Majalah Berita Indonesia

Sunday, May 28th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Kesehatan Predator Balita Nomor Satu
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Predator Balita Nomor Satu

E-mail Print PDF

Infeksi pernapasan menjadi masalah kesehatan anak dan penyebab kematian balita terbesar di IndonesiaPneumonia merupakan ‘predator’ balita nomor satu di negara berkembang. Infeksi pernapasan ini juga menjadi masalah kesehatan anak dan penyebab kematian balita terbesar di Indonesia.

Penyakit pneumonia adalah proses infeksi akut pada paru-paru. Terjadinya pneumonia pada anak seringkali bersamaan dengan proses infeksi akut pada bronkus (biasa disebut bronchopneumonia). Gejala penyakit ini berupa napas cepat dan napas sesak karena paru meradang secara mendadak.

Waspadai kondisi kesehatan buah hati Anda bila batuk berdahak kental dan berwarna kehijauan, disertai kesulitan bernapas, meningkatnya frekuensi pernapasan dan timbul demam. Bila frekuensi pernapasan sebanyak 50 kali per menit atau lebih pada anak usia 2 bulan sampai kurang dari 1 tahun, dan 40 kali permenit atau lebih pada anak usia 1 tahun sampai kurang dari 5 tahun, segera datang ke fasilitas kesehatan untuk mendapat pertolongan.

Pada anak usia 2 bulan sampai kurang dari 5 tahun, gejala pneumonia berat ditandai penarikan dinding dada sebelah bawah ke dalam (severe chest indrawing). Sedangkan pada anak di bawah 2 bulan, gejala pneumonia berat ditandai frekuensi pernapasan sebanyak 60 kali per menit atau lebih disertai penarikan kuat pada dinding dada sebelah bawah ke dalam.

Prof. Dr. Mardjanis Said, SpA(K), guru besar Ilmu Kesehatan Anak pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, menjelaskan pneumonia tergolong penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Penyakit ini dipicu oleh berbagai mikroorganisme terutama bakteri dan virus. Pada beberapa studi melaporkan bahwa pada anak usia 2 bulan sampai 5 tahun, bakteri utama penyebab pneumonia adalah Streptococcus pneumoniae (S. pneumoniae), Hemophilus influenzae tipe b (Hib), dan Staphilococcus aureus (S. aureus), Klebsiella Sp, Pseudomonas sp, sedangkan virus antara lain virus influensa.

Gambaran hasil rontgen pada pasien pneumonia memperlihatkan kepadatan pada bagian paru. Kepadatan terjadi karena paru dipenuhi sel radang dan cairan yang sebenarnya merupakan reaksi tubuh untuk mematikan kuman. Tapi akibatnya fungsi paru terganggu, penderita mengalami kesulitan bernapas karena tak ada tempat untuk oksigen.

Bila anak Anda mengalami pneumonia, tak perlu panik. Kesempatan sembuh masih amat besar dengan syarat-syarat berikut ini; usia masih muda, dideteksi sejak dini, sistem kekebalan tubuh bekerja dengan baik, infeksi belum menyebar, dan tidak ada infeksi lain.

Pemberian antibiotik merupakan salah satu kunci terapi pneumonia. Pasien pneumonia rawat jalan, diberi antibiotik seperti kortrimoksazol atau amoksisilin yang diberikan secara oral. Sebagai perbandingan, sebuah penelitian multisenter di Pakistan yang membuktikan bahwa pada pasien pneumonia rawat jalan, amoksisilin (25 mg/kg/BB) dan kotrimoksazol (4 mg/kg BB TMP- 20 mg/kg BB sulfametaksazol) 2 kali sehari adalah sama-sama efektif. Sementara pada pasien pneumonia rawat inap diberikan antibiotik beta-laktam intravena atau kombinasi antibiotik beta-laktam dan kloramfenikol intravena.

Meski demikian, usaha pencegahan merupakan prioritas utama melindungi buah hati dari pneumonia. Dr. Badriul Hegar SpA(K), Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan perlu gerakan simultan untuk mencegah penyakit infeksi paru ini. Selain memberikan vaksin IPD, hal terpenting yang harus dilakukan ialah memperbaiki sistem pertahanan tubuh anak. Utamanya, dengan memperhatikan kecukupan dan keseimbangan gizinya.

Sedangkan pemberian vaksin IPD menyediakan perlindungan terhadap 7 serotipe bakteri Streptococcus pneumonia. Beberapa studi menunjukkan vaksin pneumokokus memberikan efektivitas sangat tinggi dalam mencegah penyakit pneumokokus invasif (bakteriemia, meningitis, dan pneumonia). Oleh karena itu, vaksin ini menjadi vaksin yang diwajibkan di Amerika Serikat, Eropa dan Australia serta telah digunakan lebih dari 100 juta dosis di seluruh dunia.

Di Indonesia, vaksin pneumokokus telah tersedia. “Masalahnya, harganya belum terjangkau untuk masyarakat luas,” kata dr Badriul Hegar SpA(K). Jadi kita bangun saja imunitas anak, dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi, pemberian imunisasi dasar pada balita.

Yang juga harus dilaksanakan perbaikan sanitasi lingkungan terutama bagi yang tinggal di daerah padat dan kumuh. Ciptakan udara rumah yang bebas asap, baik dari rokok, kayu bakar, maupun arang. Gangguan lingkungan seperti polusi akibat asap rokok, asap knalpot, rumah lembab, serta lingkungan rumah yang tidak sehat dapat memicu pneumonia pada buah hati.

Bagi Anda yang memiliki anak kecil, sebaiknya buat larangan merokok dalam rumah. Asap rokok bisa menempel di mana saja, termasuk pada pakaian atau handuk yang digunakan buah hati. Sisa asapnya bisa membuat pernafasan si kecil terganggu. Jauhkan bayi dari penderita batuk pilek. Karena penularannya yang sangat mudah melalui udara. DGR (Berita Indonesia 82)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com