Majalah Berita Indonesia

Sunday, May 28th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Lentera Pesan Toleransi dan Damai di Pernikahan Agung
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Pesan Toleransi dan Damai di Pernikahan Agung

E-mail Print PDF

IJAB KABUL: Syaykh AS Panji Gumilang didampingi putrinya Khaerunnisa (tengah) menerima Eji Anugrah Romadhon menjadi menantunyaAl-Zaytun adalah pusat budaya toleransi dan perdamaian. Bukan sekadar motto tetapi sudah mengalir dalam aliran darah dan tarikan nafas keluarga besar Al-Zaytun, kapan pun dan di mana pun. Hal ini terekspresikan pada upacara pernikahan sakral, suci dan agung, puteri Syaykh al-Zaytun AS Panji Gumilang, Khaerunnisa dengan Eji Anugrah Romadhon. Dua lagu berbahasa Ibrani, Syalom Khaverim dan Amar Adonay, bermakna salam persahabatan dan kuasa firman Allah, berkumandang.

Pesan dan ekspresi toleransi dan perdamaian itu terpancar dalam setiap rangkaian upacara pernikahan Khaerunnisa binti Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang (Nisa) dengan Eji Anugrah Romadhon bin Aah Fajar Munajat Komar (Eji) yang berlangsung di Gedung Al-Akbar, Al-Zaytun, Gantar, Indramayu, Jawa Barat, Sabtu 15 Agustus 2009.

 

Upacara pernikahan itu, mulai dari prosesi penerimaan kehadiran tamu undangan, prosesi kehadiran calon mempelai laki-laki, akad nikah (ijab kabul) hingga acara resepsi, berlangsung khidmat, agung dan dihadiri sekitar lima ribuan tamu undangan. Terutama pada saat akad nikah yang memiliki dua rukun, yaitu ijab dan qabul. Upacara akad nikah ini merupakan inti dan kunci pernikahan tersebut. Sebuah upacara keagamaan sakral, suci dan agung antara dua insan yang saling mencintai, mengikat perjanjian nikah di hadapan wali dan saksi serta para kerabat undangan dan menjadikan Allah SWT sebagai pemersatunya.

Upacara ijab dan kabul berlangsung di atas panggung yang dihias dengan dekorasi anggun. Di hadapan para saksi, orangtua/wali mempelai wanita, Syaykh AS Panji Gumilang, menyatakan persetujuan menikahkan putrinya, Khaerunnisa, kepada sang calon mempelai pria Eji Anugrah Romadhon.

Pernyataan wali mempelai wanita tersebut segera dijawab oleh mempelai pria, tanpa ada jeda waktu yang signifikan (sehingga tidak bisa disela dengan pengucapan kabul oleh pihak selain calon mempelai pria), dengan menyatakan menerima nikahnya dengan mas kawin sejumlah tertentu.

Orang tua mempelai wanita melepaskan puterinya untuk dinikahi oleh mempelai pria. Sedangkan mempelai pria menerima mempelai wanita untuk dinikahi. Pernikahan itu diikat dalam sebuah perjanjian sakral, suci dan agung di hadapan saksi (manusia) dan Allah SWT. Kedua mempelai berjanji untuk hidup bersama, saling mengasihi dan berbagi hidup baik suka maupun duka.

Wakil Ketua MPR Aksa Mahmud bertindak sebagai saksi mempelai wanita dan Bupati Indramayu H. Irianto Mahfudz Sidik Saifuddin bertindak sebagai saksi mempelai pria. Sementara mantan Kepala BIN Jenderal TNI (purn) AM Hendropriyono memberikan kata sambutan mewakili kedua keluarga mempelai, sedangkan Jenderal TNI (Purn) Wiranto dan Jenderal TNI (Purn) Fahrul Rozi memberikan nasihat pernikahan.

PADUAN SUARA: Lagu berbahasa Ibrani, Syalom Khaverin, turut dinyanyikan untuk memeriahkan pernikahan Nisa dan Eji, 15/08/2009Seremoni pernikahan berlangsung meriah namun tetap hikmad. Tidak kurang dari lima ribu orang, baik keluarga maupun undangan yang menghadiri upacara pernikahan tersebut memenuhi Gedung Al-Akbar, gedung serba guna yang didekor menjadi tempat upacara pernikahan Islami bergaya modern.

