Majalah Berita Indonesia

Sunday, May 28th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Hiburan Harapan di Tengah Kemiskinan
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Harapan di Tengah Kemiskinan

E-mail Print PDF

Film Laskar Pelangi berkisah tentang potret nyata kondisi pendidikan di Indonesia yang hingga kini masih memprihatinkan.

Ratusan bahkan ribuan anak tidak bisa mengenyam pendidikan karena didera kemiskinan. Film dengan latar Pulau Belitung era tahun 1974 ini bisa dijadikan pelajaran yang sangat berarti, terutama mengenai kisah 10 anak miskin asal Belitung yang tanpa menyerah untuk menimba ilmu di Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah Gantong yang serba terbatas. Laskar Pelangi

Film kisah nyata adopsi dari novel pertama karya Andrea Hirata ini menjadi inspirasi banyak orang tentang pentingnya pendidikan bagi semua lapisan masyarakat tanpa memandang status. Dengan serba ketidakberdayaan dan keterbatasan tidak menyurutkan semangat para Laskar Pelangi, sebutan bagi ke sepuluh anak SD Muhammadiyah Gantong itu untuk terus maju menatap masa depan dengan segudang mimpi dan angan yang terbentang luas di depan.

Himpitan kemiskinan, keterbatasan fasilitas, sarana dan prasarana sekolah bukanlah menjadi kendala bagi mereka. Yang ada hanya keinginan untuk merubah dunia menjadi lebih cerah meski harus melewati jalan cukup berliku dan tidak mudah. Lihatlah gedung sekolahnya, hanya berbentuk bangunan dari kayu yang disanggah dengan batang pohon agar tak roboh. Dinding dan atap bangunannya penuh lubang, lantainya beralaskan tanah.

Tak ada pakaian seragam, tak ada sepatu, mereka bersekolah bertelanjang kaki dengan baju yang penuh dengan robekan di sana-sini. Gurunya hanya ada dua, Ibu Muslimah dan Pak Bakri ditambah kepala sekolah, Bapak Harfan. Ibu Muslimah yang merupakan salah satu tokoh sentral dalam novel berdasarkan kisah nyata ini sering tidak menerima gaji. Tapi, ia bisa bertahan, sementara rekannya Pak Bakri harus hengkang dari sekolah itu demi mendapatkan kehidupan yang layak. Sekolah itu sempat akan ditutup oleh Depdikbud Sumatra Selatan, gara-gara jumlah muridnya kurang dari sepuluh orang.

Riri Reza sang sutradara dan Mira Lesmana sang produser merupakan duo yang sangat jeli menangkap dan memvisualisasikan buku novel best seller yang ditulis Andrea Hirata tahun 2005 ini ke dalam layar lebar. Awalnya, baik Riri maupun Mira sempat mengalami deg-degan bila karya film mereka tak seindah novel yang telah dibaca ribuan orang itu. Tapi, semuanya seakan sirna dengan penampilan adegan-adegan yang sangat bagus dan menyentuh dalam filmnya.

Film yang skenarionya ditulis Salman Aristo (penulis skenario ayat-ayat cinta) ini didukung oleh para pemain senior. Cut Mini (ibu Muslimah), Lukman Sardi (Ikal dewasa), Selamet Raharjo Djarot (Zulkarnain), Alex Komang (ayah Lintang), Ikranegara (Pak Harfan), Tora Sudiro (Pak Mahmud), Mathias Muchus (ayah Ikal), Rieke Diah Pitaloka (Ibu Ikal) dan Robby Tumewu, turut menjadi bagian penting mengenai alur cerita yang disampaikan. Lebih luar biasa lagi, 12 para pemain cilik Laskar Pelangi asli dari daerah setempat, di antaranya tiga tokoh cerita, Zufanny sebagai Ikal, Lintang dimainkan Ferdian dan Mahar oleh Verrys Ramaro.

