Majalah Berita Indonesia

Thursday, Apr 27th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Lentera Pencapaian Minimal Pendidikan Indonesia Menjelang 2020
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Pencapaian Minimal Pendidikan Indonesia Menjelang 2020

E-mail Print PDF

Dr Abdussalam Rasyidi Panji GumilangDi Indonesia kini tumbuh “peradaban” lama dalam kemasan baru: The end justifies the means. Dulu “peradaban” itu hanya milik kaum komunis, kini hal itu menyebar menjadi perilaku banyak kelompok di Indonesia. Sikap itu dikemas dalam bentuk perilaku yang tak terkendali, dengan dalih kebebasan, demokrasi, dan reformasi, menghasilkan berbagai kekacauan di Indonesia ini. Beberapa orang Indonesia menyimpulkan, bahwa jika hal ini tidak diantisipasi, Indonesia akan berada diambang kehancuran?

Guna memahami dan mengantisipasi masalah ini, kita perlu lebih dulu menoleh sekilas Indonesia dan sistem    pendidikan masa lalunya. Kemudian menelaah bagaimana merancang pendidikan Indonesia masa kini dan masa mendatang. Setelah itu menatap citra pendidikan Indonesia modern dan pencapaian minimal pendidikan Indonesia tahun 2020. Di antaranya, menjelang 2020, kiranya pelajar-pelajar Indonesia modern dapat menjadi the first in the world dalam pencapaian sains dan matematik, serta semua produk pendidikan Indonesia modern sudah siap masuk dalam tatanan hidup dalam zone of peace and democracy.

Sekilas Indonesia dan Pendidikan Masa Lalu
Negara kita Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Luas wilayah 1.922.570 km2. Penduduk berjumlah 216.268.430 tersebar di 6.850 pulau dari sejumlah 13.667 kepulauan yang ada. Terdiri dari 31 provinsi, 440 Kab/Kota, 5.105 kecamatan dan 70.663 desa. Pertambahan penduduk rata-rata 2,1 % pertahun.

Perkiraan penduduk: Tahun 2000 = 206.262.000. Tahun 2010 = 231.180.000. Tahun 2020 = 254.702.000. Distribusi umur: 0 -14 tahun = 36,6%; 15 -29 tahun = 28,3%; 30-44 tahun = 18,1 %; 45 -59 tahun = 10,6%; 60-74 tahun = 5.2%; 75 tahun ke atas = 1, 1 %. Kepadatan penduduk pada tahun 2002 = 109,8 setiap km2. Indonesia dengan penduduk 216.268.430 (tahun 2003) menempati urutan keempat besar setelah RRC, India, dan Amerika Serikat.

Nama Indonesia pertama kali diperkenalkan oleh etnolog Inggris, GR Logan, pada tahun 1850, ketika ia menulis buku mengenai bangsa yang tinggal di kepulauan penghasil rempah-rempah itu. Logan menggabungkan kata “India” yang waktu itu diartikan oleh kebanyakan orang Barat sebagai daerah penghasil rempah, dengan kata “nesos” yang berarti kepulauan. Dengan menggabung dua kata itu terciptalah nama Indonesia.

Yang selanjutnya nama Indonesia diabadikan oleh para pejuang muda Indonesia, untuk menyatukan gerakan mewujudkan kemerdekaan dari penjajahan, yang tersimpul dalam sikap “Sumpah Pemuda” 28 Oktober 1928. Yakni pengakuan: Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa Indonesia. Pada hari itu pula berkumandang Lagu Kebangsaan Indonesia Raya ciptaan WR Soepratman untuk yang pertama kali (secara formal). Semua itu menjiwai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, sekaligus merupakan tonggak sejarah lahirnya negara dan bangsa Indonesia secara de facto dan de jure.

