Majalah Berita Indonesia

Thursday, Apr 27th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Humaniora Ke “Surga” Ala Junaina Mercy
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Ke “Surga” Ala Junaina Mercy

E-mail Print PDF

Kematian umumnya menyisakan rasa iba dan sedih bagi keluarga dan kerabat yang ditinggalkan. Tapi kematian Junaina Mercy, “sutradara sekaligus pelaku” aksi bunuh diri di Malang justru mengundang antipati.

Kematian umumnya menyisakan rasa iba dan sedih bagi keluarga dan kerabat yang ditinggalkan. Tapi kematian Junaina Mercy, “sutradara sekaligus pelaku” aksi bunuh diri di Malang justru mengundang antipatiWalau mau bunuh diri, bunuh diri aja sendiri. Ngapain harus bawa anak-anak segala….”
Begitu reaksi seorang ibu muda tentang kasus bunuh diri yang terjadi di Kota Malang, beberapa waktu lalu. Ibu muda dengan dua anak tersebut sangat geram, nyaris tak mampu menahan amarah. Namun, seketika, rona wajahnya tak mampu menyembunyikan kesedihan yang amat mendalam. Marah dan geram sudah barang tentu dialamatkan kepada sang ibu, “sang sutradara” sekaligus pelaku aksi bunuh diri. Sedangkan rasa sedih dan iba ditujukan kepada keempat bocah cilik, yang hidup mereka harus berakhir secara tragis di tangan ibu kandungnya sendiri.

Jangankan masyarakat, keluarga terdekatnya pun pasti mengutuk. Dan sangat menyayangkan perbuatan yang samasekali di luar akal sehat itu.

Ada apa sebenarnya di balik peristiwa tragis ini ? Benarkah semata-mata karena alasan ekonomi seperti banyak diekspose di media massa ? Jika penyebabnya hanya sebatas ekonomi yang makin sulit, astaga… kita sudah sejak lama dijejali kasus bunuh diri massal.

Kenapa tidak? Secara makro, perekonomian kita benar-benar terpuruk. Boleh saja para pakar berkoar bahwa cadangan devisa kita aman, nilai ekspor bagus, pertumbuhan ekonomi cemerlang, angka kemiskinan menyusut, dan sebagainya. Tapi satu hal tak bisa dibantah: sebagian besar masyarakat kita sekarang ini didera kesulitan hidup. Harga-harga kebutuhan pokok terus menggila, sementara daya beli masyarakat terus melemah. Entah berapa banyak kini manusia Indonesia yang untuk mendapatkan sesuap nasi saja sepertinya harus melalui perjuangan hidup mati.

Tapi sampai saat ini kasus bunuh diri massal dalam skala besar-besaran belum pernah terjadi. Dengan dibentengi oleh iman kita kepada Yang Mahakuasa, berbagai masalah pelik dalam hidup tidak lantas membuat kita berputus asa, apalagi bunuh diri.

Dalam pemahaman seperti itulah, pribadi Ny. Mercy yang juga penganut agama itu, menjadi teka-teki. Apa sebenarnya motif dia sehingga berbuat senekad itu ? Ini menjadi tugas aparat untuk membongkarnya, khususnya jajaran Polresta Kota Malang. Dan sudah barang tentu, masyarakat akan terus menunggu hasil penyelidikan aparat.

Namun masyarakat juga perlu menyadari bahwa ini butuh waktu. Aparat kepolisian tak mungkin melakukan penyidikan dengan tergesa-gesa. Mereka harus mempertimbangkan kondisi psikis sang suami dan orang tua kandung Junaini Mercy. Mereka sangat terpukul, sehingga jiwa mereka masih labil. “Jadi mohon dipahami sikap keluarga korban,” kata anggota Polres Kota Malang, Ajun Inspektur Satu Subandi, yang ikut memeriksa keluarga korban di Malang baru-baru ini, koran Tempo (12/3).

Polisi cukup serius untuk menuntaskan kasus ini. Ini paling tidak tercermin dari jumlah aparat yang dilibatkan, tak kurang dari 20 personil. Mereka berasal dari Unit Identifikasi dan Tenaga Keamanan Antibandit yang membantu mengolah tempat kejadian perkara.

Dari hasil analisis tempat kejadian memang ada indikasi yang mengarah ke kesimpulan awal : bunuh diri dengan aktor utama sang ibu, Mercy. Ini diperkuat dengan ditemukannya empat potong potas padat, satu sendok, satu piring cawan, selembar surat, pembalut wanita, serta 40-an butir kapsul dan pil. Kini barang bukti itu telah diserahkan ke bagian forensik untuk diteliti.

Karena itu, untuk sementara, polisi menyimpulkan kematian Junaina akibat minum racun potas. Menurut Kepala Kepolisian Resor Kota Malang Ajun Komisaris Besar Erwin Rusmana, bubuk potas dalam kemasan kapsul itu dicampurkan ke air putih lalu diminumkan kepada anak-anaknya. Setelah menjejali keempat anaknya dengan potas, giliran Junaina meminum air beracun itu. Hal itu sangat sesuai dengan surat yang ia buat untuk suaminya sebelum bunuh diri. “Junaina mengatakan ingin mengajak anak-anaknya ke surga,” kata Erwin menirukan pesan terakhir Junaina.

Informasi yang berhasil dihimpun oleh pers menyebutkan bahwa kemungkinan besar kasus ini dilatarbelakangi persoalan ekonomi keluarga. Beberapa tetangga mengakui keluarga korban selama ini sangat tertutup dan almarhumah Junaina hampir tak pernah menampakkan diri. Sedangkan Hendri, suaminya, bekerja di Surabaya. Hampir empat minggu belakangan dia belum pulang ke Malang.

Sebelumnya, kondisi ekonomi pasangan Junaina-Hendri Suwarno cukup mapan sebagai mekanik (teknisi) motor gede. Namun akhir 2006 lalu usahanya menurun, sehingga, Hendri harus mendirikan bengkel baru di Surabaya dan Bali.

Dalam lembaran surat wasiat tersebut tertulis keluhan Mercy atas suaminya, Hendri Suwarno (35) yang dianggap tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarga. “Pa! Dananya sudah habis, sisanya uang diambil ibu. Saya ajak anak-anak biar mereka masuk surga,” tulis Mercy. Pada bagian lain, Mercy yang juga anggota jemaah Gereja Maria Diangkat ke Surga (GMDKS) ini juga meminta agar dia dan anak-anaknya dikremasi dengan baju yang mereka senangi.

Pengamat sosial di Yogyakarta, Darmaningtyas, menyatakan bunuh diri dengan latar belakang kemiskinan menunjukkan korban sudah sangat putus asa dan frustasi akibat penderitaan dan tekanan hidup yang sangat berat. ”Bunuh diri adalah pilihan atau alternatif terakhir bagi korban untuk keluar dari masalah,”ujarnya seperti dikutip Kompas, Senin (12/3).

Menurut Darmaningtyas, kasus bunuh diri menunjukkan makin merosotnya kepedulian dan solidaritas sosial di masyarakat. Sekaligus juga menjadi bukti ketidakpedulian aparat pemerintah terhadap warga miskin. Karena itu, Darmaningtyas menandaskan pentingnya langkah preventif untuk mencegah terulangnya kasus ini. Antara lain dengan memberantas kemiskinan itu sendiri. SBR (Berita Indonesia 35)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com