Penampilan mereka turut menambah semakin hidupnya film ini. Untuk mendapat pemain berkualitas, baik Riri maupun Mira melakukan audisi terhadap 3.500 anak-anak pulau penghasil timah tersebut. Film ini digarap selama satu setengah tahun dengan mengambil syuting 100 persen di Belitung dan hanya proses suara dikerjakan di Thailand.

HARU: Ibu Muslimah dan sembilan kawan-kawannya diam seribu bahasa dengan mata berkaca-kaca menyaksikan Lintang yang terpaksa pergi meninggalkan merekaFilm berdurasi 2 jam 5 menit dengan total biaya Rp 8 miliar ini dibuka dengan Ikal dewasa yang pulang ke kampung halamannya, desa Gantong, pulau Belitung Timur. Adegan Ikal - gambaran diri Andrea Hirata - yang sedang melamun dalam bis kemudian membawa pada suasana latar belakang sejarah kota Belitung tahun 1974. Tampak suasana kesibukan para pegawai yang berangkat kerja di Perusahaan Negara Tambang Timah (PN Timah). Para pegawai perusahaan PN Timah dengan jabatan tinggi mengendarai mobil Datsun, skuter dan motor Yamaha. Sementara pegawai kecil yang berseragam biru mengayuh sepeda secara berombongan siap-siap hendak memasuki gerbang perusahaan. Di dalam kompleks perusahaan terdapat rumah-rumah permanen dan Wisma Ria Langgeng yang dilengkapi air mancur.

Di sisi lain, Riri Riza dengan imaginatif membidik kehidupan asli masyarakat Gantong yang terdiri dari berbagai macam etnis, seperti Melayu, Tionghoa, dan Suku Sawang. Kehidupan mereka dibalut kemiskinan dengan bekerja sebagai nelayan, buruh timah, dan anak-anak mereka menjadi kuli timah. Tentu ini menjadi pemandangan kontras dengan para pegawai PN Timah yang serba berkecukupan, padahal perusahaan Timah ada di tanah mereka.

Tak jauh dari PN Timah berdiri Sekolah Dasar Muhammadiyah Gantong yang hampir roboh, jika saja tidak disanggah oleh sebatang pohon. Malam harinya sekolah itu menjadi kandang kambing. Riri menyelipkan pula foto dokumenter saat PN Timah itu didirikan oleh perusahaan Gemeenschappelijke asal Belanda pada awal abad 20. Daerah itu tercatat sebagai penghasil biji timah terbesar ketiga di dunia.

Sejak awal, sosok Ikal, Lintang, Mahar dan Ibu Muslimah lebih dominan. Ikal merupakan anak pegawai rendahan PN Timah terpaksa harus sekolah di SD Muhammadiyah Gantong karena tak mampu untuk sekolah di PN Timah. Sahabat Ikal, Lintang, anak nelayan miskin yang jenius yang bercita-cita menjadi ahli matematika. Ia harus menempuh jarak dari rumah ke sekolah 80 Km dimana pada setiap perjalanan hendak menuju sekolah, Lintang harus melewati sungai kecil yang dihuni seekor buaya. Kadang ia harus menunggu lebih lama untuk melewati sungai itu, karena tiba-tiba buaya itu muncul ke permukaan. Kemudian, sosok ibu Muslimah, perempuan muda yang sangat teguh pendiriannya sebagai guru, dan tanpa tergoda dengan tawaran mengajar di sekolah yang lebih menjanjikan. Selain itu, Pak Harfan, kepala sekolah SD Muhammadiyah Gantong yang kerap memberikan petuah agama dan selalu setia mempertahankan sekolah itu.

