Majalah Berita Indonesia

Saturday, Apr 29th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Khas Terdamparnya Segumpal Karet
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Terdamparnya Segumpal Karet

E-mail Print PDF

Kinerja aparat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) mendapat sorotanKinerja aparat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) belakangan ini mendapat sorotan. Sejumlah kasus temuan berindikasi penyelundupan, atau mengarah ke tindak pidana ekonomi berhasil dibongkar dan dipublikasikan secara luas di media massa.

Kendati Dirjen Bea dan Cukai sukses membongkar sejumlah kasus penyelundupan, hal ini justru menimbulkan sejumlah pertanyaan. Misalnya, apakah sebelum dipimpin oleh Anwar Supriyadi, Bea Cukai tak pernah berprestasi membongkar penyelundupan. Atau, kalau sebelumnya jarang terdengar publikasi, apakah berarti kasus kejahatan ekonomi penyelundupan pada masa lalu itu berhasil dibasmi habis. Atau malah publikasi secara luas itu disengaja untuk menutupi aksi kejahatan yang skala penyelundupannya jauh lebih besar.

Biasanya, semakin kacau kondisi sebuah negara semakin terbuka kemungkinan aksi penyelundupan. Sebaliknya, di negara yang teguh menerapkan sanksi hukum dan kondisi negaranya relatif stabil, penyelundup harus berpikir dua kali bila ingin meneruskan aksi jahatnya.

Dirjen Bea dan Cukai yang akhir-akhir ini ramai diberitakan berhasil membongkar aksi-aksi penyelundupan, jangan-jangan merupakan pertanda negara masih S.O.S. Atau aparat Bea dan Cukai masih tak berwibawa sebagai benteng pengawasan sekaligus penggerak ekonomi nasional. Apabila pintu masuk Bea Cukai Jakarta saja masih sering dicoba untuk dibobol oleh penyelundup, lantas bagaimana dengan pintu-pintu lain di daerah yang kurang ketat pengawasannya.

Padahal, pada sisi fiskal, Bea Cukai berperan pula mendatangkan pemasukan pada APBN. Tahun 2007, misalnya, ditargetkan terkumpul Rp 52 triliun.
Publikasi atas sejumlah temuan Bea dan Cukai ditengarai merupakan puncak gunung es. Kejahatan yang sesungguhnya terjadi diduga banyak berlangsung di bawah permukaan hingga tak pernah tercium.

Selain berpotensi merugikan perekonomian nasional, kejahatan penyelundupan berpotensi pula mendatangkan bibit-bibit penyakit menular, hama dan lain sebagainya sebagai akibat masuknya hewan atau tanaman secara tidak sah di pintu karantina Bea dan Cukai.

Berbagai Temuan
Untuk menyegarkan ingatan saja, terdapat beberapa contoh prestasi yang dicapai Bea Cukai belakangan ini. Misalnya, temuan tabung dan kompor gas ilegal di Tanjung Priok. Ketika perlu tidaknya impor tabung dan kompor gas untuk kebutuhan ‘program konversi minyak tanah ke gas elpiji’ masih berupa wacana, aparat Bea dan Cukai di Tanjung Priok sudah berhasil membongkar kontainer berisi tabung dan kompor gas impor. Pada tabung tercantum tulisan diproduksi oleh Pertamina tetapi institusi dimaksud tak merasa memproduksi apalagi mengimpornya.

Kantor Pelayanan Utama (KPU) Bea dan Cukai Pelabuhan Tanjung Priok juga berhasil mencegah masuknya satu peti kemas ukuran 40 kaki berisi kondom bekas pakai dan gumpalan karet (14/12). Barang impor dari Jerman jenis ini biasanya digolongkan sebagai limbah klinis yang berpotensi menimbulkan penyakit (patogen). Kalaupun kondom bekas pakai dapat dikelompokkan sebagai limbah, berarti, selama ini Indonesia sangat toleran bahkan longgar untuk urusan-urusan seperti ini.

Atau, kalau pada dokumen transportasi laut (bill of lading) disebutkan bahwa peti kemas berisi “new process scrap & wastes of natural latex condoms” dengan berat bersih 25.280 kilogram, kondom bekas pakai tentu tidak dapat digolongkan sebagai potongan karet (rubber scrap) yang boleh diimpor. Contoh potongan karet yang lazim diimpor adalah potongan-potongan ban karet.