Syaikh Panji Gumilang: Membangun pendidikan Indonesia, mestinya berfokus kepada pembangunan pedesaan, sebab mayoritas penduduk Indonesia berada di pedesaanLuas area wilayah Indonesia banyak ditentukan oleh kesuksesan Belanda dalam menaklukkan daerah jajahannya sejak awal abad ke-17 hingga menjelang pertengahan abad ke-20. Tidak kurang dari 350 tahun, saudagar dan tentara dari Nederland menang dalam penguasaan kepulauan nusantara dan mengendalikannya yang kemudian membentuk kolonial India Timur Belanda sampai menjelang pertengahan abad ke-20.

Tentara Jepang menaklukkan India Timur Belanda dan menguasai daerah jajahannya, sampai Jepang dikalahkan kembali oleh tentara sekutu di bulan Agustus tahun 1945. Setelah Jepang menyerah, Belanda kembali menguasai wilayah Indonesia. Namun pada Agustus 1945 bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekannya dan terus melawan Belanda hingga mencapai kemenangan dengan menyerahnya Belanda secara resmi pada tahun 1949.

Sementara itu, pendidikan Indonesia dipengaruhi oleh beberapa hal yang signifikan, yaitu geografis, Islam, dan kolonial Belanda. Luasnya geografis dan menyebarnya kepulauan yang terjajah berabad-abad, menciptakan perbedaan budaya. Perbedaan masyarakat yang disebabkan oleh terpisahnya penduduk oleh sederetan laut, gunung, dan hutan lebat, hal itu membantu terjadinya proses terwujudnya lebih dari 400 bahasa dan dialek di Indonesia.

Banyaknya etnis dan bahasa (linguistik) menimbulkan kendala baik bagi pemimpin politik maupun pendidik. Karenanya bahasa yang terbaik yang telah ditetapkan untuk mengantisipasi kendala tersebut, telah ditetapkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, bahasa pemerintahan, dan lingua franca bangsa Indonesia serta bahasa pembelajaran dalam pendidikan Indonesia modern. Bentuk pembelajaran dalam pendidikan Indonesia disusun dan didesain untuk mempromosikan motto nasional: Bhinneka Tunggal Ika (uniy in diversity).

Pada dekade awal kemerdekaan, sistem pendidikan belum banyak mendapatkan perhatian dari penyelenggara pemerintahan. Baru sejak tahun 1970-an, mulai dikembangkan perhatian terhadap pendidikan dasar, menengah bahkan Taman Kanak-Kanak.

Sesudah tahun 1997, data pendidikan di Indonesia belum dapat diakses secara jelas namun boleh jadi perkembangannya akan lebih menurun jika dibandingkan dengan data tahun 1997. Sebab di berbagai daerah banyak unit-unit pembelajaran yang gedung-gedungnya telah rusak bahkan roboh dan tidak dibangun kembali. Bahkan di daerah konflik seperti di Aceh, banyak tempat-tempat pembelajaran yang sengaja dibakar oleh pihak-pihak yang sedang bertikai. Banyak yang menyimpulkan bahwa pendidikan Indonesia sedang menurun dan merosot tajam dari tahun-tahun sebelumnya.

Selama setengah abad lebih setelah kemerdekaan, sistem pelaksanaan pendidikan Indonesia tersentralisir dari Jakarta, semua kebijakan pelaksanaan ditentukan oleh pusat, sedangkan geografis, sistem penyeberangan pulau yang tersebar begitu banyak belum tertangani dengan jelas, karenanya sentralisai pendidikan menjadi sangat tidak efektif dan tidak efisien. Penyelenggaraan sekolah dan pendidikan di pulau-pulau terpencil, bahkan dibanyak pedesaan yang dekat dengan perkotaan pun belum dapat terdeteksi dengan jelas kualitasnya, karenanya statistik serta informasi yang akurat tentang pelaksanaan pendidikan untuk membangun lebih berkualitas sulit didapatkan.

Kenyataan real pelaksanaan pendidikan selama ini, perbedaan kualitas pendidikan desa dan kota sangat mencolok. Perbedaan yang mencolok itu selama ini belum terjembatani secara sistematis. Yang tampak bahwa pendidikan di desa terus tidak berdaya mencapai tingkatan kualitas yang diinginkan, sedangkan data kependudukan Indonesia sampai tahun 2002 penduduk Indonesia sebagian besar (57,0%) tinggal di desa dan sisanya tinggal di kota.