SAHABAT: Tiga tokoh sentral dalam film: Lintang, Ikal, MaharDari sini kisah 10 anak yang disebut Laskar Pelangi itu dimulai. Hari itu merupakan hari penentuan bagi SD Muhammadiyah Gantong. Pasalnya sekolah akan ditutup jika tidak terpenuhi kuota 10 murid, saat itu baru ada 9 murid. Pak Harfan bersiap menyampaikan pidato untuk menutup sekolah, hadirlah dewa penyelamat yakni Harun dan ibunya yang datang mendaftarkan diri ke sekolah itu. Harun, adalah bocah usia 15 tahun yang mengalami keterbelakangan mental. Ia laki-laki jenaka yang senang menanyakan kapan libur lebaran pada Bu Muslimah.

Selebihnya adalah kisah keunikan 10 anak-anak itu. Misalnya sosok Mahar yang selalu identik membawa radio dan suka sekali mendengarkan lagu-lagu Jazz, oleh Ibu Muslimah, dia diberi kepercayaan untuk membuat tampilan seni pada karnaval 17 Agustus. Luar biasa, dengan daya kreasinya, Mahar menciptakan tarian asal Papua lengkap dengan atribut yang terdiri dari dedaunan dan akar pohon yang ditempel di tubuh, kemudian dengan gerakan tarian yang atraktif, serta tak ketinggalan tubuh dan wajah mereka dicoret dengan cat warna-warni, mereka berhasil membawa pulang sebuah trofi.

Mahar juga kerap menghibur sahabatnya Ikal yang sedang patah hati karena A-ling (wanita yang membuat Ikal jatuh hati) sepupu A-Liong yang pergi ke tempat lain mengikuti bibinya. Kelucuan juga tampak saat untuk pertama kali Ikal jatuh hati pada kuku milik A-Ling sewaktu ia disuruh ibu Muslimah mengambil kapur tulis di toko Sinar Harapan, milik A ling. Ikal yang jatuh hati meminta pada saudara sepupu A-ling agar ia dipertemukan dengan A-ling. Saat hendak bertemu A-ling, Ikal yang berdandan ala Rhoma Irama sempat membuat kelucuan tersendiri. Ikal yang puitis memang penggemar berat si raja dangdut tersebut. Tak kalah seru saat Lintang, yang berhasil menjawab soal-soal matematika pada acara lomba cerdas cermat. Ia dengan lincah mampu menghitung di luar kepala, hanya dengan memejamkan mata.

Riri Riza juga menyelipkan sedikit kisah mengenai tokoh dewasa Pak Mahmud, guru PN Timah yang menaruh hati pada ibu Muslimah, juga Pak Zulkarnain, Pejabat PN Timah yang bersimpati pada sekolah SD Muhammadiyah Gantong, karena ia lulusan Muhammadiyah Yogyakarta yang dalam novel aslinya tidak ditampilkan. Para pemain tambahan ini, didapat Riri saat ia melakukan survey lokasi tempat syuting.

Kisah paling menyentuh terjadi saat kematian ayah Lintang membuat emosi penonton tak terbendung, suasana antiklimaks, mengharukan hingga tetesan air mata. Lihatlah bagaimana susasana sedih dan pilu sewaktu Lintang harus berpamitan pada sembilan orang kawannya untuk meninggalkan sekolah itu untuk selamanya. Lintang yang terkenal cerdas dan pemberi semangat pada temannya harus menjadi kepalaSEDERHANA: Salah satu adegan film saat Ibu Muslimah sedang mengajar di kelas keluarga demi bertahan hidup. Sehari sebelum Lintang berpamitan, ia mengirim sepucuk surat yang isinya mengabarkan kalau ayahnya meninggal. Ia sebagai anak tertua yang harus bertanggungjawab terhadap dua adiknya yang masih kecil-kecil. Kepergian Lintang bertubuh kurus dan hitam itu digambarkan dengan sangat indah, tanpa ada dialog dan hanya sebuah pemandangan pelepasan kepergiannya yang mengayuh sepedanya meninggalkan Ibu Muslimah dan sembilan kawan-kawannya yang diam seribu bahasa dengan mata berkaca-kaca. Ikal berlari, berteriak sambil menangis mengejar Lintang yang semakin jauh tak terkejar. Betapa kemiskinan telah meruntuhkan keinginan untuk bisa meraih sekolah tinggi bagi si jenius itu.