Undangan yang datang dari berbagai daerah (dari Aceh hingga Papua) serta dari berbagai lapisan masyarakat menambah khidmatnya acara tersebut. Beberapa tokoh seperti, mantan Panglima ABRI Jenderal TNI (Purn) Wiranto, mantan Wakil Panglima ABRI Jenderal TNI (Purn) Fahrul Rozi, mantan Kepala Staf Umum TNI Letjen TNI (Purn) Suaedy Marasabesi, dan mantan Menteri Keuangan Kabinet Pembangunan VII DR. Fuad Bawazier, utusan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga dan lainnya juga menyempatkan hadir walau harus menempuh jalan jauh dan rusak.

Pesan Toleransi dan Perdamaian
Upacara ijab kabul itu makin terasa khidmat dan agung, tatkala Syaykh Panji Gumilang, orang tua/wali mempelai wanita, memanjatkan doa demi kebahagiaan kedua mempelai. Sesungguhnya, menikahkan anak dan mendoakan kebahagiaannya adalah hal yang sudah lazim dan memang sudah seharusnya dilakukan oleh orangtua yang beriman.

Namun, mendoakan keluarga anaknya agar mampu mendalami dan menjalani hidup yang bertoleransi, damai, serta menyumbang persatuan umat manusia, mungkin belum banyak yang melakukannya pada saat acara akad nikah. Hanya orangtua yang memiliki visi hidup sangat kuat tentang toleransi dan perdamaianlah yang mungkin melakukannya.

SEMARAK: Lagu irama Nasyid dengan alat musik yang khas, rebana, dikumandangkan memeriahkan pernikahan Nisa-EjiAdalah Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang, salah seorang teladan orangtua demikian. Pada upacara akad nikah putrinya, Khaerunnisa, dalam doanya, Syaykh memohon kepada Allah SWT agar keluarga anaknya yang baru itu dimampukan mendalami cara hidup penuh toleransi dan perdamaian serta dimampukan menyumbang persatuan bangsa dan negara demi persatuan umat manusia.

“Allahu’ma ya Allah! Selamatkanlah kami dan kedua mempelai ini dalam menempuh hidup agar dapat mempertahankan iman kepada-Mu ya Allah, mampu mendalami arti hidup berdasar iman kepada-Mu ya Tuhan, yakni hidup penuh toleransi dan damai,” demikian Syaykh mengawali doanya.

Selanjutnya, Syaykh Panji Gumilang juga memohon agar Allah kiranya mencurahkan rahmat-Nya kepada hadirin semua dan kedua mempelai, agar dapat memahami dan melaksanakan misi hidup yang asasi, yakni pengabdian kepada Allah dengan menebar manfaat serta rahmat bagi seluruh umat manusia tanpa kecuali yang dijiwai oleh sikap adil yang terpuji. Juga diberkati agar dapat mempertahankan dan mensyukuri rizki yang telah Tuhan karuniakan, yakni rizki persatuan.

Dalam doanya, Syaykh memanjatkan, Allah telah mempersatukan hadirin semua dalam persaudaraan dan kebangsaan, serta mempersatukan kedua mempelai dalam perjodohan, kiranya Allah menguatkan persatuan dan perjodohan itu agar mampu menyumbang persatuan bangsa dan negara, demi persatuan umat manusia yang majemuk dan serba budaya.

Allah juga kiranya mengaruniakan kepada hadirin dan kedua mempelai generasi penerus yang soleh, soleha, yang dapat menjadi kekuatan rakyat, bangsa dan negara, yang sanggup dipimpin dan mampu memimpin, penuh dengan bimbingan ilmu pengetahuan dan ajaran Ilahi.

MERENDAH: Mantan Panglima ABRI Jendral TNI (Purn) Wiranto saat memberi nasIhat pernikahan pada Nisa dan EjiTerakhir, Syaykh memohon kiranya Allah melimpahkan kemampuan kepada hadirin dan kedua mempelai dalam memperjuangkan cita-cita hidup, yakni mencapai ridho-Nya dalam segala detail kehidupan.

