Majalah Berita Indonesia

Saturday, Apr 29th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Khas Mudik Lebaran Cermin Sukses dan Prestise
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Mudik Lebaran Cermin Sukses dan Prestise

E-mail Print PDF

Kepadatan arus lalu lintas arus mudik di jalan tol.Tradisi mudik Lebaran tak terbendung. Jumlah pemudik bertambah dari tahun ke tahun. Belakangan muncul fenomena bermudik ria dengan sepeda motor. Di balik motivasi ritual, tersembunyi kebanggaan memamerkan kesuksesan di kampung halaman.

Sekali setahun, setiap menjelang Idul Fitri, mudik punya daya tarik magis dan ritual. Jutaan muslim harus berdesak-desakan diterminal bus, stasiun kereta api, di bandar udara, pelabuhan dan jalan raya untuk merayakan Idul Fitri—lebih dikenal dengan Lebaran—di kampung halaman bersama sanak saudara. Mereka tak peduli berapa pun uang dikuras dari kantong dan tabungan, bahkan ada yang menyabung nyawa, asalkan bisa shalat Ied dan bersilaturahmi di kampung. Di antara para pemudik—dari lapisan mana pun—di balik nilai ritual, terpendam kebanggaan untuk memamerkan keberhasilan mereka di Jakarta, ibukota negara yang penuh pergulatan dan persaingan.

Kecenderungan dalam dua tahun terakhir, terutama para pemudik yang berasal dari daerah-daerah di Jawa, mudik bersama keluarga dengan sepeda motor. Bisa dibayangkan betapa letihnya dan berisikonya bersepeda motor dalam jarak ratusan kilometer. Namun keinginan untuk berlebaran dan bertemu sanak keluarga di kampung mengalahkan keletihan dan risiko di jalan raya.

Tak pelak lagi, di balik kegiatan mudik terpendam motif bisnis. Banyak perusahaan memanfaatkan momentum mudik sebagai sarana promosi produk-produk mereka untuk menjalin hubungan yang berbau bisnis dengan para konsumen dan relasi. Puncak kegiatan mudik menjadi tontonan dan fokus liputan pada semua stasiun televisi, pemberitaan di radio dan media cetak.

Suratkabar harian terkemuka, Kompas, menurunkan laporan utama dan foto yang menonjol di halaman satu sejak edisi 18 Oktober. Suasana mudik sudah terasa di Bandara Soekarno-Hatta serta di sejumlah stasiun kereta api dan terminal bus, demikian tulis harian yang beroplah lebih dari 500.000 eksemplar tersebut. Perkiraan Kompas tidak meleset bahwa lonjakan penumpang yang mudik terjadi pada H-4 dan H-3 Lebaran atau pada Jumat dan Sabtu. Shalat Ied tahun ini berlangsung hari Senin (22/10) untuk versi Muhammadiyah dan Selasa (23/10) untuk versi pemerintah. Kompas mencatat, jumlah penumpang di Bandara Soekarno-Hatta hingga Rabu pukul 18.00 sudah mencapai 30.737 orang untuk tujuan domestik, meningkat dari 26.717 orang pada keberangkatan sehari sebelumnya.

Juga dilaporkan, sekitar 17.000 pedagang jamu se-Jabodetabek menikmati sajian panggung hiburan sebelum mudik lebaran gratis ke kampung halaman masing-masing yang digelar produsen jamu PT Sido Muncul di arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, Jakarta, Rabu (18/10).
Kompas masih mengulas tradisi mudik dalam tajuk rencana (19/10), berjudul: Mengatur Mudik yang Aman. Tulis Kompas, apa boleh buat itulah yang harus menjadi tanggung jawab kita bersama. Tidak bisa lagi kita mengharapkan pemerintah bisa menangani semua persoalan. Kita hanya akan merasa kecewa kalau mengharapkan pemerintah akan bisa menangani semua persoalan mudik dengan baik. Sebab, pertama, efektivitas pemerintahan, khususnya dukungan dari birokrasi, memang tidak berjalan dengan baik. Kedua, cara dan kultur bekerja kita yang selalu ad hoc belum juga berubah. Karena itu, suratkabar yang beredar luas dan sangat berpengaruh ini menilai kesiapan fisik dan kesiapan alat transportasi menjadi kata kunci. Apalagi jumlah pemudik yang menggunakan sepeda motor diperkirakan meningkat 40%. “Mari kita jadikan Idul Fitri kali ini sebagai Idul Fitri yang aman,” tulis Kompas dalam tajuknya.

