Memodernisasi alat utama sistem persenjataan (Alutsista) bagi Markas Besar Tentara Nasional Indonesia bukan lagi menjadi impian, setelah Presiden Federasi Rusia Vladimir Putin datang ke Indonesia.
Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto menyatakan, pihak Rusia memberikan pinjaman senilai US$ 1 miliar atau setara dengan Rp 9,4 triliun, berupa soft loan sistem kredit dengan bunga 5,2 persen untuk jangka waktu selama 7-8 tahun mendatang. Dana segar itu rencananya dibelanjakan untuk memprioritaskan pengadaan alutsista TNI yang jauh tertinggal dengan negara maju. Pembelian alat militer milik Rusia ini kemungkinan dijajaki dengan pembayaran hasil tambang.
Namun, Panglima TNI menampik dana segar yang dipinjamkan oleh negara yang dijuluki “Beruang Merah” itu belum mampu mencukupi kebutuhan alat utama sistem persenjataan militer. Sebab paling tidak, basis integrasi trimatra dari masing-masing angkatan (TNI AD, AL dan AU) mendapatkan tambahan peralatan militer. TNI Angkatan Laut mendapatkan kapal selam Kilo Class dan 20 unit tank amfibi. TNI Angkatan Udara memperoleh perlengkapan pesawat sukhoi enam unit yang kini sudah satu kuadron (16 unit) yang dibeli sebelumnya serta paket peralatan aviotik. Sedangkan matra TNI Angkatan Darat memperoleh 10 unit helikopter jenis Mi-17 V5 dan lima helikopter Mi-35 P.
Atas terpenuhinya kebutuhan militer dengan alutsistanya, Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono mengimbau Markas Besar TNI menyusun rencana strategis dan postur pertahanan sesuai dengan siklus anggaran lima tahunan.
Selain mengucurkan dana bersifat kredit di bidang alutsista, disepakati juga kerjasama bidang militer lainnya dengan negara ‘beruang merah’ itu. Diantaranya pertukaran perwira, program pendidikan dan latihan antarkedua negara. Begitu juga dengan penggunaan fasilitas di Biak Numfor, Papua sebagai tempat peluncuran satelit Rusia.
Kerja sama RI dengan Negara Rusia di bidang pertahanan dirintis Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika mengadakan kunjungan ke Moskow, Rusia, Januari tahun lalu. Pada pertemuan itu kedua kepala negara bersepakat mengikat kerja sama di beberapa bidang yang salah satunya adalah bidang pertahanan. Pihak Rusia berjanji kepada pemerintah Indonesia untuk mengucurkan dana pinjaman dalam kurun waktu 2006 s/d 2010 mendatang.
Kedatangan Vladimir Putin ke Indonesia (6/9), merupakan kunjungan balasan. Presiden SBY menilai kehadiran Vladimir Putin ini merupakan kunjungan bersejarah. “Ini baru pertamakali Presiden Rusia melakukan kunjungan ke Indonesia,” kata SBY yang berharap kerjasama ini terus meningkat di masa mendatang antara Indonesia dengan Rusia.
Presiden SBY saat kembali dari menghadiri KTT APEC di Australia secara tegas menyatakan tidak perlu ada kehebohan dalam pembelian senjata dari Rusia. Apa yang dilakukan bukan untuk memacu perlombaan senjata, tetapi justru Indonesia ingin membenahai alutsistanya yang selama ini sudah jauh tertinggal.
Presiden meminta negara-negara lain untuk tidak terlalu mencurigai langkah yang ditempuh Indonesia dalam memperbaiki alutsistanya. Perbaikan itu bukan untuk kepentingan agresi, melainkan untuk menjaga kedaulatan wilayah Indonesia.
Embargo senjata yang pernah dilakukan negara-negara Barat membuat kemampuan TNI menjadi sangat terbatas. Bahkan untuk operasi kemanusiaan, seperti saat terjadi bencana alam, TNI tidak bisa menjalankan tugasnya secara optimal.
Mengenai pilihan membeli persenjataan Rusia, menurut Presiden, hal itu sebagai bagian dari langkah diversifikasi agar Indonesia tidak terlau bergantung pada satu negara. RON,SP (BI 47)
| < Prev | Next > |
|---|



