| Article Index |
|---|
| Keamanan Ibukota jadi Barometer |
| Kodam Jaya Pengawal Ibukota Negara |
| All Pages |
Keamanan Ibukota Negara menjadi barometer keamanan nasional. Kodam Jaya/Jayakarta merupakan salah satu kekuatan utama guna memberikan rasa aman dan nyaman bagi warga Ibukota. Panglima Kodam Jaya yang baru Mayjen TNI Liliek AS Sumaryo beserta jajarannya siap mengamankannya.
Suasana sederhana dan penuh akrab mewarnai upacara serah terima jabatan Panglima Kodam Jaya, Jayakarta dari Mayjen TNI Agustadi Sasongko Purnomo kepada penggantinya Mayjen TNI Liliek AS Sumaryo Kamis 7 Desember. Bertindak selaku Inspektur upacara KSAD Jenderal TNI Djoko Santoso. Acara tersebut juga dihadiri berbagai kalangan mulai dari militer, pejabat pemerintah, Polri serta politisi. Mereka duduk berjejer di kursi undangan.
Usai upacara militer, dilanjutkan dengan syukuran dan makan siang bersama undangan dan segenap prajurit dan pegawai negeri sipil di lingkungan Kodam Jaya serta ibu-ibu anggota Persit Kartika Chandra Kirana.
KSAD Jenderal TNI Djoko Santoso dalam amanatnya mengatakan, Kodam Jaya merupakan salah satu Kompartemen Strategis Komando Utama Kewilayahan dalam jajaran Angkatan Darat yang mengemban tugas sangat strategis sebagai pilar penyangga stabilitas keamanan nasional di Ibukota. Sebab Jakarta merupakan pintu gerbang negara Republik Indonesia, tempat berdomisilinya perwakilan negara sahabat, pusat pemerintahan, pusat kegiatan politik dan pusat perekonomian yang sangat dinamis.
Situasi dan kondisi di wilayah ini, selain sangat menentukan bagi kelangsungan pembangunan di Jakarta, juga menjadi barometer dan berpengaruh langsung terhadap situasi dan kondisi daerah lainnya. Karena itu Jenderal Djoko menegaskan, untuk mewujudkan kondisi yang kondusif di ibukota Jakarta, merupakan tugas Kodam Jaya yang berada pada prioritas tertinggi.
Selain itu KSAD juga mengajak seluruh jajaran Kodam Jaya untuk memberdayakan wilayah pertahanan dengan metode komunikasi sosial, bhakti TNI dan pembinaan perlawanan wilayah dengan sungguh-sungguh terhadap aspek geografi, demografi maupun sosial.
Hal itu bisa dilakukan jika segenap prajurit Kodam Jaya benar-benar menjalankan perannya sebagai aparat kewilayahan yang mampu mengimplementasikan jatidirinya sebagai tentara rakyat, tentara pejuang dan tentara nasional.
KSAD menekankan ada enam poin terkait dengan tugas berat yang diemban Kodam Jaya yang semakin kompleks di masa mendatang yaitu; pertama, senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, kedua, menempatkan tugas sebagai prioritas pertama dan utama, dengan membangun profesionalisme keprajuritan dengan terus belajar dan berlatih, serta taat dan patuh terhadap hukum yang berlaku, ketiga, selalu bersama dan menyatu dengan rakyat serta tidak arogan dan tidak melakukan perbuatan yang menyakiti hati rakyat. Keempat, mengobarkan semangat pantang menyerah dan rela berkorban, kelima, meningkatkan kesiapan operasional satuan, agar selalu siap dalam menghadapi tugasnya, dan keenam, membangun terus soliditas satuan dan loyalitas tegak lurus yang tegas, serta memantapkan kesatuan komando dan menghadirkan kesetiaan terhadap satuan agar keberhasilan tugas dapat dicapai dengan optimal.
