Majalah Berita Indonesia

Saturday, Apr 29th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Hiburan Jazz Sehabis Gerimis
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Jazz Sehabis Gerimis

E-mail Print PDF

Meski jazz Indonesia masih belum selesai dalam pencarian bentuknya, akan tetapi perhelatan jazz di Indonesia sudah memiliki karakter yang kuat.

Open Hands Project: Abraham Laboriel, Justo Almario, Bill Maxwell dan Greg Mathieson di JakJazz 2008 Jakarta di penghujung tahun 2008 dingin dikucur gerimis malam. Sejumlah perayaan jazz dihelat, menjadi intermezo penutup tahun yang manis. Asean Jazz Festival 2008 di Batam, misalnya. Acara yang terbilang besar itu melibatkan gengsi beberapa negara di lingkar Asean. Meski tetap saja acara yang dihelat di Batam, Kepulauan Riau pada Sabtu dan Minggu (22-23 November 2008) itu masih begitu samar-samar di khalayak kita.

Sejumlah penampil kawasan Asean sengaja dihadirkan seperti Melissa Tham dan Tze (Singapura), Lewis Pragasam (Malaysia), Maribeth (Filipina) dan Mint (Thailand). Dari Indonesia sendiri sejumlah pelanggan jazz menjadi line up seperti Balawan Trio, JaQue Mate, Glen Dauna Project, Ozenk Percussion, Indro Hardjodikoro Trio, serta penyanyi muda Andien dan Rieka Roslan.

Sedangkan veteran jazz, Bob James menampilkan kuartet musiknya. Tampilan Bob James Quartet belum tergantikan daya sengatnya. Dengan perangkat Tetsuo Sakurai (bass), Jack Lee (gitar), Gene Jackson (drum), tampilan piano James bukan urusan lingkar kawasan Asean lagi, tapi sudah menjadi penanda musik ini begitu global dan sulit untuk dikotaki ragam, dan, tentu dari mana daerahnya berasal. Begitulah musik. Suara berubah jadi bahasa. Universal dan merubuhkan banyak sekat.

Andien sebagai salah satu penampil tentu senang bisa terlibat dalam hajatan besar itu. “Campuran antara senang dan terkejut. Bob James itu seperti legenda… Kami sekarang sepanggung,“ katanya dengan tawa meruah pada Berita Indonesia, Sabtu (29/11/08).

Andien berkisah bagaimana hajatan jazz berskala internasional itu ramai dikunjungi orang dari pelbagai negara. Seperti bukan di Indonesia saja, katanya. “Mungkin karena letaknya di Batam, dan berita acara ini santer sampai ke wilayah Singapura dan Malaysia,” tutur dara cantik kelahiran 25 Agustus 1985 ini.

Dipasangnya Andien sebagai penyanyi muda memberi spirit yang kuat bahwa jazz adalah musik beragam kalangan. (Padahal sejak lahirnya musik jazz, pada era 1910-an silam di Amerika sana, spirit dari kaum muda memang punya peranan yang besar). Munculnya pertunjukan musik jazz di kampus-kampus juga bukan cerita baru untuk membumikan jazz untuk kaum muda.

“Selain harmonisasi, tentu saja jiwa jazz itu juga terletak pada improvisasi. Itu dekat dengan anak muda,” ungkap Ireng Maulana saat ditemui persiapan jelang JakJazz medio November 2008 silam. Jadi, jelas pintu kampus tidak hanya terbuka untuk genre musik rock dan pop yang lebih kentara saat ini. “Banyak pemusik jazz kita yang justru lahir dari kalangan anak kuliahan,” kata Ireng yang menjadi otak penyelenggaraan event jazz terbesar saat ini.

Beberapa acara jazz lokal masuk kampus sepanjang tahun ini. Seperti yang terjadi di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta dalam kemasan acara UGM Mandiri Jazz 2008, Sabtu (18/10/08) yang memboyong sejumlah musisi seperti Idang Rasjidi, Tohpati, Donny Suhendra (Krakatau), Dewa Budjana dengan sederet penyanyi macam Rio Febrian, Glenn Fredly dan Rieka Roslan. Acara yang digelar di Ghra Sabha Pramana, UGM itu mencatat jumlah pengunjung sebanyak 4 ribu orang. Angka yang fantastis untuk seni pertunjukan lokal.

Idang Rasjidi yang menjadi salah satu motor dalam acara ini adalah musisi yang terbilang getol memasyarakatkan jazz. Sebelum acara tersebut, ia “mengujicobakan” sejumlah komposisi di Bentara Budaya Jakarta Jazz, Jakarta (15/10/08) dengan bendera Idang Rashidi Syndicate (IRS). Terdiri dari beberapa pemusik belia seperti Sha’adu Rasjidi (bass), Eddy Syahroni (gitar) dan Mathhew Sayers (vokal), IRS ber-jam session dengan pola jazz mainstream yang kuat. Setelah itu pun Idang Cs mampir ke Tegal Jawa Tengah untuk unjuk aksi dalam hajatan komunitas jazz di sana.BINTANG: Tohpati, Ireng Maulana dan Tompi di Jakjazz 2008

Masih di dalam pagar kampus, Jazz Goes To Campus (JGTC) 2008 sudah berlangsung 23 November 2008 di kampus Universitas Indonesia. Kendati hujan sempat turun, ternyata tak membuat kisut semangat 20 ribu pengunjung memadati acara yang sudah digelar ke-31 ini. Sejumlah nama lama dipadankan dengan nama baru. Mulai dari Ireng Maulana yang bangkotan, juga ada yang paling mengkilap seperti Tompi dan Maliq n d’Essentials, hingga nama yang paling fresh seperti kelompok musik Bibus.

