Majalah Berita Indonesia

Sunday, May 28th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Iptek Orang Purba Flores
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Orang Purba Flores

E-mail Print PDF

Manusia kecil berusia 18.000 tahun ditemukan di FloresApakah kerangka manusia kecil berusia 18.000 tahun adalah saudara tua  dari manusia yang hidup di abad modern, ataukah keturunan manusia baru? “Pada masa lalu kami makan binatang.” Yang berbicara seperti itu adalah Viktor Jurubu, seorang petani usia 60-an tahun. Mengenakan kaos oblong dan sarung, Viktor tampak kecil seperti manusia gua yang sedang dia gambarkan. Kecuali tingginya kira-kira 140cm.

Dalam dunia antropologi, ukuran Jurubu yang kecil merupakan berita besar karena dia dan 246 warga desa Rampasasa lainnya di Pulau Flores, mengaku bahwa mereka keturunan dari sebuah suku berbadan kecil dan berbulu lebat yang mereka sebut “manusia cebol.”

“Kami tidak punya pisau tetapi menggunakan batu,” kata Jurubu sebagaimana dikutip oleh koresponden Zamira Loebis yang dikemas Simon Elegant dalam majalah Time (edisi Juni 2005).

Kata Jurubu,” kami bahkan tidak tahu bagaimana membuat api.” Jurubu, pria berambut keriting abu-abu dipotong pendek, bertulang rahang menonjol dan kelopak mata yang dalam, memandang ke arah 30 rekan sedesanya yang duduk mengelilinginya untuk membuktikan ucapannya.

Mereka mengangguk-angguk, dan Jurubu melanjutkan bicaranya tentang ketika nenek moyang mereka yang pemalu hidup terpencil dari dunia luar di dalam gua Liang Bua, terletak di bukit padas kira-kira satu kilometer dari desa Rampasasa.

Sekali lagi mereka memperlihatkan tanda setuju.
“Katakan bagaimana Paju meninggalkan gua dan menikah dengan wanita biasa,” tiba-tiba salah seorang di antara mereka berteriak, “dan bagaimana kita keluar, lantas menetap di desa Rampasasa.” Semula Jurubu merasa enggan. Setelah berhenti sejenak, dia membuka mulutnya untuk berbicara, tetapi kata-katanya lenyap di tengah deru suara tak sabar yang berlomba-lomba ingin menuturkan kisah tersebut.

Para warga Rampasasa sendiri tidak bisa menuturkan secara panjang lebar yang berkaitan dengan pengakuan mereka tentang mata rantai genekologi mereka. Soalnya mereka hanyalah masyarakat awam Flores yang sangat miskin. Tetapi sulit untuk mengabaikan sejumlah manusia kate, khususnya di antara para tetua, kebanyakan setara dengan anak usia 10 tahun. Sekitar enam generasi keturunan mereka telah menikah dengan masyarakat luar, kata kepala suku Rampasasa, Alfredus Ontas, hanya menyisakan sedikit manusia kecil yang sesungguhnya.

Tetapi untuk membuktikan nenek moyang mereka, dia dan rekan-rekannya dengan penuh semangat memperlihatkan foto para kerabat mereka yang belum lama meninggal yang mereka sebut sisa “orang-orang pendek” yang lebih murni.

“Saudara-saudara kami di dalam foto ini tingginya hanya 110 cm,” kata Ontas dengan bangga. Senyum lebarnya memperlihatkan barisan giginya yang berwarna merah langu lantaran menyirih. Seseorang yang lebih tua yang tingginya 135 cm, berbulu lebat menutupi lengan dan kakinya. “Karena berbulu lebat para nenek moyang kami bersembunyi di gua Liang Bua,” kata Jurubu.”Mereka malu.”

Tim ahli antropologi Australia dan Indonesia melaporkan di dalam majalah Nature Oktober lalu bahwa di Liang Bua mereka menemukan  tulang belulang tujuh orang yang usianya antara 13.000 sampai 95.000 tahun. Tulang-tulang belulang lainnya diketemukan kemudian. Di antara penemuan tersebut terdapat kerangka seorang wanita berusia 18.000 tahun. Dibandingkan dengan manusia sekarang, tingginya sama dengan anak usia 6 tahun.

Karena kerangka wanita itu tampak mirip manusia (humanoid), bukan manusia, ukuran otaknya kecil, maka para peneliti menyimpulkan dia bukan manusia purba (Pygmy) —seseorang yang pendek namun bentuk normal dari Homo sapiens  yang diketemukan di Afrika dan Asia Tenggara— tetapi sebuah keturunan baru yang dinamakan para penemu tersebut sebagai Homo floresiensis. Keturunan ini, kata mereka, mungkin cabang dari Homo erectus, yang secara luas diterima sebagai nenek moyang Homo sapiens.

Berita itu mengisyaratkan bahwa kedua jenis manusia yang berbeda itu, H. sapiens dan H. floresiensis, hidup di muka bumi pada saat yang bersamaan. (Keberadaan H. sapiens sekitar 250.000 tahun yang lalu). Kisah tersebut menjadi berita utama di seluruh dunia-Time meliputnya November lalu, dan National Geographic memuat tulisan panjang di dalam edisi April 2005.