Jenderal Low Profile
Tongkat komando baru saja berpindah tangan. Mayjen TNI, Liliek AS Sumaryo, terlihat gagah dengan menenteng tongkat komando di tangan kirinya. Pria kelahiran Bandung 1 Mei 1952 itu, merasa apa yang baru diterimanya adalah amanah yang harus dijalankannya. Hal itu senada dengan pesan KSAD Jenderal TNI Djoko Santoso diakhir amanatnya, bahwa jabatan yang diemban oleh Pangdam yang baru bukanlah hadiah melainkan suatu amanah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Sehingga apa yang kelak dilakukan berkaitan dengan jabatannya adalah sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan kepada-Nya.
Mayjen TNI Liliek sebelumnya menjabat Panglima Kodam I Bukit Barisan. Dia merupakan Jenderal yang kaya pengalaman lapangan. Dilihat dari riwayat karirnya setelah tamat AKABRI tahun 1975 dengan kecabangan infantri, ia merupakan prajurit yang punya pengalaman lengkap dalam perjalanan karirnya.
Di lingkungan Kodam Jaya, suami Ny Dewi Retnowati ini, pernah malang melintang dengan mengemban berbagai tugas dan jabatan. Latarbelakang pendidikan yang pernah diikutinya antara lain, Sussarcab, Suslapa, dan Seskoad tahun 1993. Sedangkan pendidikan pengembangan spesialisasi yang pernah ditempuh adalah Susar Para, Susdanki, Sustaf Pur, Susdanyon dan Lemhannas (2001). Sedangkan pendidikan Umum SD, SMP, SMA dan S1 Sospol.
Perjalanan karir bapak satu putra ini setelah dilantik dari AKABRI menjadi Letnan Dua Infantri tahun 1975 Danton 3/A Yonif 305 Kostrad, Danton-1/A Yonif 305 Kostrad, Kasi-1 Yonif 328/Kostrad, Kasi-1/Intel Brigif-17, PS. Danyonif 131/BRS, Pamen Dam-1/BB, Pabandya Ren Sops Dam Jaya, Dandim 0503/JB Rem 052/Wkr Dam Jaya, Kasbrigif-1 PIK/JS Dam Jaya, Asintel Kasdiv-1/Kostrad, Asintel Kasdam-1/BB, Asintel Kostrad, Danrem 023/KS Dam-1/BB, Paban-IV Pambragiat Spamad, Pamen Denma Mabesad (Dik KRA Lemhannas), Waaspam Kasad, Kasdam-I/BB, Pangdif-II Kostrad, Pangdam-I/BB dan sekarang menjabat Panglima Kodam Jaya.
Mayjen Liliek juga pernah mendapatkan penugasan operasi antara lain Operasi Seroja Tim-Tim, (1976, 1978, 1983, 1988) dan Ops Irian Jaya tahun 1980.
Selama mengabdikan dirinya di TNI AD dia pernah meraih bintang dan tanda kehormatan, antara lain, Satya Lencana Seroja, Satya Lencana Kesetiaan VIII tahun, Satya Lencana GOM VIII/Dharma Pala, Satya Lencana Kesetiaan XVI tahun, Satya Lencana GOM IX/Raksaka Dharma, Satya Lencana Kesetiaan XXIV tahun, Satya Bintang Jasa. Penujukan Jenderal yang murah senyum itu sebagai Pangdam Jaya, merupakan bagian dari upaya untuk meningkatkan kinerja organisasi termasuk juga upaya mengembangkan kemampuan perwira dalam dimensi kepemimpinan, manajerial serta profesionalismenya. Selain itu dengan memberikan pengalaman melalui beragam penugasan yang berjenjang diharapkan perwira Angkatan Darat mampu membangun wawasan berpikir, dalam menyongsong tugas dan tanggung jawab ke depan yang semakin berat dan kompleks. SB,SP (Berita Indonesia 28)
| < Prev | Next > |
|---|



