Raksasa otomotif di AS dan dunia, General Motors (GM), ikut terseret arus krisis finansial global sehingga terpaksa mengajukan perlindungan kepailitan. GM yang menjadi simbol kebesaran ekonomi Amerika berusaha bangkit di bawah kepemilikan pemerintah.
Siapa yang tidak mengenal GM? Perusahaan otomotif raksasa di AS ini sanggup hidup selama 100 tahun terakhir dengan segudang prestasi. Bahkan selama 77 tahun pernah menjadi produsen mobil terbesar di dunia, sebelum dua tahun terakhir disalip produsen mobil Toyota asal Jepang.
Perusahaan yang didirikan William C. Durant pada 1908 di Detroit itu bahkan menjadi simbol inovasi industri kendaraan di negeri Paman Sam. Bahkan, GM berhasil mentransformasi kota kecil itu menjadi masyhur dengan nama Silicon Valley, serta ratusan ribu warga AS yang menjadi karyawannya masuk kategori kelas menengah.
GM pun makin menggurita. Dalam satu abad perjalanannya, jaringan-jaringan pabrik manufaktur bermunculan di berbagai negara. Mulai dari daratan Eropa seperti Jerman, Inggris, Belgia, Polandia, hingga Spanyol. GM juga memiliki anak perusahaan atau kepemilikan saham di banyak perusahaan otomotif seperti Afrika Selatan dan Jepang.
Mobil yang diproduksi meliputi berbagai jenis mobil, dari yang biasa sampai mewah. Di antaranya Buick, Cadillac, Chevrolet, GMC, GM Daewoo, Holden, Hummer, Opel, Saturn, Saab, Pontiac, Vauxhall dan Wuling. Kinerja GM yang menggurita di kancah otomotif dunia semakin mengokohkan keyakinan bahwa perusahaan yang berkantor pusat di Renaissance Center, Detroit, Michigan itu, bakal abadi. Tapi keyakinan itu perlahan-lahan luntur setelah krisis finansial melanda AS setahun terakhir ini.
Krisis mengakibatkan permintaan kendaraan mengalami penurunan drastis di banyak negara, terutama di pasar utamanya di Eropa dan AS. GM pun ikut terkena imbasnya, penjualan GM anjlok. GM mengalami kebangkrutan setelah menanggung beban utang US$172,8 miliar dan gagal mengadopsi permintaan konsumen atas mobil-mobil kecil. Kondisi keuangan yang tidak sehat ini membuat GM mengajukan bantuan pinjaman kepada Pemerintah AS sebesar 20 miliar dolar AS, Desember 2008.
Selama 5 bulan terakhir ini, GM berjuang membenahi diri agar bisa melewati masa kritis. Pada Februari 2009, GM meminta bantuan pendanaan $30 miliar, mengumumkan rencana pengurangan tenaga kerja dan penutupan 5 pabriknya di AS. GM juga melaporkan kerugian $30,9 miliar di 2008. Pada Maret, pemerintah AS mendepak CEO GM Rick Wagoner dan menunjuk CEO Fritz Henderson sebagai penggantinya. Hingga puncaknya pada akhir Mei, GM mengajukan perlindungan kepailitan Chapter 11.
Akhirnya, Senin, 1 Juni 2009, manajemen GM dengan pahit mesti mengakui bahwa perusahaannya jatuh pailit atau bangkrut. Status ini dikeluarkan oleh pengadilan niaga Manhattan, Amerika Serikat. Perlindungan kepailitan diputuskan setelah sebelumnya lebih dari 50 persen pemegang saham GM akan mendukung upaya menukar 27 miliar dolar AS utang GM dengan saham sebagai upaya restrukturisasi.
Opsi chapter 11 yang dipilih adalah pasal perlindungan terhadap kebangkrutan. Perusahaan yang memilih status chapter ini bisa tetap beroperasi dan dioperasikan oleh manajemen dan pemimpin yang ada, serta tidak ada perubahan manajemen dan kepemimpinan.
Opsi chapter 11 juga berarti semua aset tetap dimiliki GM dan tidak boleh disita atas alasan apapun, karena semua aset itu telah diproteksi oleh Pemerintah AS. Garansi pembelian tetap berlaku, semua pelanggan tetap dapat menikmati layanan dealer, baik dari segi penjualan, layanan perawatan, dan penyediaan suku cadang. Jadi kebangkrutan GM ini bukanlah bangkrut dalam pemahaman masyarakat Indonesia. Istilah bangkrut di Indonesia lebih merujuk pada opsi chapter 7 di AS dimana perusahaan tutup, tidak beroperasi, semua layanan tidak berlaku, penyediaan suku cadang terhenti, dan seluruh aset disita pengadilan.
