Perbaikan kinerja ekonomi makro selama beberapa bulan terakhir, tetap tidak terakselerasi ke sektor riil. Hal ini ditengarai macetnya peran perbankan sebagai transmisi ekonomi, yang disebabkan rendahnya permintaan kredit dari dunia usaha. Dengan masih stagnannya sektor riil, pertumbuhan ekonomi yang dapat dicapai lebih rendah dari asumsi pemerintah.
Debut perbaikan ekonomi makro yang telah berlangsung selama beberapa bulan, dan nampaknya masih akan terus bergerak, membuat pemerintah semakin optimis akan memenuhi sebagaian besar target-target pencapaian ekonomi makro, sebagaimana yang ditetapkan dalam APBN-P tahun 2006.
Perbaikan makro ekonomi yang paling menggembirakan adalah tren penurunan tingkat inflasi hingga sudah dapat dipastikan, bahwa pada akhir tahun ini, tingkat inflasi akan dapat mencapai 7% hingga 8%. Penurunan tingkat inflasi yang rendah tahun ini, harus dipandang menjadi prestasi tersendiri bagi pemerintah, mengingat selama tahun 2005 lalu, kinerja perekonomian nasional nyaris tidak mengalami kemajuan yang mendasar karena terperangkap dalam laju inflasi yang tinggi.
Harian Kompas, Selasa (7/11), misalnya melaporkan tingkat inflasi Oktober 2006 hanya sebesar 0,80% dan laju inflasi Januari-Oktober 2006 juga tergolong rendah yakni sebesar 4,96%, dan laju inflasi tahunan (YoY) juga hanya sebesar 6,29%. Kinerja inflasi yang cukup rendah ini, diharapkan menjadi momentum pencapaian tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
Seperti diketahui, laju inflasi memiliki relevansi strategis terhadap kinerja pertumbuhan ekonomi. Laju inflasi yang tinggi, selalu menjadi biang keladi perlambanan pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya inflasi yang rendah menjadi menjadi faktor utama pendorong pertumbuhan ekonomi. Posisi strategis laju inflasi ini, karena digunakan sebagai dasar acuan dalam menghitung tingkat suku bunga, baik suku bunga acuan (BI Rate), suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI), serta suku bunga perbankan.
Pencapaian tingkat pertumbuhan ekonomi akan semakin tinggi, jika tingkat inflasi yang rendah didukung dengan elemen-elemen ekonomi makro lainnya, khususnya nilai tukar. Untuk yang disebut terakhir ini pun sudah cukup menggembirakan. Dalam setengah tahun terakhir, nilai tukar rupiah sudah stabil pada kisaran Rp 9.000-Rp 9.300 per 1 dolar AS.
Kedua indikator makro ekonomi ini semakin terdukung pula dengan beberapa indikator makro ekonomi lainnya, seperti cadangan devisa dan kinerja investasi portofolio. Untuk cadangan devisa, tercatat sebesar 39,77 miliar dolar AS. Namun indikator ekonomi yang paling menggembirakan sesungguhnya adalah kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang telah menembus 1,600. Seperti dilaporkan Harian Media Indonesia, Kamis (2/11), indeks ditutup pada posisi pada 1.607,696 atau naik 17,828 poin.
Sektor Riil
Dari sederetan indikator ekonomi makro yang membaik, tentu muncul pertanyaan, bagaimana dengan kinerja sektor riil? Realitas yang tidak terbantahkan adalah bahwa ekonomi sektor riil masih belum terbangun dari tidur panjangnya. Hal ini terlihat dari stagnannya kinerja sektor industri, perdagangan, dan jasa. Dan di pihak lain juga terlihat dari penyerapan tenaga kerja yang juga stagnan.
Dengan demikian, perekonomian Indonesia saat ini ditengarai dengan realitas ekonomi yang bertolak belakang antara ekonomi makro yang membaik dan sektor riil yang tetap terpuruk. Keadaan yang tidak sinkron ini, menjadi pertaruhan pemerintah, setelah berjuang memperbaiki kinerja ekonomi makro yang terjebak dalam lilitan inflasi tinggi selama tahun 2005 lalu. Namun setelah ekonomi makro berhasil diperbaiki dan telah berada di jalur yang benar selama kurang lebih, 6 bulan, tetap belum berimplikasi positif mendorong kinerja sektor riil.
Secara umum, para ekonom dan penyelenggara pemerintahan mempercayai bahwa cepat atau lambat, perbaikan ekonomi makro pada satu sisi akan berdampak pada sektor riil di sisi lain. Namun harapan itu hingga kini masih tetap menjadi mimpi. Tidak mengherankan jika indikator-indikator ekonomi makro yang membaik, tetap tidak akan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi.
Menurut Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia (BI), Miranda Gultom, seperti dilansir Harian Kompas, Sabtu (18/11), memperkirakan pertumbuhan ekonomi yang dapat dicapai pada tahun 2006 ini hanya akan mencapai 5,6%. Pertumbuhan ekonomi hingga kwartal ke III 2006, yang sudah mencapai 5,52%, menurut Miranda Gultom menyatakan, membawa optimisme bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun akan mampu mencapai 5,6 persen.
Jika perkiraan Miranda Gultom ini benar, maka tingkat pertumbuhan ekonomi yang bisa dicapai tahun ini lebih rendah dari asumsi yang dibangun pemerintah dalam APBN-P 2006 sebesar 5,8%. Rendahnya pencapain tingkat pertumbuhan ekonomi ini tidak terlepas dari stagnannya kinerja sektor riil.
