Majalah Berita Indonesia

Saturday, Apr 29th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Hiburan India yang Lain
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

India yang Lain

E-mail Print PDF

Tandem: Diaggap tidak Film asli India, Slumdog Millionaire kini muncul film My Name Is KhanAtas nama luka dunia, beginilah cara lain India memaknai sebuah tragedi.

 

Inilah jawaban yang dinanti banyak orang setelah film Slumdog Millionaire merona di jagat perfilman dunia sejak dua tahun silam. Sebagai film, Slumdog masih dianggap bukan film India, kendati cerita dan kru film sangat India. Lalu kini khalayak dunia digetarkan oleh kehadiran film My Name Is Khan (selanjutnya disingkat MNIK) yang kemudian India dikalungi rangkaian bunga selamat datang di kancah industri film dunia.

Film berdurasi dua jam lebih ini lalu tidak lantas meninggalkan patron yang sangat khas dalam pasar Bollywood. Kita bisa mencium kehadiran duet maut Shahrukh Khan dan Kajol adalah trik jitu untuk menyiasati popularitas film khas Bollywood yang dikemas sangat neo-realis ini. Sehingga film ini begitu dekat dengan penonton lokal sekaligus dunia.

Tak seperti film India lain, yang dibumbu hingga belasan lagu, MNIK hanya dihiasi enam nomor lagu. Tak ada juga adegan romantis di padang rumput penuh bunga, nyanyian gembira di pegunungan Alpen, tak ada lagi lagu mengalun di titian hujan.

Kendati jelas, MNIK sejak semula dikemas ingin keluar dari kutukan film India yang penuh selendang dan tarian pinggulnya, film ini masih menyimpan aroma Hindustan. Keistimewaan lainnya, justru muncul ketika semangat penceritaannya yang membuat kita berdecak: inilah India yang lain.

Rizwan Khan (diperankan oleh Tanay Chheda saat kecil, dan Shahrukh saat dewasa) adalah seorang muslim yatim yang mengidap sindrom Asperger. Cerita jadi mencorong ketika diperlihatkan, sebagai anak yang berbeda, Rizwan punya keistimewaan lain. Di balik penampakkannya yang lugu dan terkesan tidak biasa itu, dia memiliki kecerdasan motorik. Selanjutnya diceritakan bagaimana hidup Rizwan banyak sekali membantu orang banyak berkat otaknya.

Nasib membawanya ke Amerika, menyusul adik dan iparnya di San Fransisco. Dan, mudah ditebak, di sinilah ia berjumpa dengan pasangan jiwanya, Mandira (diperankan sangat indah oleh Kajol).

Sejak detik pertama, film ini sudah memperlihatkan banyak sekali niatan untuk membentur-benturkan pandangan Timur-Barat. Bagaimana stigma para bule memandang Asia (dalam hal ini India) sebelum bahkan setelah tragedi hitam 9/11. Namun, Karan Johar sang sutradara paham betul apa yang sebenarnya terjadi. Karan tidak ingin bermelodrama dengan stigma Barat. Ia memunculkan banyak scene yang tidak cengeng, “Saya bukan teroris, hanya manusia biasa yang kebetulan bisa membetulkan banyak alat-alat yang rusak…” kata Rizwan yang mengenakan sepatu Puma ketika petugas bandara menciduknya.

Film ini sangat menjauhi penonton dengan unsur ketegangan dan tragedi. Novelis India mutakhir, Shibani Bathija menulis ceritanya dengan kaca mata pembesar sehingga kita bisa membaca film tersebut sebagai pemandangan atas problematika stigmatik Barat yang kadang mencelakakan. Celoteh seseorang pada Rizwan, “Amerika tidak semuanya Bush…”

Itulah yang bisa sedikit menjelaskan bagaimana salah satu obsesi Rizwan yang jauh-jauh datang ke negara Paman Sam itu untuk menjumpai presiden George W. Bush dan kemudian sangat mengidolakan Obama jauh sebelum proses kampanye dimulai. (Ingat kredibilitas Bush yang sangat buruk di mata Asia bisa digambarkan berbeda dalam film ini). Banyak sekali pembeda-pembeda yang kita baru sadar setelah menyaksikan film ini. Kalau lebih tepat lagi, film ini tidak menyasar pada konsep “keluar dari kotak” tapi memang keampuhannya mencitrakan problematika Barat-Timur dari dekat. “Saya hanya ingin berjumpa orang nomor satu Amerika, sebab dia pasti orang nomor satu di dunia,” jelas Rizwan ketika ditanyai petugas.

Sebagai sebuah film, apalagi dalam tataran industri Bollywood, MNIK mampu membawa gagasan Asia dalam kotak dunia. Meski banyak sekali ceramah, penjelasan-penjelasan yang kontraproduktif, niatan membingkai dialog sarat filsafat yang sungsang, dan bising dengan sejumlah peristiwa besar dunia. Misalnya: Tragedi badai Katrina di Gerogia, tragedi hitam 9/11, karut marut presiden AS, semuanya dipepatkan dalam sekali tepuk.

Warna India yang masih kentara diwariskan film ini jelas akan menjadi penghangat kisah panjang seorang Rizwan dari kecil hingga dewasa. Ketika badai datang, ia kebetulan sedang bertandang ke Wilhemina, Georgia. Amerika yang babak belur dihantam badai itu juga diperlihatkan sangat lamban dalam mengatasi bencana. Lalu, ada efek “from zero to hero” dalam diri Rizwan yang menjadi salah satu pahlawan yang menyelamatkan sejumlah korban. Setting kali ini banyak di seputar gereja kulit hitam.

Ada keinginan besar dari film MNIK untuk menjelaskan bagaimana kehidupan sebagai muslim, seperti Rizwan juga sangat menjunjung perdamaian meski beda agama dan keyakinan. Meski terkesan berlebihan, kehadiran Rizwan dalam potongan film ini sangat ampuh untuk membuka mata Amerika yang sering salah kaprah melihat Asia.

Film yang menjadi favorit di Festival Film Berlin ke 60 ini juga mampu mengangkat kembali nama Shahrukh Khan, sebagai bintang yang kadung terkenal sebagai spesialis film drama romantis untuk lebih memperlihatkan usahanya menggali daya akting. “Khan (maksudnya Shahrukh Khan) menghilangkan jejak dinasti Khan dalam Bollywood,” komentar The Premier.

Sedangkan komentar The Washington Post bisa dibaca sebagai komplemen bagi film ini: “Shahrukh Khan terlahir kembali sebagai bintang dunia. Dia Hindu yang memerankan seorang Muslim dengan natural, dan terutama daya pesona seorang sindrom Asperger dengan akurat.” CHUS (Berita Indonesia 76)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com