Kalau saja kondom bekas pakai jadi didaur ulang, yang diduga akan digunakan menjadi bahan baku pembuatan permen karet, maka rasa permen karetnya kemungkinan adalah rasa cumi dan ikan laut alias amis.

Tak lama setelah ramai kabar kedatangan kondom bekas dari Jerman, Rabu (19/12) KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok lagi-lagi berhasil menahan 26 ton kondom rusak buangan pabrik asal Vietnam. Keberhasilan ini merupakan pengembangan penyelidikan dua kontainer kondom bekas dari Jerman, yang didatangkan oleh perusahaan yang sama yakni PT Rubber and Rubber Tech (RRT).

Meski dibungkus rapi dengan kantong kertas, aroma kondom Vietnam sangat menusuk hidung. Entahlah, apakah karena kandungannya berupa bakteri yang berbahaya bagi kesehatan manusia, atau tidak.

Sebulan sebelumnya, kedatangan tiga buah mobil mewah selundupan berhasil dibongkar oleh Bea dan Cukai pada 12 November 2007. Sekalipun sudah ditinjau oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani, ketiga mobil tetap teronggok di Tempat Penimbunan Pabean (TPP) KPU Tanjung Priok. Mobil memiliki dokumen lengkap tapi tak jelas siapa pemilik yang sah.

Kedatangan ketiga mobil mewah menggunakan nama Kedutaan Besar Afghanistan, Cile, dan Pakistan, itu terdiri dari sedan bermerek Lamborghini seharga Rp 3,8 miliar, Rolls Royce Phantom Rp 6 miliar, dan Ferrari Rp 2 miliar. Sejak 2003, sudah 208 mobil selundupan yang berhasil ditangkap Bea Cukai, semuanya menggunakan fasilitas impor diplomatik.

Narkotika juga termasuk barang haram yang sering diselundupkan. Petugas Bea dan Cukai Bandara Soekarno-Hatta, Kamis (13/12) berhasil menyita 1.740 butir ekstasi di Terminal Kargo Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten. Untuk mengelabui petugas, ekstasi dimasukkan ke dalam knalpot motor dan mobil. Dalam pemeriksaan kargo, petugas mencurigai empat kotak suku cadang kendaraan bermotor. Setelah melalui pemeriksaan X-ray petugas menemukan barang bentuk serbuk di dalam kotak kiriman. Setelah diselidiki, ternyata kotak berisi ribuan ekstasi.
Pada akhir Agustus 2007 KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok juga berhasil menggagalkan penggelapan 22 kontainer berisi 506.380 kilogram tepung daging dan tepung tulang (meat bone meal/MBM), yang diperkirakan berpotensi merugikan negara hingga Rp 5,1 miliar.

Sedangkan penyelundupan ribuan handphone termasuk modus yang sering tercium oleh Bea dan Cukai. Seperti terjadi pada 27 Desember 2007 lalu, dan Juni 2007, melalui Bandara Soekarno-Hatta.

Pada pertengahan Mei 2007, Kantor Wilayah IV Bea Cukai berhasil mengamankan sembilan kapal motor pengangkut jenis barang terlarang sebab tidak dilindungi manifest. Penyelundupan ini diperkirakan dapat merugikan keuangan negara sekitar Rp 31 miliar.

Bea Cukai Bekasi pada awal April 2007 juga berhasil menggagalkan penyelundupan dua kontainer tekstil impor asal Korea Selatan senilai Rp 2 miliar. Pencegahan dilakukan karena terdapat pelanggaran kepabeanan fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE).

Berperan Penting
Bea Cukai sangat berperan penting dalam perdagangan internasional sebagai fasilitator perdagangan atau Trade Facilitator. Pada posisi ini Bea Cukai seharusnya memberikan pelayanan kepada masyarakat bercirikan save time, save cost, safety, dan simple.

Kegagalan Bea Cukai menekan ekonomi biaya tinggi dapat mengakibatkan kegagalan ekonomi Indonesia untuk memanfaatkan peluang. Atau, gagal mengubahkan keuntungan komparatif menjadi keuntungan kompetitif. Secara substansial dapat pula mengakibatkan investor yang semula akan melakukan investasi di Indonesia, menjadi lari.

Sebagai salah satu institusi yang menjaga keseimbangan fiskal, demikian pula sebagai pengawas keluar-masuk barang antar negara, Bea Cukai adalah lembaga yang dibenci sekaligus dirindu. Dibenci, sebab institusi ini dicitrakan kerap memperlakukan pengguna jasa secara buruk. Tetapi sekaligus pula dirindu sebab tanpa pintu Bea dan Cukai tak ada fulus dolar mengalir hasil aktivitas perekonomian internasional.

