Majalah Berita Indonesia

Sunday, May 28th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Kesehatan Beri Insulin Sejak Awal
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Beri Insulin Sejak Awal

E-mail Print PDF

TERUS MENINGKAT: Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan jumlah penderita diabetes akan mencapai 366 juta orang pada tahun 2030Menurut paradigma baru pengobatan diabetes, pemberian insulin idealnya diberikan lebih awal sebelum terjadi penurunan fungsi pankreas tahap lanjut.

Makan ini tidak boleh, makan itu tidak boleh. Banyak pantangannya. Padahal waktu muda, saya bisa makan semua jenis makanan. Sekarang setelah terkena diabetes, rasanya merana sekali. Mau makan saja dipilih-pilih. Kalaupun boleh dimakan, porsinya hanya sedikit.”

Begitulah keluhan Ibu Sella (55) saat bicara soal penyakit diabetes yang dideritanya lima tahun terakhir ini. Nenek satu cucu ini terlihat lemas dengan wajah lebih tua dari usia sebenarnya. Diabetes yang dideritanya sangat mempengaruhi kesehatan dan kebugarannya. Dulu saat masih bekerja sebagai guru SD, ia terkenal aktif dan gesit. Berbeda sekali dengan kondisinya saat ini.

Setiap tahunnya, penderita diabetes (diabetisi) di dunia seperti Ibu Sella terus bertambah. WHO memperkirakan, jumlah diabetesi akan mencapai 366 juta orang pada 2030, meningkat jauh jika dibandingkan dengan tahun 2000 sebanyak 171 juta orang. Di antara jumlah itu, sebagian besar berada di wilayah Asia.

Mengenai angka prevalensi di Asia yang lebih tinggi daripada di Barat, Dr. Dante Saksono Harbuwono SpPD, PhD, menjelaskan, “Terdapat perbedaan pola genetik orang Asia dan Barat. Secara genetik, orang Asia cenderung mengalami resistensi insulin dibandingkan dengan kulit putih.”

Masih menurut data WHO, di Indonesia, jumlah diabetisi pada tahun 2000 sebanyak 8,4 juta orang dan diperkirakan meningkat menjadi 21,3 juta orang di tahun 2030. Angka tersebut menjadikan Indonesia berada di peringkat empat dalam urutan negara dengan populasi diabetisi terbanyak.

Diabetes yang dalam kedokteran disebut Diabetes Mellitus (DM) merupakan kelainan metabolisme akibat kekurangan/ketiadaan hormon insulin (DM tipe I) atau karena efek kerja insulin yang tidak sempurna (DM tipe II). Dalam keadaan normal, insulin dihasilkan oleh pankreas dan berfungsi memasukkan gula dalam darah ke dalam sel-sel tubuh untuk dipakai dalam proses metabolisme.

Diagnosis diabetes ditegakkan berdasarkan gejalanya yaitu 3P (polidipsi/banyak minum, polifagi/banyak makan, poliuri/banyak kencing) dan hasil pemeriksaan darah yang menunjukkan kadar gula darah yang tinggi (tidak normal). Seseorang dikatakan menderita DM bila hasil pemeriksaan kadar gula darah puasanya >126mg/dl. Normalnya kadar gula darah puasa seseorang <100mg/dl. Bila nilainya antara 100mg/dl sampai 125mg/dl sudah masuk kategori pradiabetes. Orang dalam kategori ini rentan menjadi penderita DM. Jika pemeriksaan dilakukan dalam kondisi tidak puasa, kadar gula darah >200mg/dl baru dikategorikan penderita DM.

Menurut konsultan endokrin metabolik dan diabetes Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RS Cipto Mangunkusumo, EM Yunir, pada diabetisi tipe I, pankreas tidak mampu menghasilkan insulin, untuk itu perlu suntikan insulin dari luar tubuh. Dengan penyuntikan insulin, gula dalam darah dapat dimasukkan ke sel-sel tubuh, sehingga kadar gula dalam darah tidak meningkat terus. Sedangkan, pada diabetisi tipe II terjadi ketidakpekaan tubuh terhadap insulin (resistensi). Jadi insulin tersedia tapi tidak mampu bekerja memasukkan gula dalam darah ke sel-sel tubuh.

