Majalah Berita Indonesia

Friday, Jul 30th

Last update04:15:44 PM GMT

Majalah Berita Indonesia RSS Feed
You are here Edisi Cetak Hiburan Musik Era Krisis

Musik Era Krisis

E-mail Print PDF
User Rating: / 0
PoorBest 

Anak band bermunculan setelah si-”Kucing Garong” ngumpet entah di mana…

MENJAMUR: Bermunculannya band-band baru membuat industri musik di tanah air semakin berwarnaIndustri musik rekaman termasuk yang ikut remuk saat krisis keuangan dunia. Setelah hampir tiga dekade diserang wabah pembajakan, dan sekarang era musik digital semakin memperkecil laju jual album rekaman. Maka anak band lah yang akhirnya mendulang berkah.

Coba simak di layar kaca, kenyataan ini akan sangat jauh berbeda dengan musik awal era 80-an. Hanya segelintir penyanyi perempuan solo yang berparas cantik yang muncul, selain Bunga Citra Lestari (BCL), Agnes Monica, Gita Gutawa, Pingkan Mambo, Aura Kasih, sisa terbesarnya adalah puluhan group band yang baru mletek. Jika di era krismon musik band pop yang paling bonyok, justru di saat inilah mereka yang paling diminati.

Sekarang kita akan kesulitan merunut nama-nama band baru yang muncul. Tercatat sekitar 82 group band/vokal baru yang mewarnai blantika musik rekaman dalam dua tahun terakhir. Dari yang paling anget ada Hijau Daun, Hello, Tequila, Gruvi, ILVU, Lyla, Private Harmony juga Alexa. Sebelumnya juga ada D’Masiv, Rama Band, Matta, Seventeen, J-Rock, The SIGIT, Merpati, Republik, Mozarela, Ken, Plat, Pilot, Angkasa, Titans, Drive, SHE, Wali, Vangetoz, Kotak, Maha, The Rain, Kangen, ST 12, Letto, Maliq & D’essentials, Efek Rumah Kaca dan The Changchuters. Dan sejumlah nama lain masih bisa diteruskan.

Kendati belum genap lima album, group-group yang terbilang baru ini sudah punya jadwal manggung yang akan melebihi kocek one hits wonder-nya. Satu dua hits sudah cukup jadi alasan untuk perform di panggung. Apalagi, sekarang acara tayangan musik di banyak stasiun membuat semakin suburnya kemunculan anak-anak band tadi.

Di deret group vokal cukup bervariasi. Dari Project Pop yang “enggak ada matinye”, sampai yang mendompleng arus aji mumpung seperti BBB dan The Sisters. Yang mediocre ada T2, Pasto, Dua, dan Sevensoul. Sedangkan yang paling digilai anak muda sekarang ada RAN, Duo Maia, dan Tangga.

Deretan yang terakhir disebut ini tidak hanya mengandalkan keelokan rupa, tapi trik jitu menghadapi era krisis. Mereka sering ditanggep mentas lantaran paket yang tergolong hemat. Penyanyinya tidak sendirian alias keroyokan, ini jelas akan membuat show jadi lebih hidup. Dengan teknis minus one (musik pengiringnya rekaman) pun sedikit termaafkan karena tampilan mereka begitu meriah. Kecenderungan mereka membawa fashion sebagai elemen yang perlu ditonjolkan di atas pentas. Ternyata fashion sangat ampuh untuk mengatasi daya beli showbiz yang semula sempat lesu.

CIRI KHAS: Group band Changchuters dengan gaya tempo doeloeSedangkan group band yang duluan muncul ada Samsons, Naff, Peterpan, Ada Band, Radja, Ungu, Nidji, Kerispatih. Mereka masih terus bersinar dengan jumlah hits yang terus terdengar di radio, televisi, panggung hidup, sampai ring tones dan ringback tones. Intensitas manggung mereka lebih kuat ketimbang “adik kelas”-nya yang tersebut duluan di atas karena rata-rata sudah mengantongi sebuah brand sebagai sponsor.

“Alhamdulillah, untuk manggung nyaris enggak ada putusnya. Yang sangat memprihatinkan adalah parahnya pembajakan album kami…,” terang Giring Ganesha pentolan Nidji pada Berita Indonesia selepas manggung pertengahan Februari lalu. Sebagai salah satu group musik yang dinobatkan The Rising Star, Nidji mengharap berkah justru dari manggung, bukan semata dari penjualan album.

