Majalah Berita Indonesia

Friday, Jul 30th

Last update04:15:44 PM GMT

Majalah Berita Indonesia RSS Feed
You are here Edisi Cetak Humaniora Sebuah Debat Tanpa Akhir

Sebuah Debat Tanpa Akhir

E-mail Print PDF
User Rating: / 0
PoorBest 

Ini adalah topik perdebatan yang sudah berlangsung selama berabad-abad: apakah agama dan ilmu pengetahuan dapat berjalan beriringan? Majalah Time mempertemukan Richard Dawkins dan Francis Collins untuk menjawab pertanyaan itu.

Pada abad ke 4 sebelum masehi, lebih dari 2000 tahun sebelum Charles Darwin mengutarakan teori 'survival of the fittest', Aristoteles telah mempertanyakan hal-hal ilahi yang supranaturalPada abad ke 4 sebelum masehi, lebih dari 2000 tahun sebelum Charles Darwin mengutarakan teori 'survival of the fittest',Aristoteles telah mempertanyakan hal-hal ilahi yang supranatural. Perdebatan antara agama dan ilmu pengetahuan pun semakin meningkat di sekitar tahun 1270, setelah St. Thomas Aquinas mengungkapkan "bukti" keberadaan Tuhan. Meskipun saat ini kemajuan ilmu pengetahuan sudah dapat menjelaskan berbagai hal, namun masih ada hal-hal yang belum dapat dijelaskan dan yang tidak memiliki titik temu dalam agama dan ilmu pengetahuan.

Untuk membahas masalah-masalah yang belum memiliki titik temu tersebut, majalah Time mempertemukan Richard Dawkins dan Francis Collins. Richard Dawkins adalah profesor di Universitas Oxford yang ateis. Dia menulis sebuah buku berjudul The God Delusion. Buku itu menyerang keberadaan agama, baik secara filosofi, sejarah, dan ilmu pengetahuan. Dawkins meyakini teori evolusi Darwin dan menguasai bidang evolutionary psychology. Sedangkan Francis Collins adalah seorang mantan ateis yang kini menganut agama Nasrani. Dia mempelajari ilmu genetika dan mendalaminya untuk menemukan terobosan-terobosan medis.

Teori Evolusi: Darwin Berjenggot.Dia menulis buku yang berjudul The Language of God: A Scientist Present Evidence for Belief. Wawancara terhadap keduanya dilaksanakan di kantor Majalah Time yang terletak di Time & Life Building di New York City. Berikut ini adalah beberapa bagian dari wawancara tersebut yang dipilih oleh Berita Indonesia bagi anda:

TIME: Profesor Dawkins, jika seseorang benar-benar memahami ilmu pengetahuan, apakah Tuhan akan menjadi delusi bagi dirinya, seperti judul buku anda?
Dawkins: Pertanyaan seperti: apakah sang pencipta yang supranatural yaitu Tuhan benar-benar ada, merupakan salah satu pertanyaan yang penting untuk dijawab. Saya pikir itu adalah pertanyaan ilmiah. Jawaban saya adalah tidak.

TIME: Dr. Collins, anda percaya bahwa ilmu pengetahuan berjalan harmonis dengan keyakinan anda?
Collins: Ya. Keberadaan Tuhan adalah benar atau tidak benar. Tetapi menyebut pertanyaan itu sebagai pertanyaan ilmiah berarti mempercayai bahwa peralatan ilmiah dapat menjawab pertanyaan itu. Menurut perspektif saya, Tuhan tidak dapat dimengerti secara sempurna oleh kita. Sebab itu, eksistensi Tuhan berada di luar jangkauan ilmu pengetahuan.

TIME: Stephen Jay Gould, seorang ahli paleontologi dari Harvard, berpendapat bahwa agama dan ilmu pengetahuan dapat sama-sama eksis, kerena keduanya berada dalam kotak yang berbeda. Anda berdua sepertinya tidak setuju terhadap hal itu?
Collins: Gould menciptakan sebuah pembatas buatan antara keduanya, yang sama sekali tidak saya percayai keberadaannya. Karena saya percaya akan kekuatan kreatif Tuhan dalam menciptakan segala sesuatu pada mulanya. Sebab itu saya menemukan bahwa mempelajari alam semesta merupakan suatu kesempatan untuk mengamati keagungan, keindahan, dan kerumitan dari ciptaan Tuhan.