Pesan toleransi dan perdamaian, tidak hanya terpancar dari panjatan doa, tetapi juga dalam setiap rangkaian upacara pernikahan tersebut. Sebagaimana seremoni acara pernikahan pada umumnya, ada alunan musik syahdu. Ada lagu dan musik tradisional, Islami dan modern. Namun alunan musik acara pernikahan kali ini menjadi terasa lebih bermakna sebab diwarnai alunan musik dan lagu bernuansa toleransi dan perdamaian.

Pesan dan nuansa toleransi dan perdamaian itu, tidak hanya terpancar dari irama dan syairnya, tetapi juga dari bahasa syair lagu-lagu yang dikumandangkan. Antara lain, pesan persahabatan, toleransi dan perdamaian itu, amat terasa, ketika paduan suara santri Al-Zaytun melantunkan dua lagu berbahasa Ibrani. Yakni lagu berjudul Syalom Khaverim yang berarti ‘Salam Padamu Para Sahabat’  dan ‘Amar Adonay’ yang dalam Bahasa Indonesia bermakna ‘Ajaran Ilahi’.

Lengkapnya syair kedua lagu tersebut sebagai berikut:
Syalom Khave’rim
Syalom khave’rim, syalom khave’rim, syalom, syalom. Lehit ra’ot lehit ra’ot, syalom,syalom. (Salam padamu, salam padamu, sahabat-sahabat! Sampai bertemu, sampai bertemu, salam, salam).
Amar Adonay
Lo vekhayil welo vekhoakh, ki im berukhi. Lo vekhayil welo vekhoakh, ki im berukhi.
Amar Adonay Tseva’ot, Amar Adonay Tseva’ot. (Bukan dengan kegagahan dan bukan dengan kekuatan melainkan dengan Ajaran Ilahi).
Sungguh, Al-Zaytun dengan iman dan taqwa adalah pusat budaya toleransi dan perdamaian. Bukan sekadar motto tetapi sudah mengalir dalam aliran darah dan tarikan nafas keluarga besar Al-Zaytun dan sahabat-sahabatnya, kapan pun dan di mana pun.

Berjihad untuk Bangsa
Pesan damai juga disampaikan oleh Jenderal TNI (Purn) AM Hendropriyono saat memberi sambutan mewakili keluarga kedua mempelai. Dengan kata-kata bermakna filosofis, Hendropriyono mengatakan, hari di saat pernikahan itu dilaksanakan merupakan satu hari yang selama hidup bagi Nisa dan Eji paling membahagiakan bersama-sama hadirin semua. Karena, ketika mereka (mempelai) dulu lahir, para saksi tertawa-tawa, tapi mereka menangis. Dan, karena semua makhluk yang bernyawa pasti sirna, insya’allah, apabila waktunya nanti Allah SWT memanggil mereka berdua, para saksi menangis ketika mereka berdua tertawa-tawa.

PETUAH PAKAIAN: Mantan Wakil Panglima ABRI Jenderal TNI (Purn) Fachrul Rozi memberi nasihat pernikahan pada Nisa-Eji“Hanya ini hari yang kita semua para saksi tertawa-tawa dan mereka berdua juga tertawa. Ini hari, memang hari yang sangat luar biasa, satu-satunya hari yang kita semua mereguk dan tertawa bersama. Untuk itu, ijinkanlah kami atas nama kedua keluarga besar sahibul hajat mohon doa restu kepada bapak ibu dan saudara-saudara sekalian, agar mereka berdua berhasil di dalam mengayuh biduk secara harmonis rumah tangganya menghadapi kehidupan luas laksana samudera yang sangat ganas. Sehingga mereka berhasil mencapai tujuannya pada kebahagiaan hidup dan keselamatan keluarganya, lahir dan batin,” kata Hendropriyono.

Kepada kedua mempelai, dia mengatakan, agar berjihad untuk menghadapi segala cobaan menuju kepada cita-cita bersama, keselamatan dan kebahagiaan. Menurutnya, jihad yang menjadi ajimat bagi kedua mempelai adalah berbakti kepada orangtuanya. “Setelah pernikahan ini, selamat kalian berjihad. Selamat bersungguh-sungguh berjuang untuk orangtua, untuk bangsanya, untuk agamanya, negaranya dan untuk keluarga, serta dirinya sendiri,” ucapnya.

