Majalah Berita Indonesia

Sunday, May 28th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Hukum Mencari Sapu Bersih
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Mencari Sapu Bersih

E-mail Print PDF

Sejumlah nama kandidat ketua KPK menuai penolakan, bahkan sebelum diumumkan secara resmi.

Integritas harus diutamakanKetua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Anwar Nasution mengaku mengajukan protes kepada Ketua Panitia Seleksi Calon Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yang juga Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Taufiq Effendi. Anwar protes karena Surachmin, staf BPK, lolos seleksi calon pimpinan KPK itu.

Surachmin dinilai Anwar tidak memiliki integritas untuk menduduki pimpinan KPK. “Jadi, kualifikasinya rendah. Integritasnya kurang baik untuk menjadi anggota KPK,” ujar Anwar dikutip Kompas, 20 September 2007.

Tak bisa dimungkiri bahwa sepuluh calon ketua KPK yang diajukan panitia seleksi menuai kritik. Protes yang diajukan Anwar Nasution itu misalnya. Menanggapi protes itu, seperti dilaporkan Media Indonesia (23/9), Panitia Seleksi (Pansel) KPK menyatakan Surachmin layak untuk diajukan ke DPR berdasarkan semua proses seleksi yang dilakukan pansel.

Mulai dari proses seleksi administrasi, tes pembuatan makalah, profile assesment, wawancara uji publik dan hasil rekam jejak sudah benar. Tidak ada masalah. Salah satu anggota pansel, Hikmahanto Juwana menyatakan, saat Pansel KPK melalui Gunawan Hadisusilo, sekretaris pansel, meminta data tentang rekam jejak Surachmin selama di BPK, tidak ada laporan pernah melakukan kesalahan atau tindakan yang menunjukkan tidak punya integritas.

Nama-nama kandidat lain yang banyak dikritik adalah dua jaksa aktif, yakni Direktur Penuntutan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum Kejaksaan Agung, Antasari Azhar serta Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kejaksaan Agung Marwan Effendy. Lainnya dari unsur kepolisian, Bibit Samad Rianto, seorang purnawirawan inspektur jenderal, mantan Koordinator Staf Ahli Kepala Polri.

Ketiganya menuai penolakan karena mencantumkan tiga nama dari unsur kejaksaan dan kepolisian, yang dikenal sarat korupsi.

Beberapa laporan masuk ke pansel mengaitkan Antasari dengan kejanggalan penanganan sejumlah kasus yang ditanganinya. Jumlah hartanya juga dinilai tidak wajar jika dibandingkan dengan gajinya per bulan. Marwan Effendy diduga melakukan plagiarisme. Meraih gelar doktor hukum dari Universitas Padjadjaran, Bandung, pada 2004, Marwan dilaporkan menjiplak tesis Untung S. Radjab, kakak kelasnya.

Sementara itu, Bibit Samad Rianto dipertanyakan karena nilai kekayaannya sebesar Rp 1,86 miliar, yang dianggap kelewat tinggi untuk ukuran gajinya di kepolisian dan istrinya yang seorang perawat. Dari riwayat pekerjaannya sebagai anggota Polri, jumlah ini dinilai tidak wajar oleh pansel.

Integritas
Anggota pansel lainnya, Mas Achmad Santosa, menyatakan pihaknya mengutamakan aspek integritas untuk memilih kesepuluh kandidat dari 26 calon yang kemudian dikirim ke Presiden. Berbagai pertanyaan dari anggota pansel kebanyakan berkisar pada aspek integritas.

Ketua Komisi Hukum DPR, Trimedya Panjaitan mengkritik kinerja pansel seperti dilansir Tempo (10-16/9). Menurutnya, sistem pemilihan ini belum menghasilkan calon pemimpin KPK yang berkualitas. Ia menyatakan DPR tidak akan mempersoalkan latar belakang profesi kandidat. Yang jelas, tugas pemimpin KPK nantinya tidak hanya menyidik atau menuntut pelaku korupsi, tetapi yang penting tindakan itu menimbulkan efek jera agar tidak ada lagi korupsi. RH (BI 48)

10 Kandidat Ketua KPK:
1. Antasari Azhar,
Direktur Penuntutan pada JAM Tindak Pidana Umum Kejaksaan Agung
    Kekayaan: Rp 3,5 miliar
    Penghasilan per bulan: Rp 5,5 juta (gaji)

2. Marwan Effendi, Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kejaksaan Agung
    Kekayaan: Rp 2,18 miliar
    Penghasilan per bulan: Rp 23,5 juta 
    Kejaksaan: Rp 5,5 juta 
    Dosen: Rp 3 juta
    Seminar: Rp 5 juta
    Istri: Rp 10 juta

3. Irjen (Purn.) Bibit Samad Rianto, Mantan Koordinator Staf Ahli Kepala Polri
    Kekayaan: Rp 1,86 miliar
    Penghasilan per bulan: Rp 9,5 juta
    Profesi: Rp 6,5 juta
    Istri: Rp 3 juta

4. Amien Sunaryadi, Wakil Ketua KPK
    Kekayaan: Rp 294,9 juta
    Penghasilan per bulan: Rp 39 juta

5. Waluyo, Deputi Bidang Pencegahan KPK
    Kekayaan: Rp 7,9 miliar + US$ 55.680
    Penghasilan per bulan: Rp 105,6 juta

6. Mochammad Jasin, Direktur Penelitian dan Pengembangan KPK
    Kekayaan: Rp 497,9 juta
    Penghasilan per bulan: Rp 19 juta

7. Iskandar Sonhadji, Pengacara, Koordinator Tim Hukum Indonesia  Corruption Watch
    Kekayaan: Rp 3,1 miliar + US$ 51 ribu
    Penghasilan per bulan: Rp 55 juta

8. Chandra M. Hamzah, Pengacara
    Kekayaan: n.a.
    Penghasilan per bulan: n.a.

9. Surachmin, Inspektur Pengawasan Kerugian Negara BPK
    Kekayaan: Rp 604,4 juta + US$ 481
    Penghasilan per bulan: Rp 25,6 juta
    BPK: Rp 11,2 juta
    Profesi: Rp 10 juta
    Istri: Rp 4,4 juta

10. Haryono, Kepala Biro Perencanaan dan Pengawasan BPKP
     Kekayaan: n.a.
     Penghasilan per bulan: n.a.


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com