Majalah Berita Indonesia

Sunday, May 28th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Lentera Satu Dasawarsa Al-Zaytun: Dari Sidang Tahunan Litbang Al-Zaytun 2009
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Satu Dasawarsa Al-Zaytun: Dari Sidang Tahunan Litbang Al-Zaytun 2009

E-mail Print PDF

Syaykh Mahad Al-Zaytun Panji Gumilang ASInovasi, kreativitas, kualitas, kemandirian serta keteguhan dalam prinsip pluralisme, budaya toleransi dan perdamaian, telah menjadi milik lembaga pendidikan Al-Zaytun dalam satu dasawarsa perjalanannya. Dengan kepemimpinan Syaykh Abdussalam Panji Gumilang, segenap civitas akademinya bergerak dalam sistem tata kelola modern yang baik dan bernuansa Indonesia (pesantren): Unik! Seri Dua dari Tiga

Mulai tahun ajaran 2009-2010 ini Al-Zaytun melakukan pembaruan pelaksanaan pendidikan dengan menerapkan koedukasi, penggabungan pelajar laki-laki dan perempuan dalam satu kelas bagi pelajar kelas XII. Juga memberlakukan lima hari pembelajaran (Senin sampai Jum’at) di dalam kelas per pekan bagi pelajar kelas I sampai XII.

 

Pada seri satu catatan Wartawan Berita Indonesia dari liputan Sidang Tahunan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Al-Zaytun 2009 (Berita Indonesia Edisi 68), secara selintas telah dipaparkan kilas balik satu dasawarsa perjalanan pendidikan Al-Zaytun, khususnya sejak awal proses pembelajaran hingga mencapai implementasi cita-cita one pipe education system. Juga perihal visi-misi dan tujuan pendidikan Al-Zaytun dan tausiyah Syaykh Al-Zaytun pada acara pembukaan serta beberapa butir hasil Sidang Tahunan Litbang 2009 tersebut.

Pada seri kedua dari tiga tulisan ini lebih mendalami beberapa butir hasil Sidang Tahunan Litbang tersebut yang pemaparannya dirangkai juga dengan catatan kilas balik satu dasawarsa perjalanan Al-Zaytun, khususnya sejak awal proses ide dan berdirinya. Hal ini mengandung makna bahwa benang merah ketiga seri catatan ini adalah kilas balik satu dasawarsa Al-Zaytun dalam perspektif Sidang Tahunan Litbang Al-Zaytun 2009.

Benang merah seri kedua, sebagaimana disajikan pada lead catatan ini adalah berporos pada inovasi, kreativitas, kualitas, kemandirian serta keteguhan dalam prinsip pluralisme, budaya toleransi dan perdamaian, dalam sistem tata kelola yang unik — modern dan bernuansa Indonesia (pesantren) — yang telah menjadi milik lembaga pendidikan Al-Zaytun dalam satu dasawarsa perjalanannya. Sedangkan seri ketiga akan lebih menatap perspektif masa depan Al-Zaytun dan pendidikan bangsa umumnya yang juga telah diteropong dan dijemput dalam Sidang Tahunan Litbang 2009 tersebut.

Inovasi dan Kreativitas
Sejak awal, semasih dalam impian pendiri utama dan grand architect-nya, Syaykh AS Panji Gumilang, inovasi, kreativitas dan kemandirian yang bermuara pada kualitas telah menjadi milik dan modal utama Al-Zaytun.

Inovasi, kreativitas, kualitas, kemandirian serta keteguhan dalam prinsip pluralisme, budaya toleransi dan perdamaian, telah menjadi milik lembaga pendidikan Al-Zaytun dalam satu dasawarsa perjalanannya.Bila dirunut, sejak tahun-tahun sebelum awal pembelajaran Al-Zaytun 1 Juli 1999 dan hari peresmiannya (milad) 27 Agustus 1999, yakni saat proses perenungan dan pemantapan ide-ide cemerlang (inovatif dan kreatif) tentang lembaga pendidikan terpadu ini, sangat terasa bahwa periode perenungan ini mungkin saja merupakan masa paling signifikan dalam proses sejarah lahirnya Al-Zaytun. Sebuah mimpi dan ide besar yang bagi banyak orang dianggap mustahil, bahkan ‘gila’ tetapi telah berhasil diwujudkan. Maka sangat mungkin periode perenungan inilah yang paling sulit untuk dilampaui tetapi paling indah untuk dikenang.

Proses berdirinya Al-Zaytun, diawali perenungan, mimpi dan cita-cita yang amat panjang. Bak pepatah kuno, Roma tak dibangun hanya sehari. Begitupun Al-Zaytun dengan sarana dan prasarana serba modern yang akan menjadi sebuah monumen abad 21 itu, adalah buah hasil dari rentang proses perenungan dan perjuangan panjang dari seorang Syaykh AS Panji Gumilang yang kemudian disokong bersama sahabat-sahabatnya.

Perenungan dan perjuangan tentang betapa perlunya sebuah wadah pendidikan dalam membentuk kualitas manusia dengan menggali pengetahuan sekaligus berakhlakul karimah. Karena itu, sosok gemerlap dan kemegahan fisik (infrastruktur), hanyalah sebuah sampul. Masyarakat boleh terpesona dengan sampul indah dan kemasan menarik. Namun makna isi di balik sampul, adalah lebih mulia untuk disimak.

