Majalah Berita Indonesia

Thursday, Apr 27th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Lentera Sewindu Pembelajaran Al-Zaytun
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Sewindu Pembelajaran Al-Zaytun

E-mail Print PDF
Article Index
Sewindu Pembelajaran Al-Zaytun
Al-Zaytun Miliki 3P
Hadiah Bagi Para Johan
All Pages

Syaykh AS Panji GumilangAhad 1 Juli 2007, Al-Zaytun memulai pembelajaran tahun ajaran 2007-2008. Pada hari bersejarah sewindu pembelajaran (1 Juli 1999 - 1 Juli 2007), itu Al-Zaytun mempersembahkan hadiah emas, antara lain mengangkat martabat dan harkat daerah kabupaten Indramayu dari segi pendidikan.

Tahun mendatang, kata Syaykh AS Panji Gumilang dalam tausiyahnya, Al-Zaytun harus menampilkan berlian sehingga Indramayu berada paling depan dari kabupaten lain di Jawa Barat. Syaykh AS Panji Gumilang mengemukakan hal itu merespon pidato sambutan Kepala Kandepag Indramayu Drs Mahfud MA yang menyatakan sangat bangga sebab dengan berdirinya Ma‘had Al-Zaytun meliputi madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Aliyah, serta Perguruan Tinggi telah membantu Human Development Indeks (HDI) atau Indek Pembangunan Manusia (IPM) di Kabupaten Indramayu.

Drs Mahfud MA juga menjelaskan hasil dari ujian nasional untuk tingkat sekolah lanjutan pertama di Indramayu nilainya menduduki peringkat kedua se Jawa Barat, dengan prosentase kelulusan 99,78%. Sedangkan untuk tingkat sekolah lanjutan atas prosentase kelulusannya 99,67% juga menduduki peringkat kedua se Jawa Barat.

Syaykh AS Panji Gumilang memberikan nama kehormatan “Al-Shidiq” kepada Drs Mahfud MA sebagai pernyataan spontan dan tulus atas sambutannya yang mengemukakan kilas balik dalam merespon Al-Zaytun sejak tahun 1997 hingga sekarang. Yaitu bagaimana proses Kakandepag Indramayu itu merespon dari rasa ragu kemudian menerima dengan yakin Al-zaytun sampai hari ini.

Pada awal pembangunan ma’had, Drs Mahfud Al-Shidiq pernah berkunjung ke Al-Zaytun. Setelah lama tak berkunjung, tahun 2007 ini datang kembali mengunjungi Al-Zaytun atas undangan untuk meresmikan pembukaan awal pembelajaran 2007-2008 bagi para santri al-Zaytun, serta membuka resmi penyelenggaraan pembelajaran madrasah ibtidaiyah (MI) di PKBM Cibanoang Desa Mekarjaya, Kecamatan Gantar, 1 Juli 2007.

“Ternyata delapan tahun itu punya makna menunggu Al-Zaytun menghadiahkan emas kepada lingkungannya,” kata Syaykh AS Panji Gumilang. Hadiah emas itu, kata Syaykh adalah mengangkat martabat dan harkat daerah kabupaten Indramayu dari segi pendidikan, tahun ini menghantarkan ke posisi satu langkah dari depan. Tahun mendatang Al-Zaytun harus menampilkan lagi berlian sehingga Indramayu berada paling depan dari kabupaten lain.

Syaykh Al-Zaytun menjelaskan mengapa mengundang Drs Mahfud Al-Shidiq pada hari Windu Kencana Al-Zaytun ini. Windu adalah delapan, kencana adalah emas. Biasanya orang-orang hanya menghadiahkan emas itu kalau umur 50 tahun, perkawinan pun seperti itu, ada perkawinan emas tatkala umur nikahnya itu 50 tahun, namun Al-Zaytun dengan segala keberaniannya menghadiahkan emas pada ulang tahun ke 8.

Pesantren Spirit
Syaykh Panji Gumilang menjelaskan bahwa kurikulum yang dilaksanakan di Al-Zaytun adalah lengkap meliputi kurikulum Departemen Pendidikan Nasional, kurikulum Departemen Agama serta kurikulum kepesantrenan yang menitikberatkan kepada kemandirian. Mengenai kehidupan pesantren di Al-Zaytun berlangsung siang dan malam, sekolah diisi terus, tempat pembelajaran diaktifkan terus.

Syaykh dan Umi memasangkan topi dan menyalami santri ibtidaiyahDalam tausiyahnya pada pembukaan awal pembelajaran, Syaykh Al-Zaytun mengisahkan secara singkat proses pendirian dan pengelolaan lembaga pendidikan Al-Zaytun yang menganut filosofi dasar: Pesantren spirit but modern system. Semangat harus pesantren, tetapi dengan sistem modern.

