Majalah Berita Indonesia

Saturday, Apr 29th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Humaniora Perang Armada di Jalanan
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Perang Armada di Jalanan

E-mail Print PDF

DAMPAK KENAIKAN TARIF: Jumlah konsumen menurun, kehidupan pengemudi taksi semakin sulitTurunnya daya beli masyarakat menyebabkan menurunnya penumpang taksi. Para pengemudinya ikut susah. Persaingan tarif pun berlangsung.

Seorang pengemudi taksi dari armada terkenal di Jakarta bercerita. Sejak tarif taksi naik seiring kenaikan BBM, banyak teman-temannya ditinggal isteri pulang kampung. Beberapa bahkan minta bercerai. Kehidupan yang semakin sulit dan penghasilan yang tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari kerap menyulut pertengkaran.

Di beberapa pool taksi itu, ujarnya, ada pengemudi yang terpaksa menitipkan anaknya yang masih kecil, sementara ia bekerja. Di rumah tak ada yang menjaga anak itu, karena ibunya meninggalkan rumah. Teman-teman si pengemudi yang kebetulan ada di pool, bergantian membayari makan siang anak yang dititipkan itu.

Kisah itu dituturkan dengan serius kepada Berita Indonesia yang sedang menumpang taksinya. Entah benar entah tidak, tetapi cukup membuka mata bahwa kesulitan hidup berimbas begitu getir terhadap kehidupan para pengemudi taksi yang mengalami penurunan konsumen secara drastis.
Beberapa media rupanya menyoroti masalah ini pula, meski dari sudut persaingan bisnis yang mulai tajam antar armada. Jika dulu tarif taksi seragam, kini ada yang menerapkan tarif lama dan tarif baru.

Kompas, 6 April 2006, menyuguhkan laporan “Berebut Penumpang di Jakarta.” Berbagai strategi dilakukan untuk menggaet konsumen. Dari mulai perang tarif sampai sistem kerja.

Astro Taksi menerapkan sistem ”minimum payment,” yaitu menetapkan batas bawah uang yang harus dibayarkan penumpang. Besar tarif minimum yang harus dibayar Rp 25 ribu-Rp 30 ribu. Meski argo kurang dari harga itu, penumpang harus membayar minimum payment-nya. Armada Astro juga menerapkan sistem ngalong, beroperasi malam hari. Dengan demikian mereka berani menerapkan tarif baru, dengan tarif flag fall Rp 5.000 dan penambahan Rp 2.500 per kilometer.

Menurut laporan harian Warta Kota, beberapa armada taksi skala kecil-menengah sejak 16 Maret lalu, memutuskan menurunkan tarifnya. Mereka kembali ke tarif lama, dengan flag fall  Rp 4.000 dan penambahan Rp 1.800 per kilometer. Langkah ini diambil menyusul menurunnya jumlah pengguna taksi hingga 50 persen setelah diberlakukannya tarif baru Oktober 2005 lalu.

Hasilnya, sudah mulai dirasakan. Tingkat pemesanan lewat telepon dan panggilan di jalan naik sampai 50 persen. Penghasilan para pengemudi juga naik sekitar 20 sampai 30 persen. Mereka bahkan berencana menggulirkan tarif taksi murah, buka pintu Rp 3.000 dan tarif per kilometer Rp 1.500.

Saat ini, ada sekitar 14 pengusaha taksi kecil-menengah yang tergabung dalam Forum Komunikasi Pengusaha Taksi Skala Kecil-Menengah yang dipimpin Adi Sofyan. Sekitar 10 perusahaan menurunkan tarif menjadi tarif lama, di antaranya Golden (460 unit), Mitra (300 unit), Bistro (100 unit), Bintang, dan Merlin. Beberapa perusahaan taksi skala besar seperti Putra, Kosti, dan Family, juga termasuk yang tidak ikut menerapkan tarif baru.

Faktor safety
Menurunnya konsumen taksi tidak hanya disebabkan oleh tarif yang melonjak, melainkan juga karena berbagai kasus kejahatan di dalam taksi, terutama dialami oleh kaum perempuan yang naik taksi di malam hari.

Dalam banyak kasus, pengemudi taksi bersekongkol dengan pelaku perampokan. Dia berhenti di suatu tempat dan menaikkan para pelaku. Membawa korban berputar-putar, setelah hartanya terkuras, korban dibuang di pinggir jalan. Dalam beberapa kasus, perampokan taksi juga dibarengi pemerkosaan.

Maka faktor safety menjadi salah satu syarat calon penumpang dalam memilih taksi. Taksi Blue Bird termasuk yang diakui konsumen aman dan terjamin. Suherman (47), supir Blue Bird yang telah melakoni profesinya sebagai supir taksi sejak tahun 1975 mengakui, meski Blue Bird tetap bertahan pada tarif buka pintu Rp 5.000, tetapi jumlah penumpang tidak terlalu merosot.

Persoalan utama sekarang adalah over capacity armada taksi, sementara daya beli masyarakat menurun. Menurut Presiden Direktur Blue Bird Group, Purnomo Prawiro, dengan tarif lama, jumlah rit maksimal 20 per taksi. Dengan penurunan tarif tidak mencapai 50 persen, sulit meningkatkan jumlah konsumen hingga dua kali lipatnya. Sekarang ini saja kilometer isi hanya 20-30 persen.

Melihat kemacetan lalu lintas yang bertambah parah di Jakarta, tidak mungkin satu taksi bisa beroperasi sehari membawa penumpang 25 rit. Bila 25 rit tidak terpenuhi, sulit rasanya bagi pengemudi untuk memenuhi setoran dan mendapatkan penghasilan yang cukup. Akibatnya, sulit pula mempertahankan atau meningkatkan pelayanan sehubungan kenyamanan dan keamanan.RH,DA (Berita Indonesia 13)***


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com