Majalah Berita Indonesia

Sunday, May 28th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Humaniora Hardiknas Kehilangan Semangat
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Hardiknas Kehilangan Semangat

E-mail Print PDF

Ujian Nasional (UN) 2010 menjadi cacatan tersendiri dunia pendidikan Indonesia yang masih memerlukan pembenahanTahun ini jumlah sekolah yang muridnya 100% tidak lulus ujian nasional (UN) bertambah banyak.

Di latarbelakangi tanggal dan bulan kelahiran tokoh pendidikan nasional, pendiri Taman Siswa, Ki Hadjar Dewantara yang bernama asli Raden Mas Soewardi pada tanggal 2 Mei 1889, Indonesia menetapkan tanggal 2 Mei setiap tahunnya sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas).

Hardiknas pun kemudian selalu diperingati dengan hikmat dan bersemangat oleh seluruh sekolah di Tanah Air. Namun tahun ini, banyak sekolah yang merayakannya dengan dingin-dingin saja tanpa semangat. Situasi tersebut tidak terlepas dari duka yang baru saja dialami sekolah tersebut, dimana sebagian besar - bahkan ada yang seratus persen - muridnya tidak lulus ujian nasional 2010. Karena itu, makna peringatan Hardiknas pun menguap cuma seremonial belaka.

Tahun ini jumlah sekolah yang muridnya 100% tidak lulus ujian nasional (UN) bertambah banyak. Seperti disampaikan Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh 27 April 2010, di tingkat SLTA saja, 267 SMA/MA/SMK yang terdiri atas 51 sekolah negeri dan 216 sekolah swasta, 100 persen siswanya tidak lulus UN. Jumlah siswa yang tidak lulus dan harus mengikuti UN ulang itu mencapai 7.648 orang. Sebaliknya, hanya 5.795 sekolah (35,17 persen) yang 100% siswanya (418.855) lulus. UN 2010 sendiri diikuti 16.467 SMA/MA/SMK di seluruh Indonesia. Di tingkat SMP, tahun ini tercatat 561 SMP dan sederajat yang 100% tidak lulus.

Pemerintah memang berjanji tidak akan memberi sanksi kepada sekolah-sekolah yang prestasi kelulusan UN-nya jeblok tersebut. Sebaliknya, mereka akan dibantu untuk diperkuat karena kemampuannya yang terbatas. Para pelajar yang tidak lulus itu pun masih diberi kesempatan untuk ujian ulang pada pertengahan Mei 2010. Sedangkan mengenai lulusannya, Wakil Mendiknas Fasli Djalal menjamin tidak akan ada pembedaan antara lulusan UN dengan lulusan UN ulang. “Bobot keduanya sama besar,” ujarnya. Namun, terlepas dari itu, dapat dimaklumi jika seluruh civitas akademik di sekolah-sekolah itu mengalami penurunan semangat, bahkan mungkin malu akibat kegagalan UN tersebut. Yang kemudian membuat semangat merayakan Hardiknas juga menurun.

Melihat kondisi sekarang ini, mungkin wajar jika dunia pendidikan kita sejak beberapa tahun terakhir ini disebut cukup memprihatinkan. Bukan karena hanya masalah ujian nasional, tapi juga masalah lainnya, seperti biaya pendidikan, pemerataan kualitas dan kuantitas antar daerah di seluruh Indonesia, termasuk seleksi masuk perguruan tinggi negeri.

Soal ujian nasional, misalnya, dari tahun ke tahun selalu menjadi perdebatan pro dan kontra. Untuk tahun 2010 ini, standar kelulusan dinaikkan menjadi 5 yang dimaksudkan sebagai salah satu usaha peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Namun di sisi lain, upaya menyamaratakan mutu sekolah di seluruh negeri, baik antarPulau Jawa dan luar Pulau Jawa, maupun antardesa dan kota, belum maksimal dilakukan oleh pemerintah. Untuk itu, agar waktu bangsa ini tidak habis hanya untuk mengurusi UN, hendaknya evaluasi menyeluruh perlu dilakukan, termasuk evaluasi mengenai soal ujiannya dan penyelengaraannya.

Seleksi penerimaan mahasiswa di perguruan tinggi juga kiranya perlu mendapat evaluasi. Sebab, seperti terhadap pelajar SLTA yang tidak lulus ujian nasional tadi, beberapa perguruan tinggi membuat sikap yang berbeda. Sejumlah perguruan tinggi di DI Yogyakarta misalnya, masih memberikan kesempatan kepada pelajar yang sebelumnya telah lolos seleksi masuk, tetapi gagal ujian nasional. Para pelajar itu diberikan tenggang waktu melengkapi ijazah hingga tahun berikutnya. Akan tetapi, mereka belum dapat mengikuti kuliah sebelum melengkapi ijazah kelulusannya.

Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta misalnya, memberikan kesempatan hingga satu tahun terhitung sejak pelajar lolos seleksi masuk UGM. “Namun, selama belum melengkapi ijazah, mereka tetap berstatus calon mahasiswa dan belum bisa ikut kegiatan perkuliahan. Setelah syarat lengkap, baru bisa ikut kuliah,” papar Direktur Akademik dan Administrasi UGM Yogyakarta Budi Prasetyo Widyobroto (28/4).

Berbeda dengan UGM, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta Rochmat Wahab mengatakan, calon mahasiswa yang gagal UN utama dan ulangan akan langsung dinyatakan gugur. Hal itu disebutkannya untuk menjaga integritas institusi dan menegakkan peraturan pemerintah. “Jatah kursi mereka akan kami berikan kepada peserta seleksi di bawahnya,” tuturnya.

Masih banyak persoalan pendidikan lainnya di negeri ini. Maka dari itu, pada kesempatan peringatan Hari Pendidikan Nasional ini, para pihak yang berkompeten hendaknya kembali duduk satu meja untuk menyatukan visi dan misi tentang pendidikan nasional ke depan. Dengan demikian, kegagalan yang pernah dialami selama ini tidak terulang lagi. Hardiknas tahun depan pun akan dirayakan dengan penuh semangat. SIT (Berita Indonesia 76)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com