia. Sebab kami selalu menekankan persahabatan tanpa membedakan siapa dia dan apa yang dia peluk dalam keagamaan maupun lain-lainnya. Dari situlah maka kami melanjutkan perjalanan pendidikan dan menggerakkan perekonomian bagi lingkungan kami di sini. Itu apa yang kami cita-citakan bersama sahabat-sahabat.

Sangat menarik sekali penjelasan Anda. Yang ingin saya tanyakan dari mana dana itu?
Pergerakan ekonomi dan pergerakan pendidikan selalu mendatangkan dana, sekalipun pada mulanya kita harus mendanai. Oleh sebab itu, kami selalu mendatangkan dana dan juga memprsiapkan dana. Adapun persiapan dana kami adalah dari seluruh yang ikut bersama-sama menjalankan pendidikan di sini. Dan harap dimaklumi bahwa Al-Zaytun ini dibangun dari titik yang sangat kecil sekali. Modal kami tidak satu dolar tapi seperseratus dolar, itu awalnuya. Namun kami kumpulkan seluruh sahabat, maka menjadi beberapa dolar, mungkin hari ini ada juta dolar. Yang Anda semua saksikan seakan-akan besar, padahal awalnya adalah kecil. Dan kami selalu berpuasa. Kami tidak mau makan nasi banyak sebelum punya nasi sendiri.

Siapa yang mengumpulkannya?
Yang mengumpulkannya adalah yang pertama dari diri sendiri, kemudian mengajak kawan-kawan. Dan hari ini pun kami akan mengajak sahabat-sahabat dari Amerika, mari kita kolektif.

Apakah dari kelompok kecil ini bisa membangun yang sebesar ini?
Amerika membangun Amerika adalah dari kemlompok kecil. Namun karena sudah lebih dari 200 tahun maka menjadi besar. Dan Al-Zaytun sudah berjalan delapan tahun. Delapan tahun memang cukup pendek, tapi dari pendek inilah kami kumpulkan. Dan kami saban hari berpusasa, tidak makan nasi banyak-banyak, tidak makan gula banyak-banyak, tidak makan garam banyak-banyak, kami kumpulkan semua, dan nanti akan makan nasi banyak, gula banyak, dan garam banyak. Kata orang China Ipu-Ipu Lai, Ta Tau Mutiti, step by step menjadi besar.

Ada dana dari luar negeri?
Dana dari luar negeri satu di antaranya hari ini Anda akan memberi dana karena Anda menginap di hotel. Dan tahun lalu pun Anda tinggal di sini dan membayar hotel di sini. Dan bangsa Indonesia menurut saya kaya. Karena apa? Karena jumlahnya banyak, dan kalau saya minta satu dolar dari setiap bangsa Indonesia kami mendapatkan 250 juta dolar. Itulah kami istilahkan Indonesia kaya, kalau kami mau minta.

Bisa dijelaskan berapa bujet biaya yang dikeluarkan, kemudian dana yang diperoleh?
Baik! Kami punya murid di sini sebanyak lebih dari 7000 orang. Murid sekolah menengah 7000 lebih, perguruan tinggi 600, guru 600, kemudian karyawan 1900 orang. Penghuni di sini lebih dari 11 sampai 12 ribu orang. Satu hari kami menyiapkan nasi 5 ton, satu kilo 6 ribu rupiah. Itu untuk nasi. Kami setiap hari memotong sapi tiga kepala, satu kilogram hidup harganya 15 ribu rupiah. Setiap hari kita potong 3 kepala, dikalikan 600 Kg, dikalikan 15 ribu. Setiap hari kami harus mempersiapkan telur paling sedikit 700 Kg. Dan setiap hari kami harus menyiakan ikan laut dan ikan darat lebih dari 600 Kg. Kami menyiapkan gula tidak kurang dari 300 Kg. Kami tidak menghitung semua itu, namun kami harus mengadakan. Yang bisa kami tanam kami tanam, yang tidak bisa, kami beli. Karena kami mempunyai padi banyak, kami jual padi dan kami belikan gula. Begitulah hari-hari kami berjalan. Jadi terkadang kita tukar dan kadang-kadang kita menyiapkan sendiri. Itulah program, dan itulah pembiayaan setiap hari, dan berjalan sepanjang tahun. Kalau itu kami hitung dengan uang maka kami tidak mau menyiapkan. Lebih baik di taruh di bank tinggal mengambil faedahnya, dan kami duduk di kursi sambil menyanyi: Bengawan Solo.

Ketika Anda masih muda apa yang anda kerjakan. Bagaimana sejarahanya sehingga bisa memiliki program seperti ini?
Saya diberi pelajaran dari orang tua dan dari guru-guru. Satu orang musuh terlalu banyak, tapi seribu orang kawan terlalu sedikit. Kemudian tentang uang seribu itu akan menjadi abu, tapi seteng itu akan menjadi genteng, maka jangan kecil hati tatkala memegang uang seteng. Begitu kata orang tua. Maka kami punya seteng, dan kami punya kawan seribu, maka menjadi seribu seteng, maka menjadi dolar dan menjadi genteng.

