Majalah Berita Indonesia

Sunday, May 28th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Kesehatan Maut dari Si Kuping Panjang
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Maut dari Si Kuping Panjang

E-mail Print PDF

Pasteurella multocida sering disebut flu kelinci karena menyebabkan ketidakwajaran dan kematian pada kelinci. KelinciJohn Freeman, 29, tak bakal menyangka hidupnya bakal berakhir gara-gara seekor hewan lucu, kelinci. Awal Agustus lalu, dia mengambil seekor kelinci dari tanah pertaniannya. Keesokan harinya, dia terserang demam. Tiga hari kemudian dia meninggal, padahal selama ini John dikenal sangat sehat.

Demikian, ilustrasi majalah Gatra, 13 September 2006, mengawali laporannya mengenai bakteri berbahaya yang berasal dari kelinci. Dari pengujian atas jenazah John ditemukan adanya septicaemia atau keracunan darah setelah John terinfeksi bakteri. Joan, ibunda John, menduga, bakteri ini masuk ke tubuh John melalui luka melepuh di ibu jarinya. Awalnya dokter menduga, John menderita cacar air karena adanya ruam di tubuhnya.

Septicaemia (keracunan darah) adalah infeksi yang sangat potensial mengancam jiwa karena keberadaan bakteri dalam jumlah besar di dalam darah. Penyebabnya adalah terjadinya infeksi yang terlokalisasi pada tubuh. Lalu bakteri menyebar dari tempat awal terjadinya infeksi ke dalam darah dan dibawa menyebar ke seluruh tubuh. Ini mengakibatkan infeksi di berbagai sistem dalam tubuh.

Gejala yang mengawali keracunan ini, badan demam dan keluar keringat dingin. Seiring demam yang semakin tinggi, detak jantung dan napas penderita kian cepat. Setelah itu, tekanan darah mulai turun dan penderita bisa kehilangan kesadaran. Penderita septicaemia ini harus segera mendapat perawatan serius.

Organisme dalam kelompok ini yang dilaporkan aktif menyerang adalah pasteurella multocida. Pasteurellosis pada manusia berasal dari infeksi akibat gigitan, jilatan, atau cakaran anjing, kucing, dan binatang-binatang lain. Meski kadang-kadang ada juga pasien yang tidak melakukan kontak dengan binatang sebelumnya. Infeksi bisa disebabkan oleh berbagai binatang ternak dan hewan, termasuk ayam, kalkun, sapi, babi, kelinci, kucing, anjing, dan binatang pengerat.

Setelah terjadi infeksi luka secara lokal, organisme itu juga dapat menginfeksi sistem pernapasan, menyebabkan sinusitis, infeksi telinga, dan bahkan beberapa gejala serius, termasuk pneumonia atau pembengkakan paru-paru, meski hal ini jarang terjadi. Kehadiran infeksi pasteurella multocida yang tidak biasa adalah gejala gangguan sistem jantung, infeksi mata, radang otak, dan masalah pencernaan.

Flu Kelinci
Sebenarnya, seperti ditulis Gatra, penyakit ini jarang berakibat fatal atau kematian. Sebab bisa diatasi menggunakan antibiotika. Dalam sejarahnya dilaporkan, hanya empat kasus yang terjadi pada 1993 hingga 2005. Kebanyakan kasus yang terjadi ini menimpa orang berusia di atas 50 tahun. Kasus John adalah peristiwa pertama akibat flu kelinci.

Pasteurella multocida sering disebut flu kelinci karena menyebabkan ketidakwajaran dan kematian pada kelinci. Ketidakwajaran ini terlihat seperti penyakit flu. Tapi penyakit ini disebabkan oleh organisme yang berbeda.

Seperti dikutip majalah ini, menurut dosen patologi pada Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor, Ekowati Handharyani, memang banyak terjadi bakteri yang dapat berpindah dari hewan ke manusia. Proses perpindahan ini dalam dunia kedokteran hewan disebut zoonosis. Meski begitu, proses ini tak selalu berjalan mulus karena tergantung ketahanan fisik yang bersangkutan.
Pasteurella multocida termasuk golongan bakteri gram negatif yang tidak bergerak. Bentuknya seperti batang kecil dan tidak membentuk spora. Beberapa jenisnya dapat menghasilkan toksin beracun. Toksin inilah yang dapat merusak organ dalam hewan.

Organ yang paling sering diserang bakteri ini adalah paru-paru. Pada sapi, paru-parunya akan mengalami peradangan dan bernanah. Selain itu, pembuluh darah juga bisa pecah. Gejala penyakit ini seperti flu, yaitu demam dan pilek.

Ingus hewan yang mengandung bakteri ini dapat menular ke manusia melalui udara, peralatan kandang, kontak langsung, atau melalui hewan lain yang bertindak sebagai reservoir. Seperti pada hewan, bakteri ini juga menyerang paru-paru manusia. Kemungkinan gejalanya akan sangat mirip dengan kejadian pada hewan, yaitu terjadi radang paru-paru atau pneumonia. RH (Berita Indonesia 23)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com