Merancang Pendidikan Indonesia Kini dan Mendatang
Membangun pendidikan Indonesia, mestinya berfokus kepada pembangunan pedesaan, sebab mayoritas penduduk Indonesia berada di pedesaan. Menata dan membangun pedesaan sangat berakibat besar kepada kestabilan kehidupan kota, baik sektor ekonomi maupun keamanan. Mempercepat pembangunan pendidikan pedesaan akan mempercepat pembudayaan masyarakat secara luas, yang pada gilirannya akan mempercepat pemerataan budaya kemajuan yang ada di dalam masyarakat Indonesia secara keseluruhan perkotaan maupun pedesaan. Karenanya perlu diciptakan suatu sistem terpadu untuk menjembatani kualitas pendidikan kota dan desa secara serius.

Mutu: Kualitas pendidikan akan menunjang kebangkitan ekonomi suatu bangsaKeberdayaan pendidikan desa, yang merupakan tempat tinggal 57,0% penduduk Indonesia menjadi sangat mutlak adanya. Dengan menata pendidikan desa, dapat tercipta sumber daya insani yang siap dan sanggup secara mandiri membangun desanya, sanggup menghadapi tantangan kerja berdasar kompetensi yang mereka peroleh melalui pengalaman pendidikan formal di sekolah.

Menata pendidikan desa bukan bertujuan mempertahankan untuk menjadi tenaga kerja pertanian, sekalipun pada kenyataannya sektor pertanian sudah banyak ditinggalkan oleh masyarakat desa dan pindah ke sektor lainnya.

Sikap seperti itu bukan satu indikasi kemajuan berpikir masyarakat desa, namun suatu keterpaksaan yang didorong oleh tantangan hidup sedangkan di sektor pertanian mereka tidak menemukan apa yang mereka harapkan. Penyebabnya pasti minimnya kompetensi mereka di sektor pertanian tersebut. Faktor pendidikan sebagai penyebabnya.

Sekali lagi jika peningkatan kualitas pendidikan desa termasuk sasaran utama pendidikan nasional, bukan berarti mempertahankan penduduk desa menjadi “petani”, sebab tanpa pendidikanpun kenyataan tenaga kerja potensial Indonesia terbanyak berada dalam sektor pertanian (42,5% tahun 1998). Kini sektor pertanian banyak ditinggalkan, sedangkan hajat dan kebutuhan bangsa Indonesia semakin tinggi terhadap produk pertanian. Pasti penanganan instannya adalah impor. Ini bermakna semakin jauh jarak kemampuan bangsa Indonesia untuk mencegah kelaparan formal yang dideritanya.

Kompetensi yang rendah di bidang apapun akan membawa kehidupan bangsa yang tidak menentu. Hanya pendidikan yang dapat mengatasinya. Meningkatkan kualitas SDM sektor pertanian menjadi sangat mutlak adanya. Kuantitas SDM sektor pertanian Indonesia cukup besar, dibanding dengan Amerika Serikat dan Jepang. Indonesia 42,5%, Amerika 2,7% dan Jepang 5,1% (1998). Namun dari produk pertanian yang dihasilkan menunjukkan jarak yang sangat jauh. SDM sektor pertanian Amerika berjumlah 3.952.514 (2,7%) dapat menghasilkan produk pertanian berupa biji-bijian sebanyak 292.217.000 ton metrik (2000), rata-rata 74 ton per petani.

Di Jepang, SDM sektor pertanian berjumlah 3.487.652 (1988) dapat menghasilkan 12.769.000 ton (2000), rata-rata 3,7 ton per petani. Sedangkan Indonesia, SDM sektor pertanian berjumlah 40.716.888 (42,5%) hanya menghasilkan 60.169.000 ton (2000), rata-rata 1,48 ton per petani. Ditinjau dari satu sektor produksi pertanian saja kemampuan masing-masing jelas nampak jauh, Indonesia : Jepang : Amerika = 1 : 2,5 : 50. Faktor utama penyebabnya pasti kualitas pendidikan yang mereka miliki.