Sedangkan nama-nama lama yang semakin mengkilap ada Slank, Gigi, Pas Band, Padi, Netral, Dewa, Potret, Cokelat, Sheilla on 7, Jikustik, dan Naif. Mereka adalah sedikit dari group papan atas yang masih akur dalam komitmen bermusik. Kesejatian musik akan menghantar mereka setapak lagi menuju legenda hidup musik Indonesia nantinya.

Penyanyi Solo
Di masa krisis semua angka pengeluaran diperkecil sedemikian rupa. Daya beli masyarakat terhadap album rekaman akhirnya terpenuhi dalam suguhan musik di televisi dan panggung hidup. Kemunculan belasan group band baru inilah yang menjadi jawabannya.

PUYENG: Goyangan Inul Daratista sempat menjadi kontroversi, namun tak sedikit pula yang ‘menikmati’ goyangannya tersebut“Terlalu berisiko tinggi jika ada pendatang baru penyanyi solo saat ini, jika dia belum pasti punya aset musikalitas dan penampilan yang memang benar-benar sudah disukai banyak pendengar,” ujar pengamat Bens Leo pada Berita Indonesia beberapa saat lalu.

Menurut Bens, penyanyi solo memerlukan band pengiring tersendiri dan itu yang menambah anggaran jadi membengkak. Berbeda dengan group atau band, mereka sudah dipastikan mempunyai band pengiring yang siap tampil dengan hitungan perpaket yang sudah pasti. Kalau penyanyi solo?

“Masak penonton mau disuguhi lipsing (rekaman) atau minus one melulu? Pendengar pasti bosan. Jangan lupa, pendengar sekarang sudah sangat kriris, meski sekalipun anak abege…,” terang Bens lagi.

Kendati group band menuai berkah, ada juga soloist yang lolos dari kutukan. Maka jelas bagi Mulan Jameela yang selalu wara-wiri di atas pentas lantaran dalam lingkup manajemen Republik Cinta di mana ada Dewa, The Rock, Mahadewi, Andra and The Backbone yang sudah mempunyai full band yang tetap. Sedangkan Gita Gutawa jelas punya talenta yang unik untuk penyanyi cewek usia nanggung yang belum banyak diisi orang lain. Apalagi, bapaknya, Erwin Gutawa punya orkestra yang punya banyak peluang manggung live.

Nama Melly Goeslow dan Dewiq tak akan pernah luput dari suami-suami mereka yang juga musisi kenamaan. Sebagai pencipta lagu, keduanya akan terus memproduksi citra dengan menggaet penyanyi lain. Misalnya saja Melly terus menguntit Rossa. Penyanyi mungil ini menuai berkah dari masa sulit lantaran D3Va (baca Tiga Diva) Titi DJ-Ruth Sahanaya, dan Krisdayanti sempat bersitegang dengan Erwin Gutawa. Album D3Va pun tidak banyak bicara meski tiga penyanyi perempuan itu sudah teruji di atas pentas. Sekarang Rossa lah yang akhirnya terpilih nasib. Erwin dan Jay Subijakto membesutnya ke panggung besar, live concert tunggal. Rossa melejit ke tahta tertinggi penyanyi solo perempuan dalam setahun belakangan ini.

Soloist pria cukup dengan nama Afgan yang paling menonjol hampir dalam dua tahun belakangan. Sedangkan yang wanita ada BCL dan Aura Kasih yang memang punya aura memikat. Sebagai penyanyi perempuan, BCL dan Aura punya paket lengkap; cantik, punya perform yang enak dilihat, dan, ya… cukup lumayan lah suaranya …

INDAH: Penyanyi Bunga Citra Lestari tetap eksis di tengah persaingan musik Indonesia yang semakin ketatDangdut tak Berdenyut
Sepanjang dua tahun terakhir, pamor dangdut memudar. Terlihat dari berangsur hilangnya pentas hidup dangdut di televisi, dan beralihnya sejumlah panggung jadi pentas musik untuk anak-anak band. Dan yang paling memprihatinkan kuantitas album rekaman yang makin melorot tajam.

Sejak megahits dari group Trio Macan SMS dan Kucing Garong dua tahun silam, dangdut tidak lagi mempunyai anthem yang bisa dinikmati dari penyanyi aslinya. Yang paling menonjol adalah penggubah lagu pop menjadi dangdut. Maka sekali lagi, pamor group band mendapat limpahan berkah. Simak saja bagaimana Uut Pertamasari, Ira Swara, Cinthya Sari dan Dewi Persik rajin mengolah lagu hits dari Gigi, Dewa, Ungu, Jambrut, D’Massive, misalnya.

