Majalah Berita Indonesia

Saturday, Apr 29th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Kesehatan Gigitan Maut Masih Berlanjut
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Gigitan Maut Masih Berlanjut

E-mail Print PDF

Jumlah korban demam berdarah dengue (DBD) terus bertambah dan lokasinya meluas. DPR minta ditetapkan sebagai kejadian luar biasa. Jika dibanding dengan Kuba, Indonesia jauh lebih kaya. Kuba termasuk negara miskin.

Seyogianya DBD merupakan wabah tahunan yang bisa dicegah.Namun pemerintahnya berhasil menekan korban DBD menjadi nol. Demikian dikatakan Ketua Komisi Kesehatan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), dr Ribka Tjiptaning, seperti dikutip Koran Tempo, 1 Februari 2007.

Menanggapi korban tewas akibat DBD yang semakin bertambah dengan lokasi kejadian yang terus meluas, DPR mendesak pemerintah untuk menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) atas penyakit ini. Sepanjang Januari 2007 tercatat 8.019 orang menderita DBD. Jumlah korban meninggal sampai akhir Januari menjadi 144 orang. Jawa Barat masih menempati posisi pertama, yakni 2.326 kasus dan 47 orang meninggal.

Di Depok, Jawa Barat, dilaporkan bahwa penderita DBD terus bertambah. Sementara di Banten, selama Januari 2007, DBD telah menewaskan lima orang. Dilaporkan Kompas, 1 Februari 2007, Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung tak lagi bisa menampung pasien DBD yang terus bertambah dari hari ke hari. Sebagian dirawat di tenda darurat dan koridor instalasi gawat darurat karena keterbatasan tempat.

Kemudian Media Indonesia, 2 Februari 2007 melaporkan, kota Bandung sendiri telah menyatakan wabah DBD yang menyerang warganya sebagai status KLB. Menurut Walikota Bandung, Dada Rosada, status tersebut karena selama Januari 2007 jumlah pasien DBD meningkat dua kali lipat dibandingkan Januari 2006. Dari 248 kasus tahun 2006, menjadi 508 kasus per Januari 2007.

Dari Pekalongan, Jawa Tengah, dilaporkan sebanyak 16 kecamatan dari 19 kecamatan di kabupaten tersebut dinyatakan endemi DBD. Di Riau, jumlah pasien DBD di awal 2007 mencapai 156 pasien yang tersebar di sejumlah rumah sakit di Pekanbaru.

Sebelumnya, Sinar Harapan, 31 Januari 2007, melaporkan Surabaya tak luput dari serangan nyamuk-nyamuk pembawa virus DBD. Sepanjang Januari 2007, tercatat dua orang meninggal. Sedangkan wabah DBD di Makassar tercatat 50 kasus dengan satu orang meninggal dunia.

Menurut Ribka, perhatian pemerintah terlalu terfokus pada flu burung. Padahal, penyakit-penyakit lainnya juga tak kalah mengkhawatirkan. Peningkatan status, menurut DPR, diperlukan agar penanganan DBD yang selama ini masih sektoral di tangan masing-masing daerah, menjadi lebih terpadu. Anggaran yang dikucurkan pun menjadi maksimal karena mendapat tambahan dari pemerintah pusat.

Seyogianya, DBD merupakan wabah tahunan yang bisa dicegah. Kenyataannya, kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan masih rendah sehingga nyamuk Aedes aegepty sebagai pembawa virus terus berkembang biak, terutama di musim hujan. RH (Berita Indonesia 32)


Bukan Sembarang Sakit Perut
Selain demam berdarah, penyakit diare juga identik dengan musim hujan. Memasuki musim hujan di awal Januari 2007, penyakit ini mulai menyerang sejumlah daerah. Dilaporkan Media Indonesia, 31 Januari 2007, sedikitnya empat penderitanya tewas di Makassar, Sulawesi Selatan dan Medan, Sumatera Utara.

Dalam sehari, Rumah Sakit Umum Pringadi, Medan, mengaku menerima tiga pasien. Sepanjang Januari 2007, rumah sakit tersebut sudah merawat 39 pasien diare. Sebagian besar pasien adalah anak-anak yang berasal dari 21 kecamatan di Medan.

Di Malang, Jawa Timur, jumlah korban tercatat lebih banyak. Setiap bulan sedikitnya 1.500 sampai 2.000 balita dirawat akibat terserang diare. Jumlah itu lebih sedikit dibandingkan penderita dewasa yang rata-rata mencapai 3.000 sampai 5.000 orang.

Mengutip Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Pemkab Malang, Mulyatim Koeswo, penyebab tingginya jumlah penderita diare karena kekurangan air bersih.

Kompas, 1 Februari 2007 dalam rubrik Humaniora-Terawang mengupas masalah diare di kalangan kaum marjinal.

Diare bukan penyakit perut sembarangan, karena diakibatkan mengkonsumsi air minum yang terkontaminasi kotoran manusia. Khususnya bagi masyarakat miskin perkotaan, air bersih adalah barang mewah. Karena sulit mengakses air bersih, maka mereka terpaksa mengkonsumsi air sungai untuk segala kebutuhan.

Kompas menggambarkan kehidupan ibu-ibu di Manggarai Utara, Jakarta Selatan, yang tinggal di bantaran Kali Ciliwung. Kondisi keuangan yang mepet harus mereka sisihkan pula untuk membeli air bersih, untuk keperluan minum dan memasak. Hal serupa dialami mereka yang tinggal di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara. Air sumur di daerah ini umumnya agak berbau.

Data Departemen Kesehatan menunjukkan dari 1.000 bayi yang lahir, 50 diantaranya meninggal karena diare. Hasil riset USAID-Environment Services Programme (ESP) mengonfirmasikan bahwa perilaku kebersihan dan sanitasi yang buruk menyebabkan diare.

Sungai-sungai di Indonesia umumnya dijuluki ’jamban raksasa’ karena masyarakat menggunakan sungai untuk buang air. Sedangkan masyarakat urban perkotaan yang tinggal di pemukiman sempit biasanya tak memiliki jamban karena tak punya lahan untuk membangun septic tank. Sumur yang ada pun tidak diberi pembatas, sehingga saat hujan turun, kotoran di tanah terbawa ke dalam sumur.RH (Berita Indonesia 32)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com