Ditinjau dari sisi kemanusiaan, petani Amerika mampu menyumbangkan ketenteraman urusan perut umat manusia, jika hajat per kapita kepada biji-bijian sebanyak 0,18 ton per tahun, mka petani Amerika yang hanya 3.952.514 orang itu mampu menyumbang ketenteraman perut umat manusia sebanyak: 1.335.825.778 orang = 26,23% penduduk dunia (6.188.991.000 tahun 2002) berarti juga seorang petani Amerika mampu memenuhi hajat pangan dasar (biji-bijian) untuk 411 orang. Sedangkan petani Indonesia baru mampu menyumbang kemanusiaan untuk 8,22 orang per petani.

Dalam pembangunan masyarakat kota (urban development), di mana Indonesia 43% penduduknya terdiri dari masyarakat urban. Namun masyarakat urban Indonesia belum memiliki budaya urban yang jelas. Sebab sebagian besar penghuni perkotaan di Indonesia masih didominasi oleh warga desa yang berbondong-bondong mengadakan urbanisasi, dengan segala keterbatasan budaya urban yang mereka miliki.

Berbagai kekurangan dan kelemahan masyarakat urban Indonesia masih sangat tampak dengan jelas. Budaya tidak bersih, tidak sihat, tidak disiplin, tidak taat hukum dan lain-lain masih sangat dominan di perkotaan Indonesia. Ini lagi merupakan objek pendidikan nasional. Kota belum pasti kualitas tingkat pencapaian pendidikannya, begitu juga pendidikan pedesaan sudah jelas tampak kelemahan dan kekurangan kualitasnya.

Contoh pembangunan pendidikan masyarakat kota yang paling dekat dari lingkungan Indonesia adalah negara kota Singapura. Singapura merupakan masyarakat urban 100%. Singapura menjadi contoh pendidikan termaju di dunia. Pencapaian kemajuannya dititi dari penataan pendidikan, sehingga ciri-ciri dan praktik masyarakat modern sangat jelas dalam aktivitas kehidupan.

Masyarakat Singapura selalu bergerak berdasar pengetahuan, berprogram jelas, berdisiplin tinggi, beretos kerja kuat, taat hukum dan menghormati kemampuan dan pencapaian individu dan lain-lain ciri modern lainnya. Semua itu ditempuh melalui pendidikan yang jelas. Singapura berjalan dengan sistem yang jelas, sehingga siapapun yang berada di dalam masyarakat kota itu, terbawa oleh sistem yang telah mapan itu. Dalam kenyataan harian, orang Indonesia yang kurang berdisiplin pun jika masuk ke dalam Singapura dapat menjadi lebih disiplin dari pada bangsa Singapura itu sendiri.

Dalam mengambil contoh mempersiapkan dan menyongsong Indonesia 2020 kali ini, kita banyak mengambil dari negara-negara yang telah terlebih dahulu mencapai kemajuannya. Untuk itu kita tidak boleh apriori, hanya karena yang kita jadikan contoh kali ini memang bukan negara Islam (negara berbasis syariah Islam), juga bukan satu etnis kebangsaan.

Masyarakat Singapura mayoritas penduduknya beretnis Tionghoa (bukan Islam), Amerika Serikat adalah negara mayoritas Protestan terbesar di dunia, yang belakangan ini presidennya getol “menyerang” dan mengkritik berbagai pendidikan yang sedang dijalankan oleh negara-negara “Islam” di seluruh dunia. Namun kenyataan dalam kehidupan umat manusia, semangat piagam Madinah dapat berjalan di negara-negara yang kita sebut tadi. Juga semangat ayat Alquran surat 106 ayat 3 dan 4, “Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.”

