Majalah Berita Indonesia

Monday, May 02nd

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Humaniora Sekolah Raja Di Tengah Kota
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Sekolah Raja Di Tengah Kota

E-mail Print PDF

Sekolah Raja dan Perpustakaan Nasional di Jalan Salemba, Jakarta PusatBeberapa siswa pribumi yang pernah belajar di sekolah ini di kemudian hari menjadi pahlawan di Tanah Air.

Air mancur yang menyejukkan mata akan menyambut siapa saja yang memasuki pintu gerbangnya. Di depan air mancur, berdiri sebuah bangunan, dengan atap yang bentuknya mirip dengan atap rumah tradisional Melayu. Di sebelah kanan bangunan itu, masih di dalam halaman yang sama, ada gedung bertingkat sembilan berwarna coklat muda. Itulah Perpustakaan Nasional.

 

Semua orang mengenal Perpustakaan Nasional di Jalan Salemba, Jakarta Pusat. Gedung yang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 11 Maret 1989 itu menjadi salah satu tempat yang sering dikunjungi oleh masyarakat, terutama pelajar dan mahasiswa, untuk keperluan riset data maupun mencari bahan bacaan yang menarik.

Namun tak banyak yang tahu apa sebenarnya fungsi gedung tua di seberang air mancur itu. Bangunan bergaya tradisional itu sebenarnya peninggalan sejarah dari masa lalu, ketika Belanda masih bercokol di Tanah Air. Bangunan itu dulu merupakan sekolah anak-anak Belanda, bernama Gymnasium Koning Willem III School.

Nama sekolah itu diambil dari nama raja Belanda kala itu, yakni Koning (raja) Willem III. Diresmikan oleh Gubernur Jenderal Charles Ferdinand Pahud pada 27 November 1860, dan merupakan sekolah menengah yang pertama kali didirikan pemerintah kolonial Belanda di Batavia. Orang-orang kemudian menyingkatnya KW III yang dalam pelafalan Belanda menjadi Kawedri. Sekolah itu juga dijuluki ‘sekolah raja’ sehingga murid-muridnya yang adalah anak-anak pejabat kolonial disebut ‘anak-anak raja.’

Sekolah ini kemudian menerima anak-anak pribumi dari golongan priyayi atau pejabat pribumi. Beberapa murid pribumi yang bersekolah di sana kelak menjadi tokoh pergerakan nasional yang dikenang sampai sekarang. Ada Agus Salim, Achmad Djajadiningrat, Mohammad Achmad, M.H. Thamrin, Douwes Dekker, dan Johannes Latuharhary.

Tahun 1867, gymnasium KW III yang semula diubah menjadi hogere burger school (HBS). Namun sekolah ini tetap disebut KW III. Ketika Jepang masuk ke Indonesia tahun 1942, sekolah ini ditutup. Gedungnya dipergunakan untuk Pertahanan Sipil Belanda. Setelah Belanda menyerah, Jepang menggunakannya. Demikian juga saat sekutu mengalahkan Jepang, gedung ini dipakai oleh tentara sekutu.

Tahun 1949, setelah Belanda mengakui kedaulatan RI, gedung KW III sempat menjadi markas kesatuan TNI Batalyon Kala Hitam. Kemudian beralih menjadi kantor dan perumahan Jawatan Kesehatan TNI AD.

Wisata sejarah
Meski telah direnovasi, bentuk aslinya tetap dipertahankan. Arsitekturnya bergaya rumah tropis Melayu. Jika berjalan di lorong-lorongnya, siapa saja bakal membayangkan suasana kala anak-anak masih bersekolah di sana. Di halaman tengah ada sebuah pendopo yang dahulu merupakan aula tempat dahulu para murid menggelar acara tahunan seperti teater atau olahraga. Sekarang, bekas aula itu menjadi Auditorium Perpustakaan Nasional.

Setelah pendopo bisa dijumpai deretan ruang kelas. Ada 23 kelas dalam dua deretan yang dipisahkan lorong panjang yang kini diberi penerangan lampu neon. Kelas-kelas itu cukup luas dengan jendela dan berpintu lebar sehingga ventilasinya memungkinkan udara masuk sebanyak mungkin.

Jika melangkah ke ujung pendopo, maka akan terlihat sebuah tangga untuk naik ke ruangan memanjang di lantai atas. Di sana dulu, murid kelas lima melaksanakan ujian akhirnya.
Kolam air mancur yang kini berdiri di depan bangunan Kawedri dulu merupakan halaman teduh yang ditumbuhi pohon-pohon kenari dan asam. Di ujung kanan gedung utama dahulunya adalah tempat parkir sepeda para muridnya.

Lapangan olahraga untuk murid-murid berada di halaman belakang gedung utama. Di sana terdapat juga ruangan-ruangan untuk olahraga indoor. Karena tidak ada kolam renang di kompleks sekolah, murid-murid Kawedri biasa berenang di kolam renang Asrama Mahasiswa di belakang Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Mereka biasanya pergi beramai-ramai naik sepeda.

Gedung ini kini berada di bawah tanggung jawab Yayasan Kawedri. Sebuah prasasti bertanggal 27 Januari 1987–tanggal penggunaan gedung secara resmi setelah dipugar–berhadapan dengan prasasti peresmian KW III School 27 November 1860.

Meski berbeda dengan museum, gedung Kawedri menjadi monumen sejarah yang menarik untuk dikunjungi, sambil mengenang kembali perannya melahirkan para pahlawan pergerakan Tanah Air.(Sumber: buku “Dari Sekolah K.W.III ke Yayasan Kawedri, 1992”)  RH (Berita Indonesia 08)***


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com