Majalah Berita Indonesia

Saturday, Apr 29th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Lentera Geliat Kota di Tengah Dusun
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Geliat Kota di Tengah Dusun

E-mail Print PDF
Article Index
Geliat Kota di Tengah Dusun
H. Mohammad Noer: Pamong Abdi Rakyat
All Pages

H. M. Noer dan Syaykh AS Panji Gumilang di tengah-tengah tokoh pendidikan Jatim dan fungsionaris Ma’had Al-Zaytun.
Syaykh AS Panji Gumilang, tahun 1996,memilih tempat pertapaan Wira Lodra, tokoh legendaris Indramayu, untuk membangun komplek Ma’had Al-Zaytun. Tempat itu tadinya terkucil, sunyi selepas pukul 17.00, tak ada warga yang berani melintas. Penghuninya hanya burung-burung dan binatang liar.Sembilan tahun kemudian, tempat itu ibarat sebuah kota yang dihubungkan jalan beraspal, punya sejumlah gedung bertingkat, universitas dan stadion olahraga bertaraf internasional.

Hamparan karpet biru. Deretan kursi tertata rapi di halaman rumah di Jalan Ir Anwari No.11,Surabaya. Rumah itu tampak dan terasa asri di antara rimbunan aneka tanaman dan kicau burung, tak ubahnya berada di sebuah pedesaan. Itulah gambaran suasana Sabtu pagi, tanggal 11 September, di kediaman mantan Gubernur Jawa Timur,  H. Muhammad Noer, yang merasa selalu dekat dengan rakyat di pedesaan. Pagi itu M. Noer kedatangan para tamu penting, rombongan Universitas Al-Zaytun yang dipimpin Syaykh Abdul Salam Panji Gumilang.

Ruang tamu rumah M. Noer memang tak begitu luas. Di situ terpampang berbagai koleksi piagam dan foto kenangan semasa M. Noer jadi gubernur. Di situ pun ada rekaman gambar Jawa Timur tempo dulu yang ditata rapi. Tak heran tatkala melihat foto-foto tersebut, para tamu diajak sejenak menengok ke masa lalu.

Agaknya, pukul 10.00 pagi itu menjadi saat-saat yang sangat istimewa bagi M. Noer. Mengenakan kemeja batik lengan panjang dan bertongkat, pria berdarah Madura, usia 87 tahun itu, tampak sangat ceria. Dia menyambut tamunya satu per satu dengan kehangatan Madura. Yang paling khusus ketika M. Noer menyambut Syaykh Panji Gumilang. Mereka berpelukan erat seperti ayah dan anak yang baru bertemu dari perpisahan panjang.

Selain rombongan Ma’had Al-Zaytun juga tampak tokoh-tokoh pendidikan Jawa Timur, seperti Prof. Dr. H. Rum Rowi, dosen IAIN Sunan Ampel, juga Ketua MUI Jawa Timur. Di situ juga hadir mantan rektor Universitas Airlangga, Rektor Universitas Surabaya, dan sejumlah tamu penting lainnya.

M. Noer menghargai kedatangan Syaykh Panji Gumilang dan rombongannya sebagai sebuah kehormatan yang tak ternilai. Dia telah mendengar keuletan dan kegigihan Panji Gumilang di dalam membangun pendidikan yang berwawasan internasional yang dikembangkan di Ma’had Al Zaytun.

M. Noer menempatkan posisi pendidikan begitu penting untuk mengantar bangsa Indonesia mengisi cita-cita kemerdekaan. Terutama pendidikan yang berbasis perbaikan moral bangsa. “Moral ini sangat penting kita amalkan untuk mencegah apa yang terjadi di Indonesia saat ini. Rakyat menangis, musibah demi musibah terus menimpa. Tsunami, gempa bumi, merosotnya nilai tukar rupiah dan kelangkaan BBM. Saya kira almukarrom AS Panji Gumilang memahami itu,” kata M. Noer di dalam pidato sambutan singkatnya.

Di dalam silaturahmi tersebut, Syaykh Panji Gumilang menyemat atribut  Universitas Al-Zaytun pada M. Noer yang diangkat sebagai anggota Dewan Kurator. Kedudukan terhormat itu diterima baik oleh M. Noer yang memberi perhatian sangat besar pada dunia pendidikan. Dia juga memiliki yayasan pendidikan dan menjabat anggota Dewan Kurator di berbagai perguruan tinggi di Jawa Timur. Misi yang dibawa Panji Gumilang untuk M. Noer: kesediaan menjadi anggota Dewan Kurator, dan izin penggunaan namanya sebagai nama gedung perkuliahan yang akan dibangun oleh Universitas Al-Zaytun.

Mengapa Syaykh memilih M. Noer? Panji Gumilang menjawab: “Bangsa Indonesia memiliki tokoh-tokoh sepuh, tengah dan muda. Kekuatan ini  harus dipadukan, sehingga Indonesia dapat dikemas sedemikian rupa lewat pendidikan untuk diwariskan kepada generasi muda. H. Raden Panji Muhammad Noer, salah satu tokoh yang patut diteladani di Jawa Timur.” M. Noer, menurut catatan dan keizinan, berada di nomor urut 17. Tetapi yang pertama kali dinominasikan untuk menempati urutan pertama.

Syaykh Panji Gumilang yang lahir dan dibesarkan di Jawa Timur sangat mensyukuri pertemuannya dengan M.Noer, tokoh besar dari provinsi tersebut. Syaykh sendiri kelahiran kampung Sumber Anyar, Kecamatan Sidayu. Dulu kecamatan tersebut masuk wilayah Kabupaten Surabaya. Tetapi sekarang sudah jadi bagian dari Kabupaten Gresik. Setamat dari Pondok Pesantren Gontor, Syaykh merantau ke Jakarta dan menemukan pendamping hidupnya, putri seorang kiai, di Banten.