Memang Ka’bah tidak berada di Singapura maupun di Amerika, namun semangat dan pesan pemilik Ka’bah dijalankan oleh Singapura dan Amerika. Mereka menjalankan sistem yang mampu mengangkat kesejahteraan hidup umat manusia agar terhindar dari kelaparan dan terlindungi dari rasa ketakutan.

Sedangkan penjaga haramain, belum mampu mengamankan peribadatan tahunan yang dijalankan oleh umat manusia sedunia, karena sistem modern belum tampak dalam kehidupan di wilayah “penjaga” haramain. Tiap tahun terjadi kematian sia-sia yang dialami oleh umat Islam dengan dalih ibadah dan mati syahid, karena kelemahan sistem pelaksanaannya.

Dari apa yang telah diurai terdahulu, tampak jelas berbagai problem pelaksanaan pendidikan nasional Indonesia. Semua problem tersebut harus dicarikan jalan keluar yang humanis dan rasional. Berbagai problem pendidikan dapat disimpulkan dalam: 1. Keterpaduan sistem, 2. Geografis, 3. Desa Kota, 4. Transportasi, 5. Sarana prasarana, 6. Kualitas pelaku didik, 7. Keseimbangan dana.

Keterpaduan Sistem
Sebagai bangsa Indonesia, kita bersyukur kepada Tuhan YME, bangsa Indonesia telah mewujudkan UU Sistem Pendidikan Nasional (UU No 20 Th 2003), sebagai follow up maupun rentetan dari undang-undang yang sama pada tahun-tahun sebelumnya, semenjak bangsa Indonesia merdeka. Kita merupakan lapisan masyarakat Indonesia sangat memiliki keterkaitan terhadap pendidikan, tentunya berusaha dengan segala upaya untuk mewujudkan dan memiliki pemahaman yang baik terhadap isi undang-undang tersebut.

Kita sebagai masyarakat pendidikan ingin memaknai jiwa undang-undang itu dengan makna yang seluas-luasnya, bahwa pendidikan adalah suatu usaha bertujuan mengarahkan kepada full development of personality, yakni membangun, membentuk watak maupun kepribadian yang utuh dalam sistem pengasuhan peserta didik yang berkesinambungan (tiada henti), sehingga terwujud sound in mind and body yang tercermin dalam pribadi bangsa yang cerdas (intelektual, emosional, spiritual), bangsa yang bijak dan bajik yang mau memosisikan diri dalam berbagai kondisi yang tersimpul dalam berbagai sikap: who love truth and justice, esteem individual values, respect labor, have a deep sense of responsibility.

Bangsa yang menguasai sains dan teknologi, bangsa yang sanggup mencintai negaranya dengan penuh tanggung jawab, mampu menciptakan perdamaian masyarakat dan negaranya. Bangsa yang sanggup bergaul dengan bangsa-bangsa lain dengan peradaban yang tinggi.

Kita yakin, kesemuanya itu merupakan power suatu bangsa dan keistimewaannya. Dan, itu pula yang menjadi ciri utama manusia dan bangsa yang bertakwa kepada Tuhan YME, yang selanjutnya akan menjadi manusia dan bangsa mulia di sisi-Nya.

Pencapaian pendidikan nasional seperti yang tercermin itu memerlukan keterpaduan sistem. Sehingga akan menjadi milik kita semua, milik bangsa Indonesia, bahkan akan menjadi milik umat manusia secara keseluruhan.

Pendidikan yang dimiliki secara bersama, akan mampu melibatkan segala lapisan bangsa, peserta didik, pelaku didik, masyarakat, pemerintah, dan sistem itu sendiri, semuanya menyatu dalam usaha mencapai cita-cita pendidikan nasional yang telah disepakati bersama. Keterpaduan seperti itulah yang akan membawa kejayaan pendidikan, dan keterpaduan seperti itulah yang harus diwujudkan dalam aktivitas pendidikan secara nyata.