Jalur mudik Jawa Bali dan Madura 2006

Pada edisi 31 Oktober, Kompas, menurunkan laporan di halaman dua, berjudul: Bandara Kelebihan Beban. Mengutip Dirjen Perhubungan Udara M. Ikhsan Tatang melaporkan sebagian besar Bandara di Indonesia sudah kelebihan beban penumpang, terutama pada momentum Lebaran. Pada arus puncak mudik dan balik, ribuan penumpang harus berdesakan di ruang-ruang tunggu Bandara. Idealnya, seorang penumpang membutuhkan ruang selebar 10 meter persegi di Bandara domestik, sekarang kurang dari 5 meter persegi. Kapasitas terminal Bandara Soekarno-Hatta 18 juta penumpang per tahun, namun pada hari-hari menjelang Lebaran memuncak sampai 26 juta lebih. Selain Soekarno-Hatta, Bandara-Bandara lain yang perlu perluasan, termasuk Surabaya, Palembang, Balikpapan, Makasar, Padang dan Palangkaraya.

Di sisi lain, Kompas menulis di halaman yang sama, minat orang untuk menggunakan moda angkutan kapal laut sebagai angkutan mudik Lebaran semakin menurun sejak tahun 2000. Penyebab kecenderungan penurunan ini, sudah lebih banyak orang yang memilih angkutan udara. Di Pelabuhan Tanjung Priok (30/10), KM Sinabung dari Makassar, tangga kapal masih lengang. Kapal laut yang berkapasitas 2.500 orang ini hanya memuat penumpang arus balik 1.006 orang. Menurut data PT Pelindo II, jumlah debarkasi dan embarkasi di terminal Tanjung Priok, tahun 2001 mencapai 1,7 juta orang. Jumlah ini merosot dari tahun ke tahun: tahun 2002 sebanyak 1,43 juta orang, tahun 2003 turun jadi 837.810 orang, turun lagi menjadi 619.995 pada tahun 2004, berkurang menjadi 577.021 orang tahun 2005. Tetapi melonjak jadi 746.110 orang pada tahun 2006.

Bandara Tertutup Asap
Sementara itu, suratkabar pro-Golkar, Media Indonesia edisi 20 Oktober, memuat foto utama di halaman satu setinggi tiga per empat halaman, menggambarkan konvoi ribuan mobil merambat beriringan di sepanjang jalan tol Jakarta-Cikampek. Foto utama halaman satu lainnya, yakni pada edisi 23/10 memanjang enam kolom, merekam gambar ratusan pemudi bersepeda motor yang sedang antri mengisi bensin di SPBU Pamanukan, Jabar. Pompa bensin itu diserbu oleh para pemudik hanya sehari sebelum Idul Fitri 1427 H, Selasa (24/10).