Di awal pembuka lagu sampai masuk reff berpola pop, lalu mulailah unsur dangdut menyelinap di tengah sampai akhir lagu. Ini semakin membuktikan miskinnya hits dangdut yang bisa dipresentasikan di panggung hidup. Anak band si empunya lagu aslinya merasa asik-asik saja lagunya dibawakan dalam versi dangdut. Format musik pop memang lebih lentur diaransemen ulang jadi lebih nge-beat. Niat untuk memasukkan unsur dance, house, dan upbeat jadi alasan yang masuk akal untuk bergoyang disko-dut.

Lain hal dengan perseteruan antara PAMMI (Persatuan Artis Musik Melayu Dangdut Indonesia) dengan artis dangdut yang dikategorikan “pegoyang” bokong. Sempat ada klaim dari Rhoma Irama untuk melarang lagunya dibawakan oleh Inul Daratista yang saat itu menjadi kubu lawannya. Perseteruan itu dipicu lantaran Inul dianggap membawa dampak dangdut yang seronok (baca: kampungan) akibat goyang ngebor-nya. Sampai sekarang Inul tetap ngebor meski relatif berkurang kadarnya.

Namun setelah itu pengikutnya tak kurang provokatifnya. Simak saja, ada goyang ngecor, goyang ular berbisa, pasak bumi, gelinjang-ria, goyang patah-patah, goyang gergaji, goyang kayang, mau apalagi? Koreo dari tangan-kaki-bahu-pundak-bokong-kepala-leher-semua disikat habis. Panggung dangdut bergetar, maksudnya, semua bisa digoyang atas nama musik. Inilah warna era dangdut yang sempat hinggap 2-3 tahun silam.

OVER: Walau popularitasnya hampir memudar, Trio Macan yang sempat hits dengan lagu dangdungtnya “Bang SMS Siapa Ini Bang” melirik lagu pop untuk dijadikan lagu dangdutDengan sepinya dangdut di panggung hidup, ternyata tidak membuat Dewi Persik lesu darah. Ia justru semakin sensasional lewat goyang gergajinya. Bahkan Dewi salah satu pedangdut yang lebih dikenal goyangnya ketimbang hits lagu dangdutnya.

Sementara artis “kesayangan” Bang Haji yang santun, manis dan kalem sepertinya tidak bisa berbuat banyak. Khalayak dangdut pasti merindukan hits terbaru dari Iis Dahlia, Cici Faramida, Ikke Nurjanah, Sitti KDI, Gita KDI, atau “Si Jatuh Bangun” Kristina.

Ketika pihak PAMMI mengibarkan bendera antigoyang seronok, artinya membuka peluang artis dangdut yang mengandalkan bokong jadi punya simpatisan. Sikap represif dalam seni arus kuat selalu menghasilkan gerakan “indie” yang juga tak kalah kuatnya. Dua kubu telah terbentang. Sementara dangdut masih terus berjuang melawan anggapan miring sebagai “musik kampungan”.

Kendati dangdut pernah lolos di masa krismon medio 90-an, kini dangdut harus berhadapan dengan puncak kelesuan yang sesungguhnya. Menjelang akhir tahun 2008 silam sampai menuju kwartal pertama 2009 ini dangdut ibarat mati suri. Mungkin itu sebabnya Rhoma Irama sekarang tidak lagi mengerek bendera “dangdut bukan musik kampungan”, tapi menjadi “dangdut never dies” yang acaranya sudah digelar untuk siaran sebuah televisi swasta beberapa waktu lalu. GALLUS (Berita Indonesia 65)


Five Minutes: Album 'Semua Ini Sendiri"

Five Minutes salah satu grup band yang telah lama ikut meramaikan industri musik tanah air kembali menunjukkan karyanya. Grup yang meniti karir sejak tahun 1995 dengan debut album 'Five Minutes I' ini melahirkan lagu hits sepanjang masa mereka "Selamat Tinggal". Grup ini juga menjadi salah satu band Indonesia pertama yang membuat video klip di Australia untuk lagu "Ouw" yang dirilis tahun 1997.