Geografis
Problem luasnya geografis dalam bentuk kepulauan yang menyebar, yang mewujudkan berbagai bentuk budaya dan bahasa, yang telah dihadapi dengan sistem pendidikan sentralistis, ternyata membuahkan hasil yang kini dituai oleh pendidikan nasional yakni sumber daya insani Indonesia yang belum mampu bangkit secara berarti. Kini sikap keberanian mengadakan evaluasi telah tumbuh dalam kalangan kita bangsa Indonesia, terhadap jalannya pendidikan nasional kita.

Kita telah berani masuk dalam perubahan-perubahan baik sikap maupun pikir menuju perbaikan. Otonomi pemerintahan daerah dan pendidikan telah dicanangkan. Pemerintahan daerah dan kota telah mendapat wewenang luas dalam mengatur kebijakan pendidikan nasional.

Indonesia kita yang telah menganut sistem otonomi daerah, dengan segala kewenangannya, harus dapat lebih mengakselerasikan pencapaian kualitas pendidikan nasional di daerahnya, mengacu kepada visi, “Pendidikan milik dan tugas kita bersama, milik bangsa Indonesia, milik umat manusia secara keseluruhan”. Otonomi daerah bukan untuk mempersempit kiprah pendidikan nasional dan makna pendidikan secara luas.

Otonomi daerah tidak boleh menciptakan fanatisme sempit kedaerahan yang dengannya akan menjadi tertutup dari cita-cita kemajuan yang diharapkan. Otonomi daerah justru harus mampu mewujudkan pendidikan sebagai industri daerah yang berkualitas dan mampu bersaing, sehingga dapat menjadi daya tarik konsumen pendidikan dari berbagai daerah bahkan mancanegara.

Transportasi
Transportasi, jika tidak ditata dengan seksama, justru akan membawa efek yang sangat krusial dalam pelaksanaan pendidikan. Negara kepulauan memiliki risiko yang sangat tinggi dalam hal transportasi. Transportasi yang termenej dengan baik, akan sangat menunjang kesuksesan pendidikan.

Sentra-sentra pendidikan dalam satu daerah mestinya mendapat perhatian khusus dari pemerintah berupa kemudahan transportasi bagi siapa saja yang mengadakan hubungan dengan sentra pendidikan tersebut. Terkadang, perhatian pemerintah dalam hal tersebut masih belum berimbang.

Berbagai contoh nyata, betapa lemahnya visi pemerintah daerah tatkala berdiskusi tentang penggunaan jalan raya yang menghubungkan dari dan ke suatu tempat pendidikan, karena adanya tindakan pembatasan penggunaannya oleh Pemda tersebut, dengan tiada beban pimpinan daerah itu mengatakan: “Kasih tahu mereka yang akan datang berkunjung, agar menggunakan bus kecil”. Kejadian ini menimpa pada Manajemen Pendidikan AI-Zaytun, untung Al-Zaytun berakidah toleransi dan perdamaian, sehingga mampu mengukur isi kepala orang yang mengucapkan kata-kata itu di zaman globalisasi ini, kita yang berperadaban ini menjadi malu sendiri mendengar ucapan tersebut. Mudah-mudahan tidak terjadi di lain daerah.

Desa Kota
Distribusi penduduk, 57% tersebar di 70.000 desa, di dalam 6.850 kepulauan besar dan kecil, menjadi problem tersendiri bagi pelaksanaan pendidikan nasional. Tipe, kondisi, dan lokasi desa-desa seperti itu, mesti terjamah oleh program pemerataan kualitas pelaksanaan pendidikan nasional secara sistematis. Warga pedesaan Indonesia menjadi penentu perubahan tampilan Indonesia masa depan dalam segala bidang, baik yang bersifat positif maupun sebaliknya.