Cita-cita mulia dari Syaykh AS Panji Gumilang, dengan segala inovasi, kreativitas dan kemampuan yang ada, untuk menyambung dan membangun peradaban umat di dunia agar tak terputus, merupakan bagian tujuan dari isi di balik sampul dalam lembaran perjalanan Al-Zaytun.

Mewujudkan sebuah angan, tak semudah melangkahkan kaki. Waktu berjalan seperti memacu pula keinginan dirinya. Dua sisi yang mengusung pemikiran untuk perwujudan sebuah cita-cita besar.

Layakkah bagi dirinya untuk mengusung sebuah angan besar dan lalu merealisasikannya? Kelayakan sosok manusia menjadi absah manakala semua angan itu ibarat tunas pepohonan yang terus disiram, dipelihara dan dijaga untuk kemudian terus tumbuh. Syaykh Panji Gumilang bersama segenap eksponen Al-Zaytun terus merenung, berpikir, bekerja, berkarya dan melangkah ke depan dengan berbagai upaya inovatif dan kreatif.

Barangkali tak begitu perlu membandingkan dengan Thomas Alfa Edison yang bermimpi tentang lahirnya konsep energi yang tumbuh dari sistem pemanasan, sehingga harus mengerami telur ayam di masa kecilnya. Al-Zaytun adalah sebuah angan-angan yang tak kalah mulia bagi kemaslahatan manusia dalam pembentukan mental spiritual dan intelektual untuk membangun umat dan bangsa yang beradab.

Syaykh Al-Zaytun didampingi beberapa orang eksponen menerima tamu yang ingin melihat pendidikan di Al-Zaytun.Ide yang sudah melambung dalam benaknya sejak masa muda. Sejak ia masih belajar di Pondok Pesantren Gontor di Ponorogo, sejak usia 13 tahun, angannya untuk menjadi seorang guru dan membangun sebuah lembaga pendidikan sudah melambung. Angan dan mimpi itu berkembang sampai ketika ia kuliah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta di Ciputat (kini menjadi Universitas Islam Negeri - UIN). Kemudian menjadi guru, dosen dan berkeluarga. Hingga saat dia ditugaskan oleh M. Natsir sebagai utusan Rabithan ‘Alam Islami (Mabuts Rabithah ‘alam Islami) di Kota Kinabalu, Malaysia Timur, sejak September 1980, sampai kembali lagi ke tanah air awal tahun 1990.

Dalam setiap perputaran waktu itu, Panji Gumilang terus menelurkan dan mengerami inspirasi, ide dan konsep pendidikan yang diimpikannya serta membagikannya kepada sahabat, bangsa dan semua umat di dunia. Bentuknya adalah konsep pendidikan terpadu, one pipe education system, pendidikan bersistem modern tetapi bersemangat pesantren, sebuah ide inovatif yang bukanlah sekadar angan yang melambung tanpa dasar.

Dia yakin, lembaga pendidikan yang diimpikannya kelak merupakan media, tempat atau wahana sebagai titik tolak untuk mengajak bangsa ini menjadi manusia yang intelektual, menguasai sains dan teknologi, mengimbangi kemajuan bangsa lain namun memiliki moral tinggi, berwawasan internasional dan kental dengan rasa kemanusiaan, toleransi dan perdamaian.

Ide yang dilatarbelakangi oleh perjalanan sejarah bangsa Indonesia dan sejarah umat manusia di dunia. Abad lalu, abad 20 adalah abad yang perlu diiktibari karena terjadinya berbagai perang. Angannya menerawang, ke depan tidak boleh terjadi perang lagi di dunia ini seperti abad lalu. Begitu pula, setidaknya, Indonesia harus damai!

Diilhami hal itu, idenya mengembang dan melahirkan solusi bahwa untuk menciptakan keseimbangan dunia yang damai itu, minimal terjadi di Indonesia, Indonesia yang damai, hanya dengan keseimbangan intelektual. Keseimbangan intelektual itu dapat diwujudkan dengan menciptakan pendidikan yang baik. Pendidikan yang bervisi pengembangan budaya toleransi dan budaya perdamaian.

Menata angan, perenungan dan pemikiran dalam mengarah ke perwujudannya, terutama selama di IAIN Syarif Hidayatullah, ia sering berkumpul dengan kawan-kawannya, dan mulai merencanakan mendirikan suatu lembaga pendidikan yang bisa mewakili kebangkitan Indonesia.

Keinginan itu semakin kuat. Sayang, dalam kurun waktu tertentu belum pernah kunjung terwujud. Tak mudah membentuk sebuah lembaga, apalagi lembaga pendidikan yang berorientasi panjang dan mengarah pada pemikiran mengglobal. Namun dia tak pernah menyerah. Dia terus bermimpi, bergerak dan berkarya.

Dalam upayanya itu, Panji Gumilang membuat beberapa rancangan. Rancangan dalam bentuk gambar dan lain sebagainya serta tentu saja konsep tekstual sebuah lembaga pendidikan yang diimpikannya. Berpikir, bagaimana dapat merealisasikan konsep tersebut yang kemudian diperlihatkan dan disosialisasikannya pada kawan-kawannya.

Seperti yang diperkirakan, pada awalnya kawan-kawannya tidak begitu mudah percaya, bahkan menganggap idenya itu suatu hal yang tidak masuk akal. “Ah… kamu ini gila, bagaimana kita bisa membuat seperti itu,” begitulah sambutan sebagian kawan dan sahabatnya ketika itu.