Dengan terlibatnya pemerintah AS menalangi GM, komposisi kepemilikan saham pun berubah. Pemerintah AS (Departemen Keuangan) kini menguasai saham terbesar sebanyak 72,5 persen. Sedangkan sisanya dikuasai oleh Serikat Pekerja Otomotif (United Automobile Workers/UAW) dan Pemerintah Kanada.
Sebagai pemilik saham (pemegang saham pasif), Pemerintahan Presiden Obama akan menyuntikkan dana (dana pembayar pajak) sebesar 30 miliar dollar bagi restrukturisasi GM yang kini menjadi perusahaan baru, New GM. Perusahaan yang berada di bawah naungan Departemen Keuangan AS ini akan dibangun dengan utang yang lebih sedikit dan biaya operasi yang lebih rendah dibandingkan yang dimiliki GM sebelumnya.
Lewat restrukturisasi, New GM diharapkan menjadi pemimpin global era efisiensi bahan bakar dan teknologi canggih ramah lingkungan, serta kualitas dan daya tahan tinggi. Selain itu, New GM menawarkan desain yang atraktif, pelayanan pelanggan yang lebih prima, dan yang paling utama harga produk yang bersaing.
GM juga menegaskan, di bawah bendera baru, tidak ada operasi GM di luar AS yang termasuk dan masuk ke dalam daftar pengadilan AS atau masuk ke dalam proses yang diawasi pengadilan. GM meyakinkan bahwa seluruh operasi bisnis tetap berjalan tanpa mengalami gangguan, termasuk operasi di kawasan Asia Tenggara yang di dalamnya terdapat GM Indonesia. Dealer GM akan terus melakukan aktivitas pelayanan terhadap kendaraan GM dan menerima garansi yang diberikan GM. Pemerintah AS pun menjamin pertanggungan garansi kendaraan GM.
Sebagai tahap awal restrukturisasi, GM menjual semua asetnya kepada New GM. Penjualan seluruh aset GM kepada New GM diselesaikan melalui proses yang diawasi oleh pengadilan di bawah Chapter 11 dari US Bankruptcy Code.
New GM akan mengandalkan produksi hanya pada empat merek utama, yaitu Chevrolet, Cadillac, Buick dan GMC, setelah menghapus empat merek lainnya. Akibatnya, 21 ribu karyawan di-PHK atau sekitar 34 persen dari total pekerja, dan memangkas jumlah dealer menjadi 2.600 serta 11 pabrik ditutup.
Penyelamatan lain yang dilakukan GM agar manajemen tetap berjalan adalah menjual beberapa merek. Sejauh ini, GM telah mencapai kesepakatan untuk menjual merek Saturn kepada Roger Penske, mantan pembalap yang memiliki jaringan dealer mobil terbesar kedua di AS ; merek Opel, Hummer dan Vauxhall masih dalam tahap negosiasi.
Bila proses restrukturisasi yang direncanakan selama 60 hari berjalan lancar, New GM diperkirakan dapat kembali membukukan keuntungan tahunan sebelum 2011. Penasihat keuangan produsen otomotif Amerika Serikat, Evercore Partners memperkirakan bahwa New GM akan menderita kerugian US$ 17,5 miliar tahun ini. Selanjutnya pada 2011, perusahaan ini diperkirakan membukukan laba sebesar US$ 3 miliar dan US$ 7,8 miliar pada 2014, keduanya sebelum pajak.
Perkiraan ini didasarkan pada asumsi bahwa penjualan mobil AS akan kembali meningkat (rebound) menjadi 16 juta unit per tahun dari tingkat penjualan tahun ini yang kurang dari 10 juta. Produksi mobil global GM akan meningkat dari 3,8 juta unit pada 2009 menjadi enam juta unit pada 2014. PAN (Berita Indonesia 68)
Chrysler Juga Berbenah
Selain GM, pabrikan otomotif AS, Chrysler juga ikut dalam perlindungan kepailitan yang dijalaninya sejak 30 April lalu. Dalam proses restrukturisasi, pabrikan otomotif Italia, Fiat, mencapai kesepakatan untuk menjalin aliansi dengan Chrysler. Dalam perusahaan yang baru ini, Fiat memiliki saham 20 persen tanpa mengeluarkan dana investasi, Serikat Pekerja Otomotif AS (UAW) memiliki saham 55 persen, sedangkan pemerintah AS dan Kanada masing-masing memperoleh bagian saham delapan dan dua persen.
Perusahaan Chrysler yang baru masih berkantor pusat di negara bagian Michigan, AS, dan memproduksi merek Chrysler, Jeep dan Dodge. “Kegiatan Chrysler dalam bentuk perusahaan baru akan segera berjalan. Saat ini sedang dilakukan upaya pengembangan lingkungan yang bersahabat, penghematan dan menciptakan kendaraan bermutu yang dapat membuat Chrysler menjadi terdepan dalam industri,” kata Sergio Marchionne, CEO Fiat.
| < Prev | Next > |
|---|