Sejarah Al-Zaytun
Syaykh berkisah bahwa sebelum mulai mendirikan bangunan Ma’had Al-Zaytun (1996), dia mula-mula meminta Izin Mendirikan Bangunan (IMB) ke Kantor Dinas Pekerjaan Umum (PU), Kabupaten Indramayu. Pertanyaan demi pertanyaan pun muncul. Dia dicandai bermimpi karena mendirikan bangunan di tengah hutan, jauh dari desa Mekarjaya, Heurgeulis. Untuk apa? Itulah pertanyaan awal yang menggelitiknya saat itu. Lantas Syaykh menjawab: “Untuk pesantren.” Tanda tanya berikutnya, “pesantren kok pakai IMB?” Kendati merasa lega, Syaykh meminta secarik kertas yang berisi catatan dari Dinas PU agar sewaktu membangun tidak diganggu.

Cita-cita mendirikan Ma’had Al-Zaytun memang sudah lama terpendam, perwujudan sebuah lembaga pendidikan yang dikelola ummat untuk menjembatani kesenjangan kualitas pendidikan antara kota dan desa. Daerah di mana Syaykh dan rekan-rekan mendirikan Ma’had Al-Zaytun, dulunya dikenal sebagai tempat pertapaan Wira Lodra, tokoh legendaris Indramayu.

Di kawasan tersebut, tadinya lepas pukul 17.00 tidak ada warga yang berani melintas. Penghuninya hanyalah binatang liar dan burung. Tujuh bulan berikutnya berdiri bangunan bertingkat, bangun konstruksinya diilhami oleh gempa bumi Kobe, Jepang. “Sebelum mendirikan bangunan tersebut kami belajar ke Kobe, sebuah kota yang dibangun di tengah guncangan gempa bumi. Kami tiru karena Indramayu merupakan garis lintasan gempa. Maka kami buat  konstruksi baja,” kata Syaykh Panji Gumilang.

Muncul pertanyaan berikutnya: “Nanti muridnya dari mana?” Soalnya, tempat itu jauh dari pusat pemukiman, tidak ada jalan raya dan jauh dari pusat kota. Syaykh menjaring murid tsanawiyah (SMP), mencontoh pabrik rokok Minak Jinggo, produk rokok yang paling tidak disukai di daerah asalnya, tetapi laku keras di daerah-daerah lain, bahkan sampai di Irian. Kendati demikian, Ma’had Al-Zaytun sangat ketat menerapkan “larangan merokok” bagi semua penghuni dan para tamu ketika berada di komplek pondok pesantren termodern di Asia itu. Kenapa demikian? Kata Syaykh karena di sana ada agen Minak Jinggo. Al-Zaytun juga punya agen (koordinator) di setiap provinsi dan kabupaten.

Bangunannya berdiri tahun 1998. Pendaftaran pertama untuk tsanawiyah tahun 1999. Ternyata yang mendaftar 1.300, lolos saringan 500 murid, berasal dari seluruh Indonesia, termasuk dari tanah leluhur Bugis, Madura dan Banten. Pesantren itu diresmikan oleh Presiden B.J. Habibie, 27 Agustus 1999, mengukuhkan awal proses belajar mengajar yang dimulai hampir sebulan sebelumnya, 1 Juli 1999.

Syaykh punya obsesi—Ma’had Al-Zaytun mendekatkan gap kualitas pendidikan desa dan kota. Obsesi itu sudah kesampaian, karena setiap Kamis, Jumat, Sabtu dan Ahad, Al-Zaytun ramai dikunjungi. “Empat hari itu laksana suasana kota besar di tengah dusun yang sangat sunyi,” kata Syaykh.

Setiap tahun, komplek Ma’had Al-Zaytun dikunjungi tak kurang dari 600.000 tamu. Sampai tahun 2005 angka pengunjung sudah mencapai 5.000.000. Tamu-tamu yang datang, kata Syaykh, ketika pulang menitipkan semen untuk pembangunan Al-Zaytun. Syaykh sering diusik oleh pertanyaan: “Dananya dari mana?” Jawabannya sederhana sesuai kenyataan, “dari ummat.” Tetapi banyak yang tidak percaya.

Inginnya dijawab, dari saudi Arabia dan Kuwait. Jika ada tamu yang menghendaki jawaban seperti itu, Syaykh hanya berkomentar,”“itu tandanya bapak belum pernah menyumbang. Dia pun akhirnya mengulurkan sumbangan.

“Alhamdulillah dana untuk membangun Al Zaytun tidak pernah kosong. Makanya pembangunan tidak pernah berhenti,” kata Syaykh.

Tanggal 27 Agustus 2005, Menteri Pendidikan Nasional Prof. Dr. Bambang Sudibyo meresmikan berdirinya Univesitas Al-Zaytun. Kini pesantren tersebut menerapkan sistem pendidikan satu pipa, mulai dari tingkat Ibtidaiyah (SD), Tsanawiyah (SMP), Aliyah (SMA) sampai Perguruan Tinggi.

Prof. KH Rum Rowi menilai sistem pendidikan di Al-Zaytun dikelola secara terpadu, patut diteladani lembaga-lembaga pendidikan lain, agar hasil dari didikan yang unggul ini menyebar ke mana-mana. “Bagi kita yang punya lembaga pendidikan yang lebih tua, jangan segan-segan mencontoh Al-Zaytun. Tidak ada salahnya belajar pada yang lebih muda. Unair pun boleh belajar banyak dari Al Zaytun. Tetapi juga sebaliknya,” kata Rum Rowi. SB,SH (Berita Indonesia 04)



Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com