Kesatuan dan persatuan keutuhan dan integritas, nasional masa depan sangat ditentukan oleh keberhasilan bangsa ini dalam meningkatkan kualitas pendidikan di pedesaan, Jika kita berbicara kualitas pendidikan, sasarannya harus seutuhnya, yakni bagi seluruh masyarakat desa dan kota. Perbedaan yang selama ini sangat menonjol, harus dibuatkan jalan dan jembatan yang kokoh menuju persamaan. Program meningkatkan kualitas pendidikan dan menciptakan pendidikan excellence adalah untuk seluruh bangsa, perkotaan maupun pedesaan. Excellence in education imperative to national suvival (itu yang kita simpulkan).

Sarana Prasarana
Lebih dari lima puluh tahun kita bangsa Indonesia dengan bebas menjalankan pendidikan nasional, bebas menentukan sistem, kurikulum, pendanaan dan lain-lain. UU sistem pendidikan pun telah datang silih berganti, semua bertujuan mencari solusi untuk mewujudkan kualitas pendidikan nasional. Namun, dalam aplikasi selama ini sesuatu yang dicari dan didambakan masih belum kunjung terwujud. Banyak hal memang yang menjadi penghalang.

Banyak penanggung jawab dan pelaku pendidikan yang masih menganggap sepele sarana dan prasarana pendidikan. Masih banyak yang menyimpulkan hal itu tidak merupakan problem rusial, sehingga perwujudannya tampak dan terasa sangat apa adanya, tidak mengikuti perkembangan hajat dan zaman.

Sarana pendidikan, yakni segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai alat dalam mencapai maksud atau tujuan pendidikan, yang selama ini pengadaannya di sekolah-sekolah Indonesia khususnya di pedesaan, sudah sangat kedaluwarsa, justru dengan sarana yang ada itu, dapat melumpuhkan makna dan cita-cita pendidikan itu sendiri (dalam kata lain menciptakan kebodohan).
Sarana yang tersedia di sekolah-sekolah pedesaan (juga di perkotaan) tidak mencerminkan kesanggupan dan kesiapan bangsa Indonesia menyambut gegap-gempitanya perubahan zaman.

Zaman manual berubah kepada kecerdasan otak dan ilmu pangetahuan, namun sarana penghantar ke arah itu belum diekspos di dalam pembelajaran formal. Zaman yang serba bersih dan sihat, dan sekolah belum mempersiapkan sarana untuk mmbiasakan hidup bersih dan sihat. Zaman serba disiplin, sekolah juga belum menciptakan sarana yang dapat menunjang ke arah itu.

Juga prasarana pendidikan, sesuatu yang merupakan penunjang utama terselenggaranya suatu proses pendidikan. Kita dapat mencermati keberadaannya. Bangunan-bangunan fisik sekolah khususnya di pedesaan terkesan rapuh, tidak bervisi pendidikan yang luas, loksinya tidak strategis dalam pandangan pendidikan, asal-asalan.

Bahkan banyak orang Indonesia berpandangan bahwa bangunan fisik pendidikan tidak menentukan hasil dan kualitas pendidikan. Jika pandangan itu dianut oleh banyak orang sudah barang pasti apa yang terjadi dan kita rasakan selama ini tetang terhambatnya kualitas pendidikan nasional kita akan terus abadi bercokol.

Kami yakin, kitapun harus yakin bangunan fisik sekolah tetap punya peranan penting untuk mengantar pencapaian pelaksanaan pendidikan yang berkualitas. Fisik bangunan sekolah harus terprogram dengan baik kokoh, dapat mewadahi visi pendidikan yang berjangka panjang ke depan. Hari-hari yang panjang telah kita lalui, namun seluruh hari yang kita lalui selama lebih lima puluh tahun ini masih mengatakan bahwa pendidikan Indonesia tertinggal jauh dari tetangganya.

Tapi kita sebagai bangsa masih berkeyakinan bahwa kita masih memiliki masa depan, masa depan itu pasti ada dan datang karenanya sejak dini kita persiapkan, agar kita sebagai bangsa tidak ditunjuk dengan isyarat yang sama oleh hari-hari yang akan kita lalui di masa mendatang.

Bagian satu dari dua tulisan

Oleh: Syaykh Al-Zaytun Dr Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang/

(Berita Indonesia 12)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com