Lukisan Michelangelo: Konsepsi Klasik tentang Tuhan dalam agama Nasrani.Dawkins: Saya pikir pemisahan yang dibuat oleh Gould merupakan jalan tengah agar pemikiran yang religius dapat diterima oleh ilmu pengetahuan. Tetapi sesungguhnya itu adalah gagasan yang kosong. Ada banyak tempat dimana agama tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan. Beberapa keyakinan mengenai mukjizat merupakan sesuatu yang bertolak belakang dengan fakta-fakta ilmiah dan sifat dari ilmu pengetahuan.

TIME: Bukankah gagasan mengenai mukjizat tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan?
Collins: Salah satu tempat dimana ilmu pengetahuan dan keyakinan dapat saling bersentuhan adalah dalam penyelidikan dari peristiwa-peristiwa yang dianggap sebagai mukjizat.

Dawkins: Jika ada pukulan keras bagi penyelidikan konstruktif maka itu adalah kata: mukjizat. Bagi masyarakat abad pertengahan, radio adalah suatu mukjizat. Apa yang dapat kita ciptakan berkat kemajuan ilmu pengetahuan yang kita miliki akan dianggap sebagai mukjizat bagi masyarakat abad pertengahan. Collins selalu berkata: "Menurut pandangan saya sebagai orang beragama." Pada saat anda memposisikan diri anda sebagai orang beragama, maka dengan seketika anda tidak lagi bisa bersikap skeptis dan kehilangan kredibilitas ilmiah. Saya minta maaf jika saya berkata kasar.

Collins: Dawkins, saya setuju dengan bagian pertama dari ucapan anda. Tapi saya tidak bisa menerima pernyataan bahwa kemampuan ilmiah saya lebih buruk dari anda. Perbedaan antara kita berdua adalah saya memiliki keyakinan mengenai keberadaan Tuhan dan mengenai hal-hal supranatural, sedangkan anda tidak.

Francis Collins: Eksistensi Tuhan berada di luar jangkauan ilmu pengetahuan.TIME: Dr. Collins, anda telah menjelaskan bahwa moral yang dimiliki manusia bukan hanya sebagai pemberian Tuhan tetapi juga sebagai tanda keberadaan Tuhan?
Collins: Ada beberapa penelitian yang muncul dalam 30 atau 40 tahun terakhir yang disebut sociobiology atau evolutionary psychology. Cabang ilmu pengetahuan itu membahas mengenai dari mana kita memperoleh kemampuan moral dan mengapa kita menghargai gagasan mengenai menolong orang lain.

Cabang ilmu pengetahuan itu berpendapat bahwa jawabannya terletak pada kemampuan manusia untuk beradaptasi bagi kelangsungan hidup gen-gen yang manusia miliki. Tetapi jika anda percaya, dan Dawkins telah mempelajari hal ini, bahwa seleksi alam terjadi dalam diri manusia secara individu, dan bukan kelompok, lalu mengapa ada manusia yang mengancam DNA miliknya sendiri dengan melakukan sesuatu yang tidak egois untuk menolong orang lain, yang dapat mengurangi kesempatannya untuk bertahan hidup?

Merupakan hal yang pasti, kalau kita akan menolong anggota keluarga kita karena DNA yang kita miliki berasal dari mereka. Atau kita menolong orang lain agar orang itu juga menolong kita. Tetapi jika kita melihat pada apa yang kita kagumi sebagai tindakan murah hati dalam menolong orang lain, maka tindakan itu dilakukan bukan karena hubungan keluarga atau mengharap balas jasa. Tindakan seperti itu bertentangan dengan tujuan untuk menyelamatkan gen miliknya. Banyak di antara kita yang berpikir bahwa kualitas seperti itu berasal dari Tuhan, khususnya karena keadilan dan moralitas merupakan dua atribut yang sering kita identifikasi sebagai sifat Tuhan.