MI memperkirakan, tahun ini tiga juta pemudik mengendarai sepeda motor. Harian milik petinggi Golkar, Suryo Paloh, ini juga menengarai adanya fenomena baru bahwa para pemudik menyerbu kapal laut tujuan Pontianak. Akibatnya, KM Lawit harus mengangkut penumpang melebihi kapasitas. Kapasitas kapal milik Pelni ini hanya 1.700 orang, tetapi Rabu (18/10) KM Lawit yang berangkat dari pelabuhan Tanjung Priok, dijejali 1.900 penumpang. MI mengutip seorang penumpang, Leny (31) mengatakan, dia bersama keluarganya terpaksa mudik dengan kapal laut karena penerbangan ke Pontianak terganggu asap. Sebanyak 8.000 penumpang pesawat gagal berangkat karena Bandara Cilik Riwut tidak bisa didarati. Juga 7.000 penumpang Jakarta-Jambi, Jambi-Jakarta, tidak bisa terbang karena Bandara Sultan Thaha tertutup asap.

MI, edisi 22 Oktober, juga menurunkan berita utama halaman satu, berjudul: Selatan Kian Padat. Tulis MI, arus mudik di kawasan timur P. Jawa melalui jalur utara dan selatan hingga Minggu malam semakin padat. Antrian kendaraan dari Jakarta memasuki pintu tol Cikampek, terjadi sejak Jumat malam. Mereka melanjutkan perjalanan melalui jalur Pantura. Sedangkan pada edisi sehari sebelumnya (21/10), MI menurunkan laporan utama di halaman satu tentang puncak arus mudik (Jumat), khususnya dengan kapal laut dan kereta api. Hari itu, sebanyak 11.000 penumpang berangkat dari Tanjung Priok menuju Batam, Belawan, Ambon dan Pontianak. Total pemudik dengan kapal laut mencapai 746.110 orang meningkat dari 710.581 tahun lalu. Malam harinya, pemudik yang menumpang kereta api menuju Jateng dan Jatim mencapai 50.000 orang.

MI juga melaporkan kecelakaan yang terjadi di dua lokasi, menewaskan 12 orang. Kecelakaan di Indramayu menelan 8 korban tewas, dan di jalur selatan, Jalan Raya Ciamis, menelan 4 nyawa. Harian Indo Pos (26/10) juga melaporkan kecelakaan di tempat rekreasi di Baturaden pasca-Lebaran. Jembatan gantung Baturaden putus, menewaskan 11 orang yang sedang menikmati wisata lebaran. Demikian juga di Danau Singkarak Sumatra, dua orang tewas karena perahu mereka terbalik.

Koran Bisnis Indonesia, edisi Minggu (22/10), dalam berita utama halaman satu menyorot perjalanan mudik dari aspek bisnis. Laporan utama koran milik pengusaha papan atas Sahid Gitosardjono ini menurunkan berita utama berjudul: Layani Mudik Sambil Promosi. Tulis BI, sejumlah perusahaan berlomba memberikan pelayanan kepada para pemudik. Mulai dari bus sampai bengkel siaga 24 jam, travel pribadi dan tempat istirahat. Beberapa perusahaan yang menyelenggarakan program tersebut, antara lain: PT Indofood Sukses Makmur, PT BNI, PT Telkomsel, Sari Wangi, PT Gudang Garam dan PT Jaya Board. BNI saja tahun ini memberangkatkan 5.500 nasabah dengan biaya Rp 1 miliar. Indofood menyelenggarakan program mudik bersama sejak tahun 1994. Tahun ini memberangkatkan 8.885 pemudik pedagang mie dari wilayah Jabodetabek, Serang dan Karawang dengan menggunakan 161 bus. Sedangkan Sari Wangi dari PT Unilever, menyediakan 100 Kijang Innova bagi para konsumen. Program ini berlaku bagi para pemudik dari P. Jawa, Madura dan Lampung.

Harian berhaluan Islam, Republika edisi 20 Oktober, menurunkan berita utama halaman satu berjudul: Puncak Mudik Mulai Malam Ini. Menurut koran ini, lonjakan arus mudik berbagai moda transportasi, baik darat, laut, udara terjadi sejak Kamis (18/10). Di jalur Pantura, data kendaraan bermotor yang melewati Indramayu (pukul 6.00-12.00 WIB): sepeda motor 11.150 unit dan mobil pribadi 4.471 unit. Sehari sebelumnya: sepeda motor 15.189 unit dan mobil pribadi 8.460 unit. Di Bandara, lonjakan penumpang terjadi rata-rata 10.000 per hari, sebagian besar menuju Jawa. Demikian juga mereka yang menggunakan kereta api dan kapal laut.