Namun dia bergeming, tak mau surut. Dia tetap yakin dengan konsepnya. Dia pun mantap menjawab. “Oh…semuanya bisa kalau kita buat. Kalau tidak kita buat, memang tidak bisa,” katanya meyakinkan.

“Kapan?” tanya kawannya itu lagi.
“Jangan tanya kapan, tapi mau apa tidak?” jawabnya lagi terus meyakinkan para sahabatnya. (Sebagaimana dituturkan kepada Wartawan Tokoh Indonesia, Kamis malam 19 Februari 2004).
Ternyata kesabaran dan upayanya meyakinkan kawan dan sahabatnya itu berhasil juga. Akhirnya, mereka mau bergabung. Kesepakatan dan dukungan sahabat, merupakan modal yang amat besar bagi dirinya. Inilah sebuah penanaman motivasi, visi dan misi yang mendorong gerak roda angannya mulai melaju. AS Panji Gumilang tak lagi merasa sendiri. Konsep ‘kekitaan’nya pun mulai tersentuh dengan musyawarah yang kerap dilakukan untuk memulai langkah rencana besar tersebut.

Kesendirian berpikir dan berjuang telah menjadi kebersamaan dan kekitaan. Berpikir dengan banyak kepala pastilah lebih baik dari pada hanya satu kepala. Melihat dengan banyak pasang mata pastilah lebih jeli dari pada hanya sepasang mata. Melangkah dengan banyak kaki pastilah akan menapak lebih jauh dan lebih luas dari pada dengan hanya sepasang kaki. Bekerja dengan banyak pasang tangan pasti pula lebih ringan daripada hanya dengan sepasang tangan. Team work!

Dalam pidato penganugerahan Doctor Of Management in Education and Human Resources Development dari International Management Centres Association (IMCA) Buckingham, United Kingdom & Revans University, The University of Action Learning at Boulder Colorado, United States of America, hari Sabtu, Tanggal 24 Mei 2003 M - 23 Rabi’ al-Awwal 1424 H, Syaykh Al-Zaytun Dr. Abdussalam Panji Gumilang selaku pencetus ide pertama dan pemimpin Al-Zaytun mengatakan sesungguhnya kebersamaanlah yang mampu menumbuhkan ide-ide besar itu.

“Termasuk ide pendirian Ma’had Al-Zaytun ini adalah akibat adanya kebersamaan yang memunculkan sebuah ide, kemudian berjalan bersama untuk merealisasikannya. Kebersamaan ide mampu menyatukan kemampuan individu-individu dalam mengaktualisasikan diri masing-masing secara optimal. Dalam arti kata, masing-masing mengenali potensi positif yang mereka miliki, dan berusaha sekuat tenaga menggali, membiasakan, berkreasi, dan mewujudkan potensi positif yang telah terbina dengan disiplin tinggi dan perjuangan dalam prestasi nyata,” papar Syaykh Al-Zaytun, menonjolkan kebersamaan.

Menurutnya, ide pendirian Al-Zaytun selayaknya ide umat manusia yang menginginkan peradaban umat manusia (positif) ini tidak putus-putusnya. Ide seperti itu juga merupakan ide berbagai bangsa yang ada di dunia. Para pendiri Al-Zaytun menyimpulkan bahwa peradaban (positif) umat manusia tidak boleh terputus oleh apapun juga, dan peradaban akan berkesinambungan jika ditata melalui pendidikan, bukan melalui peperangan. Pendidikanlah yang akan mampu melestarikan peradaban umat manusia di dunia.

Mengawali perjalanan, sekali lagi, harus melalui pemikiran dan perencanaan yang matang. Meski konsep secara tertulis atau tertuang dalam lembaran kertas master plan, belumlah merupakan sebuah kesempurnaan manakala belum melihat sebuah perbandingan lain.

Perjalanan pun dilakukan. Dia melangkah masuk ke dalam berbagai lembaga pendidikan yang ada di Indonesia dan juga di luar negeri. Melakukan studi banding dan mengamati setiap lembaga yang dikunjunginya. Dia pun banyak berjalan dan belajar. Saat dia ke Eropa, Australia, New Zealand, Timur Tengah dan berbagai negeri, bukan untuk shopping, tapi selalu melangkah mengunjungi pendidikan yang baik. Belajar membaca apa yang ada di dunia ini, melihat mana kelebihan dan kekurangannya.

Maka, setelah ada kesepemahaman, visi dan misi yang sama dengan sahabat-sahabatnya, kesepakatan pendirian sebuah lembaga pun terwujud. Bersamaan dengan Hari Raya Idul Adha 10 Dzu Al-Hijjah 1413 H, pada tanggal 1 Juni 1993, AS Panji Gumilang dengan para sahabatnya, bersepakat mendirikan Yayasan Pesantren Indonesia (YPI) yang secara resmi dituangkan dalam Akta Pendirian tertanggal 25 Januari 1994 No. 61 oleh notaris Ny. Ii Rokayah Sulaeman, SH, dan terdaftar di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Subang pada tanggal 28-01-1994, dengan pertama kalinya berkantor sekretariat di Kabupaten Subang.

Kemudian pada tanggal 17-05-1995 didirikan cabang YPI di Kabupaten Indramayu dengan nomor akte 34 oleh notaris yang sama, dan terdaftar di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Indramayu pada tanggal 22-05-1995, beralamat di Desa Mekarjaya, Kecamatan Haurgeulis, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat.

