Majalah Berita Indonesia

Sunday, May 28th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Khas Virus Flu Burung Menebar Teror
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Virus Flu Burung Menebar Teror

E-mail Print PDF

Awal Februari 2007 Pemda DKI melarang memelihara unggas nonkomersial.Pemerintah menetapkan tiga wilayah merah flu burung—DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten. Enam provinsi dinyatakan berisiko tinggi penyebaran virus maut ini. Menkes Siti Fadilah Supari mendesak supaya pemusnahan unggas di wilayah merah selesai dalam hitungan minggu.

Awalnya, malapetaka datang lantaran ketidaktahuan dan kemurahan hati, Mukri, warga desa Cipalahhar, Bekasi, pedagang beras keliling yang sedang melebarkan sayap bisnisnya ke peternakan ayam broiler (potong). Namun impian Mukri tersapu oleh serangan virus flu burung yang sedang mengganas. Sebanyak 47 dari 50 ekor ayam yang diternaknya mati mendadak. Harapannya untuk meraih untung dari bisnis ayam sirna sudah. Hatinya terlanjur patah, sehingga Mukri menghadiahkan tiga ekor ayam yang tersisa kepada anak-anak di kampungnya.

Kemurahan hati Mukri disambut gembira oleh delapan anak usia antara 6 sampai 15 tahun. Hari Minggu (7/1/2007) itu, Nurjamah bersama Adriyansyah, M. Rifky, Damah, Hamdani, Muntha, Dewi dan Toni, memotong dan membakar ayam pemberian Mukri. Mereka menyantap ayam bakar dengan lahap. Namun malang tak dapat ditolak. Keesokan harinya (8/1/2007), Nurjamah diserang demam tinggi disertai batuk dan pilek.

Cemas akan kondisi kesehatan putranya yang memburuk, Pak Ahmad membawanya ke dokter, kemudian dirujuk ke RSUD Bekasi di Cibitung. Menurut laporan koresponden Sinar Harapan, Jonder Sihotang (15/1/2007), setelah diperiksa di rumah sakit daerah, Nurjamah (11/1/2007) dikirim ke RS Persahabatan, Jakarta, karena terindikasi diserang virus flu burung (H5N1). Tidak hanya Nurjamah, ketujuh temannya juga terserang avian flu, dirawat di rumah sakit yang sama.

Ironisnya, di antara delapan remaja yang menyantap ayam broiler pemberian Mukri, hanya Nurjaman dan Adriyansyah yang diperbolehkan pulang. Sedangkan keenam lainnya dirawat karena positif terserang virus flu burung. Kemurahan hati Mukri membawa malapetaka bagi keenam anak tersebut lantaran ketidaktahuan mereka tentang bahaya menyantap ayam yang terserang virus flu burung.

Departemen Kesehatan telah menetapkan tiga daerah merah flu burung, yaitu Jakarta, Jawa Barat dan Banten. Menkes Siti Fadilah mengingatkan para penguasa di tiga provinsi tersebut agar segera memusnahkan semua jenis unggas yang diternak di kawasan pemukiman untuk mencegah meluasnya penyebaran virus flu burung.

Menkes mengatakan pemusnahan unggas harus sudah selesai dalam beberapa pekan ini. Langkah itu untuk mencegah makin meluasnya penyebaran virus flu burung di daerah-daerah tersebut. Pemda harus membantu masyarakat door to door untuk memisahkan unggas dari pemukiman. “Selama unggas masih dipelihara di dekat pemukiman, ancaman flu burung tetap ada,” kata Menkes seperti dikutip SH (16/1/2007).

Tidak berselang seminggu, harian Kompas (14/1/2007) menurunkan laporan di halaman satu bahwa dua pasien flu burung yang dirawat di RS Persahabatan, meninggal dunia. Setelah dirawat beberapa hari, Zulfah (27), warga Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, dan Ani Afrianil (22), warga Kampung Warung Mangga, Kecamatan Pinang, Tangerang, akhirnya meninggal dunia, Jumat (12/1/2007). Ketika masuk rumah sakit hanya Ani yang dipastikan positif terinfeksi flu burung, sedangkan Zulfah masih berstatus dugaan (suspect).