Syaykh menjelaskan, pesantren di dalam bahasa Inggris passantry yang pengertiannya adalah orang yang suka bercocok tanam atau dalam bahasa Indonesia disebut petani. Sedangkan menurut bahasa Urdu dan Parsi, pasantren adalah orang selalu berusaha membuka mata, melek hurup baik hurup tulis maupun hurup alam semesta. Itulah sesungguhnya makna pesantren di Indonesia yang kita jalankan ini, bukan dari Hindu dan bukan dari mana-mana, tapi atas penelaahan orang-orang Indonesia yang selalu ingin melek karena bila di dunia buta, di akherat pun akan menjadi buta.

Pesantren ditumbuhkan supaya masyarakat tidak buta, buta dalam arti seluas-luasnya. Filosofi dasar Al-Zaytun adalah Pesantren spirit but modern system. Semangat harus pesantren, tidak boleh ada yang buta dalam arti luas. Kalau sekarang ada orang buta hurup, maka ada pula yang buta tidak bisa menerobos mayapada melalui information technology. Zaman seperti ini tidak bisa ditanggapi dengan step by step yang tidak serius. Step by step harus dilakukan secara serius, ada evaluasi dan ada keberanian masuk ke dalam renovasi yang sebesar-besar dan setinggi-tingginya.

Syaykh Panji Gumilang juga menguraikan pengertian pesantren sebagaimana ditulis oleh Dr Jofir bahwa pesantren adalah sebuah pendidikan yang didirikan oleh kiyai di sebuah kampung kemudian murid datang berduyun-duyun, lalu murid-murid itu mendirikan tempat-tempat untuk asrama, kemudian mengadakan pembelajaran. Tidak diterangkan belajar apa di situ dan dengan kurikulum apa di situ.

Sistem pendapatan dan ekonomi yang berjalan di dalamnya, santri boleh ikut ngaji dengan syarat ngangsu air untuk kiyai, mencangkul sawah kiyai, mencucikan pakaian kiyai dan mbok nyai, kemudian memasak di dapur dan sebagainya. Santri tidak dikirimi uang dari rumah, ngajinya sakarepe, karep isuk ya isuk, karep sore ya sore ga ngaji ra opo-opo yang penting ada dalam pesantren.

Kesehatan para santri juga tidak terjamin karena makannya sak nemunya, kalau dikirim orang tua ya bisa beli sate kalau tidak dikirim ya mangan apa adanya. Kayu pun boleh ambil di mana-mana, tidak ada aturan yang mengaturnya.

Kalau merujuk kepada pengertian seperti itu, Al-Zaytun seakan menyalahi total dan nyeleneh dari kaidah kepesantrenan. Ini dikarenakan para pendiri dan pendukung Al-Zaytun membuat sebuah analisa tentang itu, apa betul kalau pesantren dengan pengertian seperti itu dilaksanakan di zaman sekarang bisa mencapai tujuan. Sedangkan tujuan hidup bagi bangsa Indonesia adalah “Hiduplah tanahku, hiduplah negeriku, bangsaku rakyatku semuanya. Bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia raya.” Bisakah kita menghidupkan Indonesia? Bisakah kita membangun? Bisakah menata jiwa? Semuanya mengatakan bisa.

Mengenai kualitasnya tentunya ukuran akan bisa menandakan belum sampai kepada yang dikehendaki. Hasil analisa menyimpulkan bahwa pembangunan sebuah pesantren lokasinya jangan di dalam kampung tetapi harus terpisah dari perkampungan, penghuninya merupakan masyarakat baru yang datang dari Indonesia dan luar Indonesia, serta sudah diperhitungkan suatu saat akan lebih dari 10.000 jiwa. Areal yang dipergunakannya pun harus luas karena setiap orang diukur dengan lari cepat 100 meter bolak-balik sehingga masing-masing memerlukan lahan 200 m2. Untuk fasilitas jalannya diperlukan 1000 hektar sehingga untuk keseluruhnnya diperlukan lahan seluas 2.000 hektar. Bangunannya besar, lebar dan kuat.

Hak Asasi Manusia
Berbicara tentang ciri pesantren, menurut Syaykh, songkok dan sarung itu bukan budaya muslim. Songkok itu dipakai oleh orang-orang di India dengan warna putih, sebagaimana orang yang pergi haji pulangnya pakai songkok putih.

Paling depan Drs Sulaiman, Drs Mahfud MA, Syaykh dan UmiPenampilan muslim yang sesungguhnya adalah pro kepada masyarakat. Cita-cita atau ideologi kita adalah untuk menyejahtrerakan masyarakat yang biasa disebut dengan Rahmatan lil alamin. Dalam kehidupan pesantren mesti dibangun sebuah kebanggaan, kejayaan, serta ketatatentraman. Untuk itu, pesantren Al-Zaytun memulai pemahaman hak azasi manusia yang kita ambilkan dari declaration of human right yang dikeluarkan oleh united nation organitation.