Para pendiri yayasan ini adalah umat Islam Indonesia yang bersatu keyakinan membangun suatu lembaga dan wahana untuk membangun pendidikan umat dan bangsa yang kuat. Mereka bersepakat  membangun sesuatu yang hasanah dalam arti kata dan makna yang seluas-luasnya, yang mereka tuangkan dalam program utamanya: Ikut berperan serta mencerdaskan bangsa dengan menempuh jalan pendidikan dan ekonomi. Konsep dasarnya adalah menjadikan pendidikan sebagai gula dan ekonomi sebagai semutnya.

Jadi secara legal formal YPI adalah pemilik Al-Zaytun. Namun lebih dari pada legal formal itu, dalam buku saku Mengenal Ma’had Al-Zaytun disebutkan bahwa Al-Zaytun adalah milik umat. Timbul dari umat dan untuk umat bangsa Indonesia. Artinya, Al-Zaytun ada di mana-mana dalam kalangan umat dan bangsa seluruhnya. Pendirinya adalah umat Islam yang menggabung dalam Yayasan Pesantren Indonesia. Begitu pula perihal pendanaan pembangunannya diperoleh dari umat Islam bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa lain secara mandiri dan sukarela. Jadi Al-Zaytun merupakan hadiah dari umat Islam Indonesia yang diperuntukan bagi umat seluruh dunia, khususnya bangsa Indonesia.

Kesimpulan pemikiran sejak pertama, lokasi pendidikan haruslah dapat mengekspos segala kegiatan umat manusia, baik segi pendidikan, ekonomi, energi, environment dan lainnya. Karena itu, tempat berdirinya lembaga pendidikan yang diharapkannya itu harus memiliki luas tanah yang cukup.

Langkah sudah menjadi gerakan dan tanggung jawab bersama. Pencarian lahan, yang dipersyaratkan ribuan hektar, makin diintensifkan. Syaykh AS Panji Gumilang dan para sahabat melangkah bersama ke pelbagai penjuru negeri, Jawa, Sumatra dan Kalimantan. Sayang, qadla Allah belum mengizinkan. Hingga akhirnya, atas tuntunan Allah SWT, mereka menemukan lahan lebih seribu hektar di Desa Mekarjaya, Gantar, Kecamatan Haurgeulis (sekarang Kecamatan Gantar), Indramayu, Jawa Barat, Indonesia.

Penataan lahan dan pembangunan infrastruktur dimulai, 1996. Disusul sosialisasi pendidikan oleh Yayasan Pesantren Indonesia (YPI) dilancarkan ke seluruh provinsi Indonesia dan negeri jiran Malaysia, melalui koordinator-koordinator yang ditunjuk YPI pada tahun 1997-1998. Padahal, saat awal sosialisasi pendidikan itu, nama Al-Zaytun belum disematkan. Namun, bermodalkan visi, misi dan tujuan mulia YPI, ribuan orang tua santri terdorong mendaftarkan putra-putrinya.

Nama Al-Zaytun baru terpikirkan setelah ditanyakan oleh Departemen Pendidikan, saat mengurus perizinannya. Apa nama sekolahnya? Kemudian para pendiri YPI bersepakat memberi nama Al-Zaytun, simbol perdamaian. Simbol Nabi Isa. Pemberian nama Al-Zaytun didasari oleh satu penghayatan tentang kehendak Allah mencipta manusia sempurna yang terurai dalam surat at-Tin.

Nama Al-Zaytun telah disebut oleh Allah tatkala menciptakan manusia sempurna yang akan mewarnai bumi ini. Nama Al-Zaytun itu diambil dari Al- Quran surat at-Tin yang berbunyi Wa al-tiin, wa al-zaytun wa turisinin wa hadza al-balad al-amiin: demi buah tin, demi buah zaytun dan demi bukit tursina itulah negeri yang amiin. Al-Zaytun merupakan pohon yang umurnya panjang, manfaatnya banyak dan tidak ada yang terbuang dari pohon itu. Juga sebagai simbol perdamaian yakni tangkai Al-Zaytun yang dibawa oleh merpati putih. (Syaykh al-Zaytun AS Panji Gumilang, Wawancara The Asian Wall Street Journal, 15 April 2002).

Sempat ada yang mengusulkan nama at-Tin. “Tin itu adalah ‘Fig’. Tapi, karena Pak Harto sudah menamakan masjidnya yang di Taman Mini At-Tin. Maka kita namakan saja di sini Al-Zaytun,” kata Syaykh Panji Gumilang.

Nama lengkapnya adalah Ma’had Al-Tarbiyah Wa Al-Dirasah Al-Islamiyah Al-Zaytun (Ma’had Al-Zaytun). Al-Zaytun adalah dependen pada YPI. YPI memilih bentuk pesantren karena pesantren merupakan suatu lembaga (embrio) kehidupan masyarakat yang dapat mewujudkan kebersamaan, keterbukaan, kebebasan, tolong menolong, saling hormat menghormati, yang selalu haus akan ilmu pengetahuan dan berjiwa mandiri. Bentuk dan semangat pesantren itu dipadukan dengan sistem dan manajemen modern. Pesantren spirit but modern system. Itulah keunikan Al-Zaytun!

Dalam buku saku Mengenal Ma’had Al-Zaytun disebutkan landasannya adalah (1) Pesantren spirit but modern system; dan (2) Mendidik dan membangun semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah. Sementara, arah dan tujuannya adalah mempersiapkan peserta didik untuk berakidah yang kokoh kuat terhadap Allah dan syari’at-Nya, menyatu di dalam tauhid, berakhlakul karimah, berilmu pengetahuan luas, berketerampilan tinggi yang tersimpul dalam bashthotan fil ‘ilmi wal jismi (Q.S 2:247), sehingga sanggup, siap dan mampu untuk hidup secara dinamis di lingkungan negara bangsanya dan masyarakat antarbangsa dengan penuh kesejahteraan dan kebahagiaan duniawi maupun ukhrawi.

