Memakai kacamata untuk mengatasi gangguan penglihatan merupakan solusi yang paling mudah, murah dan paling umum bagi kebanyakan orang. Tapi bila Anda ingin bergerak bebas tanpa kacamata atau lensa kontak, LASIK adalah solusinya.
Gangguan penglihatan seperti rabun jauh (miopia), rabun dekat (hypermetropia) atau silinder (astigmatisma) akan membuat mata tak berfungsi dengan normal. Contohnya saja pada orang dengan rabun jauh (miopia) dimana bayangan dari benda yang dilihat akan jatuh di depan retina sehingga untuk mendapatkan penglihatan yang lebih jelas orang itu harus mendekatkan benda ke matanya.
Hal inilah yang dulu dialami oleh Ramos saat membaca buku atau menonton televisi. “Sejak SD Ramos selalu membaca buku dengan jarak baca sekitar 15 cm, dan kalau menonton TV harus duduk dekat dengan TV,” jelas ibunya. Melihat kejanggalan tersebut, ibunya membawa sang anak memeriksakan matanya ke dokter.
Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, diketahui Ramos yang baru berusia 10 tahun itu mengalami minus 2 pada mata kanan dan minus 1,5 pada mata kiri. Untuk mengatasinya Ramos dianjurkan memakai kacamata. Seiring pertambahan umur dimana mata juga mengalami pertumbuhan, minus pada mata Ramos semakin bertambah. Terakhir pemeriksaan diketahui mata kanan minus 8,25 dengan silinder 1,5 dan mata kiri minus 7,75 dengan silinder 1.
Kondisi itu membuat Ramos semakin tergantung dengan kacamata. Sejak bangun pagi sampai mau tidur malam, kecuali mandi, kacamata selalu dipakainya. Padahal pria yang bekerja di perusahaan media ini cukup dinamis dan aktif. Saat disarankan untuk memakai lensa kontak, Ramos menolaknya dengan alasan takut memasukkan benda asing ke dalam matanya.
Kehadiran teknologi LASIK (Laser-Assisted In situ Keratomileusis) yang katanya bisa menyembuhkan mata rabun jauh menarik perhatian Ramos. Teknologi LASIK adalah suatu tindakan bedah mata dengan laser refraktif yang dilakukan oleh oftalmologis (dokter ahli mata) untuk memperbaiki miopi, hipermetropi, dan astigmatisma.
Dr.Ferdiriva Hamzah, SpM yang bekerja di sebuah klinik mata LASIK menjelaskan, tidak semua pasien dapat di-lasik. Kriteria umumnya antara lain berusia 18 tahun ke atas, kedua mata harus dalam keadaan sehat, ukuran kacamata stabil minimal 6 bulan, tidak sedang hamil, melepas soft lens selama 14 hari atau hard lens selama 30 hari sebelum lasik.
Tak hanya itu, kandidat lasik harus menjalani pemeriksaan awal. Kornea pasien diperiksa menggunakan pakimeter untuk diukur ketebalannya dan dengan sebuah topografer untuk mengukur kontur permukaannya dan mendeteksi astigmatisma serta kelainan bentuk kornea lainnya. Dengan menggunakan informasi ini, dokter dapat menghitung jumlah dan lokasi jaringan kornea yang akan dihilangkan dengan sinar laser.
Bila seluruh kriteria memenuhi syarat, barulah pasien dapat menjalani operasi lasik. Proses lasik memiliki dua tahap, yakni pembuatan flap dan penyinaran laser untuk mengikis kornea. Sebuah corneal suction ring diletakkan pada bola mata, membuat mata tetap pada tempatnya (supaya tidak bergerak). Lalu mikrokeratom, semacam pisau elektrik, digunakan untuk memotong lapisan permukaan kornea secara melingkar (disebut flap). Flap dibuka lalu bola mata ditembak sinar laser untuk mengikis jaringan/stroma kornea. Setelah itu, flap dikembalikan ke tempat semula/ditutup.
Teknologi yang lebih maju adalah pembuatan flap tanpa pisau mikrokeratom, tapi dengan femtosecond laser (intraLASIK). “Flap yang dibuat dengan laser memang lebih tipis, lebih aman, lebih akurat dan lebih cepat dalam pemulihan pasca lasik,” jelas Dr. Ferdiriva. Ini sangat berguna bagi kandidat lasik yang korneanya tipis.
“Beberapa pasien yang saya lasik menggunakan teknik intraLASIK. Ada yang karena ingin lebih safety, tapi ada juga yang karena terpaksa akibat korneanya kurang tebal. Kornea yang tebal diperlukan untuk tiga hal yaitu dibuat flap, dibuang sebagian dengan laser, dan disisakan agar mata dapat berfungsi baik,” kata dokter yang telah banyak menangani operasi LASIK ini.
Dengan beberapa kelebihan teknik intraLASIK ini, tak heran bila penggunaan teknologi intraLASIK ini disetujui lembaga-lembaga terkemuka di dunia, seperti US Army, US Navy, US Air Force, Marine Corps dan NASA.