Namun sekarang, kehadiran manusia kecil yang tinggal di gua Liang Bua telah menimbulkan keraguan tentang teori jenis manusia yang terpisah, dan menandai perbedaan tajam di antara para ilmuwan tentang keabsahannya. Medan tempur menjadi semakin jelas, di mana pihak yang satu mendiskreditkan pihak lainnya.

Rampasasa, “membuat argumen sempit itu menjadi sepenuhnya tidak relevan,” kata Alan Thorne, seorang antropolog di Australian National University, dengan nada skeptis. “Ada banyak manusia purba di kawasan tersebut. Berkenaan dengan tulang belulang tersebut, kemungkinan seorang purba yang sakit,” sanggah Peter Brown, seorang paleantropolog pada England University, yang bersama-sama menulis di Nature dengan rekannya, arcaelogis Michael Moorwod.

“Sudah tentu ada manusia kecil di Flores, tetapi mereka tidak punya otak sepertiga dari otak kita, atau tampilan yang tidak lazim atau berlengan sangat panjang seperti H. floresiensis. Mereka sama seperti manusia modern yang kecil.”

Bagi Henry Gee, redaktur Nature yang bertanggung jawab menyeleksi publikasi artikel asli H. floresiensis perseteruan tersebut suatu hal yang seringkali terjadi ketika ada penemuan baru. “Ilmu pengetahuan merupakan masalah yang diperdebatkan dan evolusi manusia jadi bahan perdebatan. Setiap seseorang menemukan jenis manusia baru banyak orang memperdebatkan dan mengatakan itu adalah orang utan atau manusia penyakitan.”

Gee yang mengatakan para pengeritik tidak bisa mengguncangkan keyakinannya bahwa keturunan baru telah diketemukan, mengutip contoh penemuan lain yang diperdebatkan, Australopithecus africanus  tahun 1924, apa yang disebut “mata rantai yang hilang” antara orang utan dan nenek  moyang manusia.SH (Berita Indonesia 01)


Revolusi Penelitian Dinosaurus
Kalau anda diminta untuk membayangkan bentuk dan rupa dinosaurus, anda pasti tidak akan susah membayangkannya. Ambil saja contoh bentuk T Rex, semua orang yang pernah menonton film Jurassic Park karya sutradara terkenal Steven Spielberg pasti mengetahui bentuk dan ukuran dari mahluk raksasa itu. Tetapi bagaimana kalau anda diminta membayangkan bentuk organ dalam dari T rex, pasti akan jauh lebih sulit untuk menggambarkannya.

Tantangan baru bagi para ilmuwan paleontologi, untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin dari fosil-fosil yang sudah diketemukan.Mark Norell kepala bagian paleontologi di museum sejarah di New York pada Newsweek edisi 27 Juni 2005, mengatakan bahwa kajian ilmunya telah berubah menuju arah spekulasi akan  psikologi yang dimiliki dinosaurus, ekologi, dan bahkan tingkah lakunya. Ia juga mengatakan bahwa cabang ilmu pengetahuan ini tidak lagi hanya digerakkan oleh penemuan-penemuan, tetapi dengan melakukan berbagai riset dan percobaan.

Perhatian  ilmuwan sekarang ini tidak lagi hanya sekedar merekonstruksi bentuk tubuh dinosaurus dari tulang belulang yang berhasil ditemukan, namun mereka sudah berusaha untuk mengetahui bagaimana bentuk ukuran organ dalam dan letaknya dalam tubuh dinosourus.Hal ini dapat dilakukan sekarang dengan adanya penemuan fosil yang baru dan kemajuan teknologi yang pesat, khususnya teknologi computer. Tulang belulang yang berdiri diam di museum-museum selama bertahun-tahun sepertinya berteriak menceritakan rahasia mereka kepada para ilmuwan yang sudah melengkapi dirinya dengan alat ct scan dan seperangkat super komputer.

Perangkat alat ct scan dengan mudah dapat memberikan gambaran bentuk tulang belulang yang tertutup dalam lapisan batu, tanpa harus memecahkannya terlebih dahulu, sehingga para peneliti tidak lagi harus merasa khawatir akan fosil yang sudah menjadi satu dengan lapisan batu itu rusak. Saat ini bentuk dan ukuran tubuh dinosaurus dapat diproyeksikan dengan hanya menggunakan perangkat lunak tiga dimensi di komputer, tidak lagi harus mengandalkan pembuatan model patung dengan menggunakan gips.  Tantangan baru bagi para ilmuwan paleontologi pada masa ini adalah bagaimana mendapatkan informasi sebanyak mungkin dari fosil-fosil yang sudah diketemukan itu dengan melakukan berbagai riset dan percobaan. Dari satu buah tulang dinosaurus yang sudah tertimbun berjuta tahun lamanya di bawah bumi para ilmuwan kini dapat mengetahui kandungan mineral apa yang terkandung di dalam tulang dinosaurus bahkan sudah dapat menemukan keberadaan pembuluh darah dalamnya. CH (Berita Indonesia 01)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com