Mengutip Ketua Tim Dokter Penanggulangan Penderita Flu Burung RS Persahabatan, dr Mukhtar Ikhsan, Kompas memberitakan bahwa kematian Zulfah dan Ani lantaran gagal nafas. Awalnya, mereka mengalami radang paru, kemudian gangguan pada hati. Fungsi ginjal mereka juga memburuk, pernafasan terhenti.

Menurut Kompas, RS Persahabatan mengantisipasi peningkatan jumlah pasien flu burung dengan menambah jumlah dokter dan perawat. Sedangkan obat-obatan yang dipasok oleh Depkes diperkirakan mencukupi kebutuhan. Pihak rumah sakit juga mewajibkan semua dokter, perawat, petugas gizi, petugas kebersihan, dan petugas radiologi yang menangani pasien flu burung, memeriksakan suhu tubuh mereka setiap hari.

Koran sangat berpengaruh ini (17/1/2007), menempatkan tiga berita tentang wabah flu burung di halaman satu, termasuk berita utama. Mengutip keterangan Ketua Gabungan Pengusaha Perunggasan Indonesia, Anton J. Supit, Kompas melaporkan bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono harus segera membentuk badan otoritas yang dapat bertindak tegas menyangkut penyebaran wabah flu burung. Sedangkan Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza (KNPFBKMPI) dinilai tidak efektif lagi karena kewenangannya terbatas.

“Yang dibutuhkan saat ini adalah lembaga yang memiliki wewenang penuh di dalam mengkoordinasikan seluruh potensi nasional untuk mengendalikan wabah flu burung,” kata Anton seperti dikutip Kompas.
Anton menilai wabah flu burung sudah berada pada stadium emergency, sehingga dibutuhkan sebuah lembaga yang punya otoritas penuh untuk melaksanakan koordinasi lintas sektoral. Secara terpisah Sekjen KNPFBKMPI, Tri Satya Naipospos mengingatkan pembenahan industri perunggasan yang jadi biang penyebaran virus H5N1 harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan, termasuk melibatkan pemerintah daerah setempat.

Agnes Aristiarini menulis dalam artikel berjudul Mencegah Jatuhnya Lagi Korban Flu Burung, (Kompas, 17/1/2007), lembaran 2007 dibuka dengan wabah flu burung, suatu peringatan dini yang harus segera diantisipasi, kalau tidak ingin Indonesia menjadi sumber penyakit flu burung dunia. Sebenarnya hal ini sudah diisyaratkan di dalam pertemuan regional Asosiasi Kedokteran Dunia di Tokyo, akhir tahun 2006.

Pemerintah Indonesia tergolong pengelola wabah flu burung terburuk, karena jatuhnya banyak korban.
Tahun 2005, di Indonesia terdapat 17 kasus flu burung, 11 pasien meninggal. Angka ini masih di bawah Vietnam, 61 kasus 19 meninggal. Namun tahun 2006, Indonesia tiba-tiba menempati urutan tertinggi, dari 55 kasus 45 pasien meninggal atau 82% dibandingkan dengan rata-rata dunia, 68%. Tahun 2007, dibuka dengan lembaran hitam, empat pasien flu burung meninggal.

Kompas, mengutip sejumlah kantor berita asing, melaporkan bahwa Kementerian Pertanian Jepang telah mengkonfirmasi merebaknya flu burung di sebuah peternakan ayam di Jepang barat daya lantaran virus H5N1. Tak kurang dari 3.900 ekor ayam ditemukan mati di sebuah peternakan di Perfektur Miyazaki. Temuan itu mendorong pihak berwenang setempat memusnahkan 8.100 ayam sisanya untuk mencegah penyebaran virus tersebut. Kasus ini pertama kali di Jepang dalam tiga tahun terakhir.

Pemerintah Thailand juga mengumumkan penemuan kembali penyakit flu burung pada bebek di Thailand utara. Penyebaran H5N1 dikukuhkan dengan tes laboratorium, setelah matinya lebih dari 100 ekor bebek di Provinsi Phitsanulok. “Kami menemukan virus H5N1 pada bebek-bebek tersebut,” kata Manet Runluang dari Direktorat Pengawasan Penyakit Menular Kementerian Kesehatan Masyarakat. Direktorat itu telah memerintahkan pemusnahan 2.100 bebek di daerah itu.