“Main di panggung kampus punya cerita sendiri. Lihat mereka goyang kepala, lihat muka mereka menikmati musik, itu asyiknya. Mereka menjentikan jari, wah, itu luapan yang luar biasa. Seperti suntikan energi yang bikin saya jadi sepantaran dengan mereka saja. Ha-ha-ha. Dari dulu saya tidak pernah mikir dua kali kalau diajak main di kampus,” terang Ireng Maulana yang kelahiran 15 Juni 1944 ini.

Seperti juga Ireng, vokalis jazz Tompi melihat ini sebagai ajak apresiasi yang menurutnya layak ditulari ke sejumlah kantung-kantung akademik lain. “Kalau lihat sendiri bagaimana jazz itu begitu diminati kalangan muda di lingkungan kampus, kita enggak perlu khawatir jazz itu sulit, atau bakal ditinggalkan anak muda,” ujar pemilik nama Teuku Adi Fitrian ini.

Tompi yang telah memiliki enam album bernuansa jazz itu melihat gejala yang menggembirakan di ranah jazz lokal. “Harapannya, semakin banyak event jazz baik taraf internasional yang bisa jadi benchmark untuk para musisi kita sampai ke tingkat apresiasi di kalangan yang lebih luas, di kampus atau komunitas jazz,” kata dia lagi. Menurut Tompi, sejumlah perhelatan jazz yang diselenggarakan di Indonesia sudah mempunyai karakter yang kuat.

“Di kalangan kampus punya karakter jamming dan memunculkan nama-nama baru. Acara di komunitas jazz lokal, kita bisa menemukan sejumlah bentukan baru seperti cross-over, perpaduan etnik atau kolaborasi antar musisi lain. Yang paling menggembirakan, kita sudah punya dua agenda besar Java Jazz dan JakJazz yang sudah menjadi event internasional. Semuanya saling melengkapi,” kata Tompi lagi.

Reguler Internasional
Gerimis mengundang ribuan peminat jazz dari segala penjuru ke Istora Senayan. Hajatan kali ini berpayung Dji Sam Soe Super Premium Jakarta International Jazz Festival 2008 yang biasa diringkas Jakjazz. Inilah perayaan jazz raksasa yang telah memasuki edisi ke-10. Mirip dengan rutinitas penyelenggaraan sebelumnya, JakJazz kali ini juga berlangsung tiga hari, mulai 28 sampai 30 November 2008, dan tentu saja selalu mendapat jatahnya hujan.

“Rasanya enggak percaya kita bisa sampai di edisi ke sepuluh. Padahal rasanya baru kemarin, saya terseok-seok bagaimana sulitnya di tahun 1987 mewujudkan mimpi-mimpi kita bersama,” kata Ireng Maulana mengenang.

Mulanya ia dan Peter F. Gontha mendekap ide untuk menggelar hajatan jazz berskala internasional. Katanya, “Saat itu kendalanya modal, tapi semangat, kinerja dan konsep kami kuat. Itu tahun berapa? Wah! Perlu kerja ekstra meyakinkan sponsor. Tapi kita buktikan penikmat jazz itu besar, lalu proses birokrasi, dan seterusnya, dan kemudahan-kemudahan lain yang mengalir begitu saja. Seperti mimpi, pas selesai acara…”

Seperti juga bidang lain, saat krisis moneter 1997, perhelatan ini absen sampai sepuluh tahun berikutnya. “Saya gunakan waktu vakum itu untuk melihat-lihat lagi ke belakang, ya semacam review apa yang sudah ada di JakJazz. Keluar masuk komunitas, memperkuat konsep, meramaikan event-event yang bisa digelar tanpa harus melibatkan kapital besar. Istilahnya, jazz tidak pernah mati,” kata pemusik yang pernah menimba ilmu di Peabody Conservatorium, Baltimore, Amerika ini penuh semangat.

Sejak tahun 2006 silam, festival jazz tertua di Indonesia itu kembali rutin digelar hingga sekarang. Dan tidak tanggung-tanggung, Peter Gontha yang tadinya juga menggagas JakJazz telah “melengkapi”-nya di tahun 2005 dengan bendera baru, Java Jazz. Hingga kini, Java Jazz dan JakJazz berbagi jadwal dan karakter sepanjang tahun.

