Majalah Berita Indonesia

Thursday, Apr 27th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Humaniora Jejak Kaum yang Hilang
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Jejak Kaum yang Hilang

E-mail Print PDF

Menunaikan sholat jamaah di sebuah masjid PekojanOrang Koja seringkali dianggap keturunan Arab. Namun nenek moyang mereka berasal dari Tamil dan Gujarat di India.

Serombongan umat Islam yang baru saja menunaikan shalat Id berjamaah,keluar dari pintu gerbang Masjid Jamik Petolongan di kawasan Pekojan, Semarang, Jawa Tengah. Wajah ceria terpancar dari raut muka sejumlah orang yang sepintas dilihat mirip wajah orang Arab.

Senyuman dari wajah yang khas itu berbaur dengan senyuman yang terpancar dari wajah-wajah orang Jawa, yang juga bersembahyang di Masjid Jamik Petolongan.
Demikian cuplikan laporan yang pernah dimuat Kompas, 10 November 2005, tentang kehidupan penduduk Koja di Semarang.

Komunitas warga Koja Semarang selain terkonsentrasi di kawasan Pekojan dan Petolongan, juga tersebar di kawasan Pecinan Semarang, yakni di Jeruk Kingkit, Bonkenep atau Bonarum, Wotprau, Bustaman, Suburan, Pandean, Progo, Pemali, dan Pesanggrahan. Mereka memiliki tradisi tersendiri setiap Lebaran, hari-hari besar Islam, dan pernikahan.

Meski bertampang mirip orang Arab—seperti yang disangka kebanyakan orang Indonesia—komunikasi sehari-hari warga Koja Semarang menggunakan bahasa Jawa ngoko maupun krama inggil. Tak jarang logat khas Semarang seperti he’eh dan iya ik, terselip dalam obrolan mereka.

Komunitas Koja tidak hanya dijumpai di Semarang. Meski bertampang seperti orang Arab, sesungguhnya mereka adalah keturunan Tamil dan Gujarat di India, yang berinduk pada bangsa Pakistan.

Lain Semarang, lain Jakarta. Di Ibukota negara ini, penghuni kampung Pekojan kini bukan lagi keturunan India muslim, setelah pemerintah Hindia Belanda pada abad ke-18 menetapkan Pekojan sebagai kampung Arab.

Sampai kini, masih terdapat Gang Koja —yang telah berganti nama jadi Jl Pengukiran II. Di sini terdapat sebuah masjid kuno Al-Anshsor yang dibangun pada 1648 oleh para Muslim India.

Tidak sampai satu kilometer dari tempat ini, masih di Kelurahan Pekojan, terdapat Masjid Kampung Baru yang dibangun pertengahan abad ke-18. Warga Muslim India yang telah menyebar di Jakarta, setiap Lebaran, shalat Id di masjid ini. Sambil bernostalgia mengenang para leluhurnya yang tinggal di kawasan ini.

Menjadi Kampung Arab
Di masa Hindia Belanda, para imigran yang datang dari Hadramaut (Yaman Selatan) ini diwajibkan lebih dulu tinggal di Pekojan. Dalam perkembangannya, Kampung Pekojan boleh dibilang cikal bakal dari sejumlah perkampungan Arab yang kemudian berkembang di Batavia. Dari tempat inilah mereka kemudian menyebar ke Krukut dan Sawah Besar (Jakarta Barat); Jatipetamburan, Tanah Abang, dan Kwitang (Jakarta Pusat); Jatinegara dan Cawang (Jakarta Timur).

Menurut jurnalis senior yang juga pengamat budaya Betawi, Alwi Shahab, Prof  LWC van den Berg, orientalis dan pakar hukum Belanda, pada tahun 1884-1886 pernah mengadakan penelitian mengenai orang Arab di Hadramaut dan Hindia Belanda. Ketika ia mengadakan penelitian itu, orang Koja sudah tidak ada lagi. Saat itu penduduk yang ada mayoritas Arab dan hanya beberapa gelintir Cina.

Seperti ditulisnya di harian Republika, di Cirebon juga terdapat kampung Pekojan. Pemerintah Belanda mengangkat seorang kapiten Arab pada 1845. Seperti juga di Batavia, kampung Arab di sini dulunya tempat tinggal orang India Muslim.

Pada 1872, koloni di Indramayu dipisahkan dari Cirebon dengan mengangkat seorang kapiten (kepala koloni) Arab. Demikian pula di Tegal, Pekalongan, Semarang, Surabaya, Gresik, Pasuruan, Bangil, Lumajang, Besuki, Banyuwangi, Surakarta, Sumenep, dan berbagai tempat di Nusantara terdapat kapiten Arab. Ini dimaksudkan, antara lain, untuk memisahkan keturunan Arab dengan pribumi.

Orang Koja umumnya berasal dari daerah Cutch, Kathiawar dan Gujarat, India. Mereka berasal dari kasta Ksatria. Pada abad ke-14, komunitas ini mengalami perubahan besar ketika seorang mubaligh Persia, Pir Sadruddin, menyebarkan agama Islam di antara mereka dan memberikan kepada mereka nama “Khwaja”, dan dari kata ini diperoleh kata “khoja” atau “koja”. “Khawaja” sendiri berarti “guru, orang yang dihormati dan cukup berada”. Sementara, dalam bahasa India sendiri, Koja berarti ‘orang hilang’.

Saat ini, baik di Semarang, Jakarta, maupun kota-kota lain, penduduk Pekojan telah berbaur dengan penduduk lainnya. Meski ada tradisi-tradisi tertentu yang berbeda dan tetap dipertahankan, hal itu memperkaya khasanah budaya Nusantara .RH (Berita Indonesia 11)***


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com