Adapun ciri khas Al-Zaytun adalah penguasaan Alquran secara mendalam, terampil berkomunikasi menggunakan bahasa-bahasa antarbangsa yang dominan, berpendekatan ilmu pengetahuan, berketerampilan teknologi dan fisik, berjiwa mandiri, penuh perhatian terhadap aspek dinamika kelompok dan bangsa, berdisiplin tinggi serta berkesenian yang memadai.

Arah, tujuan dan ciri khas tersebut dikemas dalam visi dan misi perbaikan kualitas pendidikan umat yang tersimpul dalam motto: Ma’had Al-Zaytun Pusat Pendidikan dan Pengembangan Budaya Toleransi serta Pengembangan Budaya Perdamaian.

Implementasi Budaya Toleransi dan Perdamaian
Hal ini sudah sangat sering dipaparkan dalam Lentera Berita Indonesia, ini. Namun, setiap kali berbicara tentang Al-Zaytun, rasanya tidak mungkin pas jika tidak mengalir dalam tatanan budaya toleransi dan perdamaian. Sebab sebagaimana dikemukakan di atas bahwa arah, tujuan, dan ciri khas Al-Zaytun dikemas dalam visi dan misi yang tersimpul dalam kalimat: Al-Zaytun Pusat Pendidikan dan Pengembangan Budaya Toleransi dan Perdamaian.

Prinsip pendidikan universal yang amat tegas diimplementasikan di Al-Zaytun. Tidak hanya sekadar diajarkan di dalam kelas, tetapi diimplementasikan dalam kegiatan keseharian, baik di dalam kampus maupun di tengah pergaulan masyarakat.

Sesungguhnya, Al-Zaytun, yang walau didirikan sebuah lembaga pendidikan Islam (YPI), tetapi dalam paradigma dan implementasinya adalah untuk kemaslahatan bangsa, tanpa membedakan suku, golongan dan agama. Sebagai suatu contoh, dalam beberapa kesempatan, Syayk al-Zaytun mengemukakan kerinduannya untuk mendidik santri (siswa-siswi) dan mahasiswa beragama Kristen, Hindu, Budha dan lain-lain di Al-Zaytun, untuk dididik agar memiliki kulitas diri yang andal serta menjadi Kristen yang baik, Hindu yang baik, dan Budha yang baik.

Pernyataan ini, walau sangat singkat, tetapi mengandung makna sedalam samudera dan setinggi cakrawala tentang budaya toleransi dan perdamaian.

Secara dogmatis atau syariat, dalam beberapa kesempatan, khususnya yang dikutip di bawah ini pada Khotbah Idulfitri 1424 H/2003 M di Al-Zaytun, pada tanggal 1 Syawal 1424 H bertepatan dengan 25 November 2003 M, Syaykh AS Panji Gumilang mengatakan: Pengakuan adanya kekuatan Yang Maha Tinggi, yaitu Tuhan Allah, God, Yahweh, atau Elohim, yang disertai ketundukan itu, merupakan fitrah/naluri yang dimiliki oleh setiap manusia. Kendati demikian, manusia tetap memerlukan adanya pemberi peringatan agar tidak menyeleweng dari fitrahnya, mereka adalah para nabi dan rasul.

Perasaan tunduk kepada Yang Maha Tinggi, yang disebut iman, atau itikad, yang kemudian berdampak pada adanya rasa suka (rughbah), takut (ruhbah), hormat (ta’dzim) dan lain-lain, itulah unsur dasar al-din (agama). Al-din (agama) adalah aturan-aturan atau tata-cara hidup manusia yang dipercayainya bersumber dari Yang Maha Kuasa untuk kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Berbagai agama telah lahir di dunia ini dan membentuk suatu syariat (aturan) yang mengatur kehidupan manusia, yang termaktub di dalam kitab-kitab suci, baik agama samawi (yang bersumber dari wahyu Ilahi) maupun yang terdapat dalam agama ardli (budaya) yang bersumber dari pemikiran manusia. Semua agama-agama, baik samawi maupun ardli, memiliki fungsi dalam kehidupan manusia. Berbagai fungsi tersebut adalah: (i) menunjukkan manusia kepada kebenaran sejati; (ii) menunjukkan manusia kepada kebahagiaan hakiki; dan (iii) mengatur kehidupan manusia dalam kehidupan bersama.

Dari hakikat dan fungsi agama seperti yang disebutkan itu, maka pemeluk agama-agama yang ada di dunia ini, telah memiliki strategi, metode dan teknik pelaksanaannya masing-masing, yang sudah barang tentu dan sangat boleh jadi terdapat berbagai perbedaan antara satu dengan lainnya. Karenanya, umat manusia dalam menjalankan agamanya, sang Pencipta agama telah berpesan dengan sangat, “Kiranya umat manusia tidak terjebak dalam perpecahan tatkala menjalankan agama masing-masing, apalagi perpecahan itu justru bermotivasikan keagamaan”.

