Majalah Berita Indonesia

Sunday, May 28th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Kesehatan Demam yang Mengganas
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Demam yang Mengganas

E-mail Print PDF

Kasus demam berdarah dengue (DBD) terus bertambah seiring datangnya musim hujan. Di sejumlah daerah bahkan merenggut korban jiwa.

Peningkatan kasus DBD di DKI dimulai sejak minggu kedua Januari.Kasus DBD yang semakin meningkat di DKI Jakarta menjadi headline Suara Pembaruan, 24 Januari 2007. Dengan judul “Kasus DBD di DKI Meningkat”. Laporan itu tidak hanya mengulas jumlah pasien di DKI saja, melainkan juga di daerah-daerah lain.

Menurut harian ini, peningkatan kasus DBD di DKI dimulai sejak minggu kedua Januari. Pada periode 1-23 Januari terdapat 955 kasus DBD dengan satu orang meninggal. Angka itu meningkat dari 936 kasus pada Desember 2006, namun tidak ada yang meninggal.

Dinas Kesehatan DKI tak tinggal diam. Selain memantau perkembangan kasus di rumah sakit, pihaknya juga melakukan surveillance aktif di wilayah tempat tinggal penderita.

Mengutip pernyataan Kepala Dinkes DKI Salimar Salim, peningkatan kasus DBD seiring pergantian musim dari kemarau ke musim hujan. Karena itu, masyarakat diharapkan terus melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) agar menghentikan perkembangan nyamuk Aedes aegypti yang menjadi sumber DBD.

Dengan PSN, wilayah berstatus merah DBD bisa ditekan. Penetapan suatu wilayah menjadi berstatus merah DBD didasarkan pada peningkatan jumlah penderita, minimal tiga kasus atau satu kasus kematian dalam satu minggu.

Harian ini juga melaporkan, kasus DBD di Kota Malang telah merenggut 12 jiwa. Jumlah keseluruhan pasien 477 orang. Sementara itu, seperti diberitakan ANTARA, jumlah pasien DBD di Manado selama Januari mencapai 12 orang. Dua diantaranya meninggal.

Media Indonesia, 22 Januari 2007, juga menurunkan laporan yang sama mengenai peningkatan jumlah pasien DBD di DKI.Harian ini melaporkan hasil liputannya di Rumah Sakit Umum Daerah Tarakan, Jakarta Pusat. Menurut pihak rumah sakit, jumlah pasien DBD di bulan Januari merupakan yang tertinggi sejak dua bulan terakhir.

Pihak RSUD Tarakan mengantisipasi membludaknya pasien DBD dengan menyediakan tempat tidur ekstra untuk menampung para pasien DBD. Di Jakarta, pasien DBD tidak dipungut biaya karena dibiayai Pemda DKI, termasuk semua obat generik yang ada dalam daftar dan fasilitas rawat inap kelas tiga.
Sementara itu, sebelum pemberitaan tentang meningkatnya pasien DBD, Kompas, 5 Januari 2007, telah menurunkan tulisan mengenai penyakit infeksi yang kerap muncul pada musim penghujan. Dalam tulisan berjudul “Waspada Penyakit Infeksi” itu, DBD dikategorikan penyakit yang wajib diwaspadai. RH (Berita Indonesia 31)


Misteri di Saint Carolus
Keluarga pasien tak mengizinkan otopsi. Penyebab 20 kematian ganjil di rumah sakit itu masih tak jelas.

Sampai saat ini, penyebab kematian 20 pasien di Rumah Sakit St. Carolus masih teka-teki. Seperti diberitakan media massa pada Desember 2006. Sebelum meninggal, pasien-pasien tersebut memiliki gejala yang sama, yakni panas tinggi 39-42 derajat Celcius, penurunan kesadaran hingga arah koma, juga kekurangan kadar natrium dalam darah.

Kejadian tersebut terjadi sepanjang November 2006. Seperti dilaporkan Tempo 15-21 Januari 2007, kematian ekstra cepat dalam satu bulan itu meliputi pasien yang memiliki profil relatif sama, yakni hampir semuanya laki-laki di atas 55 tahun. Hanya dua orang pasien perempuan dan satu balita.

Keganjilan tersebut mendorong pihak rumah sakit untuk melaporkannya kepada Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan pada 27 November 2007. Tujuannya, meminta bantuan menyelidiki kasus kematian aneh tersebut.

Namun seperti dimuat Kompas 28 Desember 2006, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PPM & PL) Depkes Nyoman Kandun menjelaskan tidak terbukti adanya wabah penyakit yang mungkin terjadi di Indonesia atau negara lain. Pihaknya sudah mengirim sampel darah pasien ke laboratorium di Amerika Serikat, namun semua hasilnya negatif, baik itu flu burung, SARS atau penyakit lain yang mungkin terjadi di Indonesia atau negara-negara lain.

Selain penelitian di laboratorium, Depkes juga telah melakukan investigasi ke rumah pasien untuk mengetahui adanya penambahan kasus, namun tidak ditemukan bukti ada anggota keluarga pasien yang mengalami gejala serupa, sehingga disimpulkan bahwa gejala tersebut bukanlah penyakit menular.

Kepada Media Indonesia, 29 Desember 2006, Kandun juga mengatakan kemungkinan terjadinya infeksi nosokomial (infeksi yang didapat atau timbul pada waktu pasien dirawat di rumah sakit-red) juga sudah diselidiki, namun hasilnya negatif.

Sebenarnya, ada satu cara yang bisa membantu menguak tabir misteri kasus ini yakni dengan otopsi. Sayangnya, keluarga para korban tak memberi izin.

Setelah 30 November 2006, kematian misterius itu tak terjadi lagi. Depkes menutup kasus tersebut setelah tak ditemukan penyebabnya. Namun dengan catatan, akan dibuka kembali bila ada bukti baru atau kasus serupa terulang. RH (Berita Indonesia 31)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com