Java Jazz biasanya digelar pada bulan Mei. Selalu ada kejutan sejak pertama kali bendera itu dikerek. Nama-nama penampil dari mancanegara selalu menjadi magnet. Sebagai contoh yang pernah mampir ke panggung adalah Gino Vanneli, Kool and The Gang, Manhattan Transfer, Dave Koz, Angie Stone, Level 42, Sergio Mendes, David Benoit, dan James Ingram. Deretan line up ini menjadi pembeda yang signifikan dengan JakJazz. Otomatis, harga tiket sedikit lebih mahal.

Dan yang membuat histeria adalah kehadiran Bob James, James Brown, Babyface dan Jamie Cullum di pentas Java Jazz. Yang terakhir disebutkan tadi adalah musisi jazz abg asal Essex, Inggris yang digandrungi banyak kalangan muda. Tak heran, penampil magnet tadi mampu menyulap angka lebih dari 60 ribu pengunjung setiap tahunnya.

Dari musisi lokal juga terbilang mengejutkan (atau meragukan?). Sebut saja group Padi, Indonesian Idol 2006, Seurieus, Wong Pitoe, atau Tangga. Mereka membuat banyak pengunjung Java Jazz berpikir lebih keras. Siapa sebenarnya musisi jazz Indonesia itu? Begitulah jazz Indonesia. Mencari polarisasi yang beragam dari penampil yang lebih beragam lagi. Bisa membangkitkan apresiasi sekaligus debat panjang. Bentukan jazz yang ada terletak pada output-nya, bukan penampilnya.

Jika kelompok Discus dan Indra Lesmana punya jelajah jazz, maka kita pun (boleh) berlapang dada saat Fadly (vokalis Padi) berimprovisasi jazz di atas pentas jazz (yang oh, tampil begitu rock tapi tidak bisa dibilang blues). Uji coba yang ganjil untuk pentas berskala internasional.

Sedangkan JakJazz digelar saban November tiap tahunnya dengan mengambil tempat di Istora Senayan. Penampilnya pun cukup beragam dari sub-genre jazz yang ada. Tak pelak, nama-nama yang hadir masih terasa asing untuk kebanyakan orang. “Saya mengutamakan spirit jazz nya, ketimbang nama besar pemusiknya. Yang disuguhi jazz-nya, musiknya,” terang Ireng.

Hasilnya? Sold out! Demikian juga pada penyelenggaraan JakJazz edisi ke sepuluh kali ini, dengan mengusung tema besar “A Whole Lotta Jazz”, sejumlah aliran (sub-genre) jazz menyuguhkan beragam jenis seperti fusion, nu-jazz, nu-wave, swing, cool, funk, bebop, blues, bossanova, soul, experimental, hingga blues. Semua tumplek-blek di delapan panggung. Kesemuanya bagai aliran sungai menyatu dalam pembuluh muara. Aneka atraksi musik lebih enak dinikmati ketimbang menebak apa nama aliran jenis musiknya.

Penampil yang paling menonjol adalah Ray Harris and The Experience yang ekspresif melakukan manuver akrobatis saat mengolah keyboard. Seakan gaya free style yang dibawakannya adalah sirkus musik. Bilah hitam putih bukan lagi ditekan. Semua disapu habis, ditampi-tampi, dicocol seperti sedang bermain-main. Namun komposisi yang keluar mampu membius para penonton.

Lalu ada duo pemusik elektrik asal Jepang, Okino Shuya dan Okino Yoshihiro yang tergabung dalam bendera Kyoto Jazz Masive. Mereka memindahkan lantai disko jadi elaborasi jazz yang sesuai namanya, begitu masif. Racikan dari bunyi desing, gesekan pelat hitam, deguman down tempo, efek vokoder, loop-loop pendek yang harmonis, ritme efek mekanis, dan entah apalagi jenis suara itu. Jika semula sempat mengira-ngira jenis musik apa, malah membuat suasana tidak sentosa. Tapi percayalah, hanya telinga yang bisa menerjemahkan rasa indahnya.

Kedua DJ terkemuka asal Kyoto itu tidak sedang ingin berdiskusi. Yang mereka bawakan bukan lagi jenis acid jazz (perpaduan jazz dan disko/elektrik). “Ini jazz beraliran nu-wave, atau apalah namanya. Anda boleh saja menamakan sendiri, jika itu bisa membuat nyaman…” ujar Shuya dengan entengnya dari atas panggung.

Penampilan istimewa lain adalah kehadiran kelompok Yellowjackets yang direndeng gitaris negeri sendiri, Tohpati. Para hadirin begitu menyorot penampilan Tohpati. Lebih dari sembilan kompisisi tanpa terasa. Malam sehabis gerimis tak membuat suasana menjadi dingin.

JakJazz 2008 terhelat sudah. Jari telunjuk dan jempol melingkar. Sempurna, kata Ireng. Seperti malam sehabis gerimis. Setelah itu udara mulai sejuk. Seperti yang telah dituangkan spirit JakJazz untuk hadirin Indonesia, dari sisi perhelatan, jazz di Indonesia menunjukkan hal yang menyejukkan. Namun, tetap yang dibutuhkan adalah konsistensi tentang apa musik jazz itu. Jika perhelatan sudah terbilang sempurna, kini giliran para musisinya menentukan ruangnya sendiri. CHUS (Berita Indonesia 63)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com