Menurut Syaykh Al-Zaytun, berinteraksi dengan jiwa toleran dalam setiap bentuk aktivitas, tidak harus membuang prinsip hidup (beragama) yang kita yakini. “Kehidupan yang toleran justru akan menguatkan prinsip hidup (keagamaan) yang kita yakini. Segalanya menjadi jelas dan tegas tatkala kita meletakkan sikap mengerti dan memahami terhadap apapun yang nyata berbeda dengan prinsip yang kita yakini. Kita bebas dengan keyakinan kita, sedangkan pihak yang berbeda (yang memusuhi sekalipun) kita bebaskan terhadap sikap dan keyakinannya,” ujar Syaykh Panji Gumilang.

Pergeseran Paradigma dan Peningkatan Kualitas
Ketika berbicara pada International Education Conference, A World Opportunity: Education in the Twenty-First Century September 27th-28th, 2003 M, Syaykh Panji Gumilang memaparkan bahwa Al-Zaytun berdiri di saat terjadinya pergeseran paradigma. Saat dunia terus bergerak meninggalkan abad industri memasuki abad informasi. Abad industri yang bercirikan produksi dan distribusi barang telah bergeser kepada abad informasi, dengan ciri produksi dan distribusi pengetahuan dan informasi.

Menurutnya dalam abad informasi ini sungguh sulit memperoleh keuntungan hanya bersumber dari sumber daya tradisional (tenaga kerja, tanah, dan modal-uang). Kini, informasi dan pengetahuan menjadi penghasil kekayaan utama. Namun pengetahuan tidak murah harganya. Semua negara maju mengeluarkan kira-kira 20% dari Penghasilan Negara Bruto (PNB)-nya untuk produksi dan distribusi pengetahuan. Pembentukan pengetahuan dengan demikian sudah merupakan investasi terbesar di setiap negara maju.

Karenanya hasil yang didapat oleh sebuah negara atau sebuah institusi dari pengetahuan tentunya semakin menjadi faktor penentu pada daya saingnya. Makin hari, produktivitas pengetahuan akan semakin menentukan sosial ekonominya.

Kelemahan produktivitas pengetahuan suatu negara (institusi) lebih dari apapun yang lain, merupakan pangkal dari kelambanan, erosi, dan krisis yang tak berkesudahan pada sosial ekonomi negara.

Sementara, Syaykh menyatakan keprihatinan bahwa kita di Indonesia, jelas pengeluaran untuk produktivitas pengetahuan jauh lebih rendah dari pengeluaran lain-lainnya. Karenanya, dalam segala bidang produktivitas pengetahuan di Indonesia jauh tertinggal dari negara-negara manapun. Bangsa kita juga belum mampu masuk ke dalam produktivitas pengetahuan baru, bahkan gagal sekalipun hanya untuk mengubah pengetahuan yang telah ada menjadi inovasi yang berhasil, pengetahuan yang ada tetap merupakan informasi dan bukannya menjadi pengetahuan yang produktif.

Pandangan Syaykh Panji Gumilang ini sekaligus mencerminkan betapa perlunya kesadaran semua pihak, terutama lembaga pendidikan untuk bertanggung jawab memasuki pergeseran paradigma tersebut dengan peningkatan kualitas, bahkan jika mungkin melaju melampaui zamannya.

Syaykh Panji Gumilang memberi contoh. Terjadinya revolusi informasi teknologi, pengiriman data melalui satelit langsung ke ruang kelas sedang melanda sekolah-sekolah (sekalipun hal ini belum menjadi umum di Indonesia). Kita berada di dalam revolusi tersebut, tentunya akan mengubah cara kita belajar dan cara kita mengajar, dalam dasawarsa ini. Dan revolusi ini akan mengubah ekonomi pendidikan, dari yang hari ini kita lakukan, yang keadaannya hampir total padat karya, pendidikan (sekolah) akan menjadi padat modal.

Karenanya, menurut Syaykh, lembaga pendidikan di dalam revolusi teknologi informasi ini, harus mampu masuk ke dalam penguasaan teknologi baru dalam pembelajaran (belajar mengajar). Sebab hal itu merupakan satu prasyarat bagi keberhasilan nasional dan kultural, juga bagi daya saing ekonomi.

Dia pun memaparkan beberapa garis-garis besar kasar tentang spesifikasi pendidikan sekolah dan sekolah-sekolah yang mungkin sesuai dengan kenyataan-kenyataan masyarakat berpengetahuan. Pertama, lembaga pendidikan yang diperlukan harus menyediakan alat-alat yang menunjang kemelekhurufan universal lebih dari “kemelekhurufan “dalam pengertian yang telah ada.

Kedua, lembaga pendidikan yang diperlukan harus mengilhami para siswa dari segala tingkat dan segala umur dengan motivasi untuk belajar dan dengan disiplin untuk belajar secara berkelanjutan.
Ketiga, lembaga pendidikan yang diperlukan haruslah merupakan satu sistem terbuka, bisa dicapai oleh orang berpendidikan tinggi maupun orang yang oleh sebab apapun tidak mendapatkan akses ke pendidikan lanjutan pada masa mudanya.

Keempat, lembaga pendidikan yang diperlukan harus menanamkan pengetahuan, baik sebagai substansi maupun sebagai proses. Kelima, lembaga pendidikan sekolah tidak lagi bisa dimonopoli oleh sekolah, melainkan menyebar ke dalam seluruh masyarakat.

