Majalah Berita Indonesia

Saturday, Apr 29th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Humaniora Ajarkan Anak Berteriak
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Ajarkan Anak Berteriak

E-mail Print PDF

Kasus penculikan atau kekerasan terhadap anak terjadi karena ada pembiaran dari orang tua, sekolah, dan masyarakat sekitar.

Orang tua mana yang tidak khawatir mendengar merebaknya kasus penculikan anak belakangan ini. Apalagi Ajari anak untuk pergi dan pulang secara berkelompoksetelah mencuatnya kasus penculikan Raisah Ali (5), yang mendapat sorotan luas hingga memaksa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden M Jusuf Kalla turun tangan, penculikan-penculikan anak masih terus berlanjut. Misalnya penculikan Dimar Ardiansyah (2,5) oleh pembantunya 11 September lalu.

Berbagai motivasi melatarbelakangi aksi penculikan. Mulai dari motif ekonomi, dendam, dijerumuskan sebagai pekerja seks komersial, sindikat perdagangan anak dan yang lebih sadis dijual sebagian organ tubuhnya. Pelakunya biasanya masih orang dekat seperti rekan usaha, pembantu rumah tangga atau anak buah yang sakit hati, juga para penjual anak.

Menurut Sekjen Komnas Perlindungan Anak (Komnas Anak), Arist Merdeka Sirait, sebanyak 25 kasus dari 87 kasus penculikan yang dilaporkan ke Komnas Anak bermotif perdagangan anak, terutama untuk dipekerjakan di jalanan (sebagai pengemis atau pengamen) atau dipekerjakan sebagai pekerja seks komersial anak. Salah satunya Melyaningsih (4), yang sempat terlihat menjadi pengamen. Bahkan, dua kasus di antaranya sudah bernuansa perdagangan organ tubuh. Ini diketahui dari ditemukannya dua korban dalam kardus dengan kondisi sudah dimutilasi dengan beberapa organ tubuh penting hilang.

Sejak awal 2007, Komnas Anak sudah mencatat 39 kasus penculikan anak di Jabodetabek kemudian ditambah 12 kasus lagi sepanjang Juli-Agustus. Dari kasus tersebut, 34 diantaranya meminta uang tebusan sekitar 20-350 juta. Jelaslah motif ekonomi masih mendominasi secara keseluruhan. Sasaran penculikan kebanyakan anak-anak dari kalangan menengah ke atas. Lokasi penculikan beragam mulai dari sekolah, rumah, dalam kendaraan (taksi), di pinggir jalan, juga di pusat perbelanjaan. “Hampir semua aksi penculikan anak dilakukan di tempat umum,” kata Adrianus Meliala, kriminolog Universitas Indonesia.

Seto Mulyadi, Ketua Komnas Anak mengatakan, kasus penculikan atau kekerasan terhadap anak terjadi karena ada pembiaran dari orang tua, sekolah, dan masyarakat sekitar. Lebih lanjut, Seto menambahkan perlunya simulasi pencegahan penculikan di sekolah. Dengan simulasi, anak diberi informasi tentang pola atau modus penculikan dan menumbuhkan kesadaran anak untuk melindungi dirinya sendiri.

Oleh sebab itu, belajar dari kasus yang ada, pihak sekolah perlu mengantisipasi dan memperketat pengamanan di sekolah. Mulai dari menambah tenaga security/satpam, membuat kartu penjemput yang dilengkapi foto siswa dan penjemput, membuat buku penghubung antara orang tua, anak, dan sekolah, sampai memberikan simulasi-simulasi di sekolah. Tidak hanya itu, pihak orang tua pun semakin meningkatkan pengawasan. Beberapa orang tua bahkan memilih untuk mengantar jemput sendiri anaknya.

Untuk pengamanan di lingkungan sekolah misalnya, SMP Kristen Penabur di Modern Land, Tangerang, mengandalkan tenaga satpam yang berjumlah sekitar 5 orang dan menerapkan penggunaan kartu penjemput. “Tanpa kartu itu, siapapun penjemputnya tidak boleh membawa anak pulang,” ujar Kirana Buntoro, Kepala Sekolah SMP tersebut. Bahkan di TK Al Irsyadiyah di Pinang Kota, Tangerang dan TK Bunga Puspita, Perumahan Japos, Ciledug, kartu penjemput dilengkapi dengan foto penjemputnya. Dengan kerjasama yang solid dari pihak sekolah, orang tua, aparat dan masyarakat, diharapkan kasus penculikan anak dapat ditekan. MLP (BI 48)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com