Di dalam tajuknya, Kompas menulis, korban meninggal yang terus berjatuhan memang pantas dicemaskan, tetapi tidak perlu panik. Keadaan sekarang tidak bisa dihadapi dengan panik. “Kita harus melihat persoalan ini dengan kepala dingin agar bisa merumuskan kebijaksanaan, bukan hanya untuk diomongkan, tetapi juga bisa dilaksanakan,” tulis Kompas.

Kompas menyarankan masyarakat berperan langsung karena tidak boleh ada satu pihak pun yang lalai. Kelemahan di satu sisi akan menjadi pintu bagi terjadinya ancaman yang lebih besar, sebab virus ini bisa berpindah dari unggas ke manusia. Sedangkan unggas acapkali menjadi bagian kehidupan masyarakat.

Meruyak di Depok
Kota Depok yang berpenduduk 1,5 juta jiwa lebih juga termasuk wilayah merah flu burung. Harian Republika (14/1/2007) melaporkan sebanyak 14 dari 63 kelurahan di Kota Depok dinyatakan sebagai “wilayah merah” flu burung, artinya kelurahan rawan flu burung. Menurut Deddy Sudjadi, Kepala Seksi Kesehatan Hewan dan Kesehatan Veteriner Dinas Pertanian Kota Depok, kawasan merah mencakup; kelurahan Tapos, Cimpaeun, Cilangkap, Jatijajar, Tugu, Harjamukti (Kecamatan Cimanggis), Rangkapan Jaya Baru, Mampang (Kecamatan Pancoran Mas), Beji, Tanah Baru, Kukusan (Kecamatan Beji), Tirtajaya, Kalimulya dan Sukmajaya (Kecamatan Sukmajaya).

Dua hari kemudian (16/1/2007), koran ini menempatkan kasus flu burung sebagai berita utama di halaman satu. Menurut Republika, pemerintah melarang warga di tiga provinsi—Jakarta, Jawa Barat dan Banten—memelihara unggas non-komersial di dekat rumah mereka. Larangan tersebut dimaksudkan untuk mencegah penyebaran virus flu burung yang sedang mengganas.

“Pemerintah sedang menyusun payung hukum sebelum larangan ini diberlakukan,” kata Menko Kesra Aburizal Bakrie, usai Rakor bersama empat menteri dan tiga gubernur (15/1/2007). Sekarang, keputusan larangan didasarkan pada UU Wabah No.14 Tahun 1984. Masyarakat diminta menaati aturan tersebut dan segera memusnahkan unggas mereka. Pemerintah akan mengganti per ekor unggas Rp 12.500.


Republika, dalam berita utama halaman satu edisi berikutnya (18/1/2007) mengutip ultimatum Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso: “Pilih selamat atau mati.”

Sebagai dasar hukum pemusnahan unggas di daerah kekuasaannya, Sutiyoso menerbitkan Peraturan Gubernur no.5/2007 (lihat box). Sutiyoso mengingatkan mereka yang menolak peraturan tersebut: “Mau selamat atau kena flu burung dengan risiko meninggal dunia.” Peraturan ini mulai berlaku 1 Februari 2007. Perintah pemusnahan unggas juga dikeluarkan oleh Pemda Tangerang dan Bekasi, Jabar, demikian laporan harian Warta Kota (18/1/2007).

Sedangkan pada berita utama halaman satu, Koran Tempo (17/1/2007) melaporkan, sebanyak 120 juta unggas harus dimusnahkan. Jumlah tersebut merupakan unggas peliharaan rumah tangga. Namun niat pemerintah memutus mata rantai penyebaran flu burung dengan melarang pemeliharaan unggas di pemukiman tersandung masalah birokrasi di daerah. Perda yang akan menjadi ujung tombak pelarangan baru dapat disahkan dalam beberapa bulan mendatang. Target Aburizal sekitar dua sampai tiga bulan.