Selain itu, Syaykh menegaskan, segala jenis organisasi yang mempekerjakan orang-orang - perusahaan, badan pemerintahan, organisasi nirlaba - harus menjadi lembaga pembelajaran (belajar mengajar). “Lembaga pendidikan semakin harus bekerja dalam kemitraan dengan para majikan dan organisasi-organisasi yang mempekerjakan orang. Semua ini akan kita coba memulainya di Al-Zaytun, Insya Allah,” kata Syaykh al-Zaytun.

Spirit, tekad dan prinsip ini terus menyala dalam perjalanan satu dasawarsa Al-Zaytun. Kesadaran atas pergeseran paradigma dan pentingnya peningkatan kualitas ini pula yang menginspirasi para peserta Sidang Tahunan Litbang Al-Zaytun 2009. Sehingga membuahkan hasil-hasil yang dirumuskan secara rinci, tepat dan realistis sebagai titik tolak terwujudnya suatu keberhasilan pembaruan pelaksanaan pendidikan sekaligus menjadi rujukan atau referensi bagi pihak-pihak terkait dan yang berkepentingan serta menjadi bahan pertimbangan penentuan langkah dan kebijakan Al-Zaytun di masa hadapan.

Pembaruan Pelaksanaan Pendidikan
Sidang Tahunan Litbang Al-Zaytun 2009, antara lain merumuskan dan menetapkan beberapa langkah konkrit pembaruan pelaksanaan pendidikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Al-Zaytun. Landasan rumusan pembaruan itu didasarkan pada pertimbangan perkembangan pendidikan dan inovasinya terus berjalan seiring dengan rotasi waktu yang tiada henti. Kemajuan sains dan teknologi serta perubahan environment pendidikan secara umum yang berpengaruh terhadap kehidupan, menuntut langkah penyesuaian yang harus ditempuh, sebagai faktor eksternal yang harus direspon dengan positif.

Salah satu adalah pembaruan pembelajaran di dalam kelas bagi pelajar kelas XII mulai tahun ajaran ini (2009-2010) akan dilaksanakan koedukasi, penggabungan pelajar laki-laki dan perempuan dalam satu kelas. Bila dalam pelaksanaannya ada peningkatan yang signifikan dalam berbagai aspek maka penerapan koedukasi akan dilakukan bagi kelas-kelas lainnya di tahun berikutnya.

Juga mulai tahun ajaran 2009 – 2010 jumlah hari pembelajaran di dalam kelas per pekan bagi pelajar kelas I s.d. XII dilaksanakan selama 5 (lima) hari belajar yakni mulai hari Senin sampai Jum’at. Waktu pembelajaran untuk tingkat dasar (MI): (1) Senin – Khamis Jam 07:00 – 11:35 (7 jam pelajaran @ 35 menit); Jam 11:35 – 13:00 kegiatan makan, shalat Dhuhur, dan kebahasaan; Jam 13:00 –14:00 tahfidh juz ‘Amma. (2) Jum’at: Jam 07:00 s,d. 11:00 (6 jam pelajaran @ 35 menit).

(3) Kelas V dan VI diberikan tambahan bimbingan Al-Qur’an (juz ‘Amma) satu pekan dua kali, masing-masing 60 menit pada jam 14:00 – 15:00 di gedung pembelajaran masing-masing level kelas. (4) Sabtu –Ahad: Libur pekanan (seluruh pelajar MI diizinkan untuk pulang ke rumah berkumpul bersama keluarga).

Demikian pula waktu pembelajaran untuk tingkat menengah (MTs dan MA): (1) Senin – Khamis, Jam 07:00 s.d. 14:45 (9 jam pelajaran @ 45 menit); (2) Jum’at, jam 07:00 s.d. 11:00 (5 jam pelajaran @ 45 menit); (3) Sabtu – Ahad, kegiatan di luar kelas yakni (a) Kebahasaan, (b) Muhadlarah, (c) Kursus Pemuliaan Tanaman Hias (KPTH), (d) Kepanduan, (e) Kelompok Ilmiah Pelajar dan (f) Kursus-kursus lainnya.

Sementara tentang kurikulum, untuk mempersiapkan Ujian Nasionai mulai tahun ini dilakukan sejak awal dengan penambahan bobot jam pelajaran bagi mata pelajaran yang diujikan dalam ujian nasional. Untuk Kelas IX: (1) Bahasa Indonesia 5 jam/pekan (tambahan 2 jam/pekan); (2) Bahasa Inggris 5 jam/pekan (tambahan 1 jam/pekan); (3) IPA 8 jam/pekan (tambahan 2 jam/pekan); (4) Matematika  6 jam/pekan (tambahan 1 jam/pekan).

Untuk Kelas XII program IPA: (1) Bahasa Indonesia 5 jam/pekan (tambahan 2 jam/pekan); (2) Bahasa Inggris 5 jam/pekan (tambahan 1 jam/pekan); (3) Matematika 8 jam/pekan (tambahan 1 jam/pekan); (4) Fisika 6 jam/pekan (tambahan 1 jam/pekan); (5) Biologi 4 jam/pekan (tidak ada penambahan jam); dan (6) Kimia 4 jam/pekan (tidak adapenambahanjam).

Untuk Kelas XII program IPS: (1) Bahasa Indonesia  5 jam/pekan (tambahan 2 jam/pekan); (2) Bahasa Inggris 6 jam/pekan (tambahan 1 jam/pekan); (3) Matematika 6 jam/pekan (tambahan 1 jam/pekan); (4) Ekonomi/Akuntansi 6 jam/pekan (tidak ada penambahan jam); (5) Sosiologi 4 jam/pekan (tambahan 1 jam/pekan); dan (6) Geografi :4 jam/pekan (tambahan 1 jam/pekan).