Bagaimana aktifitas Anda ketika umur 25 tahun?
Saya ketika umur 25 tahun menjadi guru. Tatkala itu saya baru saja menikah, dan menjadi guru, istri saya pun menjadi guru. Maka saya dari kecil sampai hari ini guru. Dan kami sangat menyukai menjadi guru.

Di Amerika guru tidak bisa mendapat penghasilan banyak?
Lain di Indonesia lain di Amerika. Di Indonesia guru seperti Panji Gumilang mampu mencetak uang, karena setiap jengkal tanah harus diukur dengan dolar.

Apakah Indonesia memiliki program seperti ini, atau apakah Al-Zaytun ini bisa dicontoh oleh negara lain?
Mestinya tidak harus mencontoh, mestinya harus berbuat. Karena kami juga berbuat dan melihat dari negara lain, dari sahabat-sahabat di dunia ini, bangsa-bangsa lainnya. Untuk itu semestinya semua berbuat seperti kita ini, sebab kalau mencontoh Al-Zaytun, Al-Zaytun belum baik. Kami sedang terus membuat yang baik. Maka kami tengok dari mana yang terbaik itu yang kami contoh. Kami belum menilai Al-Zaytun ini sudah baik, tapi harus terus ditingkatkan dan diperbaiki. Malam ini andainya Anda semua memberikan masukan pada kami yang baik akan kami pakai.

Al-Zaytun banyak menuai kontroversi. Saya tahu Anda tidak pernah khawatir dengan apa yang Anda kerjakan. Pertanyaan saya bagaimana pendapat Anda tentang komentar-komentar orang terhadap Al-Zaytun?
Al-Zaytun adalah tempat pendidikan. Setiap tempat pendidikan itu ada saja orang yang pro dan kontra. Adapun kalau ada orang mengatakan bahwa Al-Zaytun kontroversial sesungguhnya orang itulah yang kontroversial. Pak Richard sudah dua kali datang ke sini, dan sudah bisa menyaksikan apa yang ada di sini, saya rasa Pak Richard tidak akan mengatakan bahwa Al-Zaytun kontroversial. Karena itu saya ingin semua orang datang ke sini dan bersikap seperti Pak Richard. Karena perang mulut itu akan menjadi perang fisik, dan bila perang fisik tidak ada damai. Sedangkan kami punya motto menciptakan toleransi dan damai. Dan untuk itu kami minta semua yang pro ataupun yang kontra, supaya memahami mengapa kami diam, tidak menanggapi orang-orang itu. Karena kami akan terus berjalan menuju yang terbaik. Dan insya Allah, masa depan orang semua akan mengerti. Kami baru delapan tahun, kami yakin setelah delapan tahun akan banyak yang mengerti. Dan andainya masih ada yang tidak mengerti mengapa kita harus sedih? Mari kita jalan terus ke depan untuk kebaikan.

Ummat Islam Indonesia menginginkan syariat Islam dijalankan di Indonesia. Bagaimana pandangan Syaykh?
Bangsa Indonesia ini memiliki warga negara yang berbeda-beda. Ada yang beragama Islam, ada yang tidak beragama Islam. Ada suku bangsa yang bermacam-macam. Maka Indonesia sudah memiliki satu semboyan Bieneka Tunggal Ika (Unity in Diversity). Itu yang terjadi di Indonesia. Dan kami berjalan di atas itu. Dan supaya dipahami bahwa apa yang terjadi dalam motto bangsa Indonesia itulah Islam. Itu pengertian kami, itulah Islam. Begitulah ajaran nabi, nabi Islam. Dan itulah ajaran para nabi, tidak membeda-bedakan. Dan itulah syariat Islam.

Syaykh tadi menyampaikan tentang pendidikan di Al-Zaytun. Tetapi saya lihat Al-Zaytun telah berkembang ke arah pengembangan hal lain seperti ekonomi. Apakah sebenarnya misi Al-Zaytun ke arah global, khusus ke pendidikan ataukah ada misi lain?
Al-Zaytun adalah sebuah pendidikan, dibangun oleh Yayasan Pesantren Indonesia (YPI). Program utama YPI adalah pendidikan dan ekonomi atau di balik ekonomi dan pendidikan. Oleh sebab itu apa yang kita lakukan tidak pernah keluar dari program. Kalau tahun lalu tuan-tuan dan puan-puan berkunjung ke mari belum menemukan gerakan seperti yang hari ini ditengok, memang ketika itu kami sedang menata pendidikan. Dan setelah tujuh tahun kami berjalan kami mulai masuk ke pembangunan ekonomi.

Dalam membangun perekonomian apakah Anda juga akan masuk ke pasar global?
Apa yang kami buat di bidang ekonomi adalah untuk mensupport perjalanan pendidikan. Karena setiap orang bertanya dari mana biaya Al-Zaytun ini. Kalau kami tidak bergerak di bidang ekonomi maka pertanyaan itu tidak terjawab. Sekarang arah ekonomi kami baru di tingkat nasional. Sedikit-sedikit kita ekspor. Namun intinya adalah untuk tingkat nasional dulu, karena kepentingannya masih memenuhi tingkat nasional. Kalau sudah tidak terpenuhi nanti baru kami bergerak ke tingkat internasional. Kalau sudah kuat di negara sendiri baru kita buka perekonomian ataupun perdagangan di negara lain.