Wajah buram Bea Cukai dibeberkan oleh LPEM Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM FE-UI) Jakarta, yang bersama Bank Dunia dan disponsori Pemerintah Kerajaan Belanda pernah memaparkan hasil survei yang diberi nama Investment Climate Monitoring Activity, Prelimenary Results.

Pada April-Mei 2005 wawancara terhadap 600 pengusaha manufaktur tersebar di Medan, Makassar, Surabaya, Semarang, dan Jabotabek berhasil menyimpulkan Bea dan Cukai sebagai institusi negara paling korup. Sebanyak 82 persen responden mengaku harus menyogok saat mereka berhubungan dengan oknum-oknum Bea dan Cukai. Total sogokan yang harus dirogoh mencapai 2,3 persen dari total nilai impor.

LPEM FE-UI menyebutkan besaran angka tersebut luar biasa. Jika mengacu kepada total nilai impor non migas Indonesia selama tahun 2004, yang mencapai 35 miliar dollar AS, itu berarti dalam setahun mengalir uang sogok 800 juta dollar AS, yang jika dirupiahkan Rp 7 triliun.

Dalam sudut pandang dan perhitungan berbeda, Dirjen Bea Cukai Anwar Supriyadi mengakui sogok-menyogok benar terjadi di lingkungannya. Mengacu kepada Laporan Hasil Kajian Sistem Administrasi Impor pada Ditjen Bea Cukai, yang dilakukan oleh Direktorat Monitor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Anwar menyebutkan pungutan liar di kantornya mencapai Rp 13,7 miliar per bulan.

Dalam kajiannya, KPK melakukan observasi di Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tanjung Priok I, II, dan III pada 8 Januari hingga 8 Maret 2007. Setiap proses pelayanan seperti proses pemeriksaan barang, pengangkutan ke kontainer, dan sebagainya diamati. Di titik-titik pengamatan, KPK mengidentifikasi jenis pungutan dan tindak kolusi yang terjadi antara aparat Bea dan Cukai dengan pengguna jasa. KPK menghitung besar pungutan siluman Rp 890 juta per bulan, dan komisi Rp 12,795 miliar.

Anwar Supriyadi yang mantan Dirut Perumka, yang selama karirnya berhasil mengubahkan wajah PJKA yang buram menjadi Perumka yang berorientasi bisnis dan profit yang jasa-jasanya layak dijual ke masyarakat pengguna, sesungguhnya tidak tinggal diam apalagi menutup mata terhadap fakta pungutan liar.

Untuk memangkas pungutan liar, dia lantas membentuk Kantor Pelayanan Umum (KPU) Bea dan Cukai, sebuah kantor modern untuk mereformasi pelayanan kepada pengguna jasa kepabeanan dan cukai.

Kantor Wilayah Bea Cukai Tanjung Priok adalah KPU pertama yang diresmikan sekaligus dijadikan percontohan. “Bea dan Cukai dituntut melakukan perbaikan indeks pelayanan publik dan indeks persepsi korupsi. Selama ini citra kami begitu buruknya,” kata Anwar, yang optimis bisa mengurangi pungutan liar hingga 25 persennya per tahun sehingga dalam lima tahun ke depan tidak akan ada lagi pungutan liar.

Tekad Anwar Supriyadi meniadakan pungutan liar hingga nol persen harus dibuktikan. Demikian pula soal penyelundupan yang dapat dikategorikan sebagai kejahatan luar biasa terhadap kemanusiaan. Masalah penyelundupan sangat kompleks dan rumit sebab terdapat 30 institusi yang beroperasi di setiap pelabuhan di Indonesia. Kondisi Indonesia ini berbeda dengan ketentuan International Custom Practice, yang hanya menyisakan tiga instansi beroperasi di pelabuhan yaitu untuk menangani custom, imigrasi, dan karantina.

Selain berjanji membenahi pungutan liar, terdapat sebuah janji lain Anwar yang harus pula dibuktikan dalam waktu segera. Yaitu berjanji mencegah masuknya barang-barang tekstil dari China secara ilegal. “Mencegah masuknya cukai dan barang-barang dari China secara ilegal merupakan prioritas yang kini tengah kami giatkan,” kata Anwar. HT (BI 53)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com