Five MinutesPada Januari 2009, Five Minutes (Ricky-keyboards dan programs, Richie-vokal, Irul-gitar, Aria-drum, dan Drie-bass) meluncurkan album ketujuh berjudul 'Semua Ini Sendiri" dengan mengusung lagu "Semakin Ku Kejar Semakin Kau Jauh" (SKSJ) sebagai first single mereka.

Di dalam album ini, ada juga satu lagu karya A.T. Mahmud berjudul "Ambilkan Bulan" yang digubah ala Five Minutes. Sejumlah lagu dari album 'Rockmantic' (2007) serta dua lagu dari album Rockmantic The Repackage (2008) diaransemen ulang untuk memuaskan Fivers (julukan untuk fans Five Minutes). (Berita Indonesia 65)


Boomerang: Kembalinya Anak yang Hilang

Pecinta musik rock Tanah Air mungkin tak asing lagi dengan grup musik Boomerang. Album perdana yang melejitkan lagu Kasih dan No More disusul dengan album Kontaminasi Otak dengan hit Bawalah Aku dan O Ya, lalu album Best Ballads (1999) dan Best Hard’n Heavy (1999) serta X’travaganza (2000), mengantar mereka menjadi grup rock papan atas di negeri sendiri. Bahkan lagu X’travaganza yang menembus angka penjualan 800 ribu keping dibuat tujuh klip. Boomerang juga pernah menjadi grup musik pembuka band Mr. Big dari Inggris.

BoomerangNamun sukses meluncurkan album X’travaganza, Boomerang keluar dari Log Zhelebour Production yang membesarkan namanya. Hal ini sempat mengejutkan sebab manajemen itulah yang melahirkan mereka.

Berawal dari festival rock se-Indonesia versi Log Zhelebour tahun 1993, grup musik yang dulunya bernama Lost Angels itu dikenal publik. Pada 8 Mei 1994 nama Lost Angels diubah menjadi Boomerang, yang diambil dari salah satu lagu di album perdana mereka, bersamaan dengan masuknya Roy Jeconiah dan Farid Martin.

Pindah dari Log Zhelebour ke label perusahaan rekaman besar, diakui personel Boomerang, semata-mata ingin mencari pengalaman baru. Mereka sempat merilis dua album, yaitu Terapi Visi (2003) dan Urbanoustic (2004) di sana. Di tahun 2007 mereka siap meluncurkan album baru tapi terus ditunda pihak perusahaan rekaman itu. Dua tahun terlantar, Boomerang pun kembali ke Log Zhelebour Production.

Kembalinya Boomerang disambut baik oleh pihak Log. Seluruh materi dari album yang tertunda dirombak total oleh Log. Album yang kini dinamai Suara Jalanan pun siap edar Maret. Bahkan video klip untuk lagu Seumur Hidupku dan Auroraku telah dipersiapkan.

Tak hanya format album yang berubah, keanggotaan Boomerang dan irama musik juga berubah. Andry Franzzy, mantan gitaris Powerslaves, masuk menggantikan John Paul Ivan. Irama rock yang dimainkan kini berkecepatan tinggi dan terkesan lebih keras. Boomerang yang digawangi Roy Jeconiah (vokal), Hubert Henry (bas), Farid Martin (drum), dan Andry Franzzy (gitar), siap mengembalikan kejayaan musik rock di Indonesia. (Berita Indonesia 65)

Add comment


Security code
Refresh

Berita Utama

utama_2_75.jpg
Ini berita hebat. Markus dan mafia hukum itu sungguh-sungguh nyata (terbukti), rakus dan jahat. Seorang jenderal polisi (bintang tiga)
utama_1_52.jpg
Peta Jalan Bali atau Bali Road Map disetujui setelah melewati lobi-lobi intensif dan menguras banyak energi. Amerika akhirnya turut ikut

Visi Berita

visi_47.jpg
Tidak ada seorangpun manusia di dunia ini yang ingin hidup dalam kemiskinan. Namun, karena berbagai hal, di
visi_23.jpg
Bangsa ini baru saja merayakan ulang tahun kemerdekaannya yang ke-61. Ironisnya, dalam usia senjanya, kantong-kantong

Lentera

lentera_1_39.jpg
Wawancara Syaykh Al-Zaytun dengan Tim Jurnalis EWC-ASSyaykh Al-Zaytun Drs Abdussalam Panji Gumilang, mengatakan
lentera_6_23.jpg
Dalam dunia kontemporer (kini) sudah sangat sering terjadi dunia kekerasan yang luar biasa. Karena itu, perlu dirancang
Share/Save/Bookmark