Kemudian pada edisi Minggu (22/10), Republika menempatkan kecelakaan yang merenggut 8 nyawa pada berita utama halaman satu. Tulis Republika, jalur Pantura meminta korban jiwa delapan orang. Mereka tewas dalam tabrakan maut antara mobil Isuzu Panther dan Bus Pariwisata Tanijaya di ruas jalan Desa Santing, Losarang, Indramayu. Sopir Isuzu Panther Sartono (49), warga Kalianyar Jakbar diduga mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi saat peristiwa itu terjadi. Akibatnya, tidak bisa mengendalikan mobilnya sehingga nyelonong ke jalur seberang. Pada saat yang bersamaan muncul bus Pariwisata. Tabrakan tak terhindarkan.

Harian sore, Suara Pembaruan, menurunkan berita utama halaman satu (22/10) dengan judul: Susahnya Mudik Nyaman. Koran ini melengkapi berita utamanya dengan grafik arus mudik-balik kendaraan bermotor. Arus lalulintas kendaraan bermotor (tanpa sepeda motor) tahun 2005 sebanyak 1.581.983, turun menjadi 1.471.300. Terbanyak lewat Pantura (Cikampek): arus mudik 216.654, arus balik 188.902 (2005). Tahun 2006, mudik 195.396, balik 194.324.

SP mengutip Menteri Perhubungan Hatta Rajasa mengakui, angkutan Lebaran tahun ini masih memiliki persoalan yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Juga dikutip pernyataan anggota DPR dari Komisi V, Aswar Anas yang menyesalkan belum adanya kebijakan radikal pemerintah untuk mengubah pola angkutan Lebaran. “Problemnya bukan hanya soal transportasi, tetapi juga prasarana dan manajemen,” kata Aswar. Angkutan mudik Lebaran menurut Aswar masih diwarnai kemacetan, kecelakaan, penumpukan penumpang di terminal bis, stasiun kereta api, pelabuhan dan Bandara. Menurut data yang diperoleh SP, tahun ini, angkutan darat (mobil) sebanyak 6,83 juta, kereta api 2,76 juta, sungai, danau dan penyebrangan 2,59 juta, dan udara 1,47 juta. Angkutan laut 746.110.

Hari berikutnya, Sabtu (21/10), SP masih menurunkan berita utama halaman satu berjudul: Jakarta-Indramayu Tujuh Jam. Puncak arus mudik terjadi Sabtu (21/10). Arus lalulintas di jalur Pantura, Jabar macet total. Menurut SP, kemacetan mulai terjadi di pintu tol Cikampek sampai Indramayu. Akibatnya waktu tempuh Jakarta-Indramayu yang biasanya paling lama tiga jam bertambah menjadi tujuh jam lebih. Kecepatan kendaraan pemudik hanya sekitar 10 KM per jam. Koran sore ini juga merekam komentar beberapa pemudik bahwa kemacetan sudah dimulai di pintu tol Jatibening, Bekasi sampai pintu tol Cikampek. Selepas daerah Patrol, tepatnya di Kampung Eretan Kulon, kemacetan total terjadi. Kendaraan pemudik nyaris tidak bergerak. Tahun ini, para pemudik yang menggunakan sepeda motor 1,5 juta orang, jika dikalikan dua orang menjadi 3 juta orang yang menuju Jawa Tengah.