Ada unsur azasi bahwa manusia ini berhak hidup, dan berhak menikmati pendidikan. Hak azasi pendidikan sebagai hal yang paling utama sebab manusia harus pintar, cerdas, mempunyai ilmu sebanyak-banyaknya, dan negara wajib memberikan fasilitas untuk itu. Supaya bisa cerdas, manusia harus cukup makan, tidak boleh miskin, tidak boleh kekurangan, mampu berdiri tegak, dan makan yang cukup diselenggarakan secara bersama oleh negara dan masyarakat.

Sepulangnya dari study banding ke negeri China. Syaykh bertanya dalam hati mengapa China tidak pernah kekurangan makan dan sanggup menjual makanan, padahal jumlah penduduknya sangat banyak, mencapai 1,3 milyar jiwa. Setelah diteliti, ternyata mereka tidak membeli makanan karena memang dipersiapkan oleh negaranya. Semua fasilitas diadakan, maka memfasilitasi masyarakat untuk bisa makan sempurna itulah menegakkan hak azasi manusia dan siapa yang menghalang-halangi itu, itulah yang anti hak azasi manusia.

Supaya bisa cerdas maka manusia pun badannya harus sehat, bukan umur panjang tapi sehat. Untuk apa umur panjang tapi kesehatannya selalu terganggu, hidup tapi hanya bernafas, berjalan tapi penuh rintihan, berdiri tapi penuh lapar. Itu namanya umur yang tidak bermanfaat. Rasulullah selalu berdo’a “Allahumma inni a`udzubika min an urodda illa ardzali al-umuur” Ya Allah, jangan aku dijadikan manusia yang dikembalikan pada umur yang tidak bagus.

Karena manusia ini bersifat kerjasama maka berdirilah sebuah bangsa dan sebuah negara, lalu diorganisirlah kekuatan-kekuatan tadi untuk mencapai hak azasi manusia. Oleh karena itu dalam bahasa Arab, negara dikatakan Daulah,”Dalla-yadullu-duulatan wa daulatan” kalau daullah adalah administrasi negara maka duulah adalah perputaran modal atau keuangan.

Mendekatkan kampung dan kota
Menjelang pembangunan Ma’had Al-Zaytun, tahun 1997 yayasan mengutus tiga orang ke Pemda Indramayu untuk menjelaskan rencana pembangunan Ma’had sebagaimana hasil analisa tersebut. Namun sewaktu dijelaskan, petugas pemerintah daerahnya sendiri tidak percaya, masa pesantren pakai IMB. Sewaktu Site Plan-nya disampaikan, petugas tersebut menjawab enggak usah, yang penting bangun saja dulu. Dengan membawa sepotong surat, dibangunlah Ma’had ini secara bersama. Terjadilah pembangunan, tahun 1997 mulai berdiri, 1998 mulai tampak, dan 1999 mulai agak bisa dipakai. Setelah bangunan berdiri, datanglah petugas Pemda dan mengatakan kalau bangunannya seperti ini mesti pakai IMB.

Al-Zaytun dibangun di suatu desa terpencil adalah untuk mendekatkan kampung dan kota, sebab kalau kampung tidak dibangun maka selamanya Indonesia ini terkotak-kotak menjadi manusia kampungan yang apabila masuk ke kota tidak mengerti kekotaan. Terjadilah bias tatkala masuk budaya kota mempengaruhinya, ingin menjadi orang kota dan ingin mencapai sesuatu dengan secepatnya.

Syaykh AS Panji Gumilang mengemukakan, sampai sekarang Al-Zaytun belum menikmati kebijakan pemerintah daerah, khususnya dalam hal infrastruktur. Semua infrastruktur dibangun sendiri, padahal Al-Zaytun memberikan pajak yang tidak kecil. Pengeluaran dana setiap tahun milyar-milyar dengan pajak minimal 10%. Sudah semestinya dibuatkan jalan. Ada jalan tapi ditutup, mengapa? Karena Al-Zaytun adalah madrasah pak!

Karena itu, kepada Kakandepag Syaykh mengatakan, jangan terlalu bangga terhadap Al-Zaytun karena kemajuannya, bapak mesti menangis di depan Bupati dan kemukakan: “Katanya di Indramayu harus semuanya keluaran madrasah. Tengok Al-Zaytun, jalannya di portal, jalannya rombeng, saya masuk ke sana seperti masuk ke laut Cina Selatan”. SYAF (Berita Indonesia 43)



Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com