Nasihat Pernikahan
Kemudian, mantan Panglima ABRI Jend. (Purn) Wiranto didaulat menyampaikan nasehat pernikahan. Wiranto tampil di pentas dan berdiri di depan mikropon. Ia memberikan sepatah kata ucapan terimakasihnya walaupun kemudian memberikan kesempatan itu kepada Jend. (Purn) Fahrul Rozi.
“Saya mendapat kehormatan beberapa waktu yang lalu, diundang oleh sahabat saya Syaykh Panji Gumilang untuk hadir di tempat ini, dan saya hadir, pasti. Karena kita bersahabat. Dan kemudian, saya lebih berbahagia lagi dan mendapat kehormatan, diminta untuk memberikan nasehat perkawinan,” kata Cawapres pendamping Jusuf Kalla dalam Pilpres 2009 itu.

SAHABAT AL-ZAYTUN: Mantan Kepala BIN, AM Hendropiyono menyampaikan kata sambutan mewakili keluarga kedua mempelai Nisa dan Eji“Namun, bukan berarti saya menolak tugas untuk memberikan nasehat perkawinan. Bukan. Tetapi saya tahu, ada sahabat saya, Bapak Jenderal Fahrul Rozi yang juga kolega saya, sahabat saya, juga sahabat dari Syaykh Panji Gumilang, saya tahu dapat memberikan nasehat yang luar biasa indahnya kepada para mempelai yang baru saja melangsungkan pernikahan. Oleh karena itu, saya minta untuk Bapak Jenderal Fahrul Rozi yang memberikan nasehat perkawinan yang indah itu,” lanjutnya.

Jend. (Purn) Fahrul Rozi pun ‘mematuhi’ permintaan Wiranto untuk memberikan nasehat perkawinan. Setelah lebih dulu dengan rendah hati mengaku tidak memiliki ilmu agama tinggi. Kepada kedua mempelai, ia mengatakan rasa hormatnya karena tekad mereka menikah di penghujung bulan Sya’ban, dimana begitu selesai menikah langsung masuk pada bulan Ramadhan di mana umat Islam dianjurkan untuk menunaikan ibadah puasa. Berkaitan dengan itu, mantan Wakil Panglima ABRI itu pun mendoakan agar mudah-mudahan keinginan baik dari kedua mempelai itu mendapat ridho dari Allah SWT, dan dapat mencapai tujuan taqwa dari puasa.

Selanjutnya, Fahrul Rozi mengutip salah satu ayat Qur’an yang masih terkait dengan puasa, yaitu Al-Bakarah ayat 187 yang intinya menyebutkan, Allah mengatakan, “Istrimu itu adalah pakaian bagimu dan kamu pun pakaian baginya.” Menurut Fahrul Rozi, banyak ulama menafsirkan, istilah pakaian di situ memiliki pengertian luas. Artinya, tidak saja menyangkut yang terkait dengan puasa saja, tapi lebih luas daripada itu.

Filosofi pakaian menurut Fahrul Rozi, paling tidak ada empat hal. Fungsi paling utama adalah menutup aurat. Menutup sesuatu yang malu untuk dilihat oleh orang lain. Jadi, dalam konteks ini, maka tugas suami dan isteri adalah agar masing-masing jangan pernah membuka aib isteri atau suaminya kepada orang lain.

BERSIAP: Kedua mempelai didampingi wali masing-masing disaksikan Bupati Indramayu sesaat menjelang ijab kabulFungsi pakaian yang kedua adalah memberikan keseimbangan atmosfir bagi pemakainya. Kalau sedang kepanasan, tentu saja pakai pakaian yang singset, ringkas, yang pendek. Tetapi kalau sedang kedinginan, tentu pakai baju panjang yang tebal. Menurut Fahrul Rozi, begitu jugalah suami dan isteri. Pada saat isteri merasa lesu, suami harus mampu menggairahkannya, dan pada saat suami sedang emosi, isteri harus mampu menyejukkannya.

Yang ketiga, pakaian itu membuat pemakainya menjadi lebih indah dari sebelumnya. Wujudnya di dalam hubungan rumah tangga adalah, suami memang menerima isteri apa adanya, tapi dia harus berusaha membuat isterinya menjadi lebih baik dari waktu sebelumnya. Demikian juga sebaliknya, isteri menerima suami apa adanya, tapi dia harus berusaha untuk membuat suami menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Artinya, saling nasehat-menasehati untuk sebuah kebaikan.

