Majalah Berita Indonesia

Sunday, May 28th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Hiburan Setumpuk Berkah di Pulau Dewata
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Setumpuk Berkah di Pulau Dewata

E-mail Print PDF

Julia Roberts (kanan) di sela-sela syuting film Eat, Pray, LovePengambilan gambar film “Eat Pray Love” melahirkan julukan baru bagi Pulau Bali.

 

Sesi pengambilan gambar film yang dibintangi aktris cantik Hollywood Julia Roberts dalam film “Eat, Pray, Love (EPL)” telah membawa berkah bagi dunia pariwisata Indonesia. Betapa tidak, suksesnya film ini di pasaran, akan mengundang perhatian masyarakat dunia untuk dapat menyaksikan keindahan Indonesia. Lewat Pulau Bali yang dikenal sebagai Pulau Dewata, semakin menarik para wisatawan mancanegara dan memutuskan berkunjung ke Bali, Indonesia.

Dari sejumlah deretan nama yang diberikan kepada Bali, mulai dari Pulau Dewata, Pulau Khayangan, dan Pulau Seribu Pura, kehadiran bintang film Hollywood melahirkan julukan baru ‘Island of Love’ bagi Bali dan akan semakin mendukung promosi pariwisata Indonesia. Gubernur Bali Made Mangku Pastika di Denpasar mengatakan julukan baru sebagai ‘Pulau Cinta’, akan langsung memberikan kesan kepada siapapun bahwa Bali ini damai dan aman. Seperti diketahui sebelumnya Pulau Bali pernah diguncang aksi teroris. Setidaknya dengan pembuatan film EPL ini, dapat menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia sudah sangat nyaman untuk dikunjungi.

Gubernur Pastika mengharapkan dukungan tak sengaja yang muncul dari proses pengambilan gambar film yang diproduksi Plumbia Pictures ini akan mendorong partisipasi masyarakat luas dari berbagai kalangan untuk turut mewujudkan ‘Bali Mandara’, aman, damai dan sejahtera. Proses pengambilan yang telah dilangsungkan sejak 15 Oktober lalu dilakukan di beberapa lokasi seperti di Pasar Seni Ubud, Kabupaten Gianyar, Pelabuhan Benoa, Kota Denpasar, Pantai Padang, Pecatu dan Ungasan, Kabupaten Badung, serta di Kintamani, Kabupaten Bangli.

Menurut Claire Raskind dari Plumbia Pictures, Bali (Indonesia) menjadi tempat terakhir proses pengambilan gambar film. Dimulai di New York (Amerika Serikat) awal Agustus, lalu berlanjut ke Roma (Italia) serta Mirzapur (India) sebelum ke Bali.

Suskes pembuatan film ini nantinya bukan tidak mungkin akan menjadikan Indonesia sebagai salah satu tempat tujuan shooting pembuatan film bertaraf internasional. Tinggal bagaimana respon dan tindakan kooperatif dari masyarakat untuk menyikapi pembuatan film tersebut. Hendaknya keramahan dan ketulusan masyarakat yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia jangan tercederai hanya karena masalah sepele.

Seperti yang diberitakan media,  saat shooting perdana dilakukan, warga protes terkait perbedaan harga sewa lokasi shooting. Hal itu sangat disesalkan Bupati Gianyar yang juga tokoh Puri Ubud, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati. “Kita justru harus malu karena Ubud dan juga Bali terkenal dan diterima oleh wisatawan dunia bukan karena harganya tapi ketulusannya. Semua harus sadar bahwa kegiatan seperti ini justru untuk semakin mengenalkan Bali,”kata Cok Ace nama penggilan sang Bupati meyakinkan.

Harus diakui, sedikit atau banyak, proses pembuatan film yang disutradarai Ryan Murphy telah membawa keuntungan bagi penduduk setempat. Seperti yang dituturkan salah seorang warga yang menjadi pemain figuran, I Made Rediana seorang pak guru yang menyambi sebagai nelayan musiman. Ia mengaku mendapatkan uang sebesar Rp 20 juta setelah terlibat sebagai pemain figuran selama empat hari. Bersama teman-temannya, mereka hanya diminta melakoni kegiatannya sehari-hari sebagai seorang nelayan. Selama empat hari, 19 jukung milik nelayan disewa dengan nilai kontrak Rp 10 juta. Ditambah lagi, bilamana jukung dilepaskan ke tengah laut akan mendapatkan kompensasi Rp 1,5 juta per hari, sedangkan yang disandarkan di pasir saja Rp 500.000 per hari. Rediana yang mengaku akan mempergunakan hasil yang ia peroleh sebagai figuran untuk membangun rumah yang belum selesai serta membiayai hidup sehari-hari itu, berharap ada lagi kegiatan pengambilan gambar yang melibatkan masyarakat.

Di samping itu, pembuatan film ini juga melibatkan aktris lokal. Seperti Christine Hakim yang berperan sebagai Wayan dalam film yang mengambil lokasi di Jimbaran, Sanur, Candidasa dan perkampungan seniman Ubud. Sosok Wayan, pemilik toko obat tradisional Bali di Jl Jembawan, Ubud, Bali, merupakan teman curhat Elizabeth Gilbert, karakter yang diperankan Julia Roberts. Serta terpilihnya Hadi Subiyanto, seorang pegawai di Hotel Darmawangsa, Jakarta, untuk memerankan dukun dan guru spiritual Ketut Liyer, yang menolak bermain karena mengidap penyakit kencing batu. Yang sedianya jika berkenan, pihak pembuat film telah menyediakan honor sebesar Rp200 juta.

Kisah Nyata
Film Eat, Pray, Love yang dibintangi Julia Roberts diambil dari kisah yang dialami Elizabeth Gilberth saat berusia 32 tahun. Ia seorang jurnalis yang resah mencari makna kehidupan setelah bercerai dengan suaminya. Perceraian telah membuat jiwanya kalut dan sedih serta kecewa atas kegagalannya membina hubungan baru dengan pria lain. Kemudian ia mengambil keputusan berkelana ke berbagai negara demi mencari pengalaman spiritual dengan harapan menemukan cinta baru. Ia memulainya dari Italia, India, dan berakhir di Bali (Indonesia), dan menemukan nikmatnya makan di Italia, kekuatan doa di India, serta kedamaian dan keseimbangan cinta di Bali. Gilberth bertemu dengan Filipe, pria asal Brasil yang usianya jauh lebih tua darinya. Bersama Filipe, Gilbert menemukan kembali cinta sejatinya yang sempat hilang.BS,PAN (Berita Indonesia 72)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com