Begitu pula jam pelajaran yang tidak diujikan dalam Ujian Nasional (UN) juga dilakukan pembaruan. Untuk Kelas IX, XI, dan XII: (1) Mata pelajaran Al-Qur’an dan Al-Hadits, Al-Mahfudlat diajarkan terpadu dengan pelajaran Aqidah Akhlaq, Fiqih lbadah, Al-Tajwid, Al-Imla, dan Al-Khat dengan Hama Al-Qur’an - Al-Hadits / Al-Nushush. Mata pelajaran Al-Qur’an dan Al-Hadits / Al-Nushush diajarkan dalam kelompok-kelompok kecil terdiri dari 15 pelajar/kelompok. Waktu pelaksanaan selama 90 menit/pertemuan, diadakan dua kali/pekan dari jam 15:00 – 16:30 di gedung pembelajaran masing-masing level kelas;

(2) Mata pelajaran bahasa Arab diajarkan dalam kelas dengan penambahan jam sebagai berikut: Kelas IX 6 jam/pekan (tambahan 1 jam/pekan); Kelas XII – IPA 5 jam/pekan (tambahan 2 jam/pekan); dan Kelas XII – IPS 5 jam/pekan (tambahan 2 jam/pekan); (3) Mata pelajaran lainnya tetap diajarkan dalam kelas seperti biasa. Untuk Kelas VII, VIII, dan X semua mata pelajaran diajarkan dalam kelas seperti biasa (tidak ada bimbingan khusus).

Khusus bagi pelajar kelas XII yang akan menamatkan pembelajaran pada tingkat menengah, sidang Litbang juga menetapkan, harus memiliki kompetensi khusus. Semua kompetensi harus ditulis sendiri oleh pelajar dalam sebuah buku yang disiapkan oleh manajemen. Kompetensi yang dimaksud adalah (a) membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar; (b) menghafal 37 surat pada juz ketiga puluh; (c) menghafal ayat-ayat AI-Qur’an dan Al-Hadits yang berkaitan dengan akidah, ibadah, muamalah, akhlak, dan hak asasi manusia; (d) melakukan praktik ibadah mahdlah dengan baik dan benar; (e) menghafal asma al-husna dan ‘aqidatu al-awam; (f) berkomunikasi dalam bahasa Indonesia, bahasa Arab, dan bahasa Inggris dengan baik dan benar; (g) menghafal mahfudhat yang ditetapkan; dan (h) melaksanakan khutbah Jum’at.

Sidang Litbang juga menetapkan bahwa mulai tahun ini AI-Zaytun akan mempersiapkan untuk menambah satuan pendidikan berupa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), yang diharapkan pada tahun ajaran 2010-2011 sudah dapat berjalan untuk jurusan Teknologi Informatika (TI) dan jurusan lainnya sesuai keperluan. Selain itu juga untuk Madrasah Aliyah (MA) akan ditambah satu lagi jurusan Keagamaan sehingga ada tiga jurusan, IPA, IPS dan Keagamaan.

Jika hari belajar ditetapkan mulai Senin sampai Jumat, bukanlah berarti dua hari libur pada Sabtu dan Ahad, para pelajar tidak melakukan aktivitas apa-apa. Pada hari-hari ini seluruh pelajar wajib mengikuti berbagai kegiatan yang dilakukan di luar jam pelajaran reguler, baik kegiatan yang merupakan kewajiban bagi seluruh pelajar mahupun kegiatan pilihan sesuai dengan minat dan bakat masing-masing.

Kegiatan pembelajaran di luar kelas yang menjadi kewajiban dan harus diikuti oleh seluruh pelajar adalah Muhadlarah, kebahasaan, dan kepanduan sedangkan kursus IT (Informasi Teknologi), Tanaman Hias, Mental Aritmatika, Bahasa Ibrani dan Kegiatan Kelompok Ilmiah Pelajar, Olahraga dan Seni. Semua kegiatan itu dapat dipilih sesuai dengan minat dan bakat masing-masing pelajar.
Namun ada beberapa hal yang diberikan aksentuasi untuk kegiatan di luar kelas. Yakni: (a) Kebahasaan, mulai tahun ajaran ini selain peningkatan kemampuan berbahasa asing yang sudah berjalan yaitu Arab dan Inggris juga akan ditingkatkan penguasaan Bahasa lbrani. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah penyempurnaan penggunaan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar di kalangan civitas akademika AI-Zaytun yang dirasa harus terus disempurnakan;

(b) Muhadlarah, penyempurnaan untuk program ini dan tahun sebelumnya adalah penambahan waktu kegiatan muhadlarah menjadi tiga kali dalam satu pekan yang sebelumnya hanya dilakukan sekali dalam sepekan. Kegiatan berpidato ini menjadi ajang peningkatan kemampuan pelajar dalam mengekpresikan ide-ide dan jati diri mereka juga untuk meningkatkan kemampuan penguasaan bahasa baik Indonesia, Arab mahupun Inggris;

c) Kepanduan, mulai tahun ini diadakan pelatihan bagi seluruh pelajar mulai dari kelas I sampai kelas XII, selain itu kegiatan Kepanduan / Kepramukaan diperluas untuk berinteraksi dengan kepramukaan di luar kampus dan kegiatan-kegiatan berskala nasional mahupun Internasional. (Bersambung Edisi Depan)  BI/marjuka-hotsan-crs (Berita Indonesia 69)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com