Dan yang keempat atau yang terakhir, disebutkan, pakaian yang baik harus setiap saat siap untuk dikenakan. Artinya, setiap saat suami siap untuk dikenakan oleh isterinya dan isteri siap dikenakan oleh suaminya. Sesibuk apa pun suami atau isteri dalam pekerjaan masing-masing, harus selalu siap untuk dikenakan.

Kedua mempelai tampak amat penuh perhatian menerima nasihat ini. Kedua mempelai ini memiliki kesibukan sendiri. Khaerunnisa akan amat sibuk sebagai anggota DPRD Kebupaten Indramayu dari Partai Golkar. Sementara Eji berkecimpung dalam dunia penyelamatan lingkungan hidup di Green Peace.

Apresiasi buat Al-Zaytun
Dalam suasana pernikahan yang sarat nuansa persahabatan, toleransi dan perdamaian itu, beberapa tamu undangan yang hadir adalah tokoh-tokoh yang sudah mengenal Al-Zaytun dengan baik dan bersahabat dengan Syaykh Panji Gumilang. Semua mereka memberi apresiasi yang sangat tinggi atas kiprah dan keberadaan Al-Zaytun.

BAHAGIA: Kedua mempelai Eji Anugrah Romadhon dan KhaerunnisaKepada Syaykh AS Panji Gumilang sendiri, karena langkahnya yang sangat brilian mendirikan dan mengelola Al-Zaytun, mereka menaruh hormat dan salut. Bupati Indramayu H. Irianto Mahfudz Sidik Safiuddin yang ditanya Berita Indonesia apakah kehadirannya dalam acara pernikahan tersebut sebagai kepala daerah atau pimpinan Partai Golkar Kabupaten yang memang menjadi pimpinan mempelai wanita Khaerunnisa sebagai kader Golkar yang tahun ini terpilih jadi anggota DPRD Kabupaten Indramayu, Irianto mengaku kedatangannya dari kedua-duanya, juga sebagai sahabat dari Syaykh.

Sementara itu, AM Hendropriyono dan mantan Menteri Keuangan Dr. Fuad Bawazier, memberi apresiasi yang sangat tinggi terhadap apa yang dilakukan Al Zaytun. Hendropriyono menjawab pertanyaan Berita Indonesia sekitar adanya isu kaitan Al-Zaytun dengan gerakan menyimpang, mengatakan, hal tersebut tidak betul. “Saya ‘kan orang yang bekerja di bidang intelijen, saya kira, saya akan sudah tahu kalau ada hal yang menyimpang,” katanya. Bahkan, lebih lanjut Hendro mengatakan, dasar isu itu kemungkinan karena adanya iri hati. “Sekarang kalau memang ingin mengeritik membangun, ya, bersama-samalah membangun, bukannya menyudut-nyudutkan,” katanya lebih tegas. Menurutnya, Al-Zaytun seharusnya malah dijadikan penjuru.

Hal yang sama dikatakan Dr. Fuad Bawazier. Dia mengaku sudah cukup lama mengenal Syaykh Panji Gumilang dan sangat salut, menghormati semua upaya, ikhtiarnya dalam rangka mencerdaskan bangsa, khususnya yang bernafaskan Islam. Karena itu menurutnya, karya, usaha besar itu perlu sekurang-kurangnya mendapat dukungan dari semua. Supaya usaha itu, yakni pencerdasan anak-anak yang terdidik, ber-Islam, cepat maju.

Sementara mengenai Al Zaytun yang diisukan ada keterkaitan dengan gerakan menyimpang, Fuad Bawazier mengaku dirinya memang mengikuti itu. Tapi, dia sendiri melihat hal itu tidak benar. Isu itu menurutnya mungkin disebarkan karena ada yang sentimen, tidak suka dengan pendidikan Islam, atau soal kecemburuan. Karena itu, dia menyarankan, agar penyuluhan tentang itu semakin ditingkatkan. “Ya sudah, kita harus memberikan penyuluhan yang sebanyak-banyaknya supaya dengan penyuluhan itu maka tidak ada kesalahpahaman lagi. Kita ‘kan ikut bangga bersama dengan ini,” katanya. BI/MS-BHS-MLP (Berita Indonesia 70)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com