Perubahan lokasi pembunuhan menjadi bukti baru bagi polisi. Dua mantan petinggi Garuda ditangkap.
Di ketinggian langit di atas wilayah Rumania, Munir, sang aktivis itu menghembuskan napasnya yang terakhir. Sebelumnya, dia mengalami diare hebat dan harus mondar-mandir ke toilet pesawat.Setelah Pollycarpus Budi Hari Priyanto, pilot maskapai Garuda, dibebaskan dari tuduhan sebagai pembunuh Munir, ketidakpuasan merebak dari pihak keluarga Munir dan rekan-rekannya sesama aktivis. Ada mata rantai yang terputus dalam kasus itu. Polisi pun kemudian memperbarui tim penyelidiknya dan mulai mencari fakta-fakta baru.
Kemudian terungkaplah sejumlah bukti baru setelah hasil sampel organ mendiang Munir selesai diperiksa lebih intesif di laboratorium kepolisian di Seattle, Amerika Serikat. Hasilnya, Munir bukan diracun di pesawat seperti selama ini diduga. Melainkan di saat transit di Bandara Changi, Singapura.
Seperti dilaporkan media-media di Indonesia, dua orang mantan petinggi Garuda ditangkap dari kediaman mereka. Kedua tersangka baru tersebut adalah mantan Dirut PT Garuda Indonesia, Indra Setiawan dan Sekretaris Kepala Pilot Airbus 330 Garuda, Rohainil Aini.
Keduanya ditangkap penyidik Mabes Polri di tempat berbeda pada Sabtu pagi (14/4). Indra ditangkap di kawasan Tebet, Jakarta Selatan dan Rohainil ditangkap di wilayah Curug, Tangerang. Indra Setiawan tiba di ruang pemeriksaan Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri pada sekitar pukul 04.00 WIB, sedang Rohainil tiba 4,5 jam sesudahnya.
Kuasa hukum PT Garuda, M Assegaf, menyesalkan penangkapan kedua tersangka tersebut. “Cara menangkapnya seperti teroris saja,” katanya. Ia mengatakan, seharusnya, Polri tidak perlu menangkap tersangka, namun cukup melayangkan surat pemanggilan pemeriksaan.
Sebelumnya, sudah ada indikasi tersangka baru dalam kasus Munir. Penyidikan Bareskrim Polri dalam kasus tewasnya Munir mulai mengarah kepada empat tersangka baru. Dua tersangka merupakan purnawirawan pejabat tinggi negara dan dua lagi masyarakat sipil.
Saksi Kunci
Saat ditanya tentang saksi kunci, Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komjen Pol Bambang Hendarso Danuri menolak menyebutkan saksi kunci dan motif kasus pembunuhan aktivis HAM, Munir kendati ada kemajuan berarti dalam penyidikan.
Saksi itu adalah orang yang melihat Pollycarpus dan Munir bersama di Bandara Changi, Singapura, 6 September 2004, katanya di Jakarta. “Kami harus melindungi saksi ini sehingga tidak akan saya sebutkan sekarang,” katanya.
Selain saksi, Bambang juga menolak menyebutkan motif pembunuhan Munir sebab bila disebutkan malah bisa memicu polemik. “Kami tidak ingin ada polemik soal motif pembunuhan Munir,” katanya. Direncanakan, alat bukti baru itu akan diserahkan Jumat (13/4).
Polri sebelumnya menyatakan siap menyerahkan alat bukti baru (novum) kepada Kajagung sebagai syarat untuk mengajukan Peninjauan Kembali (PK) kasus Munir. PK itu dilakukan karena hakim kasasi Mahkamah Agung membatalkan vonis pengadilan negeri dan tinggi Jakarta yang menghukum Pollycarpus 14 tahun penjara dalam kasus pembunuhan Munir.
Munir ditemukan tewas di atas pesawat Garuda nomor penerbangan GA 974, Senin, 7 September 2004 yang terbang dari Jakarta menuju Amsterdam, Belanda. Hasil otopsi ahli forensik Belanda pada 13 Oktober 2004 menyebutkan, Munir meninggal karena dalam lambungnya terdapat racun arsenik dalam jumlah besar.
Saksi mata menyebutkan adanya orang lain yang terlihat bersama Munir dan Pollycarpus di Bandara Changi. Sampai saat ini polisi masih menyembunyikan identitasnya sebagai Mr X, namun diduga dia adalah penyanyi dan pencipta lagu Ongen Latuihamalo.
Ongen Latuihamalo sendiri raib, namun tampaknya polisi berhasil mengetahui keberadaannya. Meski demikian, Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Sisno Adiwinoto menyatakan hal itu masih konsumsi internal polisi dan baru akan dipublikasikan setelah penyelidikan selesai.
Saat ini, Kepala Bareskrim Polri Komjen Bambang Hendarso Danuri, yang juga ketua tim penyelidik Polri untuk kasus Munir belum mau membuka dugaan motif pembunuhan Munir. Menurutnya, setelah kedua mantan petinggi Garuda diperiksa, mereka akan ’bernyanyi’ juga. RH (Berita Indonesia 37)
| < Prev | Next > |
|---|