Sejauh ini, penyakit Diabetes Mellitus belum dapat disembuhkan. Yang dapat diusahakan adalah menjaga kadar gula darah agar tetap dalam batasan normal. Dokter spesialis gizi klinik Erwin Christianto menjelaskan, untuk mencegah DM tipe I, jangan beri makanan berbahan gandum sebelum usia 1 tahun, hindari makanan yang dibakar atau dipanggang. Sedangkan untuk mencegah DM tipe II, pola makan sehat, perbanyak olahraga dan hindari obesitas. Diketahui kurangnya aktivitas tubuh dan timbunan lemak menyebabkan resistensi sel terhadap insulin.

Diabetes Mellitus dikenal dengan sebutan The Silent Killer karena penyakit ini merusak semua pembuluh darah dalam tubuh secara bertahap dan terus-menerus. Komplikasi yang ditimbulkan bersifat jangka panjang dan mematikan. Dr. Dante Saksono Harbuwono Spesialis Penyakit Dalam dari Divisi Metabolik dan Endokrin FKUI/RSCM menjelaskan, komplikasi terbanyak penderita diabetes tak terkontrol adalah gangguan pada pembuluh darah jantung. Kadar gula darah yang tidak terkontrol cenderung menyebabkan kadar lemak dalam darah meningkat sehingga mempercepat terjadinya aterosklerosis (penimbunan plak lemak di dalam pembuluh darah). Aterosklerosis ini 2-6 kali lebih sering terjadi pada penderita diabetes.

Sirkulasi darah pun menjadi buruk dan dapat terjadi di pembuluh darah besar (makroangiopati) seperti otak dan jantung, juga pembuluh darah kecil (mikroangiopati) seperti pada mata, ginjal, kaki, saraf dan kulit. Gangguan pada jantung dan otak sering terjadi dan mematikan yaitu serangan jantung dan stroke.

Kerusakan pada pembuluh darah mata bisa menyebabkan gangguan penglihatan akibat kerusakan pada retina mata (retinopati diabetikum). Kelainan fungsi ginjal bisa menyebabkan gagal ginjal sehingga penderita harus menjalani cuci darah (dialisa). Kerusakan pada saraf yang menuju ke tangan dan kaki (polineuropati diabetikum), menyebabkan lengan dan tungkai bisa dirasakan kesemutan atau nyeri seperti terbakar. Tak hanya itu, diabetes tak terkontrol menyebabkan disfungi seksual.

Untuk menekan komplikasi yang lebih lanjut, pemberian obat anti diabates (OAD) diperlukan untuk mengendalikan kadar gula dalam darah. Jenis OAD yang diresepkan antara lain OAD yang berfungsi merangsang pankreas untuk produksi insulin lebih banyak, memperbaiki hambatan kerja insulin, dan memperlambat pencernaan makanan menjadi gula.

Dr Olly Renaldi, konsultan endokrin metabolik dan diabetes RS Mitra Kemayoran, menjelaskan bahwa diabetisi dapat mengkonsumsi satu atau beberapa obat sesuai kebutuhan. Bahkan, sesuai paradigma baru pengobatan diabetes, pemberian insulin idealnya diberikan lebih awal sebelum terjadi penurunan fungsi pankreas tahap lanjut.

Namun demikian, kendala yang dialami para diabetisi bila menjalani terapi insulin adalah rasa sakit saat disuntik dan harganya yang cukup mahal dibandingkan OAD lain. Akibatnya, para diabetisi enggan menggunakan insulin. Seperti pengalaman Ny. Sella. “Lebih baik makan obat bermacam-macam daripada disuntik. OAD mudah didapat dan harganya terjangkau, apalagi saya kan selalu menggunakan ASKES saat membeli obat,” katanya.

Oleh sebab itu, paradigma baru pengobatan diabetes perlu terus disosialisasikan. Sehingga para diabetisi tidak ragu lagi ketika dokter meresepkan insulin. Terlebih, kini insulin tersedia dalam kemasan alat suntik yang praktis dan nyaman digunakan. DGR (Berita Indonesia 83)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com