Ada satu adegan yang membuat ibu Muslimah sempat gundah gulana dan sedih berkepanjangan sampai ia enggan meneruskan pengabdiannya pada sekolah itu sewaktu Pak Harfan meninggal. Berhari-hari Ibu Muslimah tidak mengajar, lalu datang pak Zulkarnain yang memberinya semangat untuk tetap mengajar di sekolah itu. Ibu Muslimah menuruti kata hatinya, di balik celah dinding luar sekolah ia melihat para muridnya yang tetap setia belajar, walau tanpa dirinya. Kembalinya ibu Muslimah semakin memberi energi baru bagi mereka untuk tetap bersemangat. Sekolah kembali ceria dan berbondong-bondong dengan mengenderai sepeda, kemudian ibu Muslimah beserta 9 laskar pelangi pergi ke bukit untuk melihat indahnya pelangi.

Kisah kemudian berbalik lagi pada Ikal dewasa yang tiba di desa kelahirannya. Ia berhasil menyelesaikan kuliah S1 di Jakarta. Dalam perjalanan pulang, Ikal bertemu Lintang yang saat itu telah berkeluarga dan memiliki seorang putri. Semangat membara untuk memberikan pendidikan terbaik tetap ada dalam dirinya. Ia mengajak Ikal melihat putrinya yang sedang belajar di sebuah sekolah. Tanpa adanya penyesalan karena dirinya harus putus dari sekolah, Lintang tetap bersemangat dan berharap anaknya kelak bisa memperoleh pendidikan yang layak. Kepulangan Ikal sekaligus untuk mengabarkan kalau dirinya hendak pergi ke Paris. Ikal berhasil mendapat beasiswa melanjutkan S2 di Sorbonne, Paris. Kisah tentang kehidupan Paris dituangkan Andrea dalam novel Edensor, sementara novel Sang Pemimpi menceritakan tentang Ikal semasa SMA. Sedangkan sekuel terakhir Andrea tertuang dalam Maryamah Karpov.

Kesuksesan rekor Laskar Pelangi hampir menyamai Ayat Ayat Cinta. Belum genap sebulan sewaktu di-launching pertama kali tanggal 25 September lalu, angka penjualan tiket tembus hingga 2,4 juta penonton atau rata-rata 100.000 penonton per hari. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di tengah-tengah kesibukannya bersama ibu negara juga menyaksikan film ini. SBY menyampaikan apresiasi yang mendalam tentang film ini. Ia berharap akan ada film berkualitas seperti ini lagi.

Di balik kesuksesan film ini, ada sejumlah adegan yang masih kurang dalam film ini. Terutama dalam mengekplorasi sosok Lintang yang di tengah keterbatasannya untuk gigih tetap belajar di sekolah, terasa sedikit terganggu dengan kehadiran seekor buaya yang berulangkali ditampilkan saat ia hendak berangkat ke sekolah. Begitupun adanya Flo, anak orang kaya pindahan dari sekolah PN Timah yang tertarik untuk sekolah di SD Muhammadiyah Gantong. Sosok Flo yang mengajak teman-temannya pergi ke sebuah pulau untuk mencari dukun selain tak jelas maknanya, juga tak sesuai dengan plot dan semangat dalam film ini. ZAH (Berita Indonesia 61)


Prangko Laskar Pelangi
PT Pos Indonesia menerbitkan empat seri prangko di antaranya seri Prisma Pelangi. Seri prangko ini dimaksudkan untuk memberikan penghargaan kepada penulis novel Laskar Pelangi yang dianggap sangat fenomenal. Gambar prangko seri Prisma Pelangi diambil dari gambar-gambar sampul dari buku Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata. Prangko Laskar Pelangi ini rencananya akan dicetak sebanyak 10.000 lembar dengan harga Rp 30.000/12 lembar.


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com