Dawkins: Dapatkah saya memulainya dengan sebuah analogi? Banyak orang yang memahami bahwa nafsu seksual berhubungan dengan gen-gen yang mengalami perkembangan. Pada umumnya seseorang melakukan hubungan seks untuk bereproduksi dan untuk memiliki lebih banyak salinan genetik. Tapi dalam lingkungan modern, orang menggunakan kontrasepsi untuk mencegah terjadinya reproduksi. Tindakan menolong orang lain mungkin memiliki kesamaan asal seperti itu. Pada masa pra sejarah, manusia hidup dalam keluarga besar mereka. Mereka tinggal dengan anggota keluarga mereka. Mereka ingin menolong satu sama lain karena mereka saling berbagi gen. Sekarang kita sudah tinggal di kota besar. Kita tidak lagi berada di sekitar keluarga atau orang yang akan membalas perbuatan baik kita. Itu tidak menjadi masalah.

Richard Dawkins: Beberapa keyakinan mengenai mukjizat merupakan sesuatu yang bertolak belakang dengan fakta-fakta ilmiah dan sifat dari ilmu pengetahuan.Seperti halnya manusia melakukan hubungan seks dengan memakai kontrasepsi yang tidak menyadari kalau dirinya dimotivasi oleh dorongan untuk memiliki anak, juga tidak terlintas dalam pikiran kita kalau kita berbuat baik disebabkan karena nenek moyang kita dulu tinggal dalam kelompok yang kecil. Itu adalah penjelasan yang cukup baik mengenai dari mana asal keinginan berbuat baik dan moral.

TIME: Apakah anda berdua memiliki kesimpulan?
Dawkins: Pikiran saya tidaklah tertutup, seperti yang anda anggap. Pikiran saya terbuka terhadap berbagai kemungkinan, yang tidak dapat saya bayangkan, atau yang anda bayangkan, atau orang lain bayangkan. Jika Tuhan itu ada, maka Ia akan menjadi sesuatu yang sangat besar dan sangat tidak dapat dimengerti oleh apapun yang selama ini diutarakan oleh ahli-ahli agama.

Collins: Saya hanya ingin berkata bahwa selama seperempat abad saya menjadi ilmuwan dan orang beragama, saya tidak menemukan hal yang bertentangan dengan apa yang Dawkins katakan mengenai alam semeta. Saya juga masih bisa menerima kemungkinan akan adanya pertanyaan mengenai alam semesta yang tidak bisa dijawab oleh ilmu pengetahuan. Pertanyaan mengenai mengapa dan bukan bagaimana. Saya menemukan jawaban dari pertanyaan itu di dalam dunia spiritual. Bukan berarti hal itu mengurangi kemampuan berpikir saya sebagai seorang ilmuwan. DAP, MLP (TIME/Berita Indonesia 30)

Add comment


Security code
Refresh

Berita Utama

utama_5_20.jpg
Dalam pandangan publik, DPR masih stempel karet pemerintah. Mereka jinak, menurut dan tidak banyak mennyalurkan aspirasi rakyat.
utama_13_71.jpg
Setelah gempa Padang 30 September 2009, Indonesia harus bersiap menghadapi bencana-bencana lain yang sedang mengintip ingin

Visi Berita

visi_42.jpg
Terorisme bukan jihad! Teroris bukan pahlawan! Dua kalimat pendek ini perlu dikedepankan untuk meluruskan makna jihad
visi_76.jpg
Capaian besar biasanya berawal dari ‘mimpi’ besar. Tapi untuk meraihnya diperlukan upaya yang kuat dan tidak mudah

Lentera

lentera_2_66.jpg
Al-Zaytun Sumber Inspirasi (4)Syaykh al-Zaytun: Indonesia harus masuk dalam zone of peace and democracy kalau ingin
lentera_1_53.jpg
Kampus Al-Zaytun selalu menempatkan dirinya sebagai bagian dari komunitas global. Hal ini juga terlihat dari semangat
Share/Save/Bookmark