Majalah Berita Indonesia

Sunday, May 28th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Iptek Jam Tangan Pendeteksi Malaria
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Jam Tangan Pendeteksi Malaria

E-mail Print PDF

Jutaan orang telah dibunuh oleh nyamuk malariaMalaria yang disebarkan oleh nyamuk membunuh jutaan orang dan menyengsarakan 300 juta orang setiap tahun. Menurut data WHO, sekitar 90 persen kematian karena malaria terjadi di kawasan Sub-Sahara. Kenyataan ini membuat seorang penemu dari Afrika Selatan, Dr. Gervan Lubbe mengembangkan jam tangan anti-malaria untuk mencegah penyebaran salah satu penyakit terbesar di Afrika itu. Alat tersebut akan memantau darah pemakainya dan akan mengirimkan alarm ketika mendeteksi adanya parasit.

Untuk mengetes ada tidaknya parasit dalam tubuh pemakainya, alat tersebut akan menusukkan jarum berukuran kecil empat kali sehari untuk mengambil sampel darah. Jika ditemukan spora parasit lebih dari 50, jam akan membunyikan alarm dan lampu di bawah gambar nyamuk akan menyala.

Jika positif terserang, penggunanya kemudian harus minum tiga tablet obat yang berkhasiat membunuh seluruh parasit dalam 48 jam. “Jika Anda menunggu sampai melihat gejala, mungkin membutuhkan waktu enam bulan perawatan dan sejumlah besar quinine (zat yang terkandung pada pil kina-red) yang berbahaya bagi kesehatan,” kata Lubbe, penerima medali emas untuk penemuan medis terbaik dunia pada Pameran Penemuan Internasional 1998 di Jenewa karena mengembangkan alat terapi nyeri yang parah.  Rencananya, harga sebuah jam tangan yang akan diproduksi Gervans Trading (gervans.com) ini sekitar 280 dollar AS. (Berita Indonesia 08)***

Ponsel tidak meningkatkan risiko kanker otak, glioma tidak ada hubungannya dengan penggunaan ponsel untuk jangka waktu lamaPonsel Tidak Meningkatkan Risiko Kanker Otak
Anda bisa bernafas lega dan bisa berponsel ria tanpa digelayuti rasa khawatir terkena glioma, kanker otak yang umum dijumpai. Kesimpulan ini tergambar dari hasil penelitian selama empat tahun yang dilakukan oleh lembaga Inggris dalam proyek internasional yang bernama Interphone terhadap 2.782 orang di Inggris. Mereka menemukan bahwa tidak ada hubungan antara risiko glioma dengan jangka waktu penggunaan ponsel.

Sebelumnya dilaporkan bahwa para penderita kanker cenderung menemukan tumor di bagian sisi kepala dekat telinga yang sering dipakai untuk menerima panggilan telepon. Namun, hasil penelitian British Medical Journal yang dikeluarkan pada edisi 21 Januari 2006 menyatakan bahwa alasan tersebut terlalu berlebihan.

Tim peneliti yang melibatkan para ilmuwan dari Universitas Leeds, Institut Penelitian Kanker, dan Universitas Nottingham meneliti 966 orang penderita glioma usia antara 18 hingga 69 tahun dan 1.716 yang tidak dari lima wilayah di Inggris. Mereka ditanyai seputar sejarah pemakaian ponsel selama 10 tahun terakhir. Masing-masing ditanyai secara mendetail seberapa sering menggunakan ponsel, seberapa sering menggunakan handsfree, dan jenis telepon yang dipakai.

Penelitian yang dipimpin Patricia McKinney, seorang profesor epidemiologi anak di Universitas Leeds, menyatakan, “Pemilik ponsel tidak mengalami peningkatan risiko terkena glioma karena rutin menggunakannya.” Ia mengaku bahwa risiko kanker di bagian kepala yang sering dipakai untuk menerima panggilan ponsel meningkat. Meskipun demikian, tim peneliti tidak melihatnya sebagai hubungan sebab akibat, sebab risiko di daerah otak sebaliknya juga terlihat menurun. Dengan demikian, secara keseluruhan, tidak ada peningkatan risiko terkena kanker otak karena sering memakai ponsel.

Temuan tersebut tentu saja membingungkan jika diterima apa adanya. Para pengurus National Radiological Protection menyatakan, penelitian tersebut membawa kabar baik, namun bukan berarti pemakainya bebas dari bahaya. Menurut mereka, anak-anak tetap disarankan agar tidak memakai ponsel selama tidak terlalu penting.

Sedangkan Direktur Kampanye Powerwatch Alasdair Phillips bersikap pesimis dan menganggap penelitian tersebut tidak membuktikan apapun. “Saya kira mereka seharusnya melakukan Telescope terbesar di dunia setinggi 213 kakipenelitian terhadap penderita glioma selama bertahun-tahun sehingga dapat memperoleh data yang lebih akurat,” katanya. Sebab, yang menjadi masalah, para penderita glioma berumur pendek. “Jika menderita glioma, Anda akan mati dalam waktu setahun atau 18 bulan setelah terdiagnosa, dan sekarang banyak penderitanya yang telah mati sehingga tidak dapat ditanyai sejarah penggunaan ponselnya.” (Berita Indonesia 08)***

Teleskop Terbesar di Dunia: Inilah model konstruksi dari Giant Magellan Telescope yang akan menjadi teleskop terbesar di dunia. Rencananya teleskop ini setinggi 213 kaki yang mampu berotasi, tujuh cermin setinggi 27.6 kaki akan dikombinasikan menjadi alat pengumpul cahaya raksasa dengan kemampuan sepuluh kali lipat dari yang dibuat oleh Hubble Space Telescope. Teleskop ini direncanakan selesai 2016. (Berita Indonesia 08)***


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com