Namun demikian, Dr. Ferdiriva mengatakan setiap tindakan operatif ada komplikasinya, begitu pula lasik. Subconjunctival hemorrhage (perdarahan pada bagian putih mata) adalah komplikasi minor yang umum setelah tindakan lasik. Kemungkinan terjadinya under atau overcorrection juga ada walau lebih jarang. Sedangkan komplikasi paling umum dari tindakan bedah refraktif adalah mata kering dan silau.
Setelah mendapat informasi lengkap baik dari internet dan ahlinya langsung, Ramos pun menjalani operasi lasik di sebuah klinik mata awal Maret lalu. “Saya memilih lasik konvensional dengan mikrokeratom karena lebih terjangkau biayanya,” akunya. Dari segi biaya, lasik termasuk mahal. Kisarannya antara 12-25 juta untuk 2 mata tergantung klinik matanya dan teknik yang digunakan (intraLASIK lebih mahal).
“Mulai masuk ke ruang operasi sampai selesai lasik hanya 30 menit saja, dan saya dapat langsung pulang,” kata Ramos. “Awalnya mata saya diberi obat tetes (anestesi topikal) beberapa kali. Lalu saya berbaring dengan posisi kepala tepat di bawah mesin yang akan mengoperasi mata saya. Ujung kaki saya diberi bantalan dan kedua tangan saya diberi bola kenyal untuk dikepal”.
“Saat berbaring, saya diminta melihat lurus ke depan sambil menatap satu titik cahaya berwarna merah. Ketika mikrokeratom memotong, saya bisa merasakan ada objek yang lewat di mata saya. Setelah itu, saya merasa seperti ada sesuatu yang diangkat dari mata saya. Rupanya itulah saat dimana flap dibuka. Setelah flap dibuka, saya cuma melihat warna putih dengan banyak titik. Dan saya tidak tahu apa yang sedang terjadi, tetapi belakangan setelah melihat video rekaman operasi, di saat itulah mata saya sedang dilaser,” cerita pria berumur tiga puluh satu tahun itu.
Setelah operasi, Ramos diberikan tetes mata antibiotik, anti-inflamasi, dan tetes mata yang berfungsi seperti air mata buatan untuk digunakan selama beberapa minggu. Ia juga disuruh tidur lebih banyak dan memakai kacamata hitam untuk melindungi mata dari cahaya, tidak menggosok atau mengucek mata. Ketika tidur diharuskan memakai eye shield/penutup mata untuk mencegah mengucek mata secara tak sadar saat tidur.
Keesokan harinya, Ramos kembali kontrol ke Dr. Ferdiriva. Kontrol hari pertama ini dimaksudkan untuk melihat posisi flap apakah letaknya sudah kembali normal dan mengetahui tajam penglihatan pasca lasik. Hasil yang ideal bila sesuai penglihatan normal yang memiliki skor 6/6 (20/20 dalam ukuran feet) yang berarti mampu melihat jelas huruf dengan jarak baca 6 meter dari Snellen chart (poster yang dipakai untuk pemeriksaan).
Jadual kontrol berikutnya adalah seminggu setelah lasik. Dalam kurun waktu tersebut, semua obat tetes harus diberikan secara teratur. Karena produksi air mata sangat berkurang sehingga dapat timbul sindroma mata kering. Hal ini dapat menyebabkan penurunan daya pandang, kabur, silau terutama pada malam hari, dan tidak nyaman. Pada kontrol kedua ini, dokter akan melihat apakah flap telah melekat cukup kuat. Sekaligus menguji kembali tajam penglihatan pasien apakah sudah lebih baik.
Selanjutnya pasien dianjurkan kontrol secara rutin 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, dan 1 tahun setelah lasik untuk mengetahui kondisi retinanya. Pada saat kontrol itu pasien juga dapat mengetahui apakah koreksi pada matanya cukup (dapat kurang atau lebih).
Ramos adalah satu dari puluhan juta orang di seluruh dunia yang sudah merasakan manfaat lasik. American Society of Cataract and Refractive (ASCR) mempelajari tiga ribu artikel jurnal yang dikumpulkan komite, 95% mengatakan puas dengan hasil operasi. Namun demikian, seperti dilansir dari Los Angeles Times, Badan Pengawas Makanan dan Obat Amerika Serikat (FDA) telah menerima 140 laporan serius mengenai efek samping lasik sampai tahun 2006.
“Sekarang tidak perlu lagi repot mengenakan kacamata atau terbatas bergerak karena kacamata. Mau baca enak, mau berlama-lama di depan komputer bisa, mau main basket juga ok. Pokoknya saya benar-benar menikmati teknologi lasik,” kata Ramos menutup pembicaraan dengan Berita Indonesia. DGR (Berita Indonesia 75)
| < Prev | Next > |
|---|



