Pengguna internet di Indonesia bertambah dengan pesat. Namun, pertambahan ini juga melahirkan sejumlah kekhawatiran baru, khususnya mengenai pengguna internet berusia remaja.
Satu tahun terakhir ini penetrasi sambungan internet di Indonesia makin gencar. Hal ini tidak lepas dari pelayanan operator telekomunikasi yang terus menggebrak pasar dengan membuat aplikasi layanan internet sehingga semakin mudah diakses baik melalui PC ataupun telepon seluler dengan kualitas dan harga bersaing.
Pada 2010 diperkirakan pengguna internet Indonesia mencapai 57,8 juta. Hal ini diindikasikan dengan meningkatnya jumlah pengguna internet via seluler. Bertambahnya jumlah pengguna internet di Indonesia juga tidak lepas dari semakin luasnya jaringan layanan komunikasi data dan suara berbasis teknologi 3G dan HSDPA yang dibangun di berbagai kota.
Dilihat dari total keseluruhan pengguna internet di seluruh Asia, Indonesia menguasai 4,1 persen pengguna internet dari 738 juta orang pengguna di Asia. Pada akhir 2009, menurut data Internetworldstats (IWS), Indonesia berada di posisi ke 5 sebagai negara dengan pengguna internet terbanyak di Asia yakni 30 juta pengguna. Padahal sebelumnya pada tahun 2000 pengguna internet di Indonesia masih 2 juta orang. Dan di peringkat pertama, China dengan 338 juta pengguna, Jepang 94 juta, India 81 juta, Korea Selatan 37,5 juta.
Merujuk hasil studi Nokia Siemens Network (NSN) yang dipaparkan akhir tahun 2009, kebanyakan pengguna internet di Indonesia berasal dari kalangan orang-orang muda dengan kebutuhan internet mobile, yang berubah dari golongan pemula (adopter) ke life style.
Penggunaan akan internet ini telah melahirkan sebuah pemahaman baru. Menguasai internet menjadi sebuah keharusan dalam pergaulan. Mereka tidak mau disebut gagap teknologi alias “gaptek”. Secara tidak langsung, untuk menjaga imej tersebut pengguna mulai mendekatkan diri dengan teknologi ini. Mulai dari mencari informasi, baik itu dalam hal data, aplikasi-aplikasi terbaru, berita, permainan-permainan terbaru dan lain-lain.
Tahun lalu Yahoo membuat survei mengenai perilaku pengguna Internet di Indonesia berdasarkan urutan aktivitas penggunaan internet. Riset tersebut menyebutkan, aktivitas online paling populer di Tanah Air adalah: penggunaan e-mail 59%, instant messaging 59%, dan social networking 58%. Di samping itu juga menggunakan search engine 56%, mengakses berita online 47%, menulis blog 36% serta memainkan game online 35%. Dan pengguna internet yang paling banyak adalah dari kalangan remaja, 64 persen dari pengguna internet di Indonesia. Mereka berumur antara usia 15-19 tahun.
Seiring dengan meningkatnya pengguna internet di Indonesia, pengguna situs-situs pertemanan juga meningkat. Pengguna Facebook di Indonesia misalnya, mengalami pertumbuhan yang tergolong pesat. Seperti dikutip dari www.facebakers.com pada 10 Mei 2010, Indonesia berada dalam lima besar. Yang secara urut, AS (120,7 juta), Inggris (25,5 juta), Indonesia (23,6 juta), Turki (20,6 juta), dan Perancis (17,9 juta). Sementara dilihat dari umur, 40 persen facebooker Indonesia berumur antara 18-24 tahun, 23,8 persen berumur 25-34 tahun, 13,4 persen berusia 16-17 tahun, 12,1 persen berusia 13-15 tahun, 7,4 persen berusia 35-44 tahun dan sisanya berumur 45 tahun ke atas.
Meningkatnya jumlah pengguna internet di Indonesia ini tentu memberikan dampak yang luas baik secara ekonomi, sosial, atau budaya. Namun, peningkatan ini juga melahirkan sejumlah kekhawatiran baru, khususnya bagi pengguna internet berusia remaja. Pasalnya, banyak situs termasuk situs jejaring sosial Facebook, malah dijadikan ajang untuk menjerumuskan para remaja ke hal-hal yang tidak baik.
Beberapa kasus mulai bermunculan seperti kasus penjualan gadis (prostitusi) di Surabaya, dan terbaru kasus Ari (18) yang diduga melarikan Nova (14) asal Sidoarjo. Sedangkan korban facebook lainnya, Stefani Abelina Tiur Napitupulu, 14, asal Surabaya. Yang menjadi keprihatinan semua, si korban mengalami pelecehan seksual.
Seperti halnya dengan Friendster, Twitter, dan situs jaringan sosial lainnya, Facebook telah menjadi buku harian terbuka. Apa saja yang ditulis si pemilik akun situs, dapat dibaca oleh teman-temannya yang lain. Namun naas, apa yang ditulis di Facebook malah jadi bumerang. Nurafah alias Farah, 17, seorang pengguna Facebook dituntut jaksa Kejaksaan Negeri Bogor, 5 bulan penjara dengan masa percobaan selama 10 bulan. Farah dituntut atas kasus penghinaan melalui laman facebook terhadap Felly Fandini Julistin Karnories (18). Karena menuliskan tulisan bernada hinaan pada dinding Facebook milik Felly.
Begitu juga dengan empat siswa SMA Negeri 4 Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri) terpaksa dikeluarkan bersamaan. Karena ketahuan menghujat, menghina, bahkan mengeluarkan ancaman pembunuhan kepada salah satu guru sekolah di Facebook.
Bermunculannya ekses negatif dari dunia maya, membuat internet ibarat dua sisi mata uang. Internet bisa menjadi alat mempercepat arus informasi dan membuat cerdas. Dengan internet berbagai informasi atau peristiwa di belahan dunia lain dapat diketahui. Begitu juga dalam berkomunikasi dengan massa, dapat dilakukan di belahan dunia manapun hanya dalam waktu yang singkat.
Apalagi dalam dunia pendidikan, internet memberikan peranan yang sangat signifikan. Internet telah menjadi perpustakaan ilmu tanpa batas. Karena buku-buku elektronik dapat dengan mudah diunduh, kemudian menyimpannya dalam PC ataupun flash disk. Guru dapat lebih interaktif dengan murid atau melakukan kerjasama dengan guru-guru dari luar mancanegara, dan mengumumkan secara langsung sebuah hasil kajian ataupun penelitian.
Di sisi lain, internet bisa menjerumuskan bila disalahgunakan. Oleh sebab itu, jalan terbaik yang bisa dilakukan adalah memberikan pemahaman yang benar kepada pengguna internet khususnya kaum remaja agar bijak menggunakan internet dan senantiasa waspada terhadap dampak negatif atau orang-orang yang berniat jahat di dunia maya. BS,LOR (Berita Indonesia 76)
| < Prev | Next > |
|---|