Perbankan, Transminsi yang Macet
Tidak terjembataninya kinerja positif ekonomi makro ke sektor riil, sekaligus memandai masih macetnya transmisi ekonomi. Dalam hal ini, sektor perbankan sebagai salah satu transmisi ekonomi terpenting, belum mampu melaksanakan fungsi intermediasi antara sumber daya finansial dengan dengan dunia usaha. Ketidakmampuan sektor perbankan melakukan fungsi intermedianya, sekaligus menandai kegagalan mensinkronisasikan kinerja ekonomi makro yang positif dengan kinerja sektor riil yang tetap terpuruk.
Yang menjadi pertanyaan, mengapa perbankan gagal mentransmisikan sekaligus menisinkronisaikan ekonomi makro dengan sektor riil, tidak terlepas dari berbagai faktor, mulai dari iklim investasi yang tidak mendukung optimalnya fungsi intermediasi, besarnya beban risiko yang harus ditanggung perbankan dalam penyaluran kredit, serta rendahnya permintaan kredit dari kalangan pelaku usaha.
Dari sekian banyak faktor yang mempengaruhi kinerja sektor perbankan, persoalan yang mencuat ke permukaan adalah tingginya tingkat suku bunga BI Rate dan SBI, yang dengan sendirinya mendongkrak suku bunga perbankan menjadi tinggi, hingga dunia usaha tidak mampu menjangkaunya. Tingginya tingkat suku bunga ini tidak terlepas dari tingkat inflasi yang juga tinggi.
Akan tetapi setelah tingkat inflasi mengalami tren penurunan, yang kemudian diikuti dengan tren penurunan BI Rate dan SBI, tingkat suku bunga perbankan masih tetap tinggi. Kepada Harian Kompas, Jumat (3/11), Ekonom Bank Mandiri Martin Panggabean menyatakan tingkat suku bunga kredit hingga akhir 2005 masih berkisar 15,56%. Sementara BI Rate pada 5 Oktober 2006 sudah mencapai 10,75%.
Tingginya suku bunga kredit membuat dunia usaha tetap belum mampu menyerap kredit perbankan. Hal ini semakin terbantu dengan iklim usaha yang juga masih belum kondusif, sehingga dunia usaha masih berpikir untuk berinvestasi dengan menggunakan dana perbankan. Direktur Bank Negara Indonesia (BNI) menegaskan hal itu kepada Harian Media Indonesia, Selasa (14/11). “Masalahnya memang permintaan kredit perbankan dari dunia usaha masih rendah. Bahkan para pengusaha belum ada yang meningkatkan kapasitas produksinya. Mereka masih berada di bawah kapasitas terpasang,” katanya.
Kemacetan transmisi ekonomi semakin jelas terlihat dengan meningkatnya dana perbankan yang parkir di SBI, walau marjin bunga yang diperoleh sudah semakin tipis. Sumber BI menyebutkan, di tengah-tengah tren penurunan tingkat suku bunga SBI, dana perbankan yang disimpan di SBI justru meningkat dari Rp 18,78 triliun pada Agustus 2006 menjadi Rp 205 triliun pada Oktober 2006.
Rendahnya Daya Beli
Rendahnya daya serap dunia usaha terhadap dana kredit perbankan, tidak terlepas dari iklim usaha yang belum kondusif. Salah satu faktor paling berbahaya mengancam keberlangsungan dan peningkatan kinerja sektor riil adalah rendahnya daya beli masyarakat. Ini merupakan permasalahan baru yang dihadapi perekonomian nasional, yang semakin berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi di masa-masa mendatang.
Martin Panggabean, dalam artikelnya di Harian Kompas, Senin (30/10) menyebutkan eksisnya tantangan baru perekonomian, berupa rendahnya daya beli masyarakat, yang berperan mendorong stagnasi ekonomi. Hal yang sama juga diungkapkan ekonom Drajad Wibowo yang menyatakan bahwa sektor konsumsi yang berjaya dalam beberapa tahun terakhir, masih akan terkoreksi akibat lemahnya daya beli. “Dampaknya, penyaluran kredit 2007 akan tetap rendah,” katanya seperti dikutip Harian Kompas, Jumat (3/11).
Tanda-tanda melemahnya daya beli masyarakat, juga terlihat dari pengumuman BPS bulan Oktober. Seperti yang dilansir Harian Kompas, Kamis (2/11), tingkat inflasi bulan Oktober hanya 0,80%. Tingkat inflasi yang rendah ini merupakan sesuatu yang perlu dicermati. Sebab secara umum, jika bulan Ramadhan dan perayaan Hari Raya Idul Fitri, selalu ditandai dengan tingkat inflasi yang tingggi. Artinya, tingkat konsumsi masyarakat mengalami penurunan yang sangat drastis, karena masyarakat menahan diri berkonsumsi atau malah tidak memiliki uang untuk berkonsumsi.
Rendahnya daya beli, sekali pun pada pelaksanaan hari raya Idul Fitri, terlihat dari tren deflasi yang terjadi di 4 kota selama bulan Oktober. Namun demikian, Menko Perekonomian Budiono membantah adanya penurunan daya beli masyarakat, “Ada beberapa indikasi terjadinya pembalikan ke arah konsumsi tinggi atau lebih cepat pada kwartal II 2006 ini,” kata Budiono, seperti dikutip Harian Suara Pembaruan, Selasa (31/10). MH (Berita Indonesia 26)
| < Prev | Next > |
|---|