Menurut harian Indo Pos (19/1/2007), Mendagri M. Ma’ruf sudah mengeluarkan surat edaran kepada semua pemerintah daerah agar mendukung seruan Menkes Siti Fadilah yang mendesak mereka segera menerbitkan peraturan daerah untuk menghadang laju penyebaran virus flu burung. Surat Edaran Mendagri (Nomor 440/93/SJ) bersifat sangat penting dan berlaku efektif sejak 18 Januari. Isinya: meminta para kepala daerah segera melakukan langkah-langkah penanganan flu burung sesuai dengan status daerah masing-masing yaitu berisiko tinggi dan rendah.

Sementara Koran Tempo mengingatkan masyarakat agar mewaspadai kucing pilek. Sebab satu dari lima kucing liar membawa virus flu burung. Hewan penular flu burung tidak hanya ayam, bebek, burung atau unggas, tapi juga kucing. Ahli biologi molekuler Universitas Airlangga, Surabaya, CA Nidom, menemukan fakta sebanyak 100 dari 500 sampel kucing liar di Jawa dan Lampung, ternyata membawa virus H5N1. Sedangkan riset yang dilakukan oleh I G.N. Ketut Mahardika dari Universitas Udayana, menemukan 3 dari 39 ekor kucing rumahan terbukti pernah terserang flu burung. Juga flu burung yang menular pada babi seperti yang ditemukan di Tangerang tahun 2005. Virus H5N1 menular ke kucing di saat kucing memakan bangkai ayam atau unggas pilek yang mati karena flu burung.

Koran ini juga mengutip keterangan dari Departemen Pertanian bahwa Indonesia kekurangan sebanyak 1,14 miliar dosis vaksin flu burung. Idealnya, jumlah vaksin yang dibutuhkan sekitar 1,2 miliar dosis. “Sedangkan yang sudah dianggarkan hanya 60 juta dosis,” kata Memed Zoelkarnain Hasan, Kepala Urusan Komunikasi Publik, Unit Manajemen Kampanye Flu Burung Deptan. SH (Berita Indonesia 31)


Menguak Misteri H5N1
A. Virus flu burung yang asli — yang belum bermutasi (bersalin rupa) — Hinggap jauh di dasar saluran pernafasan, yakni alveoli. Virus asli ini sulit ditularkan.

B. Nidom dan koleganya di Universitas Tokyo menemukan virus H5N1 di Indonesia sudah ada yang bersalin rupa sebagai virus flu manusia. Virus baru itu tidak perlu lagi berenang jauh ke dalam sistem pernafasan. Di tenggorokan pun mereka bisa hidup. Jadi sekali pasien berdeham, virus bisa menyebar.
Virus H5N1: Protein N (Neuraminidase) berperan ketika virus siap keluar dari sel dan menebar infeksi. Protein H (Haemagglutinin) menyergap sel sasaran.

Gejala Flu Brung Pada Manusia
-Demam (Suhu badan di atas 38 derajat celcius)
-Mual dan nyeri perut
-Batuk-batuk dan nyeri tenggorokan
-Muntah
-Nyeri otot
-Diare
-Sesak napas
-Keluar lendir dari hidung
-Infeksi mata
-Tidak ada nafsu makan
-Pusing  Pneumonia (Radang paru)


Pergub DKI Jakarta No.5/2007
-Dilarang memelihara unggas di lingkungan pemukiman
-Unggas yang dimaksud meliputi ayam, itik, entog, angsa, burung dara, dan burung puyuh.
-Unggas jenis hias/berkicau yang dipelihara untuk hobi atau unggas untuk pendidikan/penelitian harus  memiliki sertifikat kesehatan dari instansi di lingkungan Pemprov DKI.
-Semua peternakan, tempat penampungan, pemotongan dan penjualan unggas hidup ditutup bertahap dan direlokasi.
-Lalu lintas unggas hidup yang masuk wilayah Jakarta diatur kemudian.
-Terhitung mulai 17 Januari hingga 31 Januari 2007, warga diimbau secara sukarela memusnahkan unggas yang ada, menjualnya atau mengonsumsinya dengan cara yang benar.


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com