Lalu apa target yang diinginkan dengan masuk ke pasar global?
Targetnya, semua pergerakan ekonomi ini untuk mendanai pendidikan. Sebab pendidikan tidak pernah kenal istirahat.

Tadi siang Syaykh menyampaikan bahwa pemerintah tidak membangun pendidikan di daerah Cibenoang. Apakah Syaykh juga ingin masuk ke dunia politik?
Kalau seorang pendidik berbicara tentang politik itu sudah wajar, tapi seorang politikus masuk ke pendidikan itu mengakhawatirkan. Oleh sebab itu di mana-mana guru bisa menjadi politisi tapi politikus belum tentu bisa menjadi guru.

Apakah Anda ingin menjadi seorang politisi?
Saya bangga dengan kedudukan saya sebagai guru.

Al-Zaytun sudah sukses hanya dalam delapan tahun. Al-Zaytun sekarang mendidik generasi muda bangsa Indonesia. Apakah Anda ingin model Al-Zaytun ini dapat dikembangkan di seluruh Indonesia?
Kesuksesan hari ini, kalau orang menganggap sukses, dalam delapan tahun kami belum menganggap sukses. Masih banyak kekurangan. Dan kalau dikatakan model Al-Zaytun ini dikembangakan untuk seluruh Indonesia, itu baru satu Al-Zaytun saja orang sudah banyak berpendapat beda. Untuk itu jangan memaksakan model Al-Zaytun untuk seluruh bangsa ini, karena kami menganut paham demokrasi. Kami tidak memaksakan model ini yang terbaik. Demokrasi mengajarkan pemahaman seperti itu. Untuk itu saya suka demokrasi. Dan sikap seperti itu konon adalah sikap seorang demokrat, tapi bukan partai demokrat, milik Hilary Clinton.

Kita sudah banyak berbicara tentang Al-Zaytun. Al-Zaytun berusaha untuk memenuhi sendiri pendanaannya, adakah hal-hal yang kontradiksi?
Sesungguhya tidak kontradiksi. Kalau kami self sufficient itu untuk kebutuhan harian. Tapi kalau kontak kami, relasi kami dengan para sahabat di dunia internasional itu adalah interdependensi. Jadi kehidupan ini mesti interdependen, tidak ada independen secara utuh, tapi interdependen. Itulah sikap kami.

Siapakah tokoh yang mengisnpirasi Syaykh sehingga membuat lembaga seperti Al-Zayutn ini?
Tokoh-tokoh di dunia, karena kami selalu belajar sejarah. Sesuai dengan fak pelajaran yang kami dididik. Kami selalu membaca ide-ide besar manusia besar di dunia ini, sehingga kami berusaha mengikuti langkahnya yang panjang itu, walaupun hanya satu langkah. Jadi dari banyak orang. Kalau dari nabi banyak nabi yang kami ikuti, karena Tuhan mengajarkan kepada kami imani banyak nabi. Maka kami baca nabi-nabi yang ada di dunia ini, dan kami ingin mengikuti jejaknya walaupun hanya satu langkah. Dan yang paling besar ide besar itu adalah menciptakan toleransi dan perdamaian.

Kita tahu bahwa ada perbedaan ide dan persepsi antara timur dan barat. Menurut pendapat Anda apa yang bisa dilakukan oleh Amerika untuk mengkorelasikan ide toleransi dan perdamaian seperti yang diusung oleh Al-Zaytun?
Sesungguhnya pemandangan orang terhadap Islam atau muslim, dan pemandangan muslim terhadap orang lain terkadang ada cara pandang yang tidak tepat. Untuk itu kami mengajarkan di sini toleransi dan damai. Tatkala kita memandang atau melihat orang yang menyikapi muslim dengan sikap yang tidak tepat, kita berikan sikap toleransi, namun kita akan jelaskan yang sebenarnya bukan seperti itu. Oleh sebab itu sikap toleran dan damai itu akan melandasi persahabatan yang abadi. Untuk itu antara Amerika dan Indonesia, khususnya Al-Zaytun, mari kita tegakkan sikap toleran dan damai di dunia ini. Itu harapan kami.

Terima kasih atas pengertian Anda. Tetapi karena kami bukan pegawai pemerintah, bagaimana pemerintah kami ini bisa berbuat baik?
Sesungguhnya berbuat baik memang tidak mudah, namun juga tidak sulit. Tapi berbuat baik untuk diterima baik oleh orang lain tidak semudah membalikkan telapak tangan. Oleh sebab itu, kita tidak boleh mengurangi kesabaran kita. Pemerintah Amerika dan bangsa Indonesia mestinya mengerti tentang perbuatan baik itu harus dibuat setiap saat. Dan jangan bosan-bosan, walapun ditentang banyak orang. Tapi lima, 10, 20 tahun ke depan akan dipahami oleh banyak orang. AZ (Berita Indonesia 39)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com