SP masih merasa perlu menurunkan tajuk rencana untuk menekankan pentingnya pengamanan dan kenyamanan angkutan mudik Lebaran. Agaknya koran ini mewakili aspirasi para pemudik, menulis tajuk dengan judul: Kapan Bisa Mudik Aman dan Nyaman? Tulis SP, berbagai jenis kendaraan, seperti bus, kendaraan serba guna dan bak terbuka semuanya penuh dengan pemudik beserta barang bawaan mereka. Semua berjalan lambat karena padatnya lalulintas di jalan tol. Kendaraan umumnya penuh sesak dengan penumpang, termasuk bak terbuka yang ditutup dengan terpal. Dari segi kenyamanan, tentunya semua jauh dari yang diharapkan, karena kondisi kendaraan yang digunakan terlihat tidak nyaman, penuh sesak dengan orang dan barang.

Karena itu harian ini menyampaikan saran, kondisi seperti ini membuat kita harus mengkaji ulang apa yang sebenarnya telah kita lakukan untuk memberi keamanan dan kenyamanan kepada rakyat yang setiap tahun melakukan kegiatan yang sama, yaitu mudik Lebaran. Setiap tahun kita juga melihat bahwa keamanan belum menjadi prioritas angkutan mudik Lebaran. Dalam hal mereka yang menggunakan sepeda motor, pemerintah semestinya tidak bangga. Ini menunjukkan ketidakmampuan pemerintah memberi pelayanan kepada masyarakat yang bermudik Lebaran. Sementara itu tradisi mudik tidak mungkin bisa dihilangkan. “Karena tidak ada jalan lain, pemerintah harus terus memperbaiki pelayanan angkutan lebaran,” tulis SP.

Suratkabar harian berbentuk tabloid mini milik Tempo Grup, Koran Tempo, pada berita utama halaman satu (19/10), membuat peta P. Jawa dan jalur mudik untuk semua daerah di Jawa. Peta ini sekaligus menjadi foto utama koran tersebut. Karena kepadatan jalur utama—Pantura dan Selatan—para pemudik ada yang menempuh jalur alternatif, tetapi kebanyakan rusak parah. “Indo Mie dan Sido Muncul berlomba membikin Posko di sepanjang jalur mudik,” tulis Koran Tempo.
Perjalanan mudik memang sudah berakhir. Maka yang terjadi hari-hari ini adalah banjir arus balik dari kampung menuju Jakarta. Namun masih banyak pemudik yang memperpanjang masa liburan mereka di kampung. Pada edisi 29 Oktober, KT menurunkan berita utama halaman tiga berjudul: Puncak Arus Balik. Tulis KT melaporkan, arus balik pemudik menuju Jakarta mencapai puncak Minggu (28/10), dan Senin (30/10). Stasiun kereta api dan terminal bus tampak dipenuhi lautan manusia. Sedangkan ruas-ruas jalan di Pantura Jawa, Puncak dan jalan tol, dipadati kendaraan pemudik yang kembali ke ibukota.

Jubir PT KAI Daerah Operasi I Jakarta Akhmad Sujadi yang dikutip KT, memperkirakan 55.000 penumpang kemarinnya telah diangkut dengan 63 gerbong KA reguler dan delapan KA tambahan. Hari Senin mencapai 70.000 pemudik yang kembali ke Jakarta. Arus balik pemudik yang menggunakan bus juga membludak. Di terminal bus Lebak Bulus, Jakarta Selatan, jumlah penumpang bus pada hari Minggu diperkirakan 4.775 orang. Mereka tiba dengan 347 bus. Di terminal Kalideres, Jakarta Barat, arus balik tercatat 2.358 penumpang. Di terminal Pulogadung 27.200 penumpang. Total arus balik mencapai 78.194 orang diangkut oleh 2.930 bus.

Sedangkan arus balik dengan kendaraan pribadi dan sepeda motor memadati jalur Pantura. Sampai Minggu siang, arus balik mencapai 34.892 kendaraan, separuhnya sepeda motor. PT Jasa Marga mencatat kendaraan yang melewati jalan tol rata-rata 130-150